NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Ledakan aura biru keemasan yang menembus sela-sela retakan dinding kamar tidak hanya menerangi ruangan dalam, tetapi juga melesat lurus membelah langit malam Satu Suro. Di luar rumah, atmosfer yang semula pekat seketika berubah menjadi chaos. Aroma suci dari darah setengah manusia dan setengah peri milik sang bayi menguar tajam, memicu kegilaan massal bagi ratusan makhluk rawa dan jin hitam yang mengepung pekarangan.

Mereka melolong melengking, mencakar udara, dan merangkak semakin beringas, bersiap menerjang maju tanpa memedulikan hawa dingin Damian.

"Darah suci... anak itu... berikan pada kami!" raung sesosok jin hitam raksasa dengan mata merah menyala yang mencoba merayap melewati pagar pembatas.

Melihat kekacauan yang semakin tak terkendali dan raga Cindy yang terancam di dalam, amarah Damian mencapai titik puncaknya. Sepasang mata birunya kini berubah menjadi merah menyala seutuhnya, memancarkan kebencian yang mutlak. Kegelapan di sekeliling tubuhnya bergolak dahsyat.

"Mahluk-mahluk menjijikkan... berani-beraninya kalian mengincar darah daging saya!" geram Damian, suaranya menggelegar laksana guntur yang membelah bumi.

Dengan satu hentakan batin, Damian mengangkat tangan kanannya ke udara. Dari dalam pusaran asap hitam pekat yang menyelimuti lengannya, mendadak muncul sebilah pedang mata dua berukuran raksasa. Bilah pedang yang terbuat dari besi kuno bergaya eropa abad pertengahan itu bergetar hebat, dengan sekeliling bilahnya yang langsung diselimuti kobaran bara api neraka yang merah membara. Hawa panas dari pedang itu beradu dengan sayap es miliknya, menciptakan kepulan uap yang mencekik.

Ki Renggo yang masih terduduk lemas sambil memegangi dadanya yang sesak karena terbatuk darah, terbelalak menyaksikan senjata sejati sang Iblis Belanda. "K-Kuasa setan apa ini... aura pedang itu... bisa memusnahkan raga gaib sampai ke akar-akarnya..." bisik dukun tua itu dengan tubuh bergetar hebat.

Damian tidak memedulikan ucapan Ki Renggo. Ia mengepakkan sayap hitam raksasanya sekali, melesat naik ke udara, lalu menatap rendah ke arah ratusan makhluk yang sedang berebut mersek masuk ke teras rumah.

"Lenyaplah kalian dari dunia ini, keparat!"

SWOSSHHHHH!

Damian mengayunkan pedang mata dua berbahan bara api itu dalam satu gerakan melingkar yang masif. Satu tebasan mutlak yang membuat seluruh makhluk itu lenyap.

Gelombang api neraka bercampur angin es gaib melesat menyapu seluruh area pekarangan belakang hingga radius ratusan meter. Tebasan itu begitu cepat, kuat, dan menghancurkan. Suara lengkingan pilu dari ratusan makhluk halus terdengar bersahutan selama satu detik penuh sebelum akhirnya senyap seketika. Ratusan lelembut, jin rawa, dan banaspati itu langsung terbakar hangus, melebur menjadi tumpukan abu hitam yang langsung ditiup angin malam, musnah tak bersisa sampai ke akar eksistensi mereka.

Pekarangan belakang mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya menyisakan sisa-sisa bara api yang meredup di tanah dan Damian yang perlahan menapakkan kakinya kembali ke bumi.

Damian menyarungkan kembali pedang gaibnya ke dalam pusaran kegelapan, membiarkan tanduk dan sayapnya meluruh kembali menjadi sosok pria tampan berkemeja hitam. Napasnya berembus pelan, matanya langsung beralih menatap tajam ke arah Ki Renggo yang masih terkulai lemas.

"Urus sisa segelmu yang hancur ini, Renggo. Jangan biarkan ada debu mahluk itu yang tersisa di tanah saya," ketus Damian dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.

"N-Nggih... Tuan Muda..." jawab Ki Renggo payah, mencoba bangkit berdiri bertumpu pada tongkat kayunya dengan sisa tenaga yang ada.

Tanpa membuang waktu lagi, Damian melangkah lebar, melesat masuk menembus pintu belakang dan langsung menuju ke dalam kamar utama. Begitu kakinya menginjak ambang pintu kamar, sepasang mata birunya yang kembali normal seketika melembut laksana es yang mencair.

Di atas ranjang, pendaran cahaya biru keemasan itu perlahan mulai meredup, menyisakan kehangatan yang luar biasa nyaman di dalam kamar. Nyai Marwi tampak sedang tersenyum lebar sembari membungkus sesosok bayi mungil dengan kain jarik batik yang bersih.

Sedangkan Cindy terduduk bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang teramat lemas, peluh membanjiri seluruh tubuhnya, namun sepasang mata rubahnya menatap penuh haru dan damba ke arah bungkusan di tangan Nyai Marwi.

"Damian..." bisik Cindy lirih, suaranya begitu parau hingga hampir tak terdengar.

Damian langsung menghambur ke tepi ranjang, duduk di samping Cindy dan membawa tubuh mungil yang lemas itu ke dalam dekapan hangat-dinginnya yang posesif. Ia mengecup dahi Cindy berkali-kali, menghirup aroma keringat manis manusianya dengan rasa lega yang tak terbendung.

"Saya di sini, Cindy... mijn liefde. Kamu berhasil... kamu luar biasa, sayang," bisik Damian dengan suara serak yang bergetar penuh emosi haru.

"Liat, Tuan... Nduk Cindy... ini putrimu yang cantik sekali," ucap Nyai Marwi lembut, menyerahkan bungkusan kain jarik itu ke dalam pangkuan Cindy yang sedang didekap oleh Damian.

Cindy menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar. Begitu kain jarik itu terbuka sedikit, tampak sesosok bayi perempuan yang teramat cantik dengan kulit putih bersih sehalus porselen seperti Damian, namun memiliki bibir merah muda mungil seperti Cindy. Di punggung kecil bayi itu, tampak sepasang sayap peri transparan berukuran mini yang berpendar keemasan lembut, sesekali mengepak kecil dengan sangat menggemaskan.

"Dia... dia cantik sekali, Damian... nggghhh," tangis Cindy pecah, ia memeluk bayi kecil itu ke dadanya, merasakan detak jantung manusia sang putri yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri. "Anak kita... dia beneran punya sayap peri..."

Damian menundukkan wajahnya, menyentuhkan ujung hidungnya pada pipi mungil bayinya yang baru lahir, lalu beralih mengecup bibir Cindy dengan lumatan penenang yang penuh dengan rasa kepemilikan mutlak.

"Dia adalah bukti abadi bahwa sukmamu telah terikat mati dengan saya, Cindy. Mulai malam ini, seluruh jagat ini tahu... kalian berdua adalah milik Damian Van De Ven, dan tidak akan ada yang bisa merebut kalian dari tangan saya," geram Damian rendah penuh kepuasan, mengunci takdir keluarga kecil beda alam itu di dalam keabadian malam Satu Suro.

»»»»

Keesokan paginya….

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela-jendela kayu yang sengaja dibuka lebar oleh Damian. Angin pagi yang bersih berembus lembut, perlahan mengusir sisa-sisa bau belerang dan wangi pekat bunga kenanga yang mencekam dari malam Satu Suro kemarin. Rumah kolonial tua itu kini terasa jauh lebih hidup dan tenang.

Cindy membetulkan posisi duduknya, bersandar nyaman pada tumpukan bantal kapuk yang empuk. Wajahnya yang kemarin pucat pasi kini mulai kembali segar dan memancarkan rona kemerahan alami seorang ibu. Di dalam dekapannya, sang putri kecil yang di namai Helena Van Der Ven kini sedang menyusu dengan begitu lahap. Mulut mungilnya berkedut ritmis, mencengkeram dada hangat ibunya dengan genggaman jari-jari tangan yang luar biasa kuat untuk ukuran bayi yang baru lahir beberapa jam.

Sret...

Tanpa suara, Damian muncul dari balik tirai pintu kamar. Langkah kakinya begitu halus, melayang beberapa senti di atas lantai tegel kuno tanpa menimbulkan decit sedikit pun. Pria itu mengenakan kemeja linen putih bersih dengan kancing atas yang sengaja dibuka, memancarkan hawa sejuk yang pas untuk meredam gerah pagi hari bagi Cindy. Kedua tangannya memegang sebuah mangkuk keramik berisi sup ayam yang uapnya masih mengepul ke udara, menyebarkan aroma kaldu gurih yang menggugah selera.

Damian meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas di samping tempat tidur dengan sangat hati-hati. Sepasang mata birunya yang sehangat bara es langsung tertuju pada pemandangan di atas kasur. Kilatan obsesi yang protektif di matanya seketika melunak, digantikan oleh rasa takjub dan kepuasan maskulin yang amat dalam.

"Bagaimana keadaanmu pagi ini, mijn liefde?" tanya Damian rendah. Suara serak basahnya terdengar begitu lembut, bergetar di rungu Cindy. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan jemari pucatnya untuk mengusap sela rambut hitam Cindy yang berantakan.

Cindy mendongak, menyunggingkan senyuman manis berbentuk rubahnya yang khas. "Jauh lebih baik, Damian. Pegal di pinggangku sudah berkurang banyak... tapi lihat deh anakmu ini, kuat banget menyusunya sampai dadaku agak perih, nggghhh." Cindy sedikit meringis saat Helena melakukan isapan yang lebih kuat.

Damian terkekeh rendah, sebuah tawa gaib yang seksi dari dalam dadanya. Ia menunduk, menatap lekat-lekat wajah Helena yang kini tampak seperti bayi manusia normal. Sayap peri kecil yang semalam berpendar keemasan di punggungnya kini telah melenyap sepenuhnya, menyerap masuk ke dalam tulang belikatnya sesuai dengan penjelasan Damian semalam bahwa bagian magis itu baru akan tumbuh sempurna saat Helena beranjak dewasa nanti.

Namun, satu hal yang tidak bisa disembunyikan adalah sepasang mata bulat milik Helena yang sesekali terbuka. Manik mata itu berwarna biru malam yang teramat pekat dan jernih, persis seperti milik Damian. Siapa pun manusia yang memandang mata itu pasti akan langsung tahu bahwa bayi ini membawa darah entitas agung yang tak kasat mata.

"Dia mewarisi rasa dahaga saya, Cindy," bisik Damian dengan seringai mesum yang tipis namun sarat akan kehangatan. "Jika saya haus akan sukmamu, maka putri kita haus akan kehidupan dari ragamu. Dia harus tumbuh kuat agar energi es di dalam nadinya tidak menyakiti jantung manusianya."

Damian meraih sendok, lalu menyendok sedikit kuah sup ayam yang mulai hangat. Dengan telaten, ia mengarahkannya ke bibir Cindy. "Sekarang, buka mulutmu. Kamu harus menghabiskan sup ini. Saya sendiri yang memotong ayamnya dan merebus rempahnya di dapur tadi. Tubuh manusiamu butuh banyak energi."

Cindy menerima suapan itu dengan patuh. Rasa gurih dan hangat dari sup buatan sang Iblis Belanda langsung menjalar di tenggorokannya, membuat tubuhnya terasa semakin bugar. "Enak banget, Damian... Makasih ya. Aku gak pernah menyangka kalau pangeran Belanda yang angkuh sepertimu bisa setelaten ini mengurus manusia."

"Saya hanya telaten untuk dua mahluk di kamar ini, Cindy. Selebihnya di luar sana hanyalah debu bagi saya," sahut Damian tegas, matanya berkilat posesif saat ia kembali menyendokkan sup untuk kekasihnya.

Jemari dingin Damian beralih menyentuh pipi gembil Helena yang sedang tertidur pulas setelah puas menyusu. Merasa sentuhan dingin ayahnya, bayi mungil itu melenguh kecil dalam tidurnya, menciptakan sebuah kedamaian mutlak yang mengunci seluruh sudut rumah kolonial itu dalam keabadian yang hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!