Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Konspirasi di Balik Layar
Kabar tentang Jamuan Musim Semi Kekaisaran dan kedekatan yang tidak wajar antara Wakil Kepala Klan Tang dan Putri Mahkota menyebar ke seluruh Chang'an lebih cepat daripada racun yang menyebar di dalam darah, karena di istana tidak ada rahasia yang bisa bertahan lebih dari tiga hari, dan di Jianghu tidak ada gosip yang tidak dibesar-besarkan sepuluh kali lipat, sehingga ketika Tang Hyun kembali ke Klan Tang dengan membawa kantong kue beras ketan yang bahkan belum dia makan, di ibu kota sudah ada tiga faksi besar yang sedang duduk di ruang gelap dan merencanakan bagaimana cara memisahkan mereka, bukan dengan pedang, karena membunuh Tang Hyun secara langsung akan membuat Putri Mahkota marah, dan membunuh Putri Mahkota secara langsung adalah pengkhianatan tingkat tinggi, melainkan dengan fitnah, dengan jebakan, dan dengan darah orang lain yang akan mereka gunakan untuk mengotori nama baik Klan Tang.
Orang pertama yang bergerak adalah Menteri Keuangan, Tuan Zhao Wei, seorang pria berusia enam puluh tahun yang sudah tiga kali gagal mengajukan putranya untuk menjadi selir Putri Mahkota dan yang membenci kenyataan bahwa seorang "anak pembunuh dari Sichuan" bisa mendapatkan perhatian yang bahkan putra seorang menteri tidak dapatkan, sehingga dia mengumpulkan dua kepala sekte ortodoks dan seorang jenderal yang pernah kalah dalam perang perbatasan dan memberi mereka satu tujuan sederhana, "Buat Klan Tang terlihat seperti pengkhianat, dan Putri akan terpaksa memotong hubungan itu sendiri."
Rencana mereka dimulai dua minggu setelah Tang Hyun kembali, ketika sebuah karavan Klan Tang yang membawa obat-obatan ke kota perbatasan diserang di tengah jalan, bukan oleh bandit, melainkan oleh orang-orang yang mengenakan pakaian Klan Tang palsu dan meninggalkan lambang Klan di tempat kejadian, sebuah lambang yang dipalsukan dengan sangat baik sehingga bahkan mata Tetua Ketiga hampir tidak bisa membedakannya, dan dalam serangan itu, dua puluh pedagang mati, tiga puluh kotak obat hilang, dan yang paling penting, di antara mayat ditemukan sebuah surat yang seolah ditulis oleh Tang Hyun yang berisi perintah untuk "membunuh semua saksi dan menyalahkan Sekte Surgawi".
Surat itu langsung dikirim ke istana, dan tiga hari kemudian, petisi resmi masuk ke meja Kaisar yang menuntut agar Klan Tang dicabut statusnya sebagai organisasi resmi dan agar Tang Hyun ditangkap untuk diinterogasi, sebuah petisi yang ditandatangani oleh tujuh menteri dan didukung oleh rumor yang sudah disebarkan di pasar bahwa "Anak Racun" tidak bisa dipercaya dan bahwa dia pasti sedang merencanakan kudeta dengan menggunakan Putri Mahkota sebagai boneka.
Berita itu sampai ke Klan Tang pada malam hari, dibawa oleh burung tercepat, dan aula Tetua langsung gaduh, karena semua orang tahu bahwa ini adalah jebakan, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang melakukannya dan bagaimana cara membuktikannya sebelum istana mengirim pasukan.
"Kita harus ke Chang'an sekarang," kata Tang So-yeon, "sebelum mereka menangkap Tang Hyun."
"Tidak," jawab Tang Hyun dengan tenang, "jika aku pergi sekarang, maka aku terlihat bersalah. Kita harus membuat mereka datang kepada kita."
"Kau punya rencana?" tanya Tetua Ketiga.
Tang Hyun mengangguk, "Kita gunakan racun untuk melacak racun. Siapa pun yang memalsukan lambang Klan, pasti meninggalkan jejak."
Selama tiga hari dia tidak tidur, dia dan Tang So-yeon memeriksa sisa-sisa karavan yang dibawa kembali oleh pengawal, dan dia menemukan sesuatu yang kecil tetapi penting, di ujung jarum yang tertancap di salah satu mayat ada residu bubuk biru, bubuk yang hanya diproduksi di satu tempat di Jianghu, yaitu bengkel senjata milik Sekte Besi Hitam yang berada di bawah kendali langsung Menteri Zhao Wei.
"Itu dia," kata Tang Hyun, "buktinya."
Tapi bukti saja tidak cukup, karena di istana, bukti bisa dipalsukan dan saksi bisa dibungkam, sehingga Tang Hyun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih berbahaya, dia akan kembali ke Chang'an, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai orang yang menyerahkan diri, agar dia bisa masuk ke dalam sarang musuh dan mematahkan konspirasi itu dari dalam.
"Ini gila," kata Tang So-yeon, "mereka akan memenggal kepalamu begitu kau masuk gerbang."
"Maka aku tidak akan memberi mereka kesempatan," jawab Tang Hyun, "karena aku punya sesuatu yang lebih berharga daripada bukti."
Apa yang dia maksud adalah Putri Mahkota, karena dia tahu bahwa selama Putri masih berdiri di sisinya, maka tidak ada seorang pun di istana yang berani menyentuhnya tanpa konsekuensi.
Dia berangkat keesokan harinya bersama sepuluh pengawal, dan ketika dia tiba di gerbang Chang'an, dia memang langsung ditangkap oleh pengawal istana dan dibawa ke penjara bawah tanah istana, sebuah tempat gelap dan lembab di mana orang-orang yang menunggu eksekusi biasanya hanya bertahan selama satu minggu.
Di penjara, dia tidak melawan, dia tidak mencoba melarikan diri, dia hanya duduk dan menunggu, karena dia tahu bahwa Putri Mahkota pasti sudah mendengar berita itu, dan dia tahu bahwa Putri tidak akan diam saja.
Benar saja, dua hari kemudian, pintu penjara terbuka, dan yang masuk bukan algojo, melainkan Putri Mahkota Li Xinyue sendiri, tanpa mahkota, tanpa pengawal, hanya dengan satu pelayan yang membawa lentera.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Putri Mahkota begitu melihat Tang Hyun duduk di lantai dengan rantai di pergelangan tangan.
"Karena jika aku tidak datang, maka mereka akan menggunakan ini sebagai alasan untuk menyerang Klan," jawab Tang Hyun, "dan juga karena aku tahu Yang Mulia akan datang."
Putri Mahkota mendekat dan dengan tangannya sendiri membuka rantai itu, "Bodoh. Kau pikir aku tidak khawatir?"
"Aku tahu Yang Mulia khawatir," jawab Tang Hyun sambil berdiri, "itulah kenapa aku melakukan ini."
Putri Mahkota menatapnya lama, lalu dia berbisik, "Aku benci ketika kau mempertaruhkan nyawamu untukku."
"Aku juga benci ketika Yang Mulia harus membersihkan kekacauan karena aku," jawab Tang Hyun.
Mereka terdiam, lalu Putri Mahkota menarik napas, "Baiklah. Sekarang ceritakan semuanya. Siapa yang melakukan ini?"
Tang Hyun menjelaskan semua temuannya, tentang bubuk biru, tentang Sekte Besi Hitam, dan tentang Menteri Zhao Wei, dan Putri Mahkota mendengarkan tanpa memotong, karena dia sudah terbiasa dengan politik kotor dan tahu persis bagaimana cara mematahkannya.
"Malam ini," kata Putri, "akan ada rapat darurat di aula. Semua menteri yang menandatangani petisi akan hadir. Dan aku akan membuat mereka mengaku."
"Mereka tidak akan mengaku," kata Tang Hyun.
"Mereka pasti akan mengaku," jawab Putri Mahkota dengan senyum dingin, "karena aku punya cara sendiri."
Malam itu, di aula besar istana, di bawah cahaya ratusan lentera, Putri Mahkota duduk di kursi tinggi di samping Kaisar yang sudah tua dan sakit-sakitan, dan di bawahnya berdiri tujuh menteri yang wajahnya pucat karena mereka tahu bahwa Putri tidak pernah memanggil rapat tengah malam tanpa alasan.
"Para menteri," kata Putri Mahkota, "telah terjadi pengkhianatan besar. Ada orang yang berani memalsukan surat dan membunuh rakyat untuk menjatuhkan Klan Tang."
"Tidak ada bukti," kata Menteri Zhao Wei cepat, "itu hanya fitnah."
"Benarkah?" tanya Putri Mahkota, lalu dia memberi isyarat, dan pintu aula terbuka, dan masuklah Tang Hyun, bukan dengan rantai, melainkan dengan jubah resmi Klan Tang, dan di belakangnya adalah seorang pria yang tubuhnya gemetar, kepala bengkel senjata dari Sekte Besi Hitam yang sudah ditangkap oleh orang-orang Putri Mahkota sehari sebelumnya.
Pria itu langsung berlutut dan menangis, "Saya... saya disuruh oleh Menteri Zhao untuk membuat lambang palsu! Dia bilang jika aku tidak melakukannya, maka keluargaku akan mati!"
Aula menjadi gaduh, dan Menteri Zhao langsung berteriak, "Ini jebakan! Ini sandiwara Klan Tang!"
"Tidak," kata Putri Mahkota, "karena kita juga punya ini," dan dia melemparkan sebuah kotak kecil ke tengah aula, kotak yang berisi bubuk biru yang sama dengan yang ditemukan di mayat, dan di sampingnya ada buku catatan milik bengkel yang mencatat setiap pesanan dari Menteri Zhao selama setahun terakhir.
Menteri Zhao menjadi pucat, dan dua menteri lainnya langsung mundur selangkah, karena mereka tahu bahwa permainan sudah selesai.
"Kau ditangkap atas tuduhan pengkhianatan, pembunuhan, dan pemalsuan dokumen kekaisaran," kata Putri Mahkota dengan suara yang membuat seluruh aula membeku, "pengawal, bawa dia."
Menteri Zhao diseret keluar sambil berteriak dan mengutuk, dan dua menteri lainnya langsung berlutut dan memohon ampun, mengatakan bahwa mereka dipaksa, dan Putri Mahkota mengampuni mereka dengan syarat mereka akan mengundurkan diri dari jabatan dan tidak akan pernah kembali ke politik.
Dalam satu malam, konspirasi yang direncanakan selama sebulan hancur total, dan nama Klan Tang tidak hanya bersih, tetapi juga naik, karena semua orang sekarang tahu bahwa Putri Mahkota secara pribadi melindungi Klan Tang.
Setelah rapat, Putri Mahkota menemui Tang Hyun di taman belakang, tempat mereka membuat janji sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Putri.
"Aku baik," jawab Tang Hyun, "terima kasih, Xinyue."
"Jangan berterima kasih," kata Putri, "aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Tapi aku takut, Tang Hyun."
"Takut apa?"
"Takut bahwa semakin dekat kita, semakin banyak orang yang akan mencoba menyakiti kita," jawab Putri, "dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa melindungi semua orang."
Tang Hyun melangkah maju dan berdiri di samping Putri, tidak menyentuh, tetapi cukup dekat sehingga bahu mereka hampir bersentuhan, "Maka kita hadapi bersama. Seperti janji kita di bawah pohon bunga plum."
Putri Mahkota tersenyum, "Janji itu masih berlaku?"
"Selalu," jawab Tang Hyun.
Mereka berdiri di sana sampai fajar, tidak berbicara banyak, hanya menikmati keheningan, karena keduanya tahu bahwa besok akan ada masalah baru, musuh baru, dan bahaya baru, tetapi untuk malam ini, mereka bisa berpura-pura bahwa dunia hanya milik mereka berdua.
Keesokan paginya, Tang Hyun meninggalkan istana dengan status yang lebih tinggi dari sebelumnya, karena Putri Mahkota secara resmi menunjuknya sebagai "Penasihat Keamanan Perbatasan", sebuah jabatan yang memberinya akses langsung ke informasi istana dan juga membuatnya hampir mustahil untuk ditangkap lagi tanpa izin Putri.
Berita itu membuat seluruh Jianghu terguncang, karena belum pernah ada orang dari Klan Tang yang memegang jabatan resmi di istana, dan banyak sekte yang mulai mempertimbangkan kembali sikap mereka terhadap Klan Tang.
Di perjalanan pulang, Tang So-yeon bertanya, "Jadi, bagaimana?"
"Kita menang ronde ini," jawab Tang Hyun, "tapi perangnya belum selesai."
"Kau dan Putri?" tanya Tang So-yeon.
Tang Hyun mengeluarkan kantong kue beras ketan dari dalam bajunya, kue yang sudah keras karena sudah dua minggu, "Kita punya janji."
Tang So-yeon melihat kantong itu dan tersenyum, "Kalau begitu jaga baik-baik. Karena janji adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diracuni di dunia ini."
Setibanya di Klan, Tang Hyun langsung membuat perubahan besar, dia membuka kantor resmi Klan Tang di Chang'an, merekrut orang-orang yang bisa membaca dan menulis untuk mengurus dokumen, dan mulai bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membasmi peredaran obat terlarang, sebuah langkah yang membuat rakyat biasa mulai menghormati Klan Tang, bukan takut.
Sebulan berlalu, dan selama sebulan itu, Tang Hyun dan Putri Mahkota hanya bisa bertukar surat, surat-surat singkat yang diselundupkan melalui kurir tepercaya, isinya tentang cuaca, tentang buku yang mereka baca, dan tentang teh apa yang enak untuk diminum di musim semi.
Di salah satu surat, Putri menulis: "Aku menemukan teh baru. Rasanya tidak sepahit teh yang kau buat. Kau harus mencobanya saat kau kembali."
Tang Hyun membalas: "Aku akan kembali. Dan aku akan membawa bunga plum dari Sichuan untukmu."
Surat-surat itu dia simpan di dalam laci terkunci di paviliunnya, dan setiap kali dia lelah, dia membacanya lagi.
Namun kedamaian itu tidak bertahan lama, karena di ujung utara, di balik Puncak Es Abadi, "Jenderal Es" yang pernah menyerang perkemahan ternyata tidak mati, dia hanya mundur, dan sekarang dia mengumpulkan pasukan monster dan manusia yang dibayar oleh sisa-sisa Sekte Iblis, bersiap untuk serangan besar ke wilayah Sichuan.
Surat dari pengintai datang, "Pasukan besar bergerak. Perkiraan satu bulan lagi akan tiba di perbatasan."
Tang Hyun membaca surat itu, lalu dia berdiri dan memanggil semua Tetua, "Kita akan perang lagi."
"Kali ini bukan hanya Sekte Iblis," kata Tetua Ketiga, "tapi juga sesuatu yang tidak kita mengerti."
"Maka kita harus mengerti," jawab Tang Hyun, "dan kita harus menang."
Malam sebelum dia berangkat ke utara lagi, dia menulis surat terakhir untuk Putri Mahkota, "Xinyue, musuh datang lagi. Aku harus pergi. Jaga dirimu. Dan tunggu aku di bawah pohon bunga plum."
Dia mengirim surat itu dan berangkat sebelum fajar, membawa lima ratus prajurit terbaik Klan Tang, dan di dalam hatinya ada dua hal, tanggung jawab untuk melindungi Klan, dan janji untuk kembali kepada seseorang.
Di istana, Putri Mahkota menerima surat itu dan menggenggamnya erat, lalu dia menatap ke arah selatan dan berbisik, "Aku akan menunggu. Dan aku akan memastikan tidak ada yang menyentuhmu saat kau tidak di sini."
Di luar jendela, kelopak bunga plum terakhir jatuh, menandakan bahwa musim semi hampir berakhir, dan musim perang yang sesungguhnya akan segera dimulai.
Tang Hyun tahu bahwa jalan di depan akan dipenuhi darah, pengkhianatan, dan kehilangan, tetapi dia juga tahu bahwa selama dia masih punya seseorang untuk kembali, maka dia tidak akan pernah benar-benar kalah.
Dan di langit malam, bintang-bintang bersinar terang di atas pegunungan utara, menyaksikan dua orang di dua tempat berbeda yang membuat janji yang sama, janji untuk bertahan, janji untuk melindungi, dan janji untuk bertemu lagi di bawah pohon bunga plum.