[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Rumah
Langit malam di ibu kota Dinasti Tang berganti warna menjadi kelam pekat tanpa taburan bintang. Di dalam kompleks Istana Barat, persiapan terakhir tengah dilakukan dalam keheningan yang ketat. Fang Hua mengenakan jubah malam berwarna gelap berlapis kain penutup kepala, memastikan seluruh perbekalan medis dan botol-botol racikan kimia daruratnya tersimpan aman di dalam tas ransel kecil yang terselip rapat di balik jubahnya.
Wang Yiche berdiri di hadapannya, mengenakan pakaian tempur malam lengkap dengan topeng besi perak yang memantulkan bias cahaya rembulan. Di luar gerbang, beberapa ekor kuda tegap sudah disiapkan oleh para pengawal setia.
"Kau yakin ingin ikut turun tangan langsung ke Kediaman Jenderal?" tanya Wang Yiche dengan suara bariton yang rendah, menyiratkan sedikit nada khawatir di balik ketegasannya. "Malam ini kita menyusup ke sarang musuh. Risiko tertangkap basah jauh lebih tinggi."
Fang Hua mengikat tali tasnya dengan mantap, lalu menatap lurus ke arah sang pangeran. "Justru karena ini adalah sarang musuh, aku harus turun tangan sendiri. Orang-orang seperti Jenderal Luo dan Selir Qin tidak akan pernah jera sebelum mereka melihat sendiri kehancuran aset paling berharga mereka."
Luo Huanran yang berdiri di dekat pintu meremas kedua tangannya dengan cemas. Meskipun ia tidak ikut menyusup ke Kediaman Jenderal demi alasan keamanan, degup jantungnya ikut berpacu kencang membayangkan bahaya yang akan dihadapi Fang Hua dan sang pangeran.
"Hati-hati..." cicit Luo Huanran dengan suara parau. "Mereka... mereka sangat licik."
Fang Hua menepuk pundak gadis itu pelan untuk menenangkan. "Tenanglah di sini. Penjagaan di paviliun sudah kuperketat dengan formula khusus. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu."
Setelah memberikan instruksi terakhir kepada para pengawal yang berjaga, Wang Yiche dan Fang Hua segera melompat ke atas pelana kuda. Tanpa mengeluarkan suara bising, rombongan kecil itu menyusup lewat jalur rahasia di balik tembok barat ibu kota, membelah kegelapan malam menuju kawasan bangsawan tempat Kediaman Jenderal berdiri megah.
Sesampainya di sekitar Kediaman Jenderal Luo, suasana tampak sunyi dan dijaga ketat oleh beberapa prajurit patroli. Lampu lentera merah menghiasi setiap sudut gerbang utama, memancarkan kesan mewah yang berbanding terbalik dengan kebusukan di dalam keluarganya.
Wang Yiche menghentikan kudanya di balik bayangan pohon besar tidak jauh dari dinding belakang kediaman. Ia menoleh ke arah Fang Hua. "Pintu utama terlalu berisiko. Kita masuk lewat paviliun samping yang terhubung langsung dengan kamar pribadi Selir Qin."
Fang Hua mengangguk menyetujui. Dengan kelincahan yang mengejutkan, keduanya turun dari kuda, lalu memanjat dinding batu pembatas dengan senyap, mendarat sempurna di atas rumput halaman dalam Kediaman Jenderal tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Langkah kaki mereka bergerak menyusuri koridor kayu yang sepi. Aroma dupa mahal bercampur wangi bunga seruni menyambut indra penciuman mereka begitu mendekati bangunan utama tempat kamar Selir Qin berada.
Di dalam kamar yang hangat dan mewah itu, Selir Qin tampak sedang duduk bersantai di dekat meja teh, sementara Jenderal Luo Tian mondar-mandir dengan wajah gelisah.
"Sialan..." maki Jenderal Luo Tian dengan nada tertahan, menggebrak meja kayu di hadapannya. "Sudah dua hari utusan dari istana pusat tidak memberikan kabar apa pun tentang penyerangan ke Istana Barat! Jangan-jangan pangeran gila itu benar-benar membantai mereka semua?"
Selir Qin menyesap tehnya perlahan, mencoba menenangkan diri meskipun raut wajahnya sendiri menyiratkan kecemasan mendalam. "Jangan berpikiran buruk, Jenderal. Pangeran Kelima hanyalah seorang buangan yang sakit jiwa. Pasukan pembunuh bayaran yang kita sewa bersama Kasim Lu adalah orang-orang pilihan. Tidak mungkin mereka gagal."
"Gagal atau tidak, kita akan segera mengetahuinya malam ini juga," sebuah suara dingin tiba-tiba bergeming dari arah jendela kamar yang terbuka lebar.
Jenderal Luo Tian dan Selir Qin terperanjat kaget, serentak memutar tubuh mereka ke arah sumber suara.
Di ambang jendela yang diterpa angin malam, berdiri sosok bertopeng besi perak yang memancarkan aura membunuh luar biasa pekat, didampingi oleh seorang gadis berkerudung gelap yang menatap tajam penuh kemenangan.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️