NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAK BERBALAS

Setelah pulang dari kampus, Nisa melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari jalan utama. Di sanalah Doni tinggal. Sesampainya di depan pintu rumah itu, Nisa menarik napas panjang sejenak, lalu mengetuk pintu dengan ketukan yang pelan namun terdengar jelas. Tak lama berselang, pintu pun terbuka, dan tampaklah Doni berdiri di ambang pintu itu. Wajahnya tampak belum segar, seakan hari itu belum benar-benar dimulai baginya.

"Mengapa Kak Nisa datang ke sini?" tanya Doni dengan nada yang terdengar malas dan datar.

Nisa menatapnya sejenak, lalu berkata, "Biarkan aku duduk dulu sebentar. Cuaca hari ini cukup panas, dan aku merasa cukup gerah setelah berjalan ke sini."

Doni mengangguk pelan, lalu melangkah mundur dan memberi isyarat agar Nisa masuk. "Silakan, Kak. Duduklah di ruang tamu."

Keduanya pun duduk berhadapan di ruang tamu yang sederhana itu. Nisa menatap lekat wajah pemuda di hadapannya, lalu membuka percakapan. "Mengapa kau tidak datang ke kampus hari ini, Doni? Banyak hal yang seharusnya kau ketahui dan ikuti."

Doni hanya menunduk sejenak, lalu menjawab singkat, "Aku telat bangun pagi. Itu saja, Kak."

Nisa menyipitkan matanya, menatapnya tak percaya. "Hanya karena telat bangun? Apakah kau masih merasa lelah karena semalam begadang atau bahkan mabuk?"

Doni tetap diam. Ia tak menyangkal, namun juga tak mengiyakan. Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu.

Nisa pun kembali bersuara dengan nada yang mulai terdengar berat. "Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Doni? Seakan segala hal tidak penting bagimu."

Doni mendongak, menatapnya dengan pandangan yang mulai berubah dingin. "Jadi... Kak Nisa datang ke sini hanya untuk menceramahi aku? Hanya untuk menasihati dan menegurku?"

Nisa menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas, "Aku datang untuk mengingatkanmu. Kau adalah ketua panitia penerimaan anggota baru kita. Semua orang menantikan kesiapanmu. Jangan sampai tugas dan tanggung jawabmu terabaikan begitu saja."

Mendengar itu, Doni tersenyum tipis yang terasa sedikit sinis. "Jika hanya itu yang ingin Kakak sampaikan... mulai besok aku akan datang. Aku akan aktif kembali dan menjalankan peran serta tugasku sebagaimana seharusnya. Apakah itu sudah cukup?"

Nisa menatapnya lekat-lekat, seakan berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan itu. "Apakah hanya itu saja yang ada di pikiranmu, Doni?"

Doni terdiam. Ia menatap wajah Nisa, kakak senior yang selama ini ia hormati sekaligus... ia kagumi. Namun ia tahu, perasaan itu sebaiknya tetap tersimpan rapat. Perlahan Doni bersuara, dengan nada yang rendah namun tegas.

"Jika Kakak datang berharap aku akan membalas perasaan Kakak... lebih baik Kakak tidak perlu datang ke sini lagi."

Nisa seketika terdiam, tertegun mendengar perkataan itu.

Doni melanjutkan, suaranya tak berubah, namun terdengar menyiratkan sesuatu yang berat. "Selama ini, Kak Billy selalu berusaha mendapatkan perhatian Kakak. Kak Billy tak pernah lelah mengejar Kakak. Bukankah lebih baik... Kakak membalas perasaan Kak Billy? Itu jauh lebih tepat."

Nisa menatapnya dengan pandangan yang tak terlukiskan, lalu berkata pelan, "Hati seseorang tidak bisa dipaksakan, Doni. Hal itu seharusnya kau pahami."

Doni tersenyum tipis kembali, senyum yang terasa getir. "Begitu juga dengan hatiku, Kak. Tidak bisa kupaksakan untuk menjadi seperti yang Kakak harapkan."

Nisa terdiam sejenak, menghela napas panjang yang terasa berat. Perlahan ia berdiri dan bersiap untuk pulang. "Baiklah. Aku pamit pulang. Satu hal yang ingin kukatakan sebelum pergi... jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan lalai dari tanggung jawabmu sebagai ketua panitia. Banyak yang menaruh harapan padamu."

Doni ikut berdiri dan mengangguk pelan. "Kakak tidak perlu khawatir soal itu. Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Nisa pun melangkah keluar meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang tak menentu.

 

Sementara itu, malam pun tiba. Di rumah yang lain, Kristin tampak sibuk di kamarnya. Ia sedang menyusun dan memeriksa barang-barang yang akan dibawanya. Tadi siang, setelah jam perkuliahan selesai, Kristin bersama Cintya dan Ari telah menyerahkan formulir pendaftaran mereka kepada pengurus organisasi. Saat itu, di ruang sekretariat hanya terlihat Kevin, Rangga, dan Adit. Sosok pemuda yang sering dianggap berandalan itu — Doni — sama sekali tidak terlihat.

Kristin tak terlalu memikirkannya. Ia bahkan tak ingin ambil pusing soal Doni. Yang ada di benaknya hanyalah satu tekad: ia ingin menunjukkan pada pemuda itu bahwa dirinya bukanlah wanita yang lemah, bukan pula wanita yang manja dan tak mampu menghadapi tantangan. Ia akan membuktikan bahwa ia mampu.

Setelah memastikan barang-barangnya cukup dan tersusun rapi, Kristin kembali membaca daftar perlengkapan yang harus dibawa. Ia memeriksa satu per satu, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal atau terlewatkan.

Tiba-tiba terdengar suara mamanya memanggil dari bawah, memintanya segera turun untuk makan malam. Kristin pun bergegas, melangkah menuruni tangga dengan langkah ringan menuju dapur. Saat melihat punggung mamanya yang sedang menyiapkan hidangan, Kristin tersenyum dan melangkah mendekat, lalu memeluk mamanya dari belakang dengan penuh kasih sayang.

"Mama..." panggilnya lembut. "Masak apa yang harum semerbak ini?"

Mamanya tersenyum lembut sambil menoleh ke belakang. "Kalau memeluk Mama begitu... pasti ada permintaan besar, bukan?"

Kristin tertawa renyah, lalu segera membantu mamanya menata makanan di meja makan. Mereka pun duduk berdampingan dan mulai menikmati hidangan buatan tangan yang penuh kasih sayang itu. Sambil menyuap nasi perlahan, Kristin menyusun kalimat dalam hatinya, mencari alasan yang tepat agar mamanya tidak khawatir berlebihan.

Kristin pun menatap wajah mamanya dengan tatapan penuh harap. "Ma... jika Kristin pergi berkemah bersama organisasi kampus... apakah Mama akan mengizinkan?"

Mamanya seketika berhenti mengunyah, menatap putrinya dengan tatapan serius. "Berkemah ke mana? Berapa lama? Dan siapa saja yang ikut?"

Kristin segera menjawab dengan sejujur-jujurnya, "Kami akan berkemah di kawasan hutan yang berada di kaki gunung, Ma. Tidak jauh dari pemukiman. Yang ikut cukup banyak, ada senior-senior kami dan teman-teman seangkatan Kristin sekitar empat orang. Kami hanya akan berkemah selama dua hari saja, lalu langsung pulang."

Mamanya menghela napas panjang, menatap putrinya yang tampak penuh harap. Setelah sejenak terdiam, mamanya berkata, "Tak ada gunanya Mama melarang. Daripada kau pergi diam-diam dan menyembunyikannya dari Mama... lebih baik Mama izinkan saja." Wajahnya kemudian melembut, lalu ia menambahkan dengan nada penuh kasih sayang, "Tapi berjanjilah pada Mama... kau harus selalu menjaga dirimu. Tetap berhati-hati di mana pun kau berada. Jangan pergi sendirian ke tempat yang sepi."

Wajah Kristin seketika berseri-seri mendengar izin itu. Ia langsung bangkit dan memeluk mamanya erat, menumpahkan rasa bahagianya. "Terima kasih, Mama! Terima kasih banyak!"

Mamanya tersenyum lembut sambil mengusap lembut kepala putrinya. Hatinya terasa tenang melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Kristin, sekaligus sedikit cemas karena putri tunggalnya akan pergi ke alam bebas. Namun ia percaya, pengalaman ini akan menjadikan Kristin wanita yang lebih kuat dan mandiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!