NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 01 - Aku yang Akan Menikah Dengannya

Alya Prameswari berdiri di depan rumah besar keluarga Wiratama dengan map cokelat di tangan.

Hujan baru saja berhenti. Halaman batu di depan rumah itu masih basah. Aroma tanah naik bersama udara dingin Jakarta sore itu.

Di dalam rumah, suara laki-laki terdengar keras.

"Saya sudah bilang, Eyang. Saya tidak mau menikah dengan Laras."

Suara itu rendah, tapi tajam.

Alya berhenti satu langkah sebelum pintu ruang tengah. Tangannya menggenggam map sampai ujung kertasnya terlipat.

Dia pernah melihat wajah pria itu di berita militer. Mayor Damar Arkan Wiratama. Komandan muda yang sering dikirim ke wilayah perbatasan. Tegas, dingin, dan nyaris tak pernah tersenyum di depan kamera.

Tapi mendengar suaranya secara langsung, dada Alya tetap terasa sesak.

"Damar!" suara Eyang Wiratama bergetar karena marah. "Keluarga Prameswari pernah menyelamatkan keluarga kita saat kita jatuh. Janji ini bukan main-main."

"Janji Eyang, bukan janji saya."

"Kalau kamu tetap menolak, lepaskan jabatanmu di satuan itu. Pulang. Bantu ayahmu urus perusahaan keluarga. Aku tidak akan membiarkan cucuku mempermalukan janji yang dibuat di depan orang tua yang sudah meninggal."

Ruangan itu hening.

Alya menunduk. Wajah Laras yang pucat muncul di pikirannya.

"Alya, aku tidak bisa. Aku mencintai Farel. Kalau aku dipaksa menikah dengan Mayor Damar, aku kabur. Aku serius."

Kakaknya menangis sampai napasnya putus-putus. Papa duduk di sofa rumah sakit dengan selang infus di tangan. Mama tidak berhenti membaca doa. Utang perusahaan, operasi jantung Papa, dan nama baik keluarga mereka seperti tali yang melilit leher.

Laras tidak kuat.

Papa tidak boleh tahu Laras kabur.

Dan keluarga Wiratama tidak boleh membatalkan bantuan yang bisa menyelamatkan Papa.

Alya menarik napas.

Dia mengetuk pintu.

Semua orang menoleh.

Di ruang tengah itu, Eyang Wiratama duduk di kursi roda. Wajahnya keras, rambut putihnya tersisir rapi. Di sampingnya ada Om Bima dan Tante Nadia, orang tua Damar. Keduanya tampak tegang.

Lalu mata Alya bertemu dengan mata Damar.

Tajam.

Dingin.

Seolah dia sudah tahu Alya datang untuk berbohong.

"Assalamualaikum," kata Alya pelan.

Tante Nadia berdiri. "Alya? Laras mana?"

Alya menelan ludah.

"Mbak Laras sakit. Dia tidak bisa datang."

Damar menyipitkan mata.

"Kebetulan sekali."

Alya pura-pura tidak mendengar. Dia melangkah masuk, lalu berhenti di depan Eyang Wiratama.

"Eyang," katanya, "saya datang untuk menyampaikan sesuatu."

Eyang memandangnya lama. "Bicaralah."

Alya menahan gemetar di lututnya.

"Kalau keluarga Wiratama masih ingin menjaga janji dengan keluarga Prameswari, izinkan saya menggantikan Mbak Laras."

Tante Nadia menutup mulutnya.

Om Bima mengerutkan kening. "Alya, kamu paham apa yang kamu katakan?"

"Saya paham, Om."

Damar tertawa pendek.

Tidak ada humor di suara itu.

"Jadi ini rencana baru keluarga kalian?"

Alya menoleh kepadanya. "Bukan."

"Laras menolak, lalu adiknya maju. Hebat." Damar melangkah mendekat. Seragam dinasnya masih melekat di tubuh, bahunya lebar, tubuhnya tinggi sampai membuat Alya harus sedikit mendongak. "Kamu pikir ini apa? Kursi kosong yang bisa diisi siapa saja?"

"Saya tidak berpikir begitu."

"Lalu kenapa kamu datang?"

Karena Papa bisa mati kalau operasi itu ditunda.

Karena Laras tidak akan kembali malam ini.

Karena Mama sudah terlalu lelah menangis.

Alya tidak mengatakan semua itu.

Dia mengangkat wajah.

"Karena saya bersedia menikah dengan Anda."

Mata Damar makin gelap.

"Bersedia?" Dia mengulang kata itu seperti sesuatu yang kotor. "Kamu bahkan tidak mengenal saya."

"Saya tahu Anda prajurit yang baik."

"Jangan menjilat."

Alya terdiam.

Ucapan itu menampar lebih keras dari yang dia duga.

Eyang Wiratama memukul sandaran kursi rodanya. "Damar, jaga mulutmu!"

"Tidak perlu, Eyang." Damar masih menatap Alya. "Dia datang sendiri. Dia pasti sudah menyiapkan jawabannya."

Alya menggenggam map di tangannya lebih kuat. Di dalam map itu ada fotokopi KTP, surat keterangan belum menikah, dan semua berkas yang sejak pagi dia urus bersama Mama. Terlalu cepat. Terlalu gila. Tapi semuanya bisa diurus jika dua keluarga besar dan uang keluarga Wiratama bergerak.

Dia tahu itu terdengar buruk.

Mungkin di mata Damar, dia memang buruk.

"Saya tidak meminta Anda menyukai saya," kata Alya. "Saya hanya meminta Anda menepati akad jika akad itu nanti terjadi."

Ruangan kembali hening.

Damar menatapnya seolah baru saja mendengar tantangan.

Eyang Wiratama menarik napas panjang. "Aku lebih suka anak yang berani bicara jujur daripada anak yang kabur dari tanggung jawab."

Alya menunduk.

Maaf, Mbak.

Dia tahu kalimat Eyang melukai Laras, meski Laras tidak ada di sana.

Damar berbalik ke arah kakeknya.

"Baik."

Alya mengangkat kepala.

Damar berkata lagi, lebih dingin.

"Saya akan menikah dengannya."

Tante Nadia tampak lega, tapi wajah Om Bima justru makin berat.

"Tapi ada syarat," lanjut Damar.

Eyang Wiratama mengatupkan rahang.

"Katakan."

Damar menatap Alya.

"Pertama, setelah menikah, tidak ada yang ikut campur dengan penugasan saya. Saya tetap kembali ke perbatasan."

"Itu bisa dibicarakan," kata Om Bima.

"Tidak. Itu syarat."

Eyang mengangguk pelan.

"Kedua," Damar melanjutkan, "pernikahan ini hanya status. Jangan menuntut apa pun dari saya. Jangan cinta, jangan perhatian, jangan hak sebagai istri yang kamu bayangkan."

Dada Alya terasa ditusuk.

Damar belum selesai.

"Ketiga, tiga tahun. Kalau dalam tiga tahun pernikahan ini tidak membawa apa pun selain masalah, kita berpisah."

Tante Nadia tersentak. "Damar!"

"Saya tidak akan membuat perjanjian aneh di depan KUA," katanya datar. "Saya tahu hukum. Tapi dia perlu mendengar ini dari awal."

Mata Damar kembali ke Alya.

"Kamu masih mau?"

Alya merasa semua orang menunggunya bernapas.

Dia bisa mundur.

Dia bisa pulang, membangunkan Laras, memaksa kakaknya bertanggung jawab.

Tapi bayangan Papa di ruang rawat membuat pilihan itu mati sebelum lahir.

Alya mengangguk.

"Saya mau."

Damar menatapnya lama. Lalu bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan penghinaan.

"Kalau begitu, selamat. Kamu mendapatkan posisi yang kamu inginkan."

Alya tidak menjawab.

Dia hanya menunduk, menyembunyikan tangan yang mulai gemetar.

Malam itu, saat keluarga membicarakan wali, saksi, KUA, dan akad yang harus dipercepat dengan surat dispensasi dari kecamatan, Alya duduk diam di sudut ruangan.

Tidak ada yang bertanya apa dia takut.

Tidak ada yang bertanya apa dia rela.

Karena jawaban dari dua pertanyaan itu tidak penting lagi.

Yang penting hanya satu.

Besok pagi, keluarga Prameswari masih punya harapan menyelamatkan Papa.

Dan Alya akan menjadi istri pria yang sejak detik pertama sudah membencinya.

Saat mobil Mama menjemputnya pulang, Alya sempat melihat Damar berdiri di balkon lantai dua. Pria itu tidak mendekat, tidak memberi salam, hanya menatap dari atas seperti seorang komandan menilai wilayah yang baru saja dipaksa masuk dalam petanya.

Alya menunduk lebih dulu.

Di dalam mobil, Mama menggenggam tangannya sambil berulang kali menyebut nama Allah. Alya membiarkan tangan itu menggenggamnya erat, meski kukunya sendiri sudah meninggalkan bekas di telapak.

"Kamu yakin, Nak?" tanya Mama akhirnya.

Alya melihat lampu jalan yang memantul di kaca mobil.

Tidak.

Dia tidak yakin pada Damar. Tidak yakin pada keluarga Wiratama. Tidak yakin pada pernikahan yang belum dimulai tapi sudah terasa seperti hukuman.

Tapi dia yakin pada satu hal.

Kalau malam ini dia mundur, rumah mereka akan runtuh sebelum fajar.

"Iya, Ma," jawabnya.

Mama menangis lagi.

Alya tidak ikut menangis. Dia hanya menatap jalan, memikirkan ruang operasi Papa, wajah Laras yang entah bersembunyi di mana, dan mata Damar yang dingin.

Mulai besok, semua orang mungkin akan memanggilnya istri Mayor Damar.

Tapi malam itu, Alya merasa seperti orang asing yang baru saja menandatangani kontrak dengan badai.

Di rumah, Laras belum pulang.

Mama tidak menyebut namanya. Papa juga tidak. Semua orang seperti sepakat menutup satu pintu agar rumah tidak makin berantakan.

Alya masuk kamar, melepas kerudung, lalu duduk di lantai.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Laras hanya berisi dua kata.

Maaf, Dek.

Alya menatap layar lama sekali.

Dia tidak membalas.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!