Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Jamuan makan malam di kediaman utama keluarga Ar-Rasyid selalu diadakan di ruang makan formal yang ukurannya menyerupai aula istana kecil. Meja makan panjang dari kayu jati tua berukir klasik terbentang di tengah ruangan, dihiasi oleh lilin-lilin aromaterapi antik dalam wadah kristal dan deretan peralatan makan perak mendarat sempurna di atas taplak meja linen putih bersih.
Suasana di sekitar meja makan terasa begitu kaku dan penuh dengan ketegangan yang dapat dirasakan oleh siapa pun yang duduk di sana. Di ujung kepala meja, Kakek Raden duduk dengan postur tegak, memancarkan wibawa seorang patriark yang memimpin dinasti bisnis keluarga besar tersebut. Di sisi kanan dan kirinya, para paman, bibi, serta sepupu-sepupu Alexander menempati kursi-kursi mereka dengan tatapan mata yang sesekali mencuri pandang ke arah pasangan pengantin baru di ujung tengah meja.
Alexander dan Keisha duduk berdampingan. Selama hidangan pembuka berupa sup jamur truffle disajikan oleh para pelayan berpakaian seragam rapi, tidak ada satu pun suara bising yang terdengar kecuali gemerincing sendok perak yang beradu dengan mangkuk porselen.
Di seberang meja mereka, duduk seorang pria muda berjas biru dongker dengan senyuman tipis yang menyembunyikan seringai sinis—Damian Ar-Rasyid, sepupu jauh Alex yang selama ini dikenal sebagai saingan terberat dalam perebutan kursi dewan direksi perusahaan. Damian memotong rotinya perlahan sebelum mengangkat pandangannya tepat ke arah Keisha.
"Jadi, Nyonya Ar-Rasyid," ucap Damian dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar seluruh orang di meja makan itu mendengarkan. "Kami semua sangat terkejut mendengar kabar pernikahan kilat Anda dengan Alex. Mengingat standar sepupu saya ini terkenal sangat tinggi dalam memilih pasangan—terutama dari kalangan sosialita papan atas—banyak dari keluarga besar yang penasaran... bagaimana cara seorang desainer butik biasa bisa menarik perhatian sang CEO?"
Pertanyaan bernada meremehkan itu langsung membuat suasana makan malam semakin membeku. Beberapa bibi menahan napas, sementara Kakek Raden tetap diam tidak bergeming, membiarkan dinamika itu terjadi untuk menguji bagaimana cara sang cucu menantu menghadapi tekanan keluarga.
Keisha meletakkan sendok peraknya secara perlahan di atas piring. Ia tidak menunjukkan secercah pun rasa gugup atau gentar. Sebaliknya, wanita itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat elegan, lalu menatap lurus ke arah Damian.
"Standar hidup seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia lahir di dalam lingkaran istana atau berapa banyak warisan yang ia terima tanpa kerja keras, Damian," balas Keisha dengan nada suara yang tenang, lembut, namun memiliki ketajaman yang sukses membuat Damian tertegun. "Alexander memilih saya bukan karena latar belakang nama keluarga atau deretan gelar kosong, melainkan karena saya tahu cara berdiri di atas kaki sendiri dan memberikan nilai nyata—sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh seseorang yang hidupnya hanya bergantung pada fasilitas keluarga."
Skakmat!
Beberapa sepupu yang duduk di ujung meja hampir tersedak minuman mereka mendengar balasan telak tersebut. Wajah Damian langsung berubah menjadi kemerahan karena menahan malu dan amarah yang meluap-luap akibat tersindir secara telak di hadapan sang kakek.
Alexander, yang duduk di samping Keisha, menyembunyikan senyuman bangganya di balik serbet kain yang ia gunakan untuk menyeka bibirnya. Pria itu menoleh sekilas ke arah istrinya, merasakan gelombang kekaguman yang semakin besar terhadap keberanian wanita di sampingnya.
"Jawaban yang sangat cerdas," suara Kakek Raden akhirnya memecah keheningan, memecah ketegangan dengan nada suara yang terdengar setengah memuji. Sang Kakek menatap Keisha dengan sorot mata menilai yang kini sedikit melunak. "Kau memiliki lidah yang tajam, nak. Dan di dalam keluarga Ar-Rasyid, orang-orang yang hanya bisa berbicara manis tanpa isi tidak akan pernah bisa bertahan lama."
"Terima kasih atas pujiannya, Kakek," jawab Keisha dengan sedikit menundukkan kepalanya secara sopan.
Namun, drama di meja makan malam itu belum benar-benar berakhir. Bibi Nirmala, yang masih menyimpan dendam atas kejadian di penthouse beberapa hari lalu, tidak tinggal diam melihat anaknya dipermalukan. Ia mengangkat gelas wine-nya sambil tersenyum sinis.
"Tentu saja dia pintar berbicara, Ayah," sela Nirmala dengan nada manja yang dibuat-buat, menatap Kakek Raden. "Tapi pernikahan bukan sekadar adu mulut atau pamer pembelaan diri. Sebagai suami istri, keharmonisan dan bukti nyata adalah segalanya. Kami hanya penasaran... apakah Alexander dan Keisha ini benar-benar tidur di kamar yang sama setiap malam layaknya pasangan pengantin baru yang sah, atau jangan-jangan kamar terpisah?"
Pertanyaan yang sangat lancang dan melanggar privasi itu langsung membuat udara di ruangan tersebut terasa seperti terbakar. Seluruh anggota keluarga menantikan reaksi dari sang CEO.
Sebelum Alex sempat membuka mulut dengan kemarahan mematikan yang siap meledak, Keisha bergerak lebih dulu. Tanpa ragu sedikit pun, Keisha menggeser kursi duduknya sedikit mendekat ke arah Alex, lalu melingkarkan tangan kanannya ke lengan kokoh suaminya. Ia menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu Alex, menampilkan gestur kemesraan yang begitu natural dan intim di hadapan seluruh keluarga besar.
Alex terkejut sepersekian detik atas inisiatif istrinya, namun pria itu dengan cepat menyesuaikan diri. Tangan besar Alex langsung melingkar protektif di pinggang Keisha, menarik tubuh wanita itu semakin merapat ke sisi tubuhnya.
Keisha mengangkat wajahnya, menatap Bibi Nirmala dengan senyuman manis tanpa beban.
"Jika Bibi Nirmala ingin tahu seberapa dekat hubungan kami di balik pintu kamar tertutup," ucap Keisha dengan suara lembut namun menusuk, "saya rasa itu adalah rahasia pribadi antara saya dan suami saya. Kecuali... jika Bibi memiliki kebiasaan buruk suka mengintip kehidupan kamar tidur keponakan Anda sendiri?"
Wajah Bibi Nirmala seketika berubah pucat pasi, tidak menyangka bahwa menantu baru ini akan membalas serangannya dengan kalimat menohok yang membalikkan keadaan menjadi sangat memalukan baginya.
Kakek Raden memukul meja pelan dengan cincin giok di jarinya, menghentikan perdebatan tersebut dengan otoritas mutlak. "Cukup, Nirmala! Jaga batasan sopan santunmu di meja makanku."
Setelah kejadian itu, tidak ada seorang pun di meja makan yang berani melontarkan pertanyaan provokatif lagi kepada Keisha. Sisa jamuan makan malam dilanjutkan dalam suasana yang jauh lebih tenang, meskipun ketegangan masih terasa di udara.
Pukul sepuluh malam, setelah jamuan makan malam selesai dan para tamu undangan membubarkan diri menuju kamar masing-masing di sayap barat istana tersebut, Alex dan Keisha berjalan berdampingan menuju kamar pengantin utama yang telah disiapkan khusus untuk mereka di lantai dua.
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Keisha langsung mengembuskan napas panjang, melepaskan seluruh ketegangan yang sempat menumpuk di pundaknya. Ia melepaskan sepatu hak tingginya, lalu memijit pelan pergelangan kakinya.
Alex berjalan mendekat, menatap istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh campuran antara rasa takjub dan ketertarikan yang membara.
"Kau luar biasa malam ini," ucap Alex dengan suara rendah yang serak, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan Keisha. "Kau berhasil membungkam mulut Bibi Nirmala dan Damian tanpa perlu mengangkat tanganmu."
Keisha mendongakkan kepalanya, menatap manik mata hitam pria di depannya dengan senyuman bangga. "Jangan meremehkan kemampuan seorang desainer, Tuan Ar-Rasyid. Kami terbiasa memotong bahan yang rusak sampai bersih."
Alex terkekeh kecil. Ia merendahkan tubuhnya, lalu mengangkat tubuh Keisha dengan mudah dalam gendongan tangannya, membuat wanita itu terpekik kaget secara spontan melingkarkan kedua tangannya di leher sang CEO.
"Apa yang kau lakukan, Alexander?!" protes Keisha dengan wajah yang merona merah.
"Menghukummu karena sudah membuat jantungku berdetak terlalu kencang sepanjang makan malam tadi," bisik Alex tepat di depan bibir istrinya dengan senyuman berbahaya.
Di dalam kamar remang-remang kediaman utama keluarga Ar-Rasyid itu, di tengah benteng musuh yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka, lembaran baru dalam sandiwara pernikahan kontrak mereka resmi berubah menjadi sebuah kenyataan yang tidak lagi bisa dihindari oleh keduanya.