"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Fajar yang Berbeda, Hati yang Kembali
Cahaya fajar perlahan menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menyentuh lantai kayu yang dingin dengan kehangatan yang lembut. Hujan semalam telah berhenti, digantikan oleh udara pagi yang segar dan bersih, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh di taman depan rumah. Di dalam kamar itu, suasana begitu tenang — begitu damai — hingga seakan dunia di luar sana tak pernah ada pertengkaran, tak pernah ada kesedihan, tak pernah ada jarak yang memisahkan dua orang yang sebenarnya saling mencintai.
Mo Ha terbangun lebih dulu. Ia berbaring diam, menatap wajah istrinya yang masih terlelap di sampingnya. Cahaya pagi yang samar menyentuh wajah Su Yi, menonjolkan garis lembut di pipinya, bulu matanya yang panjang, dan bibirnya yang kemerahan — bibir yang selama dua tahun sering kali terkatup rapat karena kesedihan, namun semalam akhirnya terbuka untuk tersenyum, untuk menangis, untuk berbicara dari hati ke hati. Mo Ha menatapnya lekat-lekat, seakan ingin menghafal setiap inci wajah itu, seakan takut jika ia berkedip sebentar saja, semua ini akan lenyap seperti mimpi yang indah namun semu.
"Kau begitu tenang saat tidur," bisik Mo Ha pelan, suaranya hampir tak terdengar, takut membangunkannya. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh helai rambut hitam yang jatuh menutupi dahi Su Yi. Jari-jarinya menyisir rambut itu dengan lembut, penuh kehati-hatian, seakan sedang memegang benda paling berharga di seluruh dunia. "Dan kau begitu cantik. Cantik hingga aku tak percaya kau benar-benar ada di sini, di sampingku."
Su Yi bergerak pelan, matanya mulai bergerak di balik kelopak mata, tanda ia akan segera terbangun. Mo Ha segera menarik tangannya, takut jika ia terbangun dan melihatnya menatap begitu lekat, ia akan merasa canggung, akan merasa ragu lagi. Namun terlambat — Su Yi membuka matanya perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya yang berada begitu dekat, menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya — tatapan yang penuh kasih, penuh kekaguman, dan penuh cinta yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Kau sudah bangun?" tanya Su Yi pelan, suaranya masih berat karena baru saja terbangun. Ia mencoba mengatur posisinya, namun menyadari bahwa kepalanya bersandar di lengan Mo Ha, dan tubuhnya berdekatan erat dengan tubuh suaminya. Wajahnya seketika memerah, dan ia berusaha menarik diri sedikit, namun tangan Mo Ha yang melingkar di pinggangnya menahannya dengan lembut, tanpa menekan, tanpa memaksa.
"Jangan pergi," ucap Mo Ha pelan, matanya menatap lurus ke mata istrinya. "Biar saja seperti ini sebentar lagi. Aku ingin menikmati momen ini — momen di mana kau bukan lagi istri yang diabaikan, dan aku bukan lagi suami yang penuh kepura-puraan. Ini pertama kalinya kita bangun bersama dengan hati yang saling terbuka. Biarkan aku menikmatinya."
Su Yi terdiam, lalu perlahan menyandarkan kepalanya kembali ke lengan Mo Ha. Ia menatap wajah suaminya — benar-benar menatapnya — dan melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik wajah dingin dan tatapan tajam itu. Di balik itu semua, ada seorang pria yang rapuh, yang takut kehilangan, yang sebenarnya sangat membutuhkan seseorang untuk dicintai dan dicintai balik.
"Semalam..." Su Yi memulai pelan, suaranya terdengar ragu. "Apakah semua yang kau katakan semalam itu benar? Atau... apakah itu hanya kata-kata yang terucap karena kau sedang emosi?"
Mo Ha menghela napas pelan, lalu mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Su Yi dengan lembut, ibu jarinya mengusap lembut kulit pipi yang halus itu. "Aku mengerti keraguanmu, Su Yi. Selama dua tahun aku memperlakukanmu dengan dingin, dengan ketidakpedulian, dengan sikap yang seakan kau adalah beban bagiku. Wajar jika kau tak percaya begitu saja. Dan aku tak memintamu untuk langsung percaya padaku. Aku hanya memintamu untuk memberiku waktu. Biarkan aku membuktikannya kepadamu setiap hari, setiap jam, setiap detik ke depannya."
Su Yi menatapnya, matanya berkaca-kaca namun kali ini bukan karena kesedihan. "Bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa percaya bahwa semuanya akan berubah?"
"Karena aku akan berubah," jawab Mo Ha dengan tegas, namun nada bicaranya tetap lembut. "Aku tidak akan berjanji bahwa aku akan menjadi suami yang sempurna — karena aku tahu aku masih banyak kekurangan. Tapi aku berjanji satu hal: aku akan berusaha menjadi suami yang pantas untukmu. Aku akan mendengarkanmu, aku akan menghargaimu, aku akan ada untukmu saat kau sedih, saat kau bahagia, saat kau membutuhkan seseorang untuk menemani langkahmu."
Mo Ha menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam dan lebih tulus. "Dua tahun yang lalu, saat kita menikah, aku berpikir bahwa pernikahan ini hanyalah urusan bisnis — penyatuan dua keluarga, penyatuan kekayaan dan kekuasaan. Aku berpikir bahwa cinta adalah hal yang tidak penting dalam pernikahan, bahwa perasaan hanya akan menjadi kelemahan. Tapi aku salah. Aku salah besar. Dua tahun ini aku hidup dalam kemewahan, dalam kekuasaan, dalam rasa hormat orang lain — tapi aku merasa kosong. Kosong karena tak ada yang benar-benar berarti bagiku. Hingga saat aku hampir kehilanganmu... aku menyadari bahwa kaulah satu-satunya hal yang benar-benar berarti dalam hidupku. Tanpamu, semua kekayaan dan kekuasaan ini tak ada artinya sama sekali."
Air mata jatuh dari sudut mata Su Yi, namun kali ini ia tidak berusaha menyekanya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, merasakan kelegaan yang begitu besar hingga dadanya terasa penuh, penuh dengan perasaan yang selama ini ia pendam sendirian. "Selama ini aku berpikir... aku berpikir kau tidak pernah menginginkanku. Bahwa bagiku kau hanyalah kewajiban yang harus kau penuhi."
"Kau salah," ucap Mo Ha lembut, lalu mendekapnya lebih erat, seakan takut jika ia melepaskan, Su Yi akan menghilang. "Kau adalah hadiah terindah yang pernah diberikan takdir kepadaku. Dan aku... aku telah menyia-nyiakannya selama dua tahun. Tapi mulai hari ini, aku takkan pernah menyia-nyiakanmu lagi. Kau adalah istriku, Su Yi. Istriku yang sah, istriku yang kucintai, dan istriku yang akan kujaga sampai napas terakhirku."
Su Yi mengangkat tangannya perlahan, menyentuh wajah suaminya — menyentuh alisnya yang tebal, matanya yang tajam namun kini lembut, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tegas. Sentuhannya begitu lembut, begitu penuh perasaan, hingga Mo Ha menutup matanya, menikmati setiap sentuhan itu.
"Kalau begitu..." bisik Su Yi pelan, jarinya berhenti di dagu Mo Ha. "Mulai hari ini, jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku. Jangan pernah berpura-pura lagi. Kalau kau sedih, katakan. Kalau kau bahagia, katakan. Biarkan aku menjadi orang pertama yang mengetahui semua itu."
Mo Ha membuka matanya, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang penuh janji. "Aku berjanji. Mulai hari ini, tak ada lagi rahasia di antara kita. Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi kepura-puraan. Hanya kita berdua — Mo Ha dan Su Yi — suami dan istri yang saling mencintai."
Su Yi tersenyum — senyum yang tulus, yang indah, yang bersinar seperti matahari pagi yang baru terbit. Senyum itu membuat jantung Mo Ha berpacu lebih cepat, membuatnya merasa seakan ia adalah pria paling beruntung di seluruh dunia. "Kalau begitu... selamat pagi, Suamiku."
Mo Ha tersenyum balik — senyum yang hangat, yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya. "Selamat pagi, Istriku."
Mo Ha mendekatkan wajahnya perlahan, bibirnya menyentuh bibir Su Yi dengan lembut — ciuman yang lembut, yang penuh rasa syukur, penuh cinta, dan penuh janji untuk masa depan. Bukan ciuman yang penuh gairah, melainkan ciuman yang menyampaikan segala kata yang tak sempat terucap selama dua tahun — permintaan maaf, pengakuan cinta, dan harapan untuk kebersamaan yang abadi. Su Yi memejamkan matanya, membalas sentuhan itu dengan lembut, merasakan kehangatan yang menjalar dari bibirnya hingga ke seluruh tubuhnya, merasakan bahwa akhirnya — akhirnya — ia benar-benar diinginkan, benar-benar dicintai, dan benar-benar pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan itu perlahan, namun tangan mereka tetap saling menggenggam — jari-jari mereka saling bertautan, erat dan tak terpisahkan. Cahaya matahari pagi semakin terang, menerangi seluruh kamar, menerangi dua orang yang akhirnya menemukan jalan kembali ke hati satu sama lain.
"Sudah pagi," ucap Su Yi pelan, menatap jendela yang kini terang benderang. "Kita harus bangun. Orang-orang di rumah pasti sudah menunggu."
"Biarkan mereka menunggu," jawab Mo Ha dengan senyum tipis, namun tangannya tetap tidak melepaskan tangan istrinya. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin melupakan segala urusan dunia hanya untuk tetap berada di sini, bersamamu."
Su Yi tertawa pelan — tawa yang jernih dan menenangkan. "Tapi kita harus makan sarapan, bukan? Dan kau pasti harus pergi ke kantor nanti."
Mo Ha menghela napas pura-pura keberatan, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Su Yi sambil menaikkan satu alisnya, terlihat manis dan menggemaskan.
"Kau harus sarapan bersamaku di meja makan — bukan di kamar terpisah seperti biasanya," jawab Mo Ha dengan tatapan yang penuh harap. "Dan kau harus menemaniku sampai aku berangkat ke kantor. Dan saat aku pulang nanti sore... kau harus menjadi orang pertama yang menyambutku."
Su Yi menatapnya sejenak, lalu tersenyum lebar. "Baik. Aku janji. Dan saat kau pulang nanti sore... aku akan menunggumu di sini, di rumah kita."
Mereka bangkit dari tempat tidur bersama-sama. Mo Ha mengambilkan pakaian untuk Su Yi — pakaian yang indah dan nyaman, bukan pakaian yang biasa ia pakai untuk bersembunyi di balik kesederhanaan. Dan saat Su Yi berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna krem yang lembut, rambutnya yang hitam panjang dihiasi jepit rambut sederhana namun elegan, ia melihat dirinya sendiri — bukan lagi wanita yang murung dan kesepian, melainkan wanita yang bersinar karena dicintai.
Mereka berjalan menuju ruang makan beriringan — bukan berjalan terpisah seperti biasanya, bukan dengan jarak yang jauh, melainkan berjalan berdampingan, tangan Mo Ha melingkar di pinggang Su Yi, melindunginya, membiarkan semua orang yang melihatnya tahu bahwa wanita di sampingnya adalah miliknya, adalah wanita yang paling ia hargai di dunia ini.
Saat mereka memasuki ruang makan, para pelayan yang sedang menyiapkan sarapan berhenti bergerak sejenak — terkejut, tak percaya, dan perlahan wajah mereka berubah menjadi senyum yang tulus dan bahagia. Selama dua tahun mereka bekerja di rumah ini, belum pernah melihat Tuan Muda Mo Ha dan Nyonya Muda Su Yi berjalan bersama dengan begitu dekat, begitu hangat, dan begitu bahagia.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa kepala pelayan dengan senyum yang lebar, suaranya penuh kebahagiaan tulus melihat perubahan itu.
"Selamat pagi," jawab Mo Ha dengan lembut, lalu menarik kursi untuk Su Yi dengan sopan — sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Silakan duduk, Sayang."
Su Yi tersenyum berterima kasih, lalu duduk. Mo Ha duduk di sampingnya, bukan di ujung meja seperti biasanya. Ia menuangkan teh hangat untuk Su Yi terlebih dahulu, lalu baru menuangkan untuk dirinya sendiri — perhatian kecil yang membuat hati Su Yi terasa hangat dan penuh.
"Kau suka roti gandum dengan selai stroberi, bukan?" tanya Mo Ha pelan, sambil mengambil piring dan menyajikannya untuk istrinya. "Dan kau suka telur yang matangnya sedang — tidak terlalu matang, tidak terlalu lembek. Benar kan?"
Su Yi tertegun sejenak, menatap suaminya dengan takjub. "Kau... kau tahu?"
"Aku tahu," jawab Mo Ha pelan, menatapnya dengan tatapan lembut. "Aku tahu banyak hal tentangmu, Su Yi. Aku tahu kau suka bunga melati, aku tahu kau suka teh yang tidak terlalu manis, aku tahu kau suka berjalan-jalan di taman saat sore hari, dan aku tahu kau sering kali duduk di jendela kamar sendirian saat malam hari. Aku tahu semua itu — aku hanya bodoh karena tak pernah berani mengatakannya."
Su Yi menatapnya, matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini air mata itu jatuh disertai senyum yang paling indah. "Terima kasih, Mo Ha. Terima kasih karena memperhatikanku."
"Terima kasih karena tetap menungguku," jawab Mo Ha lembut, lalu menyentuh punggung tangan istrinya di atas meja. "Terima kasih karena tidak pergi meskipun aku membuatmu kesakitan selama dua tahun."
Sarapan itu berlangsung berbeda dari sarapan-sarapan sebelumnya. Tidak ada keheningan yang canggung, tidak ada tatapan yang dihindari, tidak ada perasaan tidak diinginkan. Mereka berbicara — berbicara tentang hal-hal kecil, tentang kebiasaan masing-masing, tentang hal-hal yang mereka sukai dan yang tidak disukai. Mereka tertawa — tawa yang bebas, tawa yang bahagia, tawa yang belum pernah terdengar di ruang makan itu selama dua tahun terakhir.
Saat sarapan selesai, Mo Ha berdiri dan membantu Su Yi berdiri juga. Ia menatap jam di dinding, lalu kembali menatap istrinya dengan sedikit keberatan. "Sayangnya aku harus pergi ke kantor sekarang. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan."
Su Yi mengangguk pelan, lalu merapikan kerah kemeja suaminya dengan lembut. "Pergilah. Jangan sampai terlambat. Aku akan menunggumu di sini."
Mo Ha menggenggam tangan istrinya di kerah kemejanya, menempelkan punggung tangan itu ke bibirnya dan menciumnya dengan lembut. "Aku akan berusaha pulang lebih awal hari ini. Dan aku akan membawa sesuatu untukmu."
"Tak perlu membawakan apa-apa," jawab Su Yi lembut. "Yang aku butuhkan hanyalah kau pulang dengan selamat."
Mo Ha tersenyum, lalu melepaskan tangannya perlahan. Ia berjalan menuju pintu depan, namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Su Yi yang berdiri di ruang tamu menatapnya. "Su Yi!"
"Ya?" jawab Su Yi pelan.
"Selamat pagi," ucap Mo Ha dengan senyum yang hangat dan tulus. "Dan terima kasih — untuk semuanya."
"Selamat pagi, Mo Ha," jawab Su Yi dengan senyum yang sama indahnya. "Hati-hati di jalan."
Mo Ha melangkah keluar pintu itu dengan perasaan yang berbeda — bukan lagi perasaan kosong dan berat seperti biasanya, melainkan perasaan yang ringan, penuh harapan, dan penuh cinta. Ia berjalan menuju mobilnya, dan setiap langkahnya terasa lebih ringan, lebih mantap, karena ia tahu — ia tahu dengan pasti — bahwa ada seseorang yang menunggunya di rumah, seseorang yang mencintainya, dan seseorang yang ia cintai lebih dari apa pun di dunia ini.
Di dalam rumah, Su Yi berdiri diam di ruang tamu, menatap pintu yang tertutup itu. Tangannya menyentuh bibirnya, masih merasakan kehangatan ciuman perpisahan tadi. Ia berjalan menuju jendela, melihat mobil suaminya melaju perlahan keluar dari halaman rumah, menghilang di balik gerbang yang terbuka. Dan saat itu, ia menyadari satu hal — bahwa rumah ini bukan lagi sekadar bangunan tempat tinggal. Rumah ini telah menjadi rumah yang sesungguhnya — tempat di mana cinta tinggal, tempat di mana hati merasa pulang, dan tempat di mana dua orang telah bersatu bukan lagi karena kewajiban, melainkan karena cinta yang tulus dan abadi.
Su Yi berbalik dari jendela, berjalan menuju taman belakang rumah dengan langkah yang ringan dan bahagia. Matahari pagi semakin tinggi, menyinari bunga-bunga yang bermekaran, dan di antara aroma bunga melati yang harum, ia menarik napas panjang — napas yang penuh harapan, penuh kebahagiaan, dan penuh rasa syukur.
Hari ini bukan sekadar hari baru. Ini adalah awal dari kehidupan yang baru — kehidupan yang penuh cinta, penuh kejujuran, dan penuh kebersamaan. Dan di dalam hati Su Yi, satu hal terpatri dengan jelas: bahwa cinta yang terlambat bukan berarti cinta yang salah. Kadang-kadang, cinta itu hanya butuh waktu — waktu untuk tumbuh, waktu untuk matang, dan waktu untuk akhirnya menemukan jalan pulang ke hati yang benar-benar ditakdirkan untuknya.
Dan di jalan menuju kantor, di dalam mobil yang melaju tenang di bawah sinar matahari pagi, Mo Ha tersenyum melihat ke luar jendela — melihat dunia yang tiba-tiba terasa lebih indah, lebih cerah, dan lebih bermakna. Ia menggenggam tangan kirinya di atas lutut, seakan masih merasakan kehadiran tangan istrinya di sana. Dan dalam hatinya, ia berjanji — berjanji pada dirinya sendiri, berjanji pada Su Yi, dan berjanji pada takdir — bahwa ia akan menjaga cinta ini, merawatnya setiap hari, dan takkan pernah membiarkannya pudar, takkan pernah membiarkannya pergi. Karena ia tahu — cinta seperti ini hanya datang sekali dalam seumur hidup. Dan ia takkan pernah menyia-nyiakannya lagi.
salam interaksi thor😉