NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Bab 6: Lengkungan Cahaya Lentera dan Rasa yang Terasingkan Zaman

​Malam baru saja melabuhkan tirai kehilamannya di atas garis langit ibu kota, namun keheningan tidak pernah benar-benar menjangkau lorong-lorong Distrik Bawah. Di balik dinding batu yang lapuk dan aroma jelaga yang biasa menyelimuti area tersebut, ratusan lentera kertas berwarna-warni kini tergantung rapi di sepanjang jalanan berbatu. Suara derak gerobak pedagang, gelak tawa para penduduk kota, serta aroma daging panggang bercampur rempah-rempah yang gurih memenuhi udara malam. Festival Musim Gugur Distrik Bawah—sebuah perayaan rakyat jelata yang terbebas dari aturan kaku kebangsawanan—resmi dimulai.

​Di balik bayang-bayang atap sebuah bangunan tua yang menghadap langsung ke keramaian festival, dua sosok berdiri secara berdampingan.

​"Wiliam, apakah kita benar-benar harus memakai pakaian ini?" tanya Anya seraya meraba kain katun tebal yang melekat di tubuhnya.

​Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang melampaui ribuan tahun, Anastasia tidak mengenakan gaun sutra diplomasi ras Elf, armor perak bertatahkan kristal kosmik, ataupun jubah kehormatan pilar dunia. Ia mengenakan baju festival rakyat biasa—sebuah yukata sederhana berwarna biru dongker yang dihiasi motif benang emas berbentuk ranting-ranting pohon purba. Di bagian pinggangnya, terikat kencang sebuah pita kain berwarna merah menyala. Rambut perak mewahnya yang biasanya dibiarkan terurai kini disanggul rapi ke atas, ditahan oleh sebuah tusuk konde kayu sederhana yang diberi hiasan lonceng kecil. Lonceng itu gemerincing halus setiap kali Anya menggerakkan kepalanya.

​Wiliam yang berdiri di sampingnya memindahkan pandangannya. Pemuda itu mengenakan pakaian senada—sebuah kimono festival pria berwarna hitam pekat dengan corak garis-garis kelabu di bagian lengan, tanpa perhiasan, tanpa penguat sihir, dan tanpa ilusi mata. Mata merah menyalanya yang biasa ia sembunyikan kini terpapar bebas di bawah remang cahaya bulan, dipadukan dengan senyum tipis yang amat jarang menghiasi wajah dinginnya.

​"Kau bilang kau ingin menikmati festival rakyat biasa," kata Wiliam datar seraya merapikan sabuk kain di pinggangnya. "Jika kau turun ke bawah sana menggunakan gaun kerajaan atau armor Level 20 milikmu, ribuan orang akan berlutut dan festival ini akan berubah menjadi acara penghormatan resmi yang membosankan. Pakaian ini membuatmu terlihat seperti gadis biasa."

​Anya memiringkan kepalanya, memegang kedua tepi kain bajunya lalu berputar kecil di atas genteng batu. Lonceng kecil di rambutnya berdenting renyah. "Gadis biasa, ya? Hmm... rasanya sangat ringan! Tidak ada beban mantra perlindungan, tidak ada beban garis keturunan... dan kain ini rasanya sangat lembut di kulit." Anya menatap Wiliam dengan pendar mata biru yang sangat jernih. "Tapi, Wiliam... bagaimana denganku? Apakah aku terlihat aneh memakai pakaian manusia biasa seperti ini?"

​Wiliam menatap figur di depannya sejenak. Tanpa kilauan sihir kosmik atau keagungan pilar dunia, Anya dalam pakaian festival sederhana justru memancarkan keindahan murni yang jauh lebih hidup dan nyata. Sinar rembulan yang jatuh di bahu mulusnya dan keningnya yang bersih membuat Wiliam tertegun untuk beberapa detik.

​Wiliam berdehem pelan, dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah riuh keramaian di bawah. "Tidak. Kau terlihat... cocok. Ayo turun sebelum tempatnya terlalu padat."

​Anya tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang sarat akan rasa puas karena berhasil menangkap jeda kaku dari pemuda di sampingnya. "Kau ragu-ragu selama dua detik, Wiliam Pendragon! Itu artinya aku terlihat sangat cantik, kan?"

​"Jangan percaya diri," gumam Wiliam seraya melompat turun dari tepi atap dengan gerakan tanpa suara, mendarat mulus di gang sempit yang sepi di balik keramaian.

​Anya menyusul di belakangan, melayang turun bagaikan helai bulu burung perak tanpa menggunakan sihir sedikit pun, mendarat tepat di samping Wiliam. "Aku tidak percaya diri, aku hanya menyatakan fakta! Kau sendiri tahu betapa mahalnya penilaian estetika ras Elf."

​Wiliam tidak membalas. Ia melangkah keluar dari gang sempit itu, dan seketika itu pula, gelombang cahaya, warna, dan suara dari festival Distrik Bawah menelan mereka berdua.

​Anya mendadak menghentikan langkahnya di ambang lorong utama. Mata birunya membelalak lebar, memantulkan ratusan pendar cahaya lentera merah dan kuning yang membentang dari ujung ke ujung jalan. Di kiri dan kanan mereka, berderet puluhan kios kayu yang menjajakan berbagai macam hal: gulali kapas berbentuk hewan sihir, tusukan daging bakar yang mengeluarkan asap beraroma lezat, permainan menembak sasaran dengan hadiah boneka kain, hingga penjual topeng kayu warna-warni.

​"Luar biasa..." gumam Anya pelan. Jemari lentiknya meraba udara malam yang hangat oleh uap masakan dan tawa manusia. "Sudah lama sekali... sangat, sangat lama sekali aku tidak melihat tempat seperti ini."

​Wiliam melirik wanita di sampingnya. "Kau seorang pilar dunia. Kau pasti sudah melihat ribuan kota dan istana termewah di benua ini."

​"Istana itu dingin, Wiliam," sahut Anya lembut, suaranya mendadak terdengar lebih dalam, menghilangkan nada kekanak-kanakan yang biasa ia buat-buat. "Di istana, orang-orang tersenyum karena rasa takut, hormat, atau ambisi politik. Mereka melihatku sebagai 'Wanita Suci', sebagai 'Pelindung', atau sebagai 'Senjata Tingkat Mitologi'. Tapi di sini..." Anya menunjuk seorang anak kecil yang sedang berlarian seraya tertawa membawa permen kayu. "...orang-orang tersenyum hanya karena mereka senang."

​Wiliam menatap profil wajah Anya dari samping. Ada jejak kesepian purba yang tersirat di mata biru itu—sebuah beban dari keabadian yang tidak pernah dipahami oleh manusia biasa yang hanya hidup puluhan tahun. Namun, sebelum suasana haru itu melarut lebih jauh, Wiliam merogoh kantong kimononya, mengeluarkan selembar koin perak, dan menarik lengan baju Anya.

​"Kalau kau hanya berdiri di sini, daging panggang itu akan habis dibeli orang lain," kata Wiliam datar.

​Anya mengerjap, lalu matanya seketika berbinar kembali saat aroma gurih dari kedai daging bakar di dekat mereka menusuk hidungnya. "Daging! Kau yang bayar kan, Wiliam?!"

​"Siapa lagi?" desah Wiliam seraya melangkah mendekati kedai kayu tersebut.

​Paman penjual daging panggang yang bertubuh gempal dengan handuk kecil terikat di kepalanya menyambut mereka dengan senyum lebar. "Selamat malam, Muda-Mudi! Selamat datang di kedai Spesial Daging Babi Hutan Rempah! Mau berapa tusuk, Anak Muda?"

​"Dua tusuk—" kata Wiliam.

​"Empat! Tidak, enam tusuk!" potong Anya cepat seraya mengacungkan enam jarinya dengan penuh semangat di depan wajah si penjual.

​Penjual daging itu tertawa terbahak-bahak melihat antusiasme Anya. "Wah, pacarmu sangat bersemangat ya, Anak Muda! Baik, enam tusuk daging panggang spesial untuk pasangan yang serasi!"

​Wiliam hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "P-Pacar?! Paman, kami bukan—"

​"Terima kasih, Paman! Dia memang agak malu-malu kalau di depan umum!" sahut Anya riang, menerima enam tusuk daging yang masih mengepul panas dan beraroma manis-gurih tanpa mengoreksi ucapan si penjual sedikit pun.

​Anya memberikan tiga tusuk ke tangan Wiliam, lalu langsung menggigit tusukan daging miliknya sendiri tanpa ragu.

​Nom...

​Mata biru Anya melebar seketika. Pipinya yang mulus menggembung saat ia mengunyah daging tersebut, dan sebuah lengkungan kebahagiaan murni terukir di wajah cantiknya. "Enak! Enak sekali, Wiliam! Bumbunya meresap sampai ke dalam, dan lemaknya meleleh di mulut!"

​Wiliam menggelengkan kepala melihat tingkah sang pilar dunia yang makan dengan sangat lahap di pinggir jalan. Ia mengambil satu gigitan dari tusukan dagingnya sendiri. "Bumbu rempah Distrik Bawah memang menggunakan akar kayu manis liar dari perbatasan selatan. Itu resep rakyat biasa untuk menutupi tekstur daging yang keras."

​"Tapi rasanya sangat kaya!" seru Anya gembira, menyapu sedikit saus yang menempel di sudut bibirnya dengan ujung lidahnya—sebuah gerakan kasual yang membuat beberapa pemuda yang melintas di sekitar mereka tertegun kaku menatap keindahannya.

​Wiliam yang menyadari pandangan orang-orang di sekitar mereka seketika melangkah mendekat, menggeser posisi tubuhnya untuk menutupi Anya dari pandangan para pria di lorong tersebut. "Makanlah sambil berjalan. Jangan berdiri di tengah jalan."

​Anya mendongak, melihat bagaimana tubuh Wiliam yang secara naluriah memblokir kerumunan agar tidak menyenggolnya. Sebuah rasa hangat yang asing dan sangat lembut mendadak merayap masuk ke dalam dada Anya. Selama seribu tahun hidupnya, Anya selalu menjadi sosok yang melindungi—menjadi benteng terakhir yang berdiri di depan ribuan nyawa. Tidak pernah ada seorang pun yang pernah berdiri di depannya untuk melindunginya dari hal sekecil kerumunan orang di pasar malam.

​Aneh sekali... batin Anya seraya menatap punggung tegap Wiliam yang berjalan setengah langkah di depannya. Kenapa rasanya... begitu tenang?

​Mereka melangkah lebih dalam menyusuri pusat festival. Suara musik petikan kecapi tradisional dan tabuhan gendang kayu bergema dari panggung utama di tengah lapangan. Anak-anak kecil berlarian membawa topeng kayu berwarna-warni.

​"Wiliam! Lihat itu!" Anya menarik-narik lengan kimono Wiliam, menunjuk ke arah sebuah kios yang dipenuhi papan target dan hadiah-hadiah boneka kain.

​"Permainan menembak sasaran?" kata Wiliam seraya menatap kios tersebut.

​Seorang pria paruh baya berkumis tebal yang menjaga kios itu melambaikan tangannya antusias. "Ayo, Nona Cantik! Coba keberuntunganmu! Hanya lima koin perunggu untuk tiga kali tembakan! Jika berhasil menjatuhkan sasaran di tingkat teratas, Nona bisa membawa pulang boneka naga perak raksasa itu!"

​Anya menatap boneka naga perak yang dipajang di rak paling atas. Boneka itu dibuat dari kain beludru dengan mata dari manik-manik kaca yang berkilau. "Wiliam! Aku mau boneka naga itu!"

​Wiliam menghela napas, merogoh kantong perunggunya dan menyerahkannya pada pemilik kios. "Jangan gunakan sihir atau penguat mana sedikit pun, Anya. Jika kau menggunakan sihir ruang, kios ini bisa hancur."

​"Aku tahu! Aku akan bermain secara jujur!" seru Anya antusias seraya menerima sebuah senapan kayu sederhana yang diisi dengan peluru gabus kecil.

​Anya membidik sasaran kayu berjarak lima meter di depannya. Sebagai seorang penguasa Level 20, kalkulasi jarak dan angin di otaknya sangat sempurna. Ia menarik pelatuknya.

​Puk!

​Peluru gabus meluncur, mengenai sasaran kayu di rak teratas... namun sasaran itu hanya bergoyang sedikit dan tidak jatuh!

​"Eh?!" Anya membelalak kaget. "Kenapa tidak jatuh?! Tembakanku tepat di pusat gravitasinya!"

​Pemilik kios terkekeh pelan dengan wajah licik yang tersembunyi. Sasaran di rak teratas sengaja dibuat lebih berat di bagian bawah agar sulit dijatuhkan oleh peluru gabus yang ringan—trik klasik para pedagang festival.

​"Penasaran, Nona? Mau coba lagi?" goda pemilik kios.

​"Aku mau coba lagi!" kata Anya tak terima, harga dirinya sebagai pilar dunia mendadak terusik oleh sepotong kayu kecil.

​Wiliam membayar lima koin perunggu lagi. Anya mencoba tembakan kedua dan ketiga, memusatkan seluruh pandangannya, namun sasaran itu tetap saja hanya bergoyang dan berdiri kokoh.

​Anya memanyunkan bibirnya kencang, menjejakkan kakinya ke tanah dengan raut wajah sangat kesal dan menggemaskan. "Kios ini curang! Kayu itu dipasang pemberat!"

​"Haha, tidak ada curang di sini, Nona! Ini soal keberuntungan dan teknik!" kata pemilik kios tertawa puas.

​Wiliam menggelengkan kepala pelan. Ia melangkah mendekati Anya dari belakang, mengulurkan kedua tangannya untuk memegang senapan kayu yang sedang dipegang oleh Anya.

​Anya terperanjat pelan saat merasakan dada hangat Wiliam menempel tipis di punggungnya. Lengan Wiliam mengurung kedua sisinya saat pemuda itu menyesuaikan posisi genggaman tangan Anya pada gagang senapan.

​"Kau membidik bagian tengahnya," bisik Wiliam tepat di samping telinga Anya, suaranya yang rendah membuat bulu kuduk Anya berdiri halus. "Untuk sasaran dengan pemberat bawah, kau harus mengincar sudut kanan atas agar menciptakan efek momen gaya putar."

​Napas hangat Wiliam yang menyentuh kulit lehernya membuat konsentrasi Anya terpecah total. Jantungnya yang tidak pernah berdetak abnormal selama ribuan tahun mendadak berdegup kencang bagaikan drum pertempuran. Wajah mulusnya memerah hangat.

​"W-Wiliam... kau terlalu dekat..." bisik Anya kaku, matanya tidak lagi fokus pada sasaran kayu, melainkan pada garis rahang Wiliam yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya.

​"Tahan napasmu," kata Wiliam tenang, sama sekali tidak menyadari kekacauan di dalam dada sang Wanita Suci. Wiliam membantu Anya mengarahkan moncong senapan sedikit melenceng ke atas. "Sekarang... tarik pelatuknya."

​Puk!

​Peluru gabus melesat kencang, menghantam tepat di sudut kanan atas sasaran kayu. Momen gaya berputar tercipta seketika, membuat kayu berpemberat itu terpental berputar dan jatuh terhempas ke lantai!

​"Berhasil!" seru Wiliam pelan seraya melepaskan genggamannya dan mundur satu langkah.

​Pemilik kios melongo tak percaya. "B-Bagaimana bisa...?"

​"Hadiah kami, Paman," kata Wiliam datar seraya menunjuk boneka naga perak di rak atas.

​Dengan raut wajah meringis lemas, pemilik kios mengambil boneka naga beludru raksasa itu dan menyerahkannya kepada Anya.

​Anya menerima boneka naga perak yang ukurannya hampir separuh dari tubuhnya sendiri. Ia memeluk boneka itu erat-erat di dadanya, membenamkan sebagian wajah cantiknya ke dalam bulu beludru yang lembut. Lonceng kecil di rambutnya berdenting riang saat ia mendongak menatap Wiliam.

​"Wiliam... kau hebat sekali!" puji Anya dengan mata berbinar-binar penuh kagum, kekesalannya menguap total berganti rasa gembira yang membuncah.

​"Hanya kalkulasi fisika sederhana," sahut Wiliam santai seraya kembali berjalan. "Kau terlalu terbiasa menggunakan sihir untuk menghancurkan segalanya, jadi kau lupa hukum aksi-reaksi materi biasa."

​Anya menyusul Wiliam, memeluk boneka naganya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya secara alami merayap dan menggenggam jemari tangan kanan Wiliam.

​Wiliam menghentikan langkahnya seketika. Ia merasakan jemari mungil dan halus milik Anya menyusup di antara sela-sela jarinya, menggenggam tangannya erat dengan kehangatan yang sangat lembut.

​Wiliam menunduk menatap pertautan tangan mereka, lalu menatap Anya dengan alis terangkat. "Anya... apa yang kau lakukan?"

​Anya menatap lurus ke depan dengan pipi yang sedikit merona merah, pura-pura fokus melihat kios-kios lain di sekitar mereka. "Di tempat ramai seperti ini... anak kecil bisa terpisah dari orang tuanya. Aku hanya memegang tanganmu agar kau tidak hilang, Wiliam."

​Wiliam menaikkan satu alisnya. "Aku berusia tujuh belas tahun, dan kau berusia ribuan tahun. Siapa yang anak kecil di sini?"

​"Aku tidak peduli! Pokoknya jangan dilepas!" sahut Anya manja, makin mempererat genggaman tangannya seraya menarik Wiliam menyusuri lorong yang makin dipadati pengunjung.

​Wiliam menatap jemari mereka yang bertaut sejenak. Kehangatan kulit Anya meresap menembus telapak tangannya—sebuah rasa hangat yang tidak dingin seperti kegelapan yang biasa ia peluk dalam setiap eksekusinya. Tanpa mengucap kata protes lagi, Wiliam membiarkan tangannya menggenggam balik jemari Anya dengan lembut.

​Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menembus riuhnya festival. Mereka berhenti di Kios Gulali Kapas, di mana Anya memaksa Wiliam untuk menyicipi gulali kapas berwarna merah muda berbentuk bunga mawar.

​"Buka mulutmu, Wiliam! Aaa..." kata Anya seraya menyuapkan sepotong gulali kapas langsung ke depan bibir Wiliam.

​"Aku bisa makan sendiri, Anya," protes Wiliam kaku.

​"Aaa..." desak Anya dengan mata bulat yang menatapnya penuh penekanan menggemaskan.

​Wiliam menghela napas, mengalah dan membuka mulutnya menerima suapan gulali tersebut. Rasa manis murni seketika meleleh di lidahnya. "Terlalu manis."

​"Tapi kau memakannya!" tawa Anya gembira, lalu menyuapkan sisa gulali itu ke dalam mulutnya sendiri tanpa ragu.

​Mereka juga berhenti di Kios Topeng Kayu. Anya mengambil sebuah topeng kayu berbentuk wajah kucing putih dengan pipi merah, lalu memasangkannya ke wajah Wiliam.

​"Haha! Kau terlihat sangat lucu, Wiliam!" tawa Anya terbahak-bahak melihat sang Hantu Topeng yang mengerikan kini mengenakan topeng kucing konyol.

​Wiliam mengambil sebuah topeng berbentuk wajah rubah emas dengan ukiran bunga, lalu memasangkannya pelan ke wajah Anya. "Dan kau terlihat seperti roh hutan yang usil."

​Anya menyentuh permukaan topeng rubah di wajahnya, menatap Wiliam dari balik celah mata topeng tersebut dengan binar bahagia yang tak pernah pudar.

​Langkah kaki mereka terus membawa mereka keluar dari area pusat festival yang bising, menyusuri jalanan menanjak menuju sebuah bukit kecil di pinggir Distrik Bawah. Di puncak bukit tersebut, berdiri sebuah pohon beringin purba yang rindang, menghadap langsung ke arah pemandangan seluruh ibu kota yang dipenuhi kerlip lampu lentera di bawah sana.

​Angin malam yang sejuk berembus lembut, menyapu daun-daun beringin dan memainkan helai-helai rambut perak Anya serta ujung kimono mereka.

​Anya melepaskan topeng rubahnya, menggantungkannya di samping pinggangnya, lalu duduk di atas rumput hijau di bawah naungan pohon beringin. Ia meletakkan boneka naga peraknya di pangkuannya, menatap lautan lampu ibu kota dengan pandangan yang tenang dan damai.

​Wiliam melangkah mendekat, lalu duduk bersila di samping Anya, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka berdua.

​"Wiliam..." panggil Anya pelan, suaranya terbawa angin malam bagaikan bisikan sutra.

​"Hmm?" sahut Wiliam seraya menatap lurus ke depan.

​"Terima kasih untuk malam ini," kata Anya lembut. Ia memiringkan kepalanya, menyandarkan kepala peraknya yang beraroma harum lavender ke bahu tegap Wiliam. Lonceng kecil di rambutnya berdenting halus sekali.

​Wiliam sedikit menegang saat merasakan beban hangat kepala Anya beristirahat di bahunya, namun ia tidak bergeser sedikit pun. Ia membiarkan wanita Elf itu menyandar padanya.

​Anya memejamkan mata birunya perlahan, menikmati denyut detak jantung Wiliam yang terasa stabil di dekat tubuhnya.

​"Selama seribu tahun aku hidup di dunia ini..." bisik Anya pelan, suaranya dipenuhi oleh rasa nostalgia yang teramat dalam. "...aku telah melewati ratusan era. Aku melihat kerajaan-kerajaan berdiri dan runtuh dalam sekejap mata. Aku melihat raja-raja datang memohon perlindungan, dan para pahlawan gugur di medan perang. Semua orang di duniaku selalu berjalan di depanku dengan rasa takut, atau berjalan di belakangku dengan rasa hormat."

​Anya membuka matanya sedikit, menatap jemari tangannya yang masih bertaut erat dengan jemari Wiliam.

​"Tapi malam ini... bersamamu..." lanjut Anya dengan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. "...untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, ada seseorang yang berjalan di sampingku. Seseorang yang tidak menatapku sebagai 'Wanita Suci Level 20', tapi hanya sebagai 'Anya'. Seseorang yang menggenggam tanganku agar aku tidak tersesat di tengah keramaian."

​Anya mendongak sedikit, menatap profil wajah samping Wiliam dari dekat. "Aku belum pernah merasakan hal seperti ini saat bersama siapapun di dunia ini, Wiliam. Rasa hangat... rasa aman... dan kebahagiaan yang sangat sederhana ini. Ini adalah sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh jiwaku yang tua ini."

​Wiliam terdiam kaku mendengar pengakuan jujur dari sang pilar dunia. Ia memalingkan wajahnya menatap mata biru Anya yang berkilau disiram cahaya rembulan dan kerlip lentera dari bawah bukit. Di dalam mata biru murni itu, Wiliam tidak melihat lagi sosok penatua ras Elf yang menguasai sihir tingkat mitologi—ia hanya melihat seorang wanita yang akhirnya menemukan sebuah tempat untuk beristirahat dari beban keabadiannya.

​Wiliam mengepalkan genggaman tangannya di jemari Anya, memberikan sedikit dorongan kehangatan dari tubuhnya sendiri.

​"Selama kau bersamaku..." kata Wiliam pelan, suaranya mantap dan penuh janji yang tak terucapkan. "...kau tidak perlu menjadi pilar dunia. Kau bisa tetap menjadi Anya."

​Mata biru Anya berkaca-kaca oleh emosi bahagia yang membuncah. Sebuah lengkungan senyum yang begitu memikat dan murni terpancar dari bibirnya.

​Anya memajukan tubuhnya, menaikkan sedikit posisi duduknya, lalu mengecup pipi kanan Wiliam—tepat di area yang tadinya memerah bekas tamparan ibunya—dengan sebuah kecupan yang sangat lembut dan hangat.

​CUP.

​Sentuhan bibir halus Anya di pipinya membuat tubuh Wiliam seketika kaku bagaikan patung batu. Wajahnya yang biasa dingin dan tenang seketika meledak memerah padam hingga ke ujung-ujung telinganya.

​"A-Anya?!" gagap Wiliam, matanya membelalak kaget seraya memegangi pipinya yang baru saja dikecup.

​Anya menarik tubuhnya kembali, tertawa renyah dan gembira melihat kepanikan di wajah pemuda yang biasanya sok tangguh itu. Lonceng kecil di rambutnya berdenting-denting riang seirama dengan tawa bahagianya.

​"Itu hadiah bonus karena kau sudah menjadi pemandu festival yang sangat baik, Wiliam!" goda Anya seraya menyunggingkan senyum jahil yang sangat menggemaskan. "Dan juga... sebagai uang muka untuk darah Elf yang kau minta tadi!"

​Wiliam mengusap pipinya, memalingkan wajahnya kencang-kencang ke arah lautan lampu festival di bawah untuk menyembunyikan kemerahan di wajahnya yang tak kunjung surut. "K-Kau ini... benar-benar tidak pernah bertindak sesuai usiamu."

​Anya menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Wiliam dengan pelukan erat pada boneka naga peraknya, menghembuskan napas panjang yang penuh kepuasan. "Usiaku mungkin seribu tahun, Wiliam... tapi malam ini, di sampingmu, aku hanya seorang gadis yang sedang menikmati malam festival yang tak terlupakan."

​Di bawah naungan pohon beringin purba di atas bukit Distrik Bawah, di antara desir angin malam dan kilauan ratusan lentera yang membentang di bawah sana, kedua sosok itu tetap duduk berdampingan. Sang pengeksekusi malam yang berjalan di dalam bayangan kegelapan, dan sang Wanita Suci yang membawa cahaya abadi—dua jiwa terasingkan yang akhirnya menemukan kedamaian dalam kebersamaan yang sederhana di bawah naungan rembulan.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!