Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Evren masih menatap tangannya yang terluka. Ia mencoba menggerakkan jemarinya namun tidak bisa. Matanya mulai memerah. Pikiran bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa menggenggam pedang lagi membuat dadanya dipenuhi kepanikan. Evren tenggelam dalam ketakutannya sendiri hingga mengabaikan sekitarnya.
“Evren!” panggil Zephyr dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun pemuda itu tidak menoleh dan terus menunduk memandangi tangannya.
“lepas sepatumu,” ucap Zephyr memerintah Xavier.
Xavier hanya mengedip bingung.
Namun tetap menurut.
Begitu sepatu itu berpindah ke tangannya, Zephyr langsung melemparkannya ke arah Evren.
BUGH!
Tepat mengenai kepalanya.
“HEHH!” Xavier terkejut dan berteriak. Ia reflek menutup kedua matanya rapat-rapat.
Ia membuka sebelah matanya untuk mengintip reaksi Evren. Pemuda itu sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
Xavier langsung terduduk dan buru-buru menunjuk Zephyr dengan kedua tangannya. Memberitahunya bahwa pelakunya adalah si pirang bukan dirinya, namun suaranya tercekat dan tidak keluar sama sekali.
“ke sini!” Seru Zephyr memerintah Evren untuk mendekat ke arahnya.
Evren pun menurut dan ia melangkah mendekati Zephyr.
“eh eh sepatuku bawa sekalian,” serunya.
Namun yang didapat hanya tatapan tajam dari Evren. Mendapat serangan seperti itu, Xavier langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tanpa berani berkata apa-apa lagi, ia berjalan mengambil kembali sepatunya yang teronggok di tanah.
Evren berjongkok lalu mengulurkan tangannya ke arah Zephyr. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Zephyr menarik kembali aliran sihir yang masih mengalir di dalam pembuluh darah Evren.
“sudah, dua sampai tiga jam lagi akan sembuh,” ucapnya.
“apa yang kamu lakukan?” tanya Evren dengan nada yang terlampau dingin hingga membuat orang yang mendengarnya merasa merinding.
“menarik kembali sihirku,” jawab Zephyr singkat namun jawabannya masih tidak menjelaskan apapun bagi Evren.
“Zephyr sedang menarik kembali sisa sihir yang masih mengalir di dalam pembuluh darahmu. Kalau dibiarkan masuk lebih dalam, sihir itu bisa merusak organ-organ tubuhmu,” ucap Xavier menjelaskan sambil menunjukkan ekspresi ngeri.
“bagaimana kamu bisa tau?”
“buku.”
“Menurut buku yang kubaca, sisa sihir harus ditarik kembali oleh orang yang mengeluarkannya. Setelah itu, gejala seperti ini biasanya akan hilang dalam dua sampai tiga jam. Lalu untuk luka di telapak tanganmu, itu luka luar jadi aman asal dirawat dengan baik,” jelas Xavier panjang lebar.
Evren menatap Zephyr lalu pemuda pirang itu mengangguk mengiyakan semua ucapan Xavier. Helaan nafas lega kemudian terdengar.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Karena tenaganya belum pulih, Zephyr menunggangi kuda yang dituntun oleh Xavier. Beberapa luka sayatan menghiasi tubuh Xavier, namun tidak ada yang cukup dalam untuk menghambat langkahnya. Sementara itu, Evren berjalan kaki di sisi mereka.
Hamparan padang rumput membentang luas di hadapan mereka. Jauh di kejauhan, tampak sebuah desa kecil yang dari puncak pegunungan terlihat tak lebih dari kumpulan titik-titik mungil. Akhirnya, mereka tiba di puncak Pegunungan Draven.
Xavier menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan yang dingin dan segar. Angin berhembus cukup kencang hingga membuat ujung rambut dan pakaiannya berkibar, namun itu sama sekali tidak mengurangi kekagumannya pada pemandangan di hadapannya.
Mereka terus berjalan menyusuri padang rumput hingga akhirnya memasuki sebuah desa kecil. Suasananya begitu sunyi. Hanya beberapa warga yang masih terlihat beraktivitas, sementara sebagian besar rumah berdiri kosong. Beberapa mulai lapuk dimakan waktu, sebagian lainnya rusak akibat perang yang belum lama berlalu.
Semakin jauh mereka melangkah, semakin jelas bekas kehancuran yang ditinggalkan perang. Rumah-rumah yang tak lagi berbentuk berdiri seperti kerangka, sementara beberapa lainnya hanya menyisakan puing-puing hitam bekas terbakar. Desa itu masih hidup... tetapi nyaris tak lagi memiliki kehidupan.
“Ke mana semua penduduk di desa ini?” tanya Xavier saat sudah tidak terlihat satu orang pun di sana.
“Ini desa yang berada di perbatasan. Saat perang terjadi, desa seperti inilah yang selalu menjadi korban pertama,” Jawab Evren.
Sebagai mantan jenderal yang berada di medan perang selama bertahun-tahun, ia paham betul apa yang terjadi di medan perang dan dampaknya ke daerah sekitar. Terutama daerah yang terletak paling dekat dengan garis perbatasan.
“tapi ini masih di belakang benteng.”
“Benteng bukan tembok yang bisa menahan semua hal. Anak panah, batu api, bahkan pasukan musuh bisa saja menembusnya. Begitu garis pertahanan bergeser, desa di belakang benteng ikut terseret ke dalam perang,” Jelas Evren lagi.
Evren melihat sekeliling lalu matanya terhenti di sebuah rumah yang hangus terbakar menyisakan puing puing yang menghitam.
"Benteng hanya bisa mengurangi kerusakan, bukan menghilangkannya. Saat perang, banyak hal terjadi di luar kendali... dan di luar perkiraan."
Xavier memahami setiap patah kata yang diucapkan oleh Evren. Namun hatinya merasa tidak nyaman saat melihat sisa desa yang kini sudah tidak berpenghuni. Mungkin saja jalan yang sedang mereka lalui ini pernah dipenuhi tawa anak-anak yang berlarian. Rumah-rumah yang kini tinggal puing itu barangkali dahulu menjadi tempat sebuah keluarga berkumpul, berlindung dari terik matahari dan dinginnya hujan.
“kalau aku jadi kuat, apa perdamaian itu bisa datang?” tanyanya spontan yang berhasil membuat Evren dan Zephyr menoleh ke arahnya secara bersamaan.
“Kalau kekuatan saja sudah cukup untuk menghadirkan perdamaian, perang seharusnya sudah lenyap sejak lama,” Jawab Evren.
Sesampainya di pintu masuk barak, mereka bertiga menghampiri prajurit yang sedang berjaga. Evren menyerahkan surat pengasingannya lalu ia diarahkan masuk ke dalam. Sementara itu, Xavier dan Zephyr harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu sebelum diizinkan memasuki barak.
“komandan ada di dalam,” ucap prajurit yang mengantarnya.
Evren menatap tenda di depannya lalu ia mengepalkan tangan pelan sebelum melangkah masuk. Berkali-kali ia mengingatkan dirinya sendiri. Kali ini ia datang bukan sebagai seorang jenderal, melainkan sebagai tahanan pengasingan.
“Komandan, tahanan pengasingan Evren Vance telah sampai di Benteng Draven."
Seorang pria muda berpakaian sederhana dengan jubah merah tua menatap Evren lekat-lekat. Lalu ia kembali duduk di kursinya dan melanjutkan permainan caturnya bersama dengan seorang penasihat perang kepercayaannya.
“bawa dia ke tenda untuk istirahat, besok mulai kenalkan dengan lingkungan sini dan mulai ikut jaga juga bersama prajurit lain.”
“baik komandan.”
Setelah itu, Evren keluar dan diantar menuju ke tenda yang sudah disiapkan untuknya.
Setelah Evren keluar dari tenda, Kaelen kembali memusatkan perhatiannya pada papan catur di hadapannya. Jari-jarinya menyentuh salah satu bidak, namun belum segera menggerakkannya.
"Kenapa kamu menerimanya semudah itu?" tanya sang penasihat.
Kaelen tidak langsung menjawab.
"Menurut anda tuan Alaric?" Ia mengembalikan pertanyaan tersebut ke sang penasihat.
Lalu Ia menggeser satu bidak catur beberapa petak.
Tidak mendengar sepatah katapun dari sang penasihat, ia berkata.
"Kalau dia benar seorang pemberontak..."
Ucapannya terhenti sejenak.
"...kenapa justru dikirim ke Benteng Draven?" Penasihatnya masih terdiam.
"Benteng ini berhadapan langsung dengan wilayah musuh. Mengirim seorang pengkhianat ke tempat seperti ini sama saja memberinya kesempatan untuk membelot.”
Kaelen akhirnya mengangkat pandangannya.
"Tidak masuk akal,” ucapnya sambil menatap sang penasihat.
"Berarti ada sesuatu yang tidak kita ketahui."
Kaelen kembali mengalihkan pandangannya ke papan catur.
Sesaat kemudian ia tersenyum tipis.
"Dia mirip denganku."
Sang penasihat menoleh.
"Sama-sama menjadi orang yang tidak diinginkan."
Lalu Kaelen menggerakkan bidak caturnya.
“Lagipula dengan pengalamannya di medan perang selama bertahun-tahun, dia akan sangat berguna untuk menjaga Draven.”
Setelah itu, sang penasihat diam-diam tersenyum dan mengangguk samar. Melihat papan catur di depannya kemudian menjatuhkan pion yang sudah di genggamnya.
“baiklah, aku kalah.”
Di dalam tenda, Evren mengecek setiap sudutnya. Setelah memastikan tidak ada hal yang mencurigakan, barulah ia membongkar barang-barangnya dan menyusunnya ke dalam lemari. Saat ia sedang sibuk dengan barang miliknya, Xavier dan Zephyr akhirnya datang juga.
“Evren! Kamu sudah di sini? Kamu tahu tidak, tempat ini ribet sekali!” Xavier langsung menghampiri Evren dan mengeluh.
“Itu namanya disiplin. Ini barak militer, semua orang harus mengikuti aturan.” jelasnya sambil terus sibuk merapikan pakaiannya.
Xavier berdecak lalu ia berbaring di atas ranjang di samping lemari Evren.
Di dalam tenda hanya ada dua ranjang. Xavier tanpa ragu menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang berada di samping lemari milik Evren. Sementara Zephyr memilih ranjang satunya dan langsung berbaring tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Evren menatap Xavier dan Zephyr secara bergantian.
“minggir!” perintah Evren pada Xavier, tapi pemuda tinggi itu malah hanya menggeser badannya ke samping menyisakan ruang kosong di sebelahnya.
“muat buat berdua kok,” ucapnya sambil menepuk bagian kosong di sampingnya.
Evren melirik lagi ke arah Zephyr yang sudah tertidur pulas dengan posisi telentang memenuhi seluruh tempat tidur. Akhirnya ia mengalah dan duduk di tepi ranjang yang sama dengan Xavier.
Ia menatap kedua telapak tangannya. Sihir Zephyr memang sudah menghilang, tetapi luka bakarnya mulai terasa nyeri dan cukup mengganggu untuk beraktivitas.
Ia mengambil sebuah salep khusus untuk luka bakar lalu mulai mengoleskannya secara perlahan. Xavier yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya duduk tegak. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil salep dari tangan Evren.
"Aku saja."
Dengan telaten, Xavier mengoleskan salepnya ke seluruh permukaan telapak tangan Evren yang terluka.
“aku akan mengira kamu itu tabib bukan jenderal,” ucapnya.
“Prajurit harus bisa merawat dirinya sendiri. Luka sekecil apa pun harus segera diobati. Kalau sampai infeksi, kamu bisa mati di dalam tenda tanpa ada yang menyadarinya,” Ucap Evren sambil melirik luka-luka di tubuh Xavier. Lukanya tidak dalam namun cukup banyak.
“seperti kamu.”
Xavier mengikuti arah pandangan Evren.
Ia menunduk melihat lengan, bahu, lalu pakaiannya yang penuh sobekan.
"Ah..."
Ia meringis pelan.
"Pantas saja dari tadi terasa perih."
Evren hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah merawat luka-lukanya, Evren teringat dengan pesan sang ibu sebelum ia berangkat ke Draven. Ia menoleh ke arah Xavier yang sedang sibuk melihat luka di tubuhnya sendiri sambil meringis kesakitan.
“Kamu bisa menulis kan?”
Xavier melirik ke arah Evren lalu kembali meniupi lukanya.
“Kenapa?” Tanyanya singkat.
“Tuliskan surat untuk keluargaku di ibukota.”
Xavier menghentikan gerakannya. Bayangan keluarganya di ibu kota mendadak memenuhi benaknya. Mungkin sampai sekarang mereka belum menyadari bahwa putra yang begitu mereka banggakan telah pergi jauh dari ibu kota.
Atau... mungkin mereka sudah mengetahuinya, hanya saja memilih untuk tidak peduli. Memikirkan itu membuatnya pusing sendiri, akhirnya ia hanya menghela nafas pelan.
“Baiklah, apa yang mau dituliskan?”
Xavier berdiri lalu berjalan menuju sebuah meja yang tidak jauh dari tempat tidur. Duduk di atas kursi kayu dan menyiapkan kertas serta tinta. Evren ikut mendekat dan berdiri di sampingnya, lalu mulai mendiktekan setiap kata yang ingin ia sampaikan kepada ibunya melalui selembar surat.