NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Tangis Haru di Pelaminan dan Detik-Detik Menegangkan Menyambut

Pagi di pelataran rumah keluarga Widya terasa begitu sejuk. Tak ada lagi teror kertas spreadsheet 100 halaman. Tak ada lagi garis waktu presisi hingga hitungan detik yang menghimpit dada.

Di atas karpet putih sederhana bertabur kelopak melati segar, suasana sakral begitu kental menyelimuti udara.

Fahri duduk di hadapan meja akad nikah. Kemeja batik tulis bernuansa cokelat keemasan melapisi tubuh tegapnya. Pria yang biasanya tampak tegang, kaku, dan penuh kalkulasi itu kini duduk dengan raut wajah yang luar biasa tenang namun dalam.

Kedua matanya tak pernah lepas menatap Widya yang duduk di sampingnya—tampak begitu anggun dalam balutan kebaya putih polos dengan riasan tipis yang menyorot kecantikan alaminya.

Sejak insiden tumbangnya Widya di H-10 lalu, prioritas hidup Fahri runtuh dan disusun ulang. Bagi Fahri sekarang, tak ada lagi yang lebih penting dari hembusan napas dan senyuman wanita di sebelahnya.

Ayah kandung Widya mengulurkan tangannya. Fahri menyambut jabat tangan calon mertuanya itu dengan genggaman yang teramat erat dan mantap.

"Saudara Fahri Ramadhan bin Ahmad..." suara Ayah Widya bergetar hebat menahan haru,

 "...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Widya Saraswati, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia 50 gram, dibayar tunai!"

Fahri menarik napas panjang. Seluruh keraguan dan ketakutannya sirna. Tanpa melihat teks, tanpa keraguan sedikit pun, vokal bariton Fahri membahana memenuhi ruangan:

"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA WIDYA SARASWATI BINTI BAMBANG SUTRISNO DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI!"

"Bagaimana para saksi? SAH?!" tanya Penghulu.

"SAH! ALHAMDULILLAH!" seru Dimas, Arga, Bagas, Dave, dan seluruh keluarga serentak.

Alhamdulillah...

Air mata kebahagiaan menetas mulus di pipi Widya. Ia menundukkan kepala, mengusap air matanya yang jatuh di atas kain jarik.

Saat Widya meraih tangan kanan Fahri dan mencium punggung tangannya dengan penuh khidmat, Fahri meletakkan telapak tangan kirinya di atas kepala Widya, membacakan doa kebaikan untuk istrinya, lalu mendaratkan kecupan hangat yang sangat lama di kening Widya.

"Terima kasih sudah bertahan dan memilih saya, Widya..." bisik Fahri parau di telinga istrinya.

Widya mendongak, menyunggingkan senyum tercantiknya di antara sisa air mata.

"Terima kasih sudah belajar mencintai aku dengan cara yang benar, Mas Fahri..."

...***...

Acara syukuran berlangsung hangat di area taman belakang rumah. Makanan katering lokal disajikan dengan konsep gubuk santai.

Musik gitar akustik dipetik lembut oleh Galang dan Bagas dari sudut panggung kecil, menciptakan atmosfer keluarga yang begitu akrab.

Dave yang bertindak sebagai pemandu acara tak henti-hentinya membuat para tamu tertawa dengan celetukan konyolnya. Dibalik keceriaan itu, kekeluargaan Geng Harmony terasa begitu sangat solid.

Di sudut area VIP, Dimas berdiri merangkul pinggang Kiara yang mengenakan gaun hamil longgar berwarna krem. Perut Kiara sudah membuncit sangat besar di usia kehamilan 37 minggu. Sesekali Dimas meringis pelan saat mengusap pinggang belakang Kiara yang mulai sering terasa pegal.

Fahri melangkah menghampiri Dimas dan Kiara seraya menggandeng mesra jemari Widya. Pria kaku itu menatap Dimas dengan binar mata yang dipenuhi rasa hormat tak terhingga.

"Dim... Ra..." panggil Fahri pelan.

Dimas tersenyum renyah.

"Gimana, Pengantin Baru? Sudah berasa resmi jadi suami?"

Fahri tertawa kecil—sebuah tawa lepas yang sangat jarang terlihat dari wajah tegasnya. Lalu, raut wajahnya berubah menjadi sangat tulus. Fahri merengkuh tubuh Dimas dalam sebuah pelukan hangat antar pria sejati.

"Makasih ya, Dim... Tanpa gertakan dan nasihat kamu, waktu Widya masuk rumah sakit kemarin, aku mungkin masih jadi pria bodoh yang egois," ucap Fahri berbisik di bahu Dimas.

"Kamu adalah contoh suami dan pimpinan terbaik yang pernah aku kenal."

Dimas menepuk punggung Fahri rapat-rapat.

"Lu pantas bahagia, Ri. Jaga Widya baik-baik. Kalau lu bikin dia nangis lagi, siap-siap gue suruh lari keliling lapangan Polda sepuluh putaran!"

Widya dan Kiara tertawa bahagia melihat kehangatan dua pria tegap itu. Kiara memegang perutnya seraya tersenyum.

"Widya, selamat ya... Sekarang Mas Fahri sepenuhnya jadi milik kamu..."

"Makasih banyak ya,...Kiara..." balas Widya seraya mengusap perut Kiara.

"Semoga persalinan Dedek Zavia lancar ya, Ki. Aku sama Mas Fahri selalu berdoa buat keselamatan Kalian..."

...***...

Sore hari di rumah Dimas dan Kiara. Kiara baru saja beristirahat di ruang tengah setelah menghadiri acara pernikahan Fahri dan Widya yang penuh dengan sukacita.

"Sayang... ikut Mas sebentar yuk ke lantai dua," panggil Dimas yang mendadak muncul dari tangga seraya tersenyum misterius.

"Ada apa, Mas? Kok senyum-senyum begitu?" tanya Kiara penasaran.

Dimas menuntun Kiara dengan sangat hati-hati menaiki tangga. Perutnya kini sudah membuncit sangat besar, membuat langkah kakinya perlahan dan anggun.

Di depan kamar kosong yang tadinya digunakan sebagai ruang penyimpanan berkas, Dimas menghentikan langkahnya.

Pintu kayu kamar itu kini sudah dicat ulang dengan warna krem pastel yang lembut dan dihiasi papan nama kayu berukir indah: "Zavia's Room".

Dimas mendorong pintu kamar perlahan.

Kiara membelalakkan matanya. Mulutnya ternganga seraya menutupi bibirnya dengan kedua tangan.

Kamar kosong itu telah disulap sepenuhnya menjadi sebuah Nursery Room (Kamar Bayi) yang teramat cantik dan hangat! Dindingnya dihiasi lukisan mural siluet pohon dan bintang-bintang lembut buatan tangan.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah box bayi (crib) dari kayu jati halus bernuansa putih yang dirakit sendiri oleh Dimas.

Di sampingnya terdapat kursi goyang empuk untuk menyusui, lemari pakaian mungil berisi deretan baju-baju bayi berwarna pink dan krem, serta karpet bulu tebal yang sangat lembut.

"Mas... ini..." suara Kiara bergetar parau, air mata kebahagiaan Spontan menetas di pipinya.

Rayyan berlari keluar dari balik kelambu boks bayi seraya memeluk boneka kelinci merah muda raksasa.

"Mama! Lihat! Rayyan sama Papa yang cat temboknya! Ini boneka kelinci dari uang tabungan Rayyan buat Dedek Zavia!"

Dimas melangkah mendekat dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Kiara, menopang beban tubuh istrinya seraya menyandarkan dagunya di bahu Kiara.

"Mas sama Rayyan kerjakan ini tiap malam waktu kamu sudah tidur, Ra..." bisik Dimas lembut di telinga Kiara.

"Mas mau... waktu putri kecil kita lahir nanti, dia tahu kalau Papa, Mama, dan Kakaknya sudah menyiapkan tempat paling indah dan hangat di dunia buat dia."

Kiara memutar tubuhnya perlahan, memeluk leher Dimas erat-erat seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangis bahagianya pecah menyatu dengan aroma parfum maskulin Dimas yang selalu menenangkan jiwanya.

"Terima kasih, Mas... Terima kasih sudah jadi suami dan Papa paling sempurna buat keluarga kita..." desis Kiara tulus.

Dimas menuntun Kiara duduk di kursi goyang empuk dekat jendela kamar bayi. Sinar matahari sore Kota Sukabumi yang berwarna jingga keemasan masuk membiaskan pendar hangat di seluruh ruangan.

Dimas berlutut di depan Kiara, meletakkan kedua telapak tangannya di atas perut Kiara yang membuncit tegap. Ia merasakannya—gerakan tendangan halus dari jemari dan kaki mungil calon putrinya di balik kulit perut Kiara.

"Halo, Zavia sayang..." bisik Dimas seraya mengecup lembut perut Kiara.

"Sebentar lagi kita ketemu ya, Nak... Papa sama Mama sudah siap menyambut kamu."

Kiara mengusap rambut tebal Dimas dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap wajah tampan suaminya yang sarat akan keteguhan dan rasa tanggung jawab mutlak.

Mereka berdua menyadari, persalinan bulan depan mungkin akan membawa tantangan dan pertaruhan fisik yang tak mudah.

Namun, melihat betapa kokohnya benteng cinta yang telah mereka bangun bersama—diuji oleh fitnah, darah, pengorbanan, dan tawa kebahagiaan sahabat-sahabat mereka—tidak ada lagi rasa takut yang tersisa.

Di bawah naungan pendar senja yang damai, Dimas dan Kiara siap melangkah bersama menyambut kelahiran Zavia Nayla Shanum—sang pendar bintang kebahagiaan abadi keluarga mereka.

...***...

Dua Minggu Kemudian. Usia Kehamilan Kiara Memasuki Minggu ke-39. Rumah Dimas & Kiara.

Masa-masa santai telah berlalu. Rumah dua lantai milik Dimas kini berada dalam mode "Siaga Satu Darurat".

Hospital bag berisikan baju-baju bayi Zavia, dokumen medis, dan keperluan pasca-melahirkan sudah tertata rapi di dalam bagasi mobil Dimas sejak tiga minggu lalu. Tangki bensin mobil selalu terisi penuh, dan rute tercepat menuju RS Medika di Sukabumi sudah dihafal luar kepala oleh Dimas.

Dimas berubah menjadi sosok suami yang sangat protektif. Pria itu menolak mengambil proyek luar kota dan memilih menyelesaikan seluruh berkas hukumnya dari ruang kerja rumah.

Setiap kali Kiara bergeser dari duduknya, Dimas langsung melompat berdiri seraya memegang lengan istrinya.

"Mas... aku cuma mau ambil air minum di dapur, bukan mau lari maraton," kekeh Kiara geli melihat wajah tegang suaminya di suatu sore.

"Tetap harus Mas dampingi, Ra," potong Dimas tegas seraya mengambilkan gelas air hangat untuk Kiara.

"Punggung kamu sudah makin miring bawa bobot Zavia. Jangan nolak bantuan suami."

Dimas mendadak terbangun saat mendengar Kiara merintih pelan seraya memegangi bagian bawah perutnya.

"Ngg... aduh..." desis Kiara dengan napas terengah-engah.

Dimas langsung terduduk kaget. Matanya membelalak panik.

"Ra?! Kenapa, Sayang?! Kontraksi?! Mau lahir sekarang?!"

Dimas melompat dari tempat tidur, menyambar kuncinya di meja, lalu berniat membopong Kiara. Kiara yang melihat kepanikan luar biasa suaminya justru menahan tawa sampai memegangi perutnya.

"Mas... Mas Dimas, tenang dulu!" panggil Kiara seraya memegang tangan suaminya.

"Ini cuma mules biasa karena Zavia nendang kandung kemih aku... Bukan kontraksi mau melahirkan."

Dimas terpaku di samping ranjang, napasnya tersengal-sengal oleh kepanikan palsu. Pria tegap itu menghembuskan napas lega yang sangat panjang, lalu menjatuhkan dahi berpeluhnya di pangkuan Kiara.

"Ya Tuhan, Ra... Mas hampir kena serangan jantung," gumam Dimas parau.

Kiara mengusap rambut tebal Dimas dengan penuh rasa cinta.

"Maaf ya, Mas... Bikin Mas kaget terus."

Dimas mendongak, mencium kening Kiara lembut.

"Mas gak pernah keberatan, Ra. Mas cuma gak sabar mau lihat mukanya putri kita... sekaligus pengen rasa sakit kamu ini cepat selesai."

...***...

Malam itu, hujan gerimis mengguyur Kota Sukabumi, menciptakan ketenangan yang syahdu di luar jendela kamar.

Kiara baru saja hendak memejamkan mata setelah selesai melaksanakan sholat Isya dan berdoa.

tiba-tiba, sebuah gelombang rasa sakit yang luar biasa dahsyat datang menerjang dari pinggang belakang, merambat keras menekan bagian bawah panggulnya. Rasa mulesnya ribuan kali lebih tajam dan melilit dibanding biasanya!

"Nggghhh... Akh!" Kiara mencengkeram sprei tempat tidur kuat-kuat. Peluh dingin langsung membasahi keningnya.

"Ra? Sayang?" Dimas yang sedang membaca dokumen di meja kerja langsung melempar penanya dan berlari ke tepi ranjang.

"Mas... mules banget, Mas... Sakit..." bisik Kiara parau, napasnya mulai terengah-engah sesuai pola latihan pernapasan.

Belum sempat Dimas menjawab, sebuah sensasi hangat yang sangat jelas terasa pecah dari dalam tubuh Kiara.

Cairan jernih merembet deras membasahi sarung dan sprei tempat tidur mereka.

Kiara mendongak menatap Dimas dengan mata yang berbinar panik bercampur rasa haru yang luar biasa.

"M-Mas... air ketubannya... air ketubannya pecah..."

Dimas membeku sekejap. Saraf paniknya mencoba mengambil alih, namun keteguhan hatinya sebagai pahlawan pelindung keluarga langsung mengunci seluruh fokusnya. Dimas menarik napas dalam-dalam, menguasai keadaan sepenuhnya.

Dimas merengkuh tubuh Kiara ke dalam pelukannya, memberikan tumpuan paling kokoh bagi istrinya yang mulai gemetar.

"Tenang ya, Sayang... Mas ada di sini. Tarik napas pelan-pelan lewat hidung, buang lewat mulut..." bisik Dimas tepat di telinga Kiara seraya mengusap lembut punggung bawah istrinya.

"Adik Zavia sudah kasih tanda... Dia mau ketemu kita malam ini."

Dimas menuntun Kiara berdiri dengan sangat hati-hati, mengganti pakaian istrinya dengan gaun terusan yang nyaman, lalu memapah Kiara keluar kamar. Di koridor, Dimas memanggil Mbok pengasuh untuk menjaga Rayyan yang sedang tidur lelap.

Mobil SUV hitam milik Dimas membelah jalanan Sukabumi yang sepi di bawah guyuran hujan gerimis. Lampu hazard menyala terang, dan sesekali Dimas membunyikan klakson saat menerobos persimpangan jalan.

Di kursi sebelah kiri, Kiara terus meringis menahan gelombang kontraksi yang makin rapat—kini datang setiap tiga menit sekali. Jemari Kiara mencengkeram lengan kiri Dimas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aplikasi kontraksinya bilang... gelombangnya sudah tiap 3 menit, Mas... Akh! Sakit banget... Zavia nendang turun..." rintih Kiara dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

Dimas tetap menggenggam erat jemari Kiara dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengendalikan lingkar kemudi dengan kecepatan tinggi namun tetap sangat stabil.

"Tahan sebentar ya, Cinta... Tahan ya, Sayang... Dua menit lagi kita sampai di rumah sakit. Dengar suara Mas... lihat mata Mas..." ucap Dimas dengan suara bariton yang begitu tenang dan menentramkan jiwa.

"Kamu wanita paling kuat yang Mas kenal. Kamu pasti bisa, Ra..."

Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk IGD Khusus Bersalin RS Medika Sukabumi. Para perawat dan bidan yang sudah disiagakan langsung berlari membawa kursi roda.

Dimas melompat keluar, membuka pintu mobil, dan mengangkat tubuh Kiara dengan penuh kehati-hatian, memindahkannya ke kursi roda.

Kiara dilarikan menyusuri koridor steril menuju Ruang Bersalin. Bau cairan antiseptik dan bunyi detak jantung dari alat CTG langsung memenuhi ruangan.

Bidan senior memeriksa kondisi jalan lahir Kiara. "Ibu Kiara, rileks ya... Saya cek pembukaannya dulu."

Setelah pemeriksaan singkat, Bidan mendongak menatap Dimas dan Kiara dengan senyum hangat.

"Pak Dimas, ketubannya sudah jernih dan pembukaannya sudah Pembukaan Lima! Kepala bayinya sudah sangat turun ke panggul! Kita persiapan masuk kamar bersalin utama ya!"

Kiara memegang dada Dimas yang berdetak kencang. Di tengah rintihan sakit yang makin hebat menerjang tubuhnya, Kiara menatap mata suaminya.

"Mas... jangan tinggalkan aku ya..." bisik Kiara parau.

Dimas berlutut di samping brankar, menggenggam kedua tangan Kiara, lalu mengecup kening istrinya dengan seluruh jiwa dan cintanya.

"Mas gak akan ke mana-mana, Ra. Mas akan berdiri tepat di sebelah kamu... sampai Zavia ada di pelukan kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!