NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nasehat ayah

Mobil Sera berhenti dihalaman.

Gadis itu berjalan gontai sembari menenteng tasnya.

Herman yang sedang menyiram tanaman dihalaman sempat memperhatikan sikap putrinya tersebut.

"Sore banget pulangnya Ser..." tegurnya ketika Sera hendak memasuki rumah.

"Ayah... Sera nggak tahu kalau Ayah disini..." Sera berjalan menghampiri Ayahnya dan menyalami tangan keriput yang telah merawatnya sejak kepergian Ibunya 15 tahun lalu.

"Bagaimana mau lihat, kau saja tak memperhatikan jalan dan hampir tersandung di anak tangga teras... Kau kenapa nak? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?"

"Tidak Yah... Sera baik-baik saja... Sera mandi dulu ya... " pamit Sera masuk kedalam rumah. Dia sengaja berbohong agar Herman tak terlalu mengkhawatirkan dirinya.

Herman tak memaksa putrinya bercerita tapi dirinya juga tak bisa diam saja ketika melihat kembali wajah risau Sera yang ia tebak pasti ada yang dipikirkan gadis itu.

Malam harinya, rumah terasa sunyi, hanya suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan di halaman.

Di dalam kamar Sera, kegelisahan itu menderu bagai badai. Berkas-berkas bertebaran di meja, ponsel diletakkan terbalik, dan langkah kakinya terus berulang dari ujung ke ujung kamar.

Ia tak bisa tidur, tak bisa tenang. Bayangan Dikta dan Arga silih berganti memenuhi kepalanya, membuatnya sesak.

Pintu kamar diketuk pelan.

"Sera.. Apa kau sudah tidur? Boleh Ayah masuk Nak?" Suara Ayah membuat Sera berhenti melangkah.

Ia mengusap wajah kasar, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Masuk, Yah."

Herman melangkah masuk, membawa dua cangkir teh chamomile hangat dan buah potong. Meletakkannya di meja kecil di sebelah ranjang, lalu duduk di sofa dekat jendela, menatap putrinya yang wajahnya tampak begitu lelah dan tertekan.

"Duduklah, Sera... Dan minum teh ini agar isi kepalamu tidak terlalu sesak..."

Sera menuruti permintaan itu, duduk di sofa yang sama dengan ayahnya, meneguk teh hangat buatan sang ayah.

"Terima kasih teh-nya Yah... Dan maaf sudah buat ayah khawatir...." ucap Sera dengan kepala tertunduk lesu, menekan ujung kaos piyamanya.

"Tak perlu minta maaf. Ayah tahu hatimu sedang tak tenang. Ayah melihatnya dari matamu sejak beberapa hari ini. Kau terus-menerus gelisah, mudah marah, uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Apa yang sedang membebani hatimu begitu berat, Nak?"

Pertanyaan lembut itu seakan membuka bendungan yang sudah lama ditahan. Air mata Sera jatuh tanpa izin.

"Ayah... aku bingung. Sungguh bingung. Di satu sisi ada Dikta... dia kembali, Yah. Aku tak sengaja bertemu dengannya ketika selesai seminar. Dia minta maaf, menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Dan di sisi lain ada Arga... laki-laki yang begitu baik, sabar, dan tulus mencintaiku. Aku tak tahu harus memilih siapa. Aku takut salah memilih, dan aku takut menyakiti salah satu dari mereka."

Ayah menghela napas pelan, lalu mengusap bahu putrinya dengan penuh kasih sayang. Tatapannya lembut namun penuh kebijaksanaan.

"Berarti benar feeling Ayah jika kau bertemu dengan Dikta disana.... " Sera menatap wajah Herman sejenak, sebelum menunduk kembali. Ternyata Ayahnya terlalu peka pada setiap perubahan dirinya.

"Dengarkan nasihat Ayah, Sera. Pilihan dalam cinta itu bukan soal siapa yang lebih dulu datang, dan bukan soal siapa yang lebih berusaha keras mendapatkannya. Ini soal siapa yang membuat hatimu merasa tenang. Karena cinta tanpa ketenangan, pada akhirnya hanya akan melukaimu sendiri."

Ayah berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Dikta adalah masa lalumu. Dia juga cinta pertamamu. Cintamu padanya dulu sangat besar, itulah sebabnya lukanya begitu dalam. Tapi ingat, Nak... luka yang pernah menganga, sekalipun sembuh, akan selalu meninggalkan bekas. Jika kau kembali padanya, kau harus benar-benar ikhlas melepaskan semua luka itu tanpa sesal, tanpa curiga. Jika tidak, suatu hari nanti, luka itu akan terbuka kembali."

Sera mendengarkan sambil menunduk, air mata masih terus menetes.

"Dan Arga..." lanjut Ayah pelan, "Dia adalah ketenangan yang datang setelah badai. Dia tidak datang membawa kenangan masa lalu yang menyakitkan, dia datang membawa harapan masa depan yang damai. Tapi ingat, Nak, jangan memilih Arga hanya karena dia 'lebih baik' atau karena kasihan. Pilihlah dia karena hatimu benar-benar bisa mencintainya dengan utuh, tanpa ada sisa untuk orang lain."

Sera mendongak, menatap laki-laki yang begitu tulus berada disisinya setelah kepergian Ibu.

Ayah menatap mata putrinya dalam-dalam, suaranya menjadi lebih lembut namun tegas.

"Dan satu hal lagi, Sera. Jangan terburu-buru memilih karena takut menyakiti mereka. Karena kau yang akan menjalani sisa hidupmu dengan pilihan itu. Kalau kau memilih Dikta tapi hatimu masih ragu, kau yang akan menderita. Kalau kau memilih Arga tapi hatimu masih milik Dikta, kau menyakiti dia dua kali lipat. Beri waktumu sendiri. Jangan memaksakan hatimu untuk cepat-cepat memutuskan. Biarkan hatimu tenang dulu. Karena jawaban yang benar selalu datang dari hati yang damai, bukan dari hati yang sedang gelisah dan terdesak."

Ayah menggenggam tangan Sera erat.

"Kau adalah putri Ayah, Nak. Kebahagiaanmu adalah segalanya bagi Ayah. Tapi ingatlah ini, rumah tangga itu bukan dibangun di atas rasa kasihan, bukan pula di atas janji perbaikan. Ia dibangun di atas rasa percaya yang utuh, dan ketenangan yang tak tergoyahkan. Dengarkan suaramu sendiri, bukan suara mereka. Hanya hatimu yang tahu, di mana tempatmu sebenarnya berlabuh. Dan kali ini, Ayah menyerahkan semua keputusan padamu... Dan Ayah hanya akan berada disisimu, mendukung mu...."

Sera menangis lebih kencang, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena lega. Kata-kata Ayah bagai obat penenang bagi jiwanya yang sedang berantakan. Ia memeluk ayahnya erat-erat.

"Terima kasih, Yah... terima kasih sudah mengingatkanku. Aku lupa... aku lupa bahwa aku harus tenang dulu sebelum memilih."

Ayah mengelus punggung putrinya dengan lembut. "Istirahatlah, Nak. Biarkan waktu yang menjawab. Dan apa pun keputusanmu nanti, selama itu membuatmu damai, Ayah akan selalu mendukungmu."

Malam itu, setelah Ayah pergi, Sera berbaring di tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar, namun kali ini hatinya tidak lagi serisau sebelumnya. Ia tahu jalan di depannya masih panjang, namun setidaknya sekarang ia paham, ia tak perlu terburu-buru. Karena pilihan yang benar tak lahir dari kegelisahan, melainkan dari ketenangan hati.

Bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!