Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Langkah yang Sama, Kota yang Berbeda
Matahari baru aja muncul, tapi gue udah bangun dari jam lima. Tas di sudut kamar udah penuh — buku, baju, foto kecil kita berempat, sama bros pemberian Bu Sari. Di meja belajar masih ada bunga matahari kering yang Farhan kasih dulu, warnanya udah pudar tapi bentuknya tetap tegak.
Gue duduk di tepi ranjang, tarik napas dalam. Rasanya kayak mimpi — dari dulu gue cuma baca cerita orang-orang yang pergi merantau. Sekarang gue yang bakal jalan.
"Sudah siap, Nak?" Ibu berdiri di ambang pintu, senyumnya hangat tapi matanya jelas sedih.
"Siap, Bu. Cuma... deg-degan dikit."
"Wajar. Setiap langkah baru selalu begitu. Seperti belajar berjalan lagi — dulu jatuh berkali-kali sebelum bisa lari." Ibu masuk, bantu rapikan kerah bajuku. "Ingat satu hal saja: rumah tidak hanya di sini. Rumah itu di mana pun kamu merasa cukup jadi dirimu sendiri."
"Dan di mana pun Farhan ada..." gumam gue pelan.
Ibu senyum, tepuk pundakku pelan. "Kalau di sana kamu tetap jadi Amira — jujur, baik, dan berani — maka kamu tidak akan pernah hilang, di mana pun kamu berada."
Setengah jam kemudian, gue berangkat. Di depan pagar, Farhan udah nunggu bawa tas ransel besar. Baju rapi, rambutnya agak berantakan kena angin pagi. Senyumnya masih sama — tenang, kayak selalu ada tempat buat gue di sampingnya.
"Pagi, Mir."
"Pagi, Han."
"Kita berangkat?"
"Berangkat."
Di stasiun, Bapak dan Ibu yang merawat Farhan, sama Bu Sari, udah nunggu di sana. Dimas juga datang, bawa dua bungkus roti buat bekal perjalanan.
"Hati-hati ya kalian," kata Ibu sambil pegang tangan gue dan Farhan bergantian. "Jangan lupa makan, jangan begadang terus, kalau sakit langsung kabarin."
"Siap, Bu," jawab Farhan lembut. "Gue jaga Amira. Sejauh apa pun kita pergi, gue pastikan dia pulang dengan selamat."
"Dan gue juga jaga Farhan," tambah gue. "Biar dia gak lupa istirahat kalau lagi sibuk."
Dimas ketawa pelan, tepuk bahu Farhan. "Kalian berdua saling jaga ya. Di sini gue yang jagain semuanya. Kalian fokus ke mimpi kalian."
"Makasih, Dim..." Farhan natap dia dalam-dalam. "Beneran. Gak tau bakal seberat apa tanpa kabar dari lo."
"Gampang aja. Telepon tiap minggu. Cerita apa aja. Jangan karena jauh terus jadi asing."
Kereta datang. Kita naik, cari tempat duduk di sebelah jendela. Tas ditaruh di rak, barang-barang kecil di meja depan.
Saat kereta mulai bergerak pelan, perlahan meninggalkan stasiun, meninggalkan kota yang selama ini jadi rumah kita... gue natap keluar jendela. Bangunan makin kecil, jalan makin jauh, dan orang-orang yang berdiri melambaikan tangan perlahan hilang dari pandangan.
"Gue sedih," aku jujur pelan. "Tapi sekaligus senang. Aneh ya?"
"Gak aneh." Farhan duduk di sebelah gue, bahunya bersentuhan dikit. "Itu tandanya kita berharga sama tempat yang kita tinggalkan. Dan kita berani sama tempat yang kita tuju."
Perjalanan empat jam. Kita ngobrol, ketawa, kadang diem bareng natap pemandangan yang berubah — dari rumah-rumah rapat jadi sawah luas, terus gunung hijau, terus langit yang makin lebar.
"Lo inget gak dulu kita bikin daftar mimpi di kertas?" tanya Farhan tiba-tiba.
"Inget banget. Tulisan lo miring ke kanan."
Dia ketawa. "Gue simpan di dompet. Setiap kali gue ragu, gue baca. Salah satunya: 'belajar di tempat yang bikin kita tumbuh, bukan di tempat yang bikin kita nyaman terus-menerus'."
"Kita lagi lakuin itu sekarang, Han."
"Iya. Dan gue senang... orang yang ada di sebelah gue bukan orang lain. Lo."
Sesampainya di kota baru, udaranya beda — lebih sejuk, jalan lebih lebar, orang-orang berjalan cepat dan sibuk. Seperti semua orang di sini lagi kejar sesuatu.
Kita naik taksi ke tempat tinggal masing-masing. Rumah kos gue dekat kampus, satu gedung sama Farhan tapi beda lantai. Sederhana, kamar gak terlalu besar, jendela menghadap ke pohon rindang di seberang jalan.
"Lo mau lihat dulu?" tanya gue sambil taruh tas di lantai.
"Boleh. Sementara gue rapihin barang di atas dulu, terus nanti turun lagi." Dia natap sekeliling kamar gue pelan. "Kecil, tapi terang. Kayak lo."
Gue senyum, pipi panas dikit. "Lo juga kamar atas terang gak?"
"Terang. Langsung hadap matahari terbit. Nanti kita bisa ketemu di tangga sebelum berangkat."
"Janji ya?"
"Janji." Dia mau pergi, lalu berhenti di pintu, balik badan. "Kalau lo takut malam nanti... kabarin aja. Gue turun. Kita ngobrol lewat jendela kalau perlu."
"Gak bakal malu-maluin gue?"
"Gue yang bakal malu kalau lo sendirian di bawah selimut sambil takut." Dia senyum, lalu tutup pintu pelan.
Malam itu, gue sendirian di kamar baru. Sunyi banget. Beda sama rumah yang penuh suara dan tawa. Gue peluk bantal erat, rindu langsung ngehantam kuat. Tiba-tiba HP bunyi. Dari Farhan:
"Masih bangun? Lihat jendela."
Gue langsung bangun, tarik gorden. Di lantai atas, jendelanya terbuka. Dia berdiri di sana, melambaikan tangan pelan ke arah gue. Cahaya lampu kamarnya samar-samar.
"Gue di sini. Jauh dari rumah, tapi dekat lo. Tidur nyenyak ya, Mir."
Gue senyum sampai mata panas. Ketik balas:
"Tidur nyenyak juga, Han. Besok kita mulai bareng."
Gue taruh HP di samping bantal. Langit di sini beda, bintangnya kelihatan beda posisinya. Tapi satu hal gue yakin — arahnya sama. Kita berdiri di tanah yang berbeda, tapi menatap ke langit yang sama.
Dan di tempat baru ini, di hari pertama yang penuh rindu dan takut... gue tidur dengan tenang. Karena gue tau — di lantai atas, di balik jendela itu, ada orang yang juga sedang berdoa supaya kita kuat bareng.
Besok bakal ribet. Pendaftaran, jalan baru, orang baru, tugas yang pasti numpuk.
Tapi gak apa-apa.
Karena untuk pertama kalinya... gue gak harus cari arah sendirian. Kita jalan ke arah yang sama. Dan di antara dua langkah yang berirama itu, ada satu hal yang gak akan pernah berubah — kita punya satu sama lain.