TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 15: Luka di Balik Masker*
*Toxic and Control*
*BAB 15: Luka di Balik Masker*
Pagi hari di SMA Garuda Nusantara kembali bergulir dengan awan mendung yang seolah mewakili atmosfer kelam di antara para penguasanya.
Kinara Jose melangkah melewati gerbang sekolah dengan kepala menunduk dalam. Selain kacamata murah berbingkai hitam baru yang terpasang di hidungnya, selembar masker medis berwarna putih membungkus rapat separuh wajah polos cewek itu.
Kinara terpedaya oleh rasa perih yang sesekali menyengat hulu sarafnya setiap kali kain masker itu bergeser. Di balik pelindung putih itu, dia sedang menyembunyikan luka robek dan bengkak di bibir bawahnya—sebuah suvenir mengerikan dari kegilaan Rian Pradifta semalam di Aston Club.
Di dalam kepalanya, Kinara terus meyakinkan diri bahwa penyamarannya sebagai Nara semalam masih aman. Dia mengira Rian bertindak brutal murni karena pengaruh alkohol dan rasa frustrasi setelah ditolak di perpustakaan. Gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa identitas gandanya sudah berada di bawah cengkeraman sang tuan muda sejak lama.
Langkah kaki Kinara mendadak kaku saat dia melewati deretan loker lantai dua. Di ujung lorong, Rian Pradifta sedang berdiri bersandar dengan kedua tangan tenggelam di saku celana abu-abunya.
Kinara buru-buru membuang muka, mempercepat langkah kakinya demi menghindari konfrontasi. Namun, ekor mata cewek itu sempat menangkap sesuatu yang membuat darahnya mendesir dingin. Di sudut bibir bawah Rian, terdapat sebaris luka kering berwarna merah pekat yang sangat jelas. Luka bekas gigitan tak sengaja yang Kinara layangkan semalam.
Rian sendiri tetap bergeming di tempatnya berdiri, mengabaikan Rama dan Rangga yang sejak tadi sibuk meledek luka di bibirnya. Tatapan mata elang cowok itu justru langsung terkunci mati pada sosok mungil Kinara yang berjalan setengah berlari melewatinya.
Dada Rian mendadak berdenyut nyeri. Di balik keangkuhannya yang sedingin es pagi ini, ada rasa frustrasi dan bersalah yang asing bergejolak hebat di dalam batinnya. Dia tahu persis luka apa yang sedang disembunyikan Kinara di balik masker medis itu—luka bengkak yang dia buat dengan tangannya sendiri saat kehilangan akal sehat semalam di kelab.
Rian mati-matian mengepalkan tangan di dalam saku celananya, menahan seluruh insting posesif dan dominannya untuk tidak maju mencegat gadis itu. Panggilan tak sadar "Kak Rian" yang diucapkan Kinara semalam di sela isak tangisnya kembali terngiang, menghantam telak egonya. Panggilan itu membuktikan bahwa dalam puncak keputusasaannya semalam, Kinara murni memohon padanya sebagai senior sekolah yang dia takuti.
Ancaman kebencian murni dari gadis beasiswa itu terbukti menjadi sangkar tak terlihat yang berhasil melumpuhkan ego gila kontrol seorang Rian Pradifta. Dia terpaksa menunduk kalah pada ketakutannya sendiri, memilih mencuri pandang dalam keheningan yang menyiksa batin daripada harus dibenci sepenuhnya oleh Kinara.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara ketukan hak sepatu yang familiar memutus lamunan Rian.
Silla melangkah maju dengan senyuman penuh kemenangan yang mengembang di wajah cantiknya. Mengingat kejadian panas di basecamp dua malam lalu, Silla merasa posisi "ratu" di samping Rian telah kembali sepenuhnya ke tangannya. Dia dengan percaya diri berjalan mendekat, hendak menggelayutkan tangan di lengan kekar Rian seperti biasa.
"Rian Sayang... pagi amat datangnya?" sapa Silla dengan suara manja yang dibuat-buat. "Nanti siang kita makan bareng di luar, ya—"
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi," potong Rian datar. Dia bahkan tidak sudi menggeser bola matanya untuk melirik wajah Silla.
"R-Rian? Kamu bicara apa, sih? Dua malam lalu di basecamp kita kan—"
"Pergi sebelum aku kehilangan kesabaranku dan menghancurkan seluruh keluargamu, Silla," potong Rian lagi, nadanya merendah namun sarat akan ancaman mutlak yang tidak main-main.
Aura membunuh yang dipancarkan Rian begitu pekat hingga membuat Silla mundur satu langkah dengan tubuh gemetar ketakutan. Menyadari bahwa sang tuan muda yang gila kontrol ini benar-benar tidak bisa disentuh lagi, Silla akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya kesal.
Namun di dalam hatinya, Silla mulai menyadari sesuatu. Otaknya yang licik mulai menghubungkan rumor panas tentang insiden di perpustakaan beberapa hari lalu. Silla akhirnya sadar, Rian tertarik pada seorang siswi kelas dua. Rumor itu nyata, dan alasan Rian membuangnya murni karena gadis beasiswa yang cupu itu. Rasa malu dan dendam membakar dada Silla seketika.
Saat jam istirahat kedua tiba, atmosfer di kelas sebelas mendadak mencekam. Silla mendatangi kelas Kinara tanpa peringatan sama sekali. Dengan wajah berkerut murka, dia melangkah lebar masuk ke dalam ruangan, mengabaikan tatapan kaget murid-murid lain. Silla langsung berjalan cepat ke arah meja Kinara yang sedang menunduk membaca buku pelajaran biologi.
PLAK!
Tanpa basa-basi, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Kinara, membuat masker medisnya bergeser dan kacamata murahnya nyaris terlepas. Tubuh kecil Kinara terhuyung ke samping, memegangi pipinya yang seketika memerah panas.
"Heh, Anak Beasiswa Murahan!" maki Silla histeris, menunjuk wajah Kinara dengan telunjuknya yang gemetar penuh kebencian. "Dasar cupu tidak tahu diri! Jauhi Rian! Jangan pernah bermimpi bisa merebut dia dari aku! Sadar posisi kamu yang miskin itu!"
Kinara meringis kesakitan, terkejut oleh serangan mendadak itu. Di tengah kerumunan murid yang mulai menonton dengan tegang, sebuah dekap hangat mendadak melingkupi bahunya. Randy muncul dari arah koridor, langsung berlari cepat menerobos kerumunan murid untuk berlutut di samping meja Kinara, lalu membantu gadis itu untuk kembali berdiri tegak sembari mendekap bahunya protektif.
"Kinara, kamu tidak apa-apa?" tanya Randy dengan nada suara yang teramat cemas, memeriksa kondisi wajah Kinara di balik maskernya.
Tepat saat itu, sebuah bayangan besar mendadak muncul di ambang pintu kelas. Rian Pradifta berdiri di sana dengan aura membunuh yang sangat pekat dan dingin. Rahangnya mengeras kokoh, dan sepasang mata elangnya berkilat merah menatap tajam ke arah Silla yang baru saja menyentuh gadisnya.
Melihat interaksi kedekatan di antara Randy dan Kinara yang begitu intim di depan matanya sendiri, darah Rian seakan mendidih hebat di dalam dada. Kepalan tangannya di dalam saku celana meremas kuat hingga buku jarinya memutih. Dia ingin sekali maju, menghajar Randy, dan menarik Kinara ke dalam pelukannya. Namun, ingatan tentang air mata Kinara semalam dan ancaman kebencian gadis itu menahan langkah kakinya. Rian tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiri mematung menahan gejolak cemburu yang menyiksa batinnya sendiri.
Silla yang menyadari kehadiran Rian langsung membalikkan badannya. Melihat mata Rian yang menatap tajam ke arahnya, Silla mendadak panik dan mencoba mencari pembelaan diri.
"Rian Sayang... aku... aku hanya—"
PLAK!
Belum selesai Silla memberikan kalimat pembelaannya, sebuah tamparan yang berkali-kali lipat lebih keras dan mentah mendarat hebat di wajah mulusnya. Hantaman tangan kekar Rian begitu kuat hingga membuat tubuh Silla seketika tersungkur kasar di atas lantai kelas yang berdebu.
Seisi kelas langsung terlonjak syok, keheningan absolut kembali menguasai ruangan seiring dengan Silla yang menangis kesakitan di lantai. Setelah melayangkan tamparan telak itu, Rian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya kembali sedingin es tanpa riak penyesalan sedikit pun.
Dengan gerakan tenang namun mengintimidasi, Rian langsung berbalik arah dan pergi meninggalkan tempat itu begitu saja, melangkah lebar menyusuri koridor kelas tanpa sudi melirik drama yang baru saja dia buat. Di belakangnya, Rangga dan Rama segera mengekor cepat, meninggalkan sudut kelas sebelas yang masih membeku.
Begitu sampai di area basecamp yang sepi, Rian menendang pintu kayu ganda tersebut hingga terbuka berdentum keras. Frustrasi, amarah, dan gejolak cemburu yang sejak di kelas dia tahan mati-matian kini meledak tanpa kendali di ruang tertutup itu. Otak gilanya terus memutar ulang adegan bagaimana Randy mendekap mesra bahu mungil Kinara di depan semua orang.
Prang!
Rian menyambar sebuah botol kaca kosong di atas meja nakas, lalu menghantamkannya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu cepat, tatapan mata elangnya menyala merah dipenuhi kegilaan posesif.
Rama dan Rangga yang baru saja melangkah masuk langsung menghentikan gerakan mereka. Melihat sang tuan muda mengamuk seperti singa kelaparan, keduanya memilih diam, namun Rian yang sudah kepalang gelap mata tidak membutuhkan alasan untuk mencari sasaran pelampiasan.
"Kalian berdua!" bentak Rian, membalikkan badannya dengan cepat. Langkah besarnya langsung memangkas jarak, lalu tangan kekarnya menyambar kerah kemeja seragam Rama dan Rangga sekaligus, menyentak tubuh kedua sahabatnya itu hingga membentur sofa kulit dengan kasar.
"Rian! Kamu kenapa, sih?!" seru Rama meringis kesakitan, terkejut karena mendadak menjadi sasaran amarah yang tidak jelas ujung pangkalnya.
"Diam!" desis Rian, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. Cengkeramannya pada kerah baju mereka semakin mengerat hingga buku jarinya memutih, memaksa Rama dan Rangga untuk menatap langsung ke dalam mata elangnya yang mengerikan. "Kenapa bajingan basket itu masih punya nyali untuk mendekatinya di depan mataku, hah?! Kenapa dia tidak kapok juga setelah dihajar kemarin sore?!"
Rangga berusaha mengatur napasnya di bawah tekanan tenaga Rian yang besar. "Rian, kendalikan dirimu! Anak-anak buahmu sudah menghajar Randy sampai pingsan di gudang belakang kemarin! Tapi cowok itu nekat! Di depan satu sekolah tadi, dia sengaja pasang badan lagi buat melindungi si cupu dari Silla!"
"Aku tidak peduli!" amuk Rian lagi, menyentakkan tubuh Rama dan Rangga menjauh hingga mereka terdorong ke belakang. Cowok gila kontrol itu mengacak rambut hitamnya dengan kasar, lalu menendang meja kaca di depannya hingga bergeser menimbulkan bunyi decitan yang memekakkan telinga.
"Akan kuhancurkan Randy. Akan kuhancurkan siapa saja yang berani mendekapnya seperti itu," gumam Rian parau, suaranya dipenuhi oleh rasa tidak rela yang teramat pekat.
Rama dan Rangga hanya bisa saling pandang dengan rahang mengeras, menyadari bahwa obsesi Rian terhadap si anak beasiswa telah merusak seluruh sisa kewarasan dan ketenangan yang selama ini dimiliki oleh sang penguasa sekolah.
Rian telah benar-benar kehilangan kendalinya, dan malam ini, dia siap merancang skenario yang jauh lebih kejam demi memisahkan Kinara dari dunia luar.
--
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk