Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Semoga setelah rapat ini," kata Adrian sambil mengulurkan tangan ke arah ruang rapat, "kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik."
Dira mengangguk sambil membalas senyumnya. "Itu juga harapan saya."
Keduanya kemudian melangkah memasuki ruang rapat. Tak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa bagi Dira, setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan Adrian adalah hasil dari perjuangan panjang yang dimulai sejak malam ketika lelaki itu menyelamatkannya dari kehancuran hidup.
Rapat berakhir menjelang sore. Para calon investor mulai meninggalkan ruang rapat sambil saling bertukar kartu nama dan membahas rencana kerja sama. Dira juga bersiap pamit. Namun sebelum sempat melangkah jauh, pintu ruang rapat kembali terbuka. Seorang perempuan berpenampilan anggun masuk dengan senyum lembut. Ia mengenakan setelan berwarna krem yang elegan. Pembawaannya tenang, tetapi berkelas. "Adrian."
Adrian menoleh dan langsung tersenyum. "Mayang." Perempuan itu menghampiri Adrian dengan akrab.
Dira yang melihatnya langsung terdiam. "Mayang..." Ia mengenali wajah itu. Perempuan yang pernah ia lihat di sebuah hotel bersama Bastian. Saat itu Dira mengira mereka memiliki hubungan istimewa.
Di saat yang sama, Mayang juga memperhatikan Dira. Tatapan mereka bertemu. Raut wajah Mayang berubah, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. Beberapa detik kemudian, matanya sedikit membesar. "Kita pernah bertemu, ya?"
Dira mengangguk sopan. "Sepertinya begitu."
Mayang mencoba mengingat. "Lalu..." Tiba-tiba ia tersenyum tipis. "Aku ingat."nIa menatap Dira dengan rasa ingin tahu. "Apa kamu kekasihnya Bastian?"
Pertanyaan itu membuat Adrian ikut menoleh ke arah Dira. Tetapi sebulan panggilan telepon membuat perhatiannya teralihkan.
Dira tetap tenang. "Bukan."
"Lalu?"
"Aku hanya pernah melihat Anda bersama Pak Bastian di hotel."
Seketika senyum di wajah Mayang menghilang. Wajahnya mendadak pucat. Ia tampak terkejut karena menyadari kejadian itu masih diingat oleh Dira. Mayang segera menarik napas pelan sebelum berkata, "Sepertinya... ada kesalahpahaman."
Dira tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya tersenyum sopan. "Maaf, saya hanya kebetulan melihat saat itu."
Suasana mendadak menjadi canggung. Untung saja Adrian tidak mendengar karena ia sibuk menerima telepon.
Sementara itu, Mayang berusaha tetap tersenyum, tetapi kegelisahan di matanya tidak dapat sepenuhnya disembunyikan.
Dira memilih berpamitan. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas rapat hari ini." Ia mengangguk hormat kepada Adrian dan Mayang, lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Sepanjang perjalanan pulang, Dira hampir tidak bisa berkonsentrasi mengemudi. Pikirannya terus kembali pada pertemuan singkat di kantor Maulana Group. Mayang. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Dulu, saat melihat perempuan itu bersama Bastian di hotel, Dira sama sekali tidak mengenalnya. Baru hari ini ia mengetahui kenyataan yang membuat dadanya sesak. Mayang adalah kekasih Adrian. Bahkan dari percakapan para tamu di gala dinner beberapa waktu lalu, Dira mendengar bahwa keluarga kedua belah pihak sedang mempersiapkan pertunangan mereka.
Dira menggenggam kemudi lebih erat. "Jadi... perempuan itu calon istri Mas Adrian." Ia mengembuskan napas panjang. Selama bertahun-tahun, ia sudah berusaha menerima kenyataan. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa bila Adrian bahagia bersama perempuan lain, ia akan ikut bahagia. Ia rela mundur. Asalkan lelaki yang pernah menyelamatkan hidupnya itu hidup dengan tenang. Namun semua tekad itu runtuh hari ini.
Bayangan Mayang bersama Bastian kembali memenuhi pikirannya. Ditambah lagi, Dira mengetahui sendiri seperti apa reputasi Bastian dari cerita Beri. Lelaki itu dikenal gemar mempermainkan perempuan dan memiliki rekam jejak yang buruk dalam kehidupan pribadinya.
Kalau memang Mayang pernah memiliki hubungan khusus dengan Bastian... Lalu mengapa sekarang ia akan bertunangan dengan Adrian? Dira memejamkan mata. Perasaannya bercampur aduk. Bukan hanya karena ia mencintai Adrian. Tetapi karena menurutnya, lelaki sebaik Adrian pantas mendapatkan perempuan yang benar-benar tulus mencintainya. Bukan seseorang yang masih menyimpan masa lalu yang belum selesai. "Aku tidak bisa menyerah..." Kalimat itu terucap pelan.
Dira semula telah memutuskan untuk mengubur perasaannya. Namun kini, ia merasa takdir memberinya alasan untuk kembali berjuang. Bukan sekadar demi cintanya sendiri. Tetapi juga karena ia tidak ingin melihat Adrian terluka. Jika memang masih ada kesempatan. Jika memang takdir masih berpihak kepadanya. Maka kali ini Dira tidak akan lagi hanya memandang Adrian dari kejauhan. Ia akan berjuang mendapatkan pria yang telah menjadi alasan ia bangkit dari keterpurukan bertahun-tahun lalu.
***
Sejak resmi menjadi salah satu investor di proyek hotel Maulana Group, nama Dira semakin sering muncul di lingkungan bisnis Adrian. Ia mulai menghadiri rapat pemegang saham. Undangan makan malam bisnis. Forum investor. Hingga berbagai acara perusahaan yang mempertemukan para petinggi dunia usaha.
Perlahan, Dira masuk ke lingkaran bisnis Adrian. Bukan sebagai gadis yang pernah diselamatkan. Melainkan sebagai seorang pengusaha yang dihormati. Setiap kali rapat berlangsung, Adrian beberapa kali meminta pendapat Dira. "Dira, menurutmu bagaimana strategi pemasaran untuk segmen anak muda?"
Dira membuka beberapa data di tablet miliknya. "Kalau target kita wisatawan usia dua puluhan sampai tiga puluhan, hotel tidak cukup hanya menjual kamar. Kita harus menjual pengalaman. Kolaborasi dengan brand lokal, konten digital, dan program loyalitas akan jauh lebih efektif."
Seluruh ruangan mendengarkan dengan saksama.
Adrian mengangguk pelan. "Pendapat yang menarik." Sejak hari itu, Adrian semakin sering mengajak Dira berdiskusi. Bahkan beberapa kali ia meminta Dira mengikuti pertemuan dengan calon mitra karena menyukai cara berpikirnya yang cepat dan sistematis.
Hal itu tentu tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitar Adrian. Beberapa direksi mulai membicarakan kedekatan profesional mereka. "Pak Adrian sering meminta pendapat Bu Dira."
"Wajar. Ide-idenya memang bagus."
Di sisi lain... Mayang juga mulai menyadarinya. Ia beberapa kali melihat Adrian berbincang cukup lama dengan Dira setelah rapat selesai. Meski isi pembicaraan selalu tentang bisnis, entah mengapa Mayang mulai merasa tidak nyaman.
Sementara itu, Dira tetap menjaga sikapnya. Ia tidak pernah mencari perhatian Adrian. Tidak pernah menghubunginya di luar urusan pekerjaan. Tidak pernah menunjukkan bahwa mereka memiliki masa lalu yang tidak diketahui siapa pun.
Namun di balik ketenangan itu. Sebuah persaingan diam-diam mulai terbentuk. Mayang mulai memperhatikan setiap langkah Dira. Sedangkan Dira mulai mengamati Mayang lebih dekat. Keduanya sama-sama tersenyum saat bertemu. Sama-sama berbicara dengan sopan. Sama-sama menjaga citra di depan Adrian. Tetapi di balik senyum yang tampak hangat itu, masing-masing sedang berusaha membaca lawan yang berdiri di hadapannya.
Tanpa disadari Adrian. Dua perempuan yang kini hadir dalam kehidupannya telah memulai sebuah persaingan yang sunyi. Belum ada pertengkaran. Belum ada permusuhan yang terang-terangan. Namun keduanya sama-sama tahu. Permainan baru saja dimulai.
***
Sore itu, Dira datang ke kantor Beri tanpa membuat janji terlebih dahulu. Beri yang baru saja menyelesaikan rapat menatap Dira dengan heran. "Wah, akhir-akhir ini kamu sering datang kemari."