NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Tataran Bumi Tarumanegara

Hari hari berjalan terasa sangat sangat cepat. Waktu dua pekan sudah hampir tiba.

Selama beberapa hari ini. Dewi Rimau Kumango merasa menjadi orang yang paling berbahagia di atas dunia ini. Mereka malah sempat pergi ke puncak Singgalang menemui Datuak Rajo Langik guru Pandeka Pedang Suling Kumala. Selama bepergian dengan menggunakan ilmu menembus ruang dan waktu , Dewi Rimau Kumango selalu berada dalam gendongan Pandeka Pedang Suling Kumala.

Pagi itu saat makan pagi bersama. Pandeka Pedang Suling Kumala melihat mendung di wajah Dewi Rimau Kumango.

"Lala kamu kenapa ?"

Dewi Rimau Kumango melirik sekilas kearah Pandeka Pedang Suling Kumala. Namun dia tidak bersuara. Dia setia dan konsisten dalam diamnya. Mendung masih saja bergayut diwajah cantiknya.

Namun tiba-tiba wajah mendung wanita cantik jelita dan anggun seperti ratu peri itu berubah cerah. Pandeka Pedang Suling Kumala menjadi lebih bingung lagi.

Apakah dulu.... Ahhh... Tidak baik membanding bandingkan mereka.

Pandeka Pedang Suling Kumala buru buru menghilangkan pemikiran terhadap bidadari merah.

"Uda... Sepertinya ada yang mau segera datang." Pandeka Pedang Suling Kumala kaget. Dia benar benar hanya terfokus pada istrinya Dewi Rimau Kumango. Sehingga dia abao terhadap sekitarnya.

"Ehh, apakah..."

"Yaa ya ya... Itu pasti Ngo Chian. Ayo kita keluar untuk menyambut Chian chian Uda."

Dewi Rimau Kumango segera menarik tangan Pandeka Pedang Suling Kumala. Mereka berdua segera keluar.

Bagaga Alam dan Nirmala baru saja sampai di pintu depan. Ngo Chian sudah berdiri di depan tangga.

"Unni... Udda...."

"Chian chian, kamu sendirian ? Mana Lan lan ?  Eehhh... Kenapa dengan wajah mu yang kusut begitu."

Dewi Rimau Kumango langsung menyambut Ngo Chian dengan pertanyaan.

"Ehh... Hi hi hii hiii Unni, banyak sekali pertanyaan mu. Yang mana yang harus dijawab lebih dulu ?"  Ngo Chian tertawa renyah. Namun kemudian ujung alis kanannya agak terangkat. Gadis cantik mungil itu lanjut berucap.

"Unni... Unni tampak lebih cantik apakah Unni telah...."

Dewi Rimau Kumango tersenyum lebar. Wajahnya terlihat sumringah dan makin menawan. Dia mengangguk..

"Hee kau hebat sekali, sampai bisa berfikir begitu..."

"Waaah selamat selamat Unni Lala. Sudah beberapa lama ?"

"Jalan empat purnama."

"Wow wow wow... Sebentar lagi kita akan punya ponakan." Ucap Ngo Chian dan senyum indah serta derai tawa riang terdengar.

"Chian, apakah Uda boleh minta tolong pada mu ?"

Ngo Chian menatap Pandeka Pedang Suling Kumala dengan heran. Tapi Dewi Rimau Kumango juga melihat Ngo Chian dengan serius.

"Apa yang bisa Cian lakukan untuk udda ?"

Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum dan melihat kearah Dewi Rimau Kumango. Pendekar super sakti itu melanjutkan setelah melihat anggukkan Dewi Rimau Kumango.

"Uda besok mau berangkat ke tanah Jawa Dwipa. Bisakah Chian menemani uni mu untuk sementara ?"

Ngo Chian melihat kearah Dewi Rimau Kumango. Melihat wajah penuh harap dari Dewi Rimau Kumango. Ngo Chian mengangguk dan tersenyum.

"Tentu Chian bersedia mengawani Unni Lala." Jawab Ngo Chian. Jangan kan hanya untuk menemani Dewi Rimau Kumango. Seandainya yang diminta adalah nyawanya oleh Pandeka Pedang Suling Kumala. Ngo Chian akan senang hati menyerahkan nyawanya. (Lihat kisah Pandeka Pedang Suling Kumala untuk mengetahui sebab nya.)

"Terimakasih kasih Ngo Chian. Aku berhutang pada mu."

"Tidak usah dipikirkan itu udda." Ucap Ngo Chian.

Hari bergerak dengan cepat. Tiba waktunya bagi Pandeka Pedang Suling Kumala untuk pergi. Semalam Bagaga telah menyerahkan pedang pusaka Pedang Suling Kumala kepada Nirmala.

"Kalau pedang ini Uda tinggalkan. Terus senjata apa yang akan Uda bawa ?"

"Khan masih ada pusaka Pedang Langitan Juga sebatang suling perak."

Pagi itu berkumpul Dewi Rimau Kumango dan Ayahnya Tuangku Labai Barewah, Ngo Chian, Tombak Maut, Pendekar Bayangan dan murid murid perguruan. Mereka semua melepas kepergian Bagaga meninggalkan Swarna Dwipa untuk memenuhi tugas khususnya.

"Tuan... Kapan kami bisa menyusul Anda ?"  Pendekar Bayangan yang masih penasaran bertanya.

Pendekar Bayangan dan Tombak Maut memang sudah sepakat akan ikut dengan Pandeka Pedang Suling Kumala. Mereka juga sangat ingin bisa ikut ke Jawa Dwipa.

"Aku hanya melihat situasi untuk beberapa waktu. Setelah itu aku akan kembali dan menjemput kalian.'

"Kapan itu Tuan ?"

"Aku akan kembali untuk hadir di pesta pernikahan Reno Bulan dan Yuvaraja. Kita semua bertemu di Dharmasraya."

Setelah itu Bagaga mengucapkan selamat tinggal pada semua. Dan dia menghilang begitu saja dari hadapan semua orang.

 

Siang itu pelabuhan Sunda Kelapa terlihat ramai. Ada dua kapal dagang yang baru berlabuh dan menunggu proses bongkar. Disisi lain, satu kapal penumpang sedang menurunkan penumpang.

Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang begitu peduli dengan sekitarnya. Tiba-tiba satu sosok muncul dari kehampaan dan ikut dalam keramaian itu.

Sosok itu adalah seorang pria muda yang tampan. Pria itu ikut bergabung, berjalan meninggalkan dermaga bersama yang lain. Pria muda yang tampan itu tidak lain adalah Bagaga Alam yang datang ke tataran Sunda dengan ilmu menembus ruang dan waktu.

Jarak tempuh tiga pekan dengan kapal laut. Hanya dilalui dengan beberapa waktu saja dengan menggunakan ilmu menembus ruang dan waktu.

"Aku harus mengisi perut dulu." Pikir Bagaga. Mudah mudahan tidak ada yang menyadari cara datanga ku kesini. Namun itu hanyalah harapan kosong Bagaga. Dua pasang mata telah melihat dan memperhatikan Bagaga sejak kemunculannya. Dua pasang mata yang berada di tempat berbeda dengan penampilan berbeda itu sama sama menghembuskan nafas agak berat dan bergumam lalu menghilang.

Akhirnya dia telah sampai.

Bagaga terus melangkah. Begitu keluar dia langsung memasuki sebuah warung makan besar. Warung makan itu terletak di luar pelabuhan didekat pantai. Ada sebatang pohon sukun besar di depan rumah makan. Juga ada pohon kelapa tiga batang yang menjulur ke pantai.

Warung Gabus

Bagaga membaca tulisan besar diatas pintu masuk warung makan itu.

Begitu masuk Bagaga cukup kaget menemukan warung makan itu sangat luas dan besar. Ada puluhan meja makan tersedia. Lebih dari setengahnya sudah terisi.

"Selamat datang Tuan. Mari silahkan duduk." Seorang pelayan wanita menyambut Bagaga.

"Itu masih ada satu meja kosong dekat jendela yang menghadap ke laut. Tapi agak sedikit ke belakang."

"Baik aku pilih meja itu."

Pelayan wanita itu mengantar Bagaga kesebuah meja yang tidak terlalu besar. Namun dari situ pemandangan terasa lebih enak. Selain bisa melihat keramaian di luar, juga bisa melihat dengan bebas ke semua meja didalam.

"Maaf, Tuan hendak pesan apa ?"

"Tolong berikan masakan yang paling terkenal di warung ini. Serta satu gelas besar minuman dingin."

Pelayan itu mengangguk dan pergi kearah belakang. Sesaat kemudian dia kembali dengan membawa ikan gabus goreng sambal pecak dan ikan gabus gulai pucung. Selain itu, juga ada satu piring lalapan, sambal di cobek kecil dan satu gelas besar air teh daun kelor dingin.

Bagaga baru mulai makan ketika seorang bocah mendatangi dia.

"Maaf Tuan. Saya disuruh mengantar bumbung bambu kecil ini untuk Tuan. Katanya Tuan akan memberi satu keping kepeng perak untuk saya setelah menerima bumbung bambu kecil ini."

"Eh siapa yang menyuruhmu ?"

"Seorang wanita cantik di sana." Bocah itu menunjuk keluar. Namun tidak terlihat orang yang dia maksud.

Bagaga mengangguk kecil. Dia menerima bumbung bambu kecil itu dan memberikan dua keping kepeng perak. Bocah itu segera berlari keluar dengan hati senang.

Bagaga membuka bumbung bambu kecil. Dia menemukan sepotong daun lontar, dan membaca sebuah pesan.

Kami menunggu di balai rembuk 

Bagaga sedikit bingung dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!