Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Ke mana?
Keira menatap dua kata itu begitu lama sampai layar ponselnya meredup sendiri.
Di luar jendela kamar, langit PIK masih gelap. Sisa aroma Creed Aventus yang tertinggal dari Rafael membuat ruangan itu terasa asing, seolah vila yang selama ini menjadi tempat paling aman untuknya tiba-tiba punya pintu rahasia yang bisa dibuka siapa saja.
Jari Keira bergerak di atas keyboard.
Ada urusan kecil di luar kota.
Dia menghapusnya.
Teman bisnis lama.
Dia menghapusnya lagi.
Pada akhirnya, Keira hanya mengetik, `Singapore. Aku akan kabari kamu begitu sampai.`
Pesan itu terkirim sebelum keberaniannya habis. Tiga detik kemudian, Rayhan membaca.
Tidak ada balasan.
Keira tahu diamnya Rayhan lebih berbahaya daripada pertanyaan panjang. Kalau pria itu berada di Jakarta, mungkin dalam sepuluh menit seluruh pagar vila sudah dipenuhi anak buahnya. Tapi Rayhan sedang bersama Ko Devin. Satu peluru hanya satu milimeter dari jantung. Keira tidak boleh menjadi alasan Rayhan meninggalkan kakaknya di saat genting.
Pagi datang terlalu cepat.
Sari sudah menyiapkan bubur ayam dan teh hangat ketika Keira turun ke dapur. Wanita itu tampak lega melihat Keira masih memakai piyama, seolah malam tadi hanyalah malam biasa.
"Mbak Sari," panggil Keira pelan.
Sari menoleh. "Iya, Nona?"
"Hari ini sampai dua hari ke depan, Mbak pulang dulu ke rumah saudara. Jangan tinggal di vila."
Tangan Sari yang memegang sendok langsung berhenti. "Nona mau pergi?"
"Ada urusan di Singapore." Keira mengambil amplop putih dari meja dan menyodorkannya. "Ini untuk ongkos dan hotel kalau perlu. Jangan menolak. Kalau ada orang datang mencari saya, bilang tidak tahu."
"Tapi Bos Rayhan meminta saya menjaga Nyonya."
Kata Nyonya itu membuat dada Keira tersengat halus.
Ia tersenyum tipis. "Justru karena itu, saya minta Mbak tetap aman. Saya tidak mau siapa pun yang bekerja di rumah ini ikut terseret."
Sari masih ragu, tetapi ekspresi Keira tidak memberi celah. Wanita itu akhirnya mengangguk, matanya basah.
"Nona hati-hati, ya."
"Iya."
Keira ingin berkata, kalau saya tidak pulang, tolong siram mawar merah muda di taman. Namun kalimat itu terlalu menyedihkan. Ia menelannya bersama rasa pahit di lidah.
Pukul delapan pagi, sebuah Alphard hitam berhenti di depan pagar vila.
Rafael turun dengan kemeja putih, jaket hitam, dan senyum yang terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja memaksa orang lain masuk ke meja judi kematian. Dua pria berbadan besar berdiri di belakangnya.
"Selamat pagi, Nona Keira." Tatapan birunya menyapu vila. "Tidur nyenyak?"
"Nyenyak sekali." Keira menyeret koper pinknya keluar dari foyer. "Setelah ada orang gila masuk lewat balkon, kualitas tidur saya naik."
Sudut bibir Rafael terangkat. "Humor Anda tajam di pagi hari."
"Tangan Anda cukup kuat untuk mengangkat koper?"
Rafael melirik koper pink itu. Warna manisnya sama sekali tidak cocok dengan wajah para pria berpistol di belakangnya. Ia mengulurkan tangan dengan percaya diri, menarik gagangnya, lalu tubuhnya nyaris tertahan di tempat.
Koper itu tidak bergeser.
Keira menatapnya datar.
Salah satu anak buah Rafael batuk kecil.
Rafael menarik sekali lagi. Roda koper bergerak beberapa sentimeter, lalu berhenti seperti menancap di lantai.
"Anda membawa batu bata?" tanyanya.
"Sepatu."
"Sebanyak ini?"
"Saya perempuan yang akan pergi bertaruh nyawa. Setidaknya saya harus terlihat cantik saat mati."
Senyum Rafael menghilang setengah detik.
Keira mengambil gagang koper dari tangannya, menariknya dengan satu tangan. Koper itu meluncur mulus di belakangnya.
"Jalannya miring," gumam Rafael.
"Tentu. Lantainya pasti memihak saya."
Untuk pertama kalinya sejak Rafael muncul, Keira melihat salah satu anak buahnya menunduk menahan tawa.
Perjalanan menuju bandara berlangsung sunyi. Keira duduk di kursi tengah, Rafael di sampingnya, seorang pengawal di depan. Di konsol mobil, sebuah pistol hitam tergeletak tanpa disembunyikan. Rafael sesekali mengelap larasnya dengan kain halus, bukan karena kotor, melainkan karena ia ingin Keira melihat.
Keira melihat. Ia juga mengingat.
Senjata di tangan Rafael tidak membuatnya lebih takut daripada nama yang belum disebut pria itu. Orang yang mengatur arus bawah tanah Asia Tenggara. Seseorang yang cukup besar untuk membuat Rafael Moreira membutuhkan seorang penjudi dari Jakarta. Seseorang yang tidak bisa dilawan dengan uang biasa.
Dan entah kenapa, semakin Keira memikirkannya, semakin dadanya terasa dingin.
Di bandara, semuanya berjalan terlalu lancar. Jalur VIP, petugas imigrasi yang hampir tidak bertanya, boarding tanpa menunggu. Rafael duduk di seberangnya di kabin first class, membuka majalah bisnis, seperti mereka hanya pergi menghadiri forum investasi.
Keira menyalakan ponsel.
Lokasi Rayhan masih aktif di Singapore.
Jaraknya jauh, tetapi titik kecil itu bernapas di layar seperti denyut nadi. Keira menatapnya sampai matanya panas. Ia ingin menulis, `Ray, kalau besok aku tidak kembali, jangan marah.`
Tidak.
Rayhan pasti marah. Bahkan kalau ia sudah menjadi abu, pria itu mungkin tetap akan datang menagih penjelasan.
Begitu pesawat mendarat di Changi, Rafael tidak langsung membawanya ke hotel. Mobil lain sudah menunggu. Pengawal duduk di depan, pistol tetap ada, kali ini di paha Rafael, tertutup setengah oleh jas.
"Kita ke mana?" tanya Keira.
"Anda perlu istirahat."
"Saya perlu asuransi."
Rafael menoleh. "Apa?"
"Kalau saya mati besok, setidaknya ada orang yang mendapat uangnya."
Tatapan Rafael berubah aneh, antara geli dan tidak nyaman. "Anda benar-benar dramatis."
"Saya pebisnis. Risiko harus dihitung."
Satu jam kemudian, di ruang layanan nasabah privat sebuah perusahaan asuransi internasional, Keira duduk dengan punggung tegak di depan seorang konsultan berjas abu-abu. Rafael menunggu di luar ruangan kaca, wajahnya datar, tetapi matanya terus mengawasi.
"Nilai pertanggungan yang Anda minta cukup besar, Nona Lim," kata konsultan itu hati-hati. "Rp100 miliar dengan percepatan proses membutuhkan verifikasi tambahan."
"Saya punya laporan kesehatan, laporan pajak, dan rekening pendukung." Keira mendorong map tebal ke depan. "Premi tahunan dibayar penuh hari ini."
Konsultan itu tidak lagi bertanya banyak.
Ketika formulir terakhir dibuka, pena Keira berhenti di satu kolom.
Nama penerima manfaat.
Ia menulis perlahan.
Tan Rayhan.
Hubungan dengan pemegang polis.
Tangan Keira membeku. Kata itu belum pernah keluar secara resmi dari mulut mereka. Rayhan belum melamar. Ia juga belum meminta. Tetapi di bandara, di vila, di malam-malam ketika pria itu berkata `Saya di sini`, hati Keira sudah lebih dulu menandatangani sesuatu yang tidak butuh notaris.
Ia menulis satu kata.
Tunangan.
Setelah tanda tangan terakhir selesai, konsultan itu menunduk sopan. "Polis sementara aktif mulai pukul enam sore ini."
Keira mengangguk.
Di luar gedung, Rafael menyambutnya dengan tepuk tangan pelan. "Manis sekali. Anda meninggalkan hadiah untuk pria Anda."
"Bukan hadiah." Keira memasukkan salinan polis ke tasnya. "Itu permintaan maaf."
"Karena Anda mungkin kalah?"
"Karena saya mungkin membuatnya sedih."
Rafael tidak langsung menjawab.
Malam itu, hotel mewah di Orchard terasa seperti kandang emas. Keira berdiri di depan kaca kamar, memandangi lampu Singapore yang bersih dan dingin. Di layar ponselnya, titik Rayhan masih berada di kota yang sama.
Begitu dekat.
Begitu tidak boleh ia sentuh.
Pesan dari Rafael masuk pukul sebelas malam.
`Besok pukul lima. Pakai pakaian terbaik Anda. Satu meja itu akan menentukan hidup dan mati banyak orang.`
Keira mematikan layar.
Di atas meja, polis asuransi dengan nama Tan Rayhan tergeletak rapi. Di sudut koper pink, gaun ungu dan sepasang sepatu hak tinggi sudah menunggu.
Keira memejamkan mata.
Besok, kalau ia masih hidup, ia akan memarahi Rayhan karena tidak membalas pesannya.
Kalau tidak, setidaknya namanya akan tetap menjadi orang terakhir yang ia tulis dengan tangan sendiri.