Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Cincin di Dasar Kolam
Sarung tinju Rayhan sudah pecah di bagian buku jari.
Kulit hitamnya basah oleh keringat dan noda merah tipis. Di arena tinju privat lantai bawah Hartono Estate, lampu putih menyala terlalu terang, membuat setiap tetes darah di perban tangannya terlihat jelas.
Steven berdiri di luar ring dengan lengan terlipat. Ia sudah menghitung sejak tadi.
Tujuh ronde.
Tidak ada lawan manusia. Hanya samsak berat yang digantung dari rantai besi, dihajar sampai ayunannya membentur pembatas ring.
"Ray," kata Steven akhirnya, "lo mau patahin tangan sendiri?"
Rayhan tidak menjawab.
Pukulan berikutnya menghantam samsak dengan suara tumpul. Bahunya menegang, napasnya keluar dari hidung, pendek dan panas.
Di layar ponsel Steven, pesan dari Farel masih terbuka.
Jadwal penerbangan Jakarta-Surabaya. Nama hotel yang mungkin dipakai. Alamat kantor HEALER cabang Surabaya. Apartemen atas nama Kevin Widjaja, dibayar dari rekening Keira sendiri.
Semua rapi.
Semua seperti bukti bahwa Keira tidak sedang menunggu diselamatkan.
Ia sudah membangun pintu keluar sebelum Rayhan sadar pintu itu ada.
"Kalau mau ke Surabaya, ya pergi," ujar Steven. "Pukul samsak sampai besok juga dia nggak akan muncul di depan lo."
Kali ini Rayhan berhenti.
Samsak masih berayun pelan di hadapannya. Ia menunduk, melihat darah merembes di sela perban. Untuk sesaat, wajahnya kosong.
"Dia pergi karena Kevin?" suaranya serak.
Steven menarik napas. "Jangan mulai."
"Jawab."
"Gue nggak tahu. Tapi dari semua hal yang lo baca sendiri, satu yang jelas: dia pergi karena dia mau pergi." Steven menatapnya tanpa mundur. "Dan itu bagian yang paling lo nggak mau terima."
Rayhan melepas sarung tinju dengan kasar. Velcro robek, suara kecilnya terdengar tajam di ruangan besar itu.
"Siapkan mobil."
"Ke bandara?"
"Pulang dulu."
Steven hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena lelah. "Estate itu rumah lo, Ray."
Rayhan turun dari ring. "Belum tentu."
Malam itu, Hartono Estate menyambutnya dengan keheningan yang terlalu teratur. Para staf menunduk saat ia lewat. Tidak ada yang berani bertanya mengapa punggung kemejanya basah, mengapa perban di tangan kanannya bernoda merah, atau mengapa matanya terlihat seperti orang yang sudah beberapa malam tidak tidur.
Di ruang keluarga, televisi besar yang biasa mati justru menyala tanpa suara. Seorang pelayan lupa mematikannya setelah mengecek berita bisnis. Iklan HEALER muncul di layar.
Botol kaca hitam berlekuk tipis berputar di atas latar perak. Teks putih muncul satu per satu.
SOUL FRACTURE.
Parfum mewah terbaru dari HEALER.
Creative Director: Keira Salim.
Rayhan berhenti.
Ia tidak pernah membenci nama Keira sebelumnya. Nama itu pernah terasa seperti sesuatu yang bisa ia panggil dan akan datang. Malam ini, dua kata di layar itu terasa seperti papan nama di pintu yang terkunci dari dalam.
Gambar berganti ke potongan wawancara singkat. Keira berdiri di samping meja laboratorium, blazer putih tulang jatuh rapi di bahunya. Rambutnya diikat rendah. Tahi lalat merah di sudut matanya terlihat jelas ketika ia menoleh ke kamera.
Tidak ada kalung safir di lehernya.
Tidak ada gelang dari Bali.
Tidak ada tanda apa pun bahwa Rayhan pernah ada di hidupnya.
Pembawa acara menyebut satu kalimat yang membuat ruang itu seperti kehilangan udara.
"...dan pelukis internasional Spencer bahkan menjuluki aroma ini sebagai Bulan Timur, sebuah retakan jiwa yang tetap bercahaya."
Bulan Timur.
Keira bersinar di kota lain, dengan nama lain yang diberikan orang lain, sementara ia di sini menatap layar seperti laki-laki bodoh yang baru sadar tangannya kosong.
"Pak Rayhan?"
Pelayan tua yang membawa baki obat berhenti di ambang pintu.
Rayhan mematikan televisi. "Barang-barang di gudang."
Pelayan itu menunduk lebih dalam. "Sudah kami pisahkan sesuai perintah, Pak."
"Jangan dibakar."
Pelayan itu mengangkat wajah sedikit, terkejut.
Rayhan menatap layar hitam televisi. Bayangannya sendiri terlihat di sana, pucat, berantakan, dan asing.
"Tidak satu pun," katanya. "Kalau ada yang hilang, saya pecat semua orang yang masuk gudang."
"Baik, Pak."
Pelayan itu mundur perlahan.
Rayhan berjalan ke taman belakang. Udara malam lembap. Kolam teratai di tengah taman memantulkan lampu kuning dari koridor batu. Dulu Keira pernah berdiri di tepinya, melepas sepatu hak tinggi karena kesal setelah pesta keluarga, lalu memasukkan kaki ke air dangkal sambil berkata teratai di sini terlalu rapi, seperti tidak pernah boleh layu.
Saat itu Rayhan tertawa dan mengangkatnya sebelum ujung gaunnya basah.
Sekarang, kolam itu kosong dari suara.
Ia membuka kotak beludru kecil dari saku jas.
Cincin safir 3,14 karat itu menangkap cahaya taman, dingin dan biru. Tidak ada chip. Tidak ada alat. Hanya cincin yang ia pesan dari maestro perhiasan pensiunan di Jerman, cincin yang belum sempat menyentuh jari Keira.
"Untuk apa?" gumam Rayhan.
Untuk siapa?
Jika Keira sudah tertawa dengan laki-laki lain. Jika Keira sudah memakai hidup baru seperti parfum baru di kulitnya. Jika ia bahkan tidak membawa satu pun barang pemberian Rayhan.
Jari Rayhan menegang.
Cincin itu melayang dalam garis pendek, lalu jatuh ke kolam.
Plung.
Air memecah lingkaran kecil. Safir hilang di antara batang teratai dan bayangan lampu.
Rayhan berdiri diam.
Satu detik.
Dua detik.
Pada detik ketiga, wajahnya berubah.
"Hasan!"
Suara itu membuat dua pelayan berlari dari koridor. Pak Hasan belum muncul, tetapi staf taman sudah gemetar di tepi tangga.
"Kuras kolam ini."
Pelayan muda itu tertegun. "Sekarang, Pak?"
"Sekarang."
"Tapi akar teratainya..."
Rayhan menoleh. Matanya merah, tapi suaranya sangat pelan. "Saya bilang sekarang."
Dalam sepuluh menit, pompa air darurat dinyalakan. Para staf taman berdiri di tepi kolam dengan sepatu bot, senter, dan jaring kecil. Lumpur naik bersama bau daun basah. Teratai yang selama ini dipelihara untuk estetika pesta keluarga rebah satu per satu.
Steven, yang baru tiba menyusul, berdiri di belakang Rayhan sambil menatap kekacauan itu.
"Lo buang cincin," katanya datar, "terus lo suruh orang sekolam cari lagi."
Rayhan tidak menoleh.
"Ada yang mau lo sadari dari pola ini?"
"Diam."
"Gue cuma bilang, Keira bukan cincin. Lo nggak bisa buang dia waktu marah, lalu kuras satu kota supaya dia balik."
Bahunya Rayhan bergerak sedikit. Bukan marah. Lebih mirip tertusuk.
Di dasar kolam yang mulai dangkal, seorang staf taman tiba-tiba berseru, "Ketemu!"
Rayhan melangkah maju.
Cincin itu terbaring di telapak tangan berlumpur, birunya masih dingin, seperti tidak pernah tersentuh air kotor. Rayhan mengambilnya sendiri. Lumpur mengotori ujung jarinya. Ia mengusap batu safir dengan sapu tangan putih sampai cahaya birunya kembali.
Steven memperhatikannya.
Tidak ada kemenangan di wajah Rayhan. Hanya rasa lega yang membuatnya tampak lebih hancur.
Pelayan tua yang tadi muncul di ruang keluarga mendekat hati-hati. "Pak, laporan penerbangan yang diminta Asisten Farel sudah masuk. Ada kursi jet pribadi yang bisa siap sebelum subuh. Tapi jika Bapak ingin jadwal komersial, penerbangan Jakarta-Surabaya paling pagi pukul enam."
Rayhan memasukkan cincin itu ke kotaknya.
"Saya tidak bilang mau pergi."
Pelayan itu menunduk. "Baik, Pak."
Steven menutup mata sebentar.
Lima detik kemudian, Rayhan berkata, "Siapkan jet."
Tidak ada yang berkomentar.
Beberapa hari kemudian, Surabaya terlihat berbeda dari kaca mobil hitam yang melaju dari bandara. Jalannya lebih terang, lebih terbuka, tidak sekeras Jakarta. Di beberapa sudut, aroma hujan tersisa di aspal panas. Rayhan duduk di kursi belakang, kemeja hitamnya rapi, perban tipis masih menutup buku jari kanan.
Farel mengirimkan lokasi terbaru.
Keira baru selesai pertemuan internal di HEALER Surabaya. Kevin Widjaja menjemputnya di area drop-off belakang karena ada makan malam dengan calon distributor.
Calon distributor.
Rayhan membaca dua kata itu berkali-kali, tetapi yang tersisa di kepalanya hanya satu gambar: Kevin membuka pintu mobil untuk Keira.
Saat mobilnya berhenti di seberang gedung apartemen Keira, matahari sore jatuh di kaca-kaca tinggi. Beberapa pegawai HEALER keluar sambil membawa tote bag. Lalu sebuah sedan abu-abu berhenti di depan lobi.
Kevin turun lebih dulu.
Ia mengenakan kemeja biru muda, lengan digulung sampai siku. Wajahnya terlihat santai, seperti seseorang yang tidak perlu merebut apa pun karena sudah berada di tempat yang tepat.
Pintu sisi penumpang terbuka.
Keira turun.
Rayhan tidak bergerak.
Keira memakai kemeja satin warna gading dan celana hitam. Rambutnya jatuh di bahu. Ia tampak lebih kurus dibanding terakhir kali di Jakarta, tetapi matanya jernih. Kevin mengatakan sesuatu yang membuatnya menoleh.
Lalu Keira tertawa.
Bukan tawa besar. Hanya suara kecil yang keluar dari dada, singkat, nyaris tertahan.
Tetapi bagi Rayhan, itu lebih keras daripada semua pukulan di arena tinju.
Ia keluar dari mobil sebelum sopir sempat membukakan pintu.
Kevin melihatnya lebih dulu. Senyum di wajahnya hilang.
"Rayhan."
Keira ikut menoleh.
Untuk satu detik, semua udara di lobi apartemen seperti berhenti. Pegawai yang lewat menahan langkah. Satpam di meja resepsionis berdiri setengah ragu.
Rayhan berjalan lurus ke arah Kevin.
"Rayhan," suara Keira turun, dingin, waspada. "Jangan bikin keributan di sini."
Rayhan tidak memandangnya.
Matanya tertancap pada Kevin. Pada jarak Kevin dengan Keira. Pada cara laki-laki itu berdiri setengah langkah di depan, seolah punya hak melindungi.
"Jadi ini alasan kamu pergi?" tanya Rayhan pelan.
Keira mengerutkan kening. "Jangan mulai."
Kevin maju sedikit. "Kita bisa bicara baik-baik."
Tangan Rayhan bergerak lebih cepat daripada kata-kata.
Ia mencengkeram kerah kemeja Kevin dan menariknya mendekat. Buku jari kanannya yang masih luka menekan kain biru muda itu sampai kusut.
Beberapa orang di lobi terkesiap.
Keira melangkah maju.
"Rayhan, lepaskan."
Rayhan akhirnya menoleh padanya. Di matanya ada sesuatu yang gelap, sakit, dan hampir patah.
"Aku datang jauh-jauh," katanya, suaranya rendah, "bukan untuk lihat kamu tertawa dengan dia."
Kevin tidak melawan. Ia hanya menatap Rayhan dengan rahang mengeras.
Keira berdiri di antara mereka, tetapi tangan Rayhan belum lepas dari kerah Kevin.
Tiga orang itu saling berhadapan di bawah lampu lobi, sementara semua mata di sekitar mereka mulai menonton.