NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah dan Pegunungan

 Mobil Danendra melaju perlahan menyusuri jalan beraspal yang membelah kawasan Agrowisata Lereng Mahitala. Semakin jauh dari pusat aktivitas wisata, suasana di sekitar mereka semakin tenang.

 Di sisi kanan dan kiri, hamparan kebuh teh mengikuti kontur perbukitan, yang membuat Niken tidak berhenti memandangnya.

 "Mas, kenapa vilanya dibuat jauh dari area utama?" tanya Niken.

 "Karena tamu yang menginap biasanya ingin beristirahat. Kalau terlalu dekat dengan keramaian, suasananya jadi kurang tenang."

 Niken mengangguk paham. "Pantas saja di sini sepi sekali."

 "Itu memang yang kucari."

 Tak lama kemudian, jalan mulai sedikit menanjak. Danendra membelokan mobil ke sebuah jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu kendaraan.

 Di ujung jalan itu berdiri sebuah vila kayu yang tampak begitu menyatu dengan alam. Halamannya dipenuhi bunga hortensia, lavender, dan mawar putih yang bermekaran. Pagar kayu rendah mengelilingi taman kecil di bagian depan, sementara sebuah jalan setapak dari batu alam menghubungkan area parkir dengan teras vila.

 "Sudah sampai," kata Danendra yang tidak langsung mendapat jawaban dari Niken.

 Matanya masih terpaku ke arah vila di hadapan mereka, lalu ke arah pemandangan sekitar yang menampilan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing sebagai latar alami yang melengkapi keindahan tempat itu. Beberapa detik berlalu hingga akhirnya ia menghembuskan napas panjang.

 Danendra tersenyum puas melihat reaksi istrinya. "Jadi... bagaimana?"

 Niken menatapnya perlahan, "aku bahkan bingung harus menoleh ke arah mana dulu."

 "Kalau begitu, lihat satu per satu. Karena mulai siang ini, tempat ini menjadi rumah kita sampai besok." Kata Danendra sambil membuka sabuk pengamannya.

 Danendra mengambil kunci vila yang tersimpan di konsol tengah mobil. Ia lalu turun lebih dulu, berjalan memutari mobil demi membukakan pintu untuk Niken.

 Niken menerima uluran tangan suaminya. Begitu kedua kakinya menginjak halaman vila, udara sejuk langsung menyambutnya. Ia pejamkan mata sejenak, kemudian menghirup napas dalam-dalam.

 Danendra masih menggenggam tangan Niken ketika mereka berdiri di halaman vila. Angin pegunungan yang berhembus lembut membawa aroma tanah yang masih basah bercampur wangi bunga hortensia di sekitar teras.

 Jilbab Niken yang tertiup angin perlahan, semakin menambah rona cantik di wajahnya. Saat itu, Danendra memperhatikannya dalam diam.

 "Ada apa, Mas?" tanya Niken dengan lembut, ketika menyadarinya.

 Danendra menggeleng, seolah biasa saja. "Tidak ada."

 "Tapi Mas terus melihatku."

 Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya mengukir senyum sambil tetap berdiri di samping Niken yang masih memandang hamparan pegunungan di hadapan mereka.

 Kemudian Niken kembali berbicara. "Mas, aku baru mengerti kenapa Mas tidak menjawabku."

 Kerutan tipis muncul di dahi, "kenapa memang?" Tanya Danendra.

 "Sungguh tempat ini membuat orang ingin diam. Aku percaya bukan karena Mas tidak punya jawaban, atau bahan obrolan. Tapi karena tempat ini terlalu indah dilewatkan."

 Danendra tertawa kecil karenanya, namun tetap tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengikuti arah pandang istrinya, lalu untuk beberapa saat itu, mereka hanya menikmati keheningan.

 "Aku sering berdiri di sini sendirian," ucap Danendra tiba-tiba yang membuat Niken langsung menoleh.

 Kemudian Danendra menatap wajah Niken yang diterpa cahaya matahari. "Dulu aku datang ke sini untuk menenangkan diri. Tapi sekarang aku ingin berbagi ketenangan itu dengan seseorang."

 Pipi Niken terasa menghangat, ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali tersenyum.

 "Kamu tidak bertanya, siapa seseorang itu?" tanya Danendra yang membuat Niken mengangkat alisnya.

 "Memangnya siapa?"

 Danendra terkekeh kecil. "Coba lihat."

 "Apa?" Niken semakin merasa bingung.

 "Sejak turun dari mobil, matamu sibuk melihat pemandangan. Kamu terlalu sibuk memuji tempat, sampai lupa memuji pemiliknya."

 Niken terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya tawanya pecah. "Oh, jadi Mas juga minta dipuji?"

 "Sesekali boleh lah." Jawab Danendra tanpa menoleh, "kan capek membangun semuanya, masa tidak dipuji?"

 Niken menatapnya dalam-dalam. "Tempatnya luar biasa, udaranya sejuk, pemandangannya cantik, tapi..." ia sengaja menghentikan kalimatnya.

 Danendra menunggu dengan wajah penuh harap. "Tapi apa?"

 "Yang paling membuat tempat ini terasa indah," Niken melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti. "Karena aku datang bersama pemiliknya."

 Kalimat itu membuat sudut bibirnya perlahan terangkat. "Bu Guru...sejak kapan pandai membuat jantung orang berdebar?"

 Niken tersipu malu setelahnya, ia sendiri tidak tahu, mengapa sampai berkata seperti itu. "Aku... hanya berkata jujur," katanya akhirnya.

 Danendra menggeleng sambil terkekeh pelan. Tanpa sadar, dengan gerakan yang begitu pelan, tangannya merapikan ujung jilbab Niken yang sedikit bergeser akibat tertiup angin.

 "Sudah rapi," ucapnya lembut.

 Niken membalasnya dengan senyum malu. "Terima kasih."

 Danendra lalu mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, boleh aku mengajak istriku masuk?"

 Tanpa pikir panjang perempuan itu meletakan telapak tangannya di atas telapak tangan Danendra. "Dengan senang hati, Mas."

 Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka melangkah menuju teras vila. Pintu kayu yang berdiri di hadapan mereka perlahan dibuka oleh Danendra.

 Kemudian dengan senyum yang mengembang, Danendra mempersilahkan Niken masuk ke dalam. "Selamat datang..." ucapnya.

 Niken masuk lebih dulu. Pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan yang didominasi warna-warna hangat itu.

 "Nyaman sekali," gumamnya.

 Danendra hanya memperhatikannya dari belakang. Entah mengapa, melihat senyum Niken saat menikmati tempat itu seolah memberinya kepuasan yang sulit dijelaskan.

 Setelahnya, Danendra mendekat beberapa langkah. "Aku suka melihatmu tersenyum seperti ini."

 Niken menundukan wajah, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Aku jadi malu."

 "Malu kenapa?"

 "Mas dari tadi memperhatikan aku terus."

 "Kalau tidak memperhatikan istriku, lalu harus memperhatikan siapa?"

 Kalimat itu membuat Niken menggeleng kecil sambil tersenyum. "Dasar Mas..."

 Danendra ikut tersenyum. Ia kemudian berjalan ke arah jendela besar dan membuka tirainya lebih lebar yang langsung membuat cahaya matahi memenuhi seluruh ruangan.

 "Nik."

 "Iya?"

 "Coba ke sini." Kata Danendra yang membuat Niken langsung menghampirinya.

 Begitu berdiri di samping Danendra, pemandangan lembah dan pegunungan terbentang tanpa terlahang apa pun. "Indah...." bisik Niken.

 Danendra mengangguk. "Setiap kali ke sini, aku selalu berharap kalau suatu hari bisa melihat pemandangan ini bersama orang yang paling dekat denganku."

 Danendra tidak memandang ke luar lagi. Tatapanya jatuh pada wajah cantik Niken. "Sekarang harapan itu terkabul. Tapi aku justru lebih suka melihat wajahmu yang sedang menikmati pemandangan ini."

 "Mas memang suka membuatku salah tingkah." Kata Niken sambil ingin pergi.

 Namun Danendra lebih dulu menahan lengannya. "Aku hanya mengatakan yang aku pikirkan."

 Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat, hingga embusan angin menggerakkan ujung jilbab Niken.

 "Mas, apa kita akan terus begini sampai sore?"

 Danendra tertawa kecil. "Memangnya tidak boleh?"

"Boleh saja, tapi..." Niken mengusap perutnya sendiri. "Perutku mulai protes."

"Lapar?"

Niken mengangguk malu.

"Ayo, kalau begitu kita makan dulu. Pemandangannya tidak ke mana-mana, kan?"

Niken memukul lembut lengan suaminya, kemudian mereka berjalan ke gazebo di belakang vila, tempat di mana Pak Surya telah menyiapakan makan siang untuk mereka.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!