" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Ternyata dia adalah pria matang
" Baby dengar baik-baik, Aku tidak suka kamu menolak hadiah yang sudah aku siapkan dan satu lagi aku punya cukup uang untuk membelinya diluar tabungan ku " pernyataan Sean .
" Tapikan ini terlalu mahal " kata Ara masih menolak .
" Yasudah " kata Sean juga melepas cincin dijarinya .
" Haaaaa, Sayang nggak boleh dilepas " kata Ara memasangkan kembali cincin yang belum terlepas sempurna di jari Sean.
" Jika kamu tidak menerima kalung yang aku berikan aku juga tidak akan menerima cincin yang kamu berikan" ucap Sean menatap cincin di jarinya .
" Kok Sayang gitu, apa karena cincin yang Ara belikan nggak mahal makanya Sayang nggak mau pake " kata Ara dengan wajah yang tiba-tiba sedih .
" Bukan begitu, kamu tidak menghargai pemberian ku " pernyataan Sean yang kini justru menolak ketika Ara akan melepas sendiri cincin yang dia pasangkan di jari Sean .
" Ya tapi kalung ini terlalu mahal, Ara aja beliin cincin cuma sejutaan " kata Ara merasa tidak pantas .
" Kalaupun sejuta ini kamu beli pakai uang jajan kamu kan?" pertanyaan Sean yang merasa cincin dijarinya semakin mahal ketika Ara mengangguk .
" Cincin nya mungkin murah, tapi effort kamu membelinya membuat cincin ini menjadi sangat mahal " ucap Sean tersenyum dan untuk pertama kalinya mengecup kening pacar kecilnya .
" Sekarang aku pakaikan kalung ini dan jangan dilepas, paham " ucap Sean memakaikan lagi kalung keleher Ara .
" Jika dilepas aku akan menganggap kamu tidak menghargai pemberianku " ucap Sean .
" Baiklah terimakasih Ayang" kata Ara tersenyum lebar yang membuat Sean gemas dan mencubit pipi Ara .
" Ayo kita jalan " ajak Ara memegang sebelah tangan Sean .
" Sebentar aku kasih jas dan dasi pada sopir dulu " ucap Sean berjalan mengantar jas dan dasinya pada Bimo dengan sebelah tangan di peluk Ara .
" Ini bukannya Asisten yang di kantor?" pertanyaan Ara yang ingat wajah Bimo
" Dia multitalenta, bisa jadi sopir juga " ucap Sean yang membuat Bimo langsung menggerutu dengan senyum terpaksa nya .
" Mmmh, berarti kita nggak bisa jalan lama-lama ya soalnya Sayang masih harus kerja lagi " kata Ara dengan wajah lesu nya .
" Tidak bisa, 1 jam lagi boss ada meeting " kata Bimo yang awalnya bilang pada Sean ada waktu 2 jam malah di potong nya karena kesal dikatai sopir oleh Sean .
Sean langsung mempelototi Bimo yang mengatakan hanya ada waktu satu jam untuk Sean jalan dengan Ara, padahal mau seharian sekalipun juga nggak apa-apa kan Sean yang punya perusahaan.
" Oooo, Ayo cepat kalau gitu Ayang" ucap Ara menggenggam tangan Sean sambil berlari .
" Awas kamu, Bimo kurang ngajar " suara kecil Sean mempelototi asisten nya yang kurang ngajar itu .
" Tuan muda sedang menikmati cinta dan periode menjadi pria sederhana" ucap seorang bodyguard keluar dari tempat persembunyian nya dan berdiri didekat Bimo.
" Stthhhh, biarkan rasa cinta meruntuhkan ego dan kesombongan nya " tawa puas Bimo yang bukan tidak tau seberapa elite nya hidup yang Sean jalani sejak kecil selayaknya pangeran pada umumnya.
Entah kapan terakhir pria itu jalan kaki untuk sekedar menikmati alam jika tidak diajak pacar kecil nya .
" Ayang nggak bawa uang ya?" tanya Ara yang berjalan keliling taman dengan Sean .
" Bawa, Kamu ingin jajan?" pertanyaan Sean yang diangguki Ara .
" Mau apa?" tanya Sean walaupun begitu dia sudah memilih es krim untuk Ara.
" Mau dua " kata Ara dengan manja ketika melihat es krim kerucut yang dipilih Sean .
" Iya, maksudku selain es krim mau apa lagi Baby?" pertanyaan Sean membayar es krim yang dibelinya.
" Itu saja" kata Ara kembali berjalan menjilati es krim yang Sean berikan .
" Sayang duduk disana yuk " ajak Ara kemudian duduk bersama Sean menikmati es krim
" Apa yang kamu lihat?" pertanyaan Sean melihat Ara terus celingak-celinguk sedari tadi .
" Ara cuma heran kok alun-alun kota ini tiba-tiba sepi " kata Ara dengan wajah herannya .
" Emang biasanya ramai?" pertanyaan Sean seolah tidak tau padahal dia yang meminta bodyguard untuk mengosongkan area alun-alun ini selama beberapa saat dengan membayar kompensasi kepada pihak yang berwewenang.
" Ya ramai biasanya penuh taman-taman ini sama orang duduk dan bersantai, emang Sayang tidak pernah kesini biasanya?" pertanyaan Ara.
" Tidak, selama ini aku selalu menghabiskan hari-hari dengan bekerja " kata Sean .
" mmmh, maafin Ara udah ganggu waktu kerja Sayang " ucap Ara merasa bersalah tapi dia memang merindukan Sean makanya ingin jalan .
" Tidak, tidak Baby, malah aku senang karena semenjak ada kamu aku jadi ada kesempatan untuk refreshing dan bersantai " jujur Sean tersenyum mengelus kepala Ara yang terlihat sedih.
" Mmmmh, Beneran?" tanya Ara menatap Sean dengan mata bulatnya yang dikelilingi bulu mata lentik .
" Iya " angguk Sean mendekap pacar kecilnya agar bersandar ke dada nya .
" Umur Sayang berapa?" tanya Ara tiba-tiba mendongak menatap Sean .
" Astaga, kamu tidak tau umur pacarmu berapa?" ucap Sean mencubit hidung Ara yang tidak terlalu mancung .
" Tidak, emang umur Ayang berapa?" tanya Ara dengan serius .
" Umurku 47 " ucap Sean yang membuat Ara shock mendengarnya.
" Mmmmh " Ara merengek dan mencubit perut Sean yang tertawa setelah melihat wajah kaget Ara sampai matanya melotot .
" Ayang, Ara serius , berapa " rengek Ara memukul Sean yang masih saja tertawa .
" Loh kok berhenti?" tanya Sean pada Ara yang sedang memukulnya tiba-tiba berhenti mematung entah apa yang dipikirkan nya .
" Hei " Sean mencolek pipi Ara yang tiba-tiba terdiam itu .
" Jabatan Sayang dikantor apa?" tanya Ara dengan wajah penuh keseriusan.
" Direktur" jawab Sean.
" Mmmmh, Beneran umur Ayang 47?" tanya Ara lagi dengan wajah penuh keseriusan membuat tawa Sean semakin keras .
" Ayang " semakin Ara merengek semakin keras tawa Sean sampai pria itu memegang perutnya.
" Umurku 29 Baby" serius Sean mengacak rambut pacar kecilnya yang lucu sekali saking takutnya sampai shock.
" Mmmmh, Ayang bohong ya?" tanya Ara masih tidak percaya menatap Sean menanti jawaban yang jujur .
" kali ini tidak bohong Baby umurku memang 29 tahun " serius Sean mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya.
" Haaaaa, kok 29 " kaget Ara memegang kartu itu dengan tangan bergetar .
" Kenapa?" heran Sean namun setelah beberapa saat berpikir dia terdiam .
" Emangnya kamu pikir umur aku berapa?" tanya Sean dengan nada rendahnya melihat Ara yang sudah murung bahkan menunduk .
" 23" jawab Ara tidak expect perbedaan umur mereka sejauh itu .
" Tapi, tapi emang nggak mungkin juga , karena umur segitu baru lulus kuliah , Sayang malah udah jadi direktur sekarang" ucap Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal .
Sejak awal mengagumi Ara tau kalau Sean adalah pria dewasa tapi Ara tidak kepikiran juga kalau umurnya hampir menginjak kepala tiga .
Dan harus lebih berjuang dengan keras lagi untuk mendapatkan restu. Bukan hanya Ara yang harus dituntut untuk mengikuti aturan di keluarga Sean saja
Ara pergi agak jauh dulu jujurly aku penasaran Ara anak siapa yah dari sekian novel kan mafia semua