NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

'Empat triliun rupiah. Tunai.'

Kata-kata yang keluar dari mulut Riyan Sadewa seperti hantaman palu bodem seberat sepuluh kilogram yang menghantam beton segar.

Para sesepuh Keluarga Zevan sampai ada yang tersedak air teh melati mereka, sementara tim pengacara Valerie Vandersen di belakang langsung saling berbisik panik dengan kalkulator tablet mereka yang mendadak eror karena memasukkan angka nol yang terlalu banyak.

Valerie sendiri membeku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya yang tajam menatap Riyan dengan kombinasi rasa tidak percaya, ngeri, dan syok yang amat sangat.

Pria di depannya ini baru saja menawarkan uang tunai empat triliun untuk membeli sisa saham sebuah perusahaan hiburan yang besok malam akan terkena denda tiga triliun dan terancam disita negara.

'Dia... dia mau membeli perusahaan yang sudah jelas-jelas mau bangkrut dengan harga di atas langit?! batin Valerie, dadanya naik turun menahan napas. Ini bukan akuisisi bisnis, ini namanya buang duit ke dalam lubang hitam!

Kezia Zevan yang berdiri di samping pelaminan pun ikut terdiam. Otak bisnisnya yang biasanya berputar secepat prosesor kuantum mendadak macet total.

Dia mencoba mencari celah konspirasi keuangan tersembunyi dari taktik suaminya ini, namun nihil. Membeli perusahaan hiburan malam yang diambang kehancuran total dengan harga premium empat triliun adalah tindakan paling tidak logis yang pernah ada dalam sejarah ekonomi modern.

"R-Riyan..." Valerie akhirnya bersuara, nadanya tidak lagi angkuh melainkan sedikit bergetar.

"Lu... lu beneran mau beli sisa saham gua seharga empat triliun? Lu sadar kan kalau besok malam perusahaan itu bakal kena denda tiga triliun? Kalau lu beli 100% kepemilikan, denda tiga triliun itu bakal jadi tanggung jawab lu sepenuhnya secara pribadi!"

"Gua sadar banget, Pirang," jawab Riyan dengan senyum paling santai sedunia, meskipun dalam hatinya dia sedang bersorak sorai gembira.

'Justru itu yang gua mau! teriak Riyan dalam hati kegirangan.

'Gua bayar lu empat triliun tunai, sisa saldo gua tinggal dua koma empat puluh lima triliun. Terus besok gua bayar lagi denda negaranya tiga triliun eh tunggu, duit gua kurang lima ratus miliar buat bayar denda? Oh iya! Berarti gua bakal defisit, perusahaan lu bakal langsung bangkrut total, asetnya disita, dan gua resmi jadi gembel lagi karena duit gua abis bis bis! Sistem pasti bakal nangis darah liat kerugian total gua ini! Hahaha! Gua jenius!

"Bagaimana, Valerie? Lu mau ambil empat triliun ini dan bebas dari jeratan hukum Bank Sentral, atau lu mau bertahan di perusahaan itu lalu masuk penjara bareng direksi lu besok malam?" desak Riyan, sengaja memasang wajah mengintimidasi khas bos mafia tanah.

Valerie menatap tim pengacaranya. Sang kepala pengacara memberikan anggukan kecil yang sangat cepat dengan keringat dingin menetes di pelipisnya. Secara logika finansial Keluarga Vandersen, ini adalah kesepakatan 'Golden Parasuit' paling gila.

Mereka keluar dari perusahaan yang sekarat dengan membawa modal bersih empat triliun tunai!

"Oke! Gua terima! Kita tanda tangan akta pengalihan saham darurat sekarang juga!" ucap Valerie tegas, tidak mau kehilangan kesempatan emas ini sebelum Riyan mendadak berubah pikiran atau otaknya mendadak waras.

Dengan kecepatan yang tidak kalah dengan pekerja proyek mengejar deadline tayang, tim pengacara Valerie langsung mengeluarkan draf dokumen pengalihan kepemilikan mutlak. Di atas meja akad nikah adat Sunda yang belum sempat dibereskan, dokumen bernilai triliunan itu dihamparkan.

Riyan dengan semangat membara langsung menyambar pulpen emas milik Abraham Zevan.

Tanpa membaca klausul panjang lebar yang biasanya bikin pusing, dia langsung membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang sangat mantap.

Sret! Sret!

"Sekarang, kirim nomor rekening utama keluarga Vandersen," perintah Riyan sambil membuka aplikasi perbankan satelitnya.

Valerie menyebutkan nomor rekening induk keluarganya di Swiss. Jari Riyan dengan lincah mengetik nominal: 4.000.000.000.000.

Klik. Konfirmasi transfer dikirim.

Tring!

[Denting Sistem! Transaksi Konsumsi Mega-Brutal Berhasil Terverifikasi!]

[Inang telah membeli 51% saham sisa milik Vandersen Group seharga 4 Triliun Rupiah tunai.]

[Analisis Sistem: Perusahaan yang dibeli berstatus 'Sekarat & Terjerat Hukum'. Pembelian dinilai sebagai tindakan pembakaran modal sukarela dengan potensi kerugian finansial murni sebesar 100%.]

[Selamat! Saldo Anda berhasil dipangkas secara masif menjadi 2,45 Triliun Rupiah!]

[Peringatan Sistem: Anda sekarang memegang 100% kepemilikan atas 'Vandersen Entertainment'. Batas waktu penyelesaian denda 3 Triliun sisa 46 Jam!]

Riyan hampir saja melompat dari kursinya dan melakukan tarian kemenangan jika dia tidak ingat sedang memakai kain sinjang adat Sunda yang ketat.

'Berhasil! Saldo gua tinggal dua triliun kecil! Besok denda tiga triliun datangan, gua gak bakal bisa bayar penuh, perusahaan langsung dilikuidasi, gua jatuh miskin! Merdeka!

Valerie menatap layar ponselnya yang menampilkan notifikasi masuknya dana empat triliun rupiah. Wajahnya yang tadinya tegang seketika memancarkan rona kemerahan karena syok kultural finansial.

Dia menatap Riyan dengan pandangan yang sangat rumit ada rasa benci, rasa kalah, namun juga ada getaran aneh yang tidak bisa dia jelaskan ketika melihat bagaimana pria berbaju kuli ini dengan begitu mudahnya membuang empat triliun demi "menyelamatkan" dirinya dari jeratan hukum penjara.

"Riyan Sadewa..." bisik Valerie, matanya menatap Riyan dengan dalam.

"Lu... lu beneran gila. Gua gak tahu apa rencana besar lu di balik semua ini, tapi dengan membeli seluruh perusahaan gua di saat hancur begini... lu secara gak langsung udah jadi pemilik mutlak atas seluruh malam-malam gua di Bandung."

'Hah? Malam-malam apaan? Maksud lu tempat dugemnya kan? Riyan mengerutkan dahi.

Sebelum Riyan sempat menjawab, Kezia Zevan langsung melangkah maju, memotong jarak antara Riyan dan Valerie. Aura cemburu dari sang permaisuri Zevan malam itu mendadak naik ke level berbahaya.

"Transaksi sudah selesai, Nona Vandersen. Uangmu sudah masuk, dan saham perusahaan hiburanmu sudah menjadi milik suamiku sepenuhnya," ucap Kezia dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

"Sekarang, angkat kaki dari resor pernikahan kami. Suamiku malam ini harus beristirahat untuk malam pertama kami, bukan mengurusi mantan pemilik saham yang sudah tidak punya aset lagi."

Valerie menatap Kezia dengan senyum menantang yang tidak kalah tajam. Dia merapikan gaun merah darahnya, lalu mendekati telinga Kezia untuk berbisik, namun dengan volume yang sengaja bisa didengar oleh Riyan.

"Jangan senang dulu, Kezia. Riyan mungkin suamimu di atas kertas keluarga Zevan. Tapi dengan 100% saham hiburan malam yang dia pegang sekarang... seluruh operasional, kantor pusat, bahkan ruang kerja pribadi gua yang ada di dalam kelab malam terbesar di Bandung... sekarang adalah milik Riyan."

"Kita lihat saja, siapa yang akan lebih sering dia temui untuk mengurus 'aset' barunya ini," bisik Valerie penuh provokasi, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan aula dengan tawa anggun yang menggoda.

Riyan Sadewa langsung meneguk air teh melatinya sampai habis dalam sekali teguk.

'Malam pertama? Ruang kerja pribadi di kelab malam? Riyan menatap langit-langit aula dengan pasrah. Gusti... gua cuma mau bangkrut jadi kuli lagi, kenapa sekarang malah kejebak di antara dua nona kaya raya yang siap perang rebutan saham dan malam pertama?!

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!