NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:31.9k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia direnggut kehormatannya dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

‎Hujan mengguyur kota tanpa henti sejak matahari terbenam. Petir menyambar beruntun, memecah kegelapan dan membuat lampu ruang tamu berkedip-kedip samar, seolah mengikuti irama jantung yang berdebar kencang.

‎‎Di tengah ruangan itu, Haris duduk kaku di atas sofa beludru yang terasa dingin. Jas biru gelapnya sudah dilepas, dasi kupu-kupu yang tadinya rapi kini diremas kuat di genggamannya. Di hadapannya, secangkir teh yang disajikan tadi sudah dingin, sama seperti telapak tangannya yang berkeringat dingin dan terus gemetar.

‎‎"Tenang saja, Nak Haris," sapa Bu Laras lembut sambil tersenyum berusaha menenangkan. "Kania cuma pergi sebentar untuk membeli kado ulang tahun untuk adiknya. Pasti sebentar lagi pulang."

‎‎Haris hanya mengangguk pelan, tapi matanya tak lepas dari jarum jam di dinding. Setiap detik terasa berjalan lambat seperti menahan napas.

‎‎Jedarrr!!!

‎‎Sambaran petir terdengar di atas atap rumah, diikuti suara angin yang berhembus kencang. Disaat bersamaan, pintu depan terbuka lebar dengan hentakan keras.

‎‎Kania.

‎‎Wanita itu berdiri di ambang pintu. Air hujan menetes dari ujung rambutnya yang basah kuyup, mengalir turun membasahi lantai. Gaun putih anggun yang ia kenakan kini terlihat kusam, kotor, dan robek di beberapa bagian.

‎‎Bibirnya pucat, matanya kosong tanpa cahaya, seolah jiwanya sudah pergi entah ke mana. Namun meski tubuhnya gemetar hebat, ia tetap memaksakan langkahnya melangkah masuk.

‎‎Seketika itu ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara rintik hujan yang menghantam atap dan napas Haris yang tercekat di tenggorokan. Detak jam dinding yang tadinya tak terasa, kini berbunyi keras dan berat.

‎‎Bu Laras segera berlari mendekat, menarik tubuh Kania yang dingin itu ke dalam pelukan erat.

‎‎"Non... Siapa yang berani berbuat ini?!" tanya Bu Laras, suaranya bergetar bercampur tangis panik. "Ceritakan pada Ibu, apa yang terjadi?! Jangan diam saja seperti ini, Non,"

‎‎Namun Kania tidak menangis. Ia tidak meronta, tidak juga membalas pelukan Bu Laras. Tubuhnya terasa kaku dan dingin seperti patung es. Matanya menatap ke depan, menatap Haris dan cincin berlian yang terlihat menyala terang di jari pria itu, yang kini terasa begitu menyilaukan sekaligus menyakitkan.

‎‎Pelukan Bu Laras semakin erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan yang dimiliki agar bisa mencairkan kedinginan yang merayapi tubuh perempuan yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Namun Kania masih diam membisu, matanya menatap kosong menembus ruangan.

Haris langsung berdiri tergopoh-gopoh, kakinya terasa tertancap di lantai.

‎"Kania… Apa yang terjadi?" ‎‎tanya Haris, suaranya keluar parau, hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan. ‎"Kenapa kamu terlihat seperti ini?"

‎‎Baru saat itu kelopak mata Kania bergetar perlahan. Air mata yang tak bisa keluar sejak tadi akhirnya turun, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. Bibirnya bergerak berulang kali sebelum suara lirih dan pecah itu terdengar.

‎‎"Aku… aku… Haris… aku takut…"

‎‎"Takut apa? Katakan, apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu?!" bentak Haris sedikit meninggi, tapi nada bicaranya justru terdengar lebih gelisah ketimbang marah. Ia melangkah maju hendak menyentuh lengan Kania, tapi gadis itu tiba-tiba menarik diri mundur seolah tersengat listrik.

‎‎"Jangan sentuh aku!" seru Kania, suaranya melengking sebelum kembali melemah. "Aku sudah kotor... Aku... Aku tidak pantas!"

‎‎Bu Laras memeluk pundak Kania kembali, tubuhnya kini ikut gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Haris dengan tatapan cemas memohon pengertian.

‎"Nak Haris, tolong sabar. Non Kania sedang terguncang. Biar Ibu bawa dia ke kamar dulu untuk ganti pakaian basah ini sebelum Non Kania masuk angin—"

‎‎Belum selesai kalimat itu terucap, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Tuan Aryan turun dengan wajah kusut, mengenakan jas santai yang belum sempat dilepas. Dibelakangnya berjalan Nyonya Melani dan putrinya, Luna. Begitu matanya menangkap keadaan putri sulungnya, keningnya langsung mengerut tajam.

‎‎"Ada apa ini ribut-ribut? Mengapa lantainya basah? Dan kenapa penampilanmu seperti orang tersesat, Kania?"

‎‎Tuan Aryan melangkah mendekat, lalu menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki putrinya. Tatapan itu bukan tatapan khawatir, melainkan tatapan menyelidik yang perlahan berubah menjadi curiga.

‎‎"Kamu bilang hanya pergi sebentar membeli kado. Kenapa butuh waktu berjam-jam? Dan lihat pakaianmu ini... robek, kotor, rambut berantakan… Apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana?"

‎‎"Ayah…" Kania menoleh, air matanya kembali mengalir deras. "Aku diserang… seseorang menahan paksa aku di jalan yang sepi… Aku tidak bisa melawan, Ayah… Aku mencoba berteriak tapi hujan terlalu kencang, tak ada yang mendengarku… Aku... Aku sudah ternoda."

‎‎Seketika itu juga, wajah Tuan Aryan memerah. Bukan karena iba, tapi karena rasa malu yang langsung membara di dadanya.

‎‎"Ternoda? Maksudmu apa? Jangan bicarakan hal yang tak jelas!" bentak Tuan Aryan keras, suaranya memantul di dinding ruangan. "Ini rumah keluarga Aryan Wijaya. Nama baik kita tidak boleh ternoda oleh cerita sembarangan! Apakah kamu sadar apa yang kamu katakan itu?"

‎‎Haris yang masih berdiri terpaku di tempat itu mengerjap-ngerjap, lalu perlahan tangannya yang memegang dasi itu mengepal semakin kuat. Tatapannya berubah, dari rasa khawatir menjadi keraguan, lalu berganti rasa jijik yang samar mulai terlihat di sudut matanya.

‎‎"Om Aryan benar…" ucapnya pelan namun cukup didengar semua orang. "Kejadian semacam ini… tidak bisa dianggap enteng. Jika apa yang dikatakan Kania benar, maka artinya…"

‎‎"Artinya apa, Haris?" potong Kania, matanya memandang penuh harap yang mulai goyah. "Kamu akan tetap berdiri di sampingku, kan? Kamu selalu bilang akan selalu mencintaiku apapun yang terjadi,"

‎‎Haris mengangkat wajah, lalu menatap cincin di jarinya sendiri sebelum menjawab dengan nada dingin yang menusuk, "Cinta saja tak cukup untuk menghapus apa yang sudah terjadi. Kehormatan seorang wanita adalah hal paling berharga. Sekarang… apa lagi yang tersisa untuk kamu berikan padaku?"

‎‎Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hati. Kania mundur selangkah, seolah kehilangan tumpuan.

‎"Jadi… maksudmu, aku sudah tak berharga lagi di matamu? Padahal akulah korban di sini!"

‎‎"Korban atau bukan, kenyataannya tetap sama," sahut Haris tanpa ragu. "Aku tidak bisa menikahi wanita yang sudah kehilangan kehormatannya. Aku tak akan sanggup menghadapi pandangan orang nanti. Pertunangan ini… lebih baik kita akhiri saja mulai malam ini."

‎‎Setelah mengatakan itu, Haris melepas cincin berlian di jarinya dan melemparkannya ke lantai di depan Kania. Air hujan langsung membasahi wajahnya saat dia berjalan menuju mobil, bercampur dengan air matanya yang menetes begitu saja.

‎‎Kania terhuyung mundur hingga lututnya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dengan suara tertahan dan napas terengah, ia terduduk lemas di lantai basah yang masih dingin oleh air hujan. Kedua tangannya mencengkeram lantai, bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir tak terkendali, tapi ia tak lagi mampu mengeluarkan suara teriakan, hanya isak yang tertelan di tenggorokan.

‎‎"Bu Laras! Bawa dia ke kamarnya sekarang! Ganti pakaiannya yang kotor itu, bersihkan tubuhnya, lalu kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan dia keluar atau berbicara dengan siapa pun sampai aku memberi perintah lain!" perintah Tuan Aryan tegas, memandang Kania dengan tatapan dingin dan muak.

‎‎Bu Laras terkejut, lalu segera berlutut dan memeluk bahu Kania yang terguncang. "Ayo, Non Kania… ikut Ibu ke kamar, ya. Kita bersihkan badan Non dulu…" Bisiknya lembut, berusaha memberi kekuatan meski hatinya sendiri hancur melihat penderitaan gadis itu. Dengan susah payah, ia menopang tubuh ringkih Kania dan membawanya berjalan tertatih-tatih menuju tangga.

‎‎Begitu keduanya menghilang dari pandangan, Nyonya Melani melangkah mendekat dan berdiri tepat di sisi suaminya. Wajahnya tampak prihatin, namun sorot matanya menyembunyikan maksud lain. Sementara Luna yang sedari tadi berdiri diam segera berbalik dan menyusul Kania dan Bu Laras ke kamar.

‎‎"Suamiku…"

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
terimakasih so much kk author... ending yg manis... kayak aku 🤣🤣😍😍
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih kembali kakak /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
MamDeyh
Loveee sekebon kakkkk
🔥Violetta🔥: /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
total 1 replies
Elina thea
selamat berbahagia kania_victor,jangan lupa ngadon biar ada tambahan keluarga baru....
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak sudah mengikuti cerita ini sampai akhir 😁🙏
total 1 replies
Elina thea
betapa beruntungnya si luna...di saat terpuruk pak aryan sebagai ayah slalu ada di sampingnya,kasian Kania.....
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
tau² udh end aja thor pengen liat victor & kania junior 🤭 sumpah cerita nya bagus i like it thor 🥰
semangat trs untuk karya² selanjutnya kk 😘
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 😁🙏
total 1 replies
Rizky Manik
terimakasih sudah menyajikan karya yg luar biasa thor
kamu dan karyamu sangat keren🥰🥰
peluk jauh🤗
teruslah berkarya thor💪🏼
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak /Drool//Drool//Drool/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
terima kasih atas karya luar biasanya kaka..tetap smangat untuk lanjut karya selanjutnyaaa/Kiss//Kiss/
🔥Violetta🔥: Terimakasih banyak kakak sudah mengikuti cerita ini sampai akhir 😁🙏
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mereka akhirbya saling menerima keadaan🥹
🔥Violetta🔥: Ya.. mau gimanaa lagi 🤭🤭🤭
total 1 replies
Manis
bulan depan apa Minggu depan nih, paragraf sebelumnya bulan depan
🔥Violetta🔥: Makasih kak udah bantu koreksi... tandai aja kalau ada typo nanti aku revisi 😁🙏
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
siap untuk kondangan
W I 2 K: cosplay jaelangkung dong 🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
W I 2 K
diperkaos y lun..... kasiannnnnnnnn, kehormatan diblas keHormatan dibayar TUNAI !!!!!!!
〈⎳ FT. Zira
andai semua tindakann salah bisa selesai dengan satu kata, menyesal.. damailah indonesia ini🤧🤧🤧
Rizky Manik
sebenarnya aku kesal sama ayah Aryan ini, cuman kita juga harus ngerti posisi ayah Aryan, cuman Luna yg dia punya saat ini. dia cuman ingin berusaha menjaga keluarga yg tersisa agar tak terlalu menyesal
kymlove...
udah di perkosa rame2 tetap dimaafin dan gak di usir kayak kania dulu, fiks sih.. bapak blo'on matii aja kau!!
Lee Mba Young
Kita lihat bakal di usir gk di Luna itu. kl gk berarti pak Aryan cm sayang ma Luna gk sayang ma Kania.
Lee Mba Young
di perkaos pasti Luna. tp Wes gk perawan kn dia.
zahrahaifa
pasti abis diperkaos.... rasain....1 sama....kita liat pemirsah apakah anak kesayangan bakalan diusir
kymlove...
gantian lun, kamu juga ngrasain rsanya di nodai orang lain, yah meskipun km udh gak suci sih kan sisa 2 lelaki 😌
zahrahaifa
mampoooss lu ... culik aja pak.... enak bener idup lo udah berbuat jahat + mau ngebunuh orang masih aje lenggang kangkung... klo perlu buang ke tengah laut
🔥Violetta🔥: Astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
berharap boleh lun,,tapi lihat keadaan lah.. masih mimpi aja🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!