Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Papa
Nara menatap layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Damian masih terpampang jelas di layar panjang itu.
"Nikmati dulu kebahagiaanmu. Sebentar lagi semuanya akan berubah."
Dia menarik napas panjang, lalu menghapus notifikasi itu. Untuk saat ini, dia tidak ingin membiarkan ancaman Damian merusak pagi yang indah ini.
"Mama." panggilan Elora membuyarkan lamunannya.
Balita itu sudah turun dari tempat tidur dan berlari kecil menghampirinya.
"Mama, Elora sudah sembuh." anak itu mengangkat kedua tangannya ke arah Nara.
Nara tertawa kecil, lalu meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. "Iya, tapi hari ini tetap tidak boleh lari-lari." ucapnya memperingati. Dia merasakan tubuh anaknya masih sedikit hangat.
Elora langsung mengerucutkan bibirnya. "Aaaa mama." rengek anak itu tidak terima.
Elvano tersenyum kecil melihat anaknya yang merengek manja pada Nara. Entah kenapa dia senang melihat pemandangan itu.
.....
Setelah memastikan Elora baik-baik saja, Elvano memutuskan untuk mandi karena dia tetap harus bekerja.
Elvano sudah duduk rapi di meja makan dengan setelan jas abu-abunya. dia sedang membaca berita di tablet sambil sesekali menyeruput kopinya.
Nara datang sambil menggandeng Elora. "Selamat pagi."
Elvano mengangkat kepala. "Pagi."
Elora buru-buru memanjat kursinya lalu mencondongkan tubuhnya pada pria itu. "Papa." panggilnya
"Hm?" pria itu menoleh ke arah Elora yang memasang wajah memelasnya.
"Hari ini Elora ikut Papa kerja." Elvano hampir tersedak kopinya mendengar permintaan anak itu.
"Ikut kerja?" tanyanya memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya." jawab Elora polos.
"Mama juga." sambung anak itu membuat Nara yang sedang menuangkan susu terkejut mendengarnya.
"Aku?" tanya Nara menujuk dirinya sendiri. Elora mengangguk mantap.
"Elora mau lihat kantor Papa." lagi, anak itu merengek ke arah Elvano. Pria itu hanya menghela nafas panjangnya. Membawa anak-anak ke kantor bukanlah pilihan yang baik.
Nara paham apa yang dipikirkan Elvano. Dia langsung mendekati Elora. "Itu kantor sayang. Bukan tempat bermain, hari ini di rumah saja ya." bujuknya.
Elora yang dasarnya keras kepala menggeleng keras. "Mau ikut papa, Elora janji tidak nakal papa." anak itu menunjukkan wajah memelasnya ke arah Elvano.
Elvano menatap putrinya beberapa detik. Sebenarnya dia ingin menolak, tapi wajah anak itu membuatnya tidak tega.
Dia melirik ke arah Nara. Wanita itu biasanya memang di rumah. "Kalau Elora tetap ikut papa boleh, tapi mama harus ikut." pinta Elvano yang membuat mata Nara membelalak.
"Benarkah papa?" tanya anak itu bersemangat.
Elvano mengangguk, dia melirik Nara sebentar. "Hari ini jadwal papa tidak padat, tapi mama harus tetap ikut untuk menjaga mu."
Mata Elora langsung berbinar. "Siap papa."
Tingkah polos itu membuat Nara dan Elvano saling bertatapan, kemudian mereka sama-sama tersenyum kecil.
......
Satu jam kemudian...
Mobil hitam milik keluarga Ardhana berhenti di depan gedung megah Ardhana Group. Begitu turun, beberapa karyawan langsung menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Pak Elvano."
"Selamat pagi, Bu Bianca."
Nara hanya bisa tersenyum tipis, dia masih belum terbiasa dipanggil seperti itu. Sementara Elora memegang erat tangan Nara.
"Mama. Gedungnya tinggi." bisik anak itu.
Nara mengangguk. "Iya." dia memandang gedung di depannya dengan perasaan gusar. Dulu dia setiap hari pergi kesini untuk bekerja. Sekarang rasanya asing.
"Papa bekerja di sini berarti papa hebat."
Meski hanya ucapan sederhana, langkah Elvano sempat terhenti. Dia menoleh ke arah putrinya. Lalu mengusap lembut kepala Elora. "Terima kasih."
.......
Begitu memasuki lobi, semua mata tertuju pada mereka. Bukan karena Elvano. Melainkan karena Bianca. Selama ini Bianca hampir tidak pernah datang ke kantor.
Kalaupun datang, dia selalu terlihat dingin dan menjaga jarak. Kini wanita itu justru menggandeng putrinya sambil tersenyum ramah kepada para karyawan.
Beberapa orang bahkan saling berbisik.
"Bu Bianca berubah ya."
"Iya. Kelihatannya lebih ramah."
Nara pura-pura tidak mendengar.
Dalam hati dia merasa gugup. Semoga tidak ada yang menyadari kalau dirinya bukan Bianca yang sebenarnya.
......
Saat lift terbuka di lantai paling atas, Raka sudah ada di sana. "Selamat pagi, Pak." sapa nya seperti biasa. Lalu dia menoleh kepada Nara dan Elora.
"Selamat pagi, Bu Bianca, Nona Elora."
"Paman Raka." Elora langsung mengangkat kedua tangannya. Biasa "Gendong." pinta anak itu tanpa ragu.
Raka terkekeh. "Dengan senang hati." tanpa ragu dia menggendong Elora yang terus tertawa riang.
"Berarti hari ini kantor bakal ramai." ujar Raka yang di iyakan oleh Nara.
Elvano memperhatikan interaksi mereka tanpa berkata apa-apa. Namun suasana kantornya yang biasanya kaku terasa berbeda pagi ini. Mungkinkah karena kehadiran istri dan anaknya.
.....
Di ruang kerja CEO.
Elora langsung berlari ke arah jendela besar. "Wah. Banyak mobil di bawah." ucap anak itu antusias.
Nara buru-buru menghampiri Elora. "Pelan-pelan. Nanti jatuh."
Untungnya Balita itu menurut. Elvano langsung duduk di kursi kerjanya. Baru saja ia hendak membuka laptop, Elora sudah berlari lagi. "Papa."
"Hm?"
"Aku juga mau kerja." ucap anak itu polos. Nara langsung menahan tawa saat mendengar ucapan anaknya itu.
"Kerja apa?" tanya Elvano yang menimpali ucapan anaknya.
Elora menunjuk kursi kecil di depan meja. "Elora mau Duduk disini."
Elvano mengangkat sebelah alis. "Boleh." anak itu langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Elvano. Sementara Nara melihat interaksi mereka dari jauh.
"Nah. Ini pekerjaan Elora." ujar Elvano yang menyerahkan sebuah kertas dan pensil warna kepada anaknya.
Elora menerimanya dengan wajah serius. "Siap."
Balita itu kemudian duduk di dengan tenang sambil mulai mencoret-coret kertas. Sesekali dia melirik ayahnya yang sedang mengetik.
Nara memperhatikan mereka dengan senyum lebarnya.
"Kenapa?" Tanya Elvano tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Dia sempat memergoki istrinya yang tersenyum lebar.
"Lucu saja melihat Papa dan anaknya sama-sama bekerja." ucap wanita itu yang membuat sudut bibir Elvano terangkat tipis.
.....
Setengah jam kemudian...
Tok... tok...
"Masuk."
Seorang manajer membawa setumpuk berkas. Namun baru dua langkah masuk, dia mendapati Elora sedang duduk di kursi tamu sambil memegang pensil.
"Halo." Sapa Elora ramah.
Manajer itu sampai tersenyum. "Halo juga, Nona."
"Aku juga kerja."
"Oh ya. Kerjanya apa?"
Elora mengangkat kertas bergambar garis-garis acak. "Ini."
Semua orang di ruangan itu langsung tertawa pelan. Bahkan Elvano sampai menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum kecilnya.
Nara menatap suaminya senang. Sudah beberapa kali hari ini dia melihat Elvano tersenyum.
Nara berjanji dalam hati. Selama dia masih berada di tubuh Bianca, dia akan menjaga kebahagiaan kecil ini sebaik mungkin.
Meski dia belum tahu, sampai kapan takdir akan mengizinkannya tetap berada di sisi mereka.