NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Sarapan Penuh Keajaiban

Pagi berikutnya datang dengan langit yang bersih.

Sisa-sisa badai beberapa hari lalu kini benar-benar sirna, menyisakan hawa sejuk khas subuh yang berembus pelan melalui celah jendela mansion.

Sinar matahari pagi yang lembut mulai merayap naik, menyinari lantai marmer hitam di koridor lantai tiga yang semalam sempat menjadi saksi runtuhnya pertahanan sang tirani.

Viona terbangun tepat saat alarm kecil di ponselnya bergetar pukul lima pagi.

Tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

Entah karena kasur empuk di kamar tamu ini yang bekerja dengan baik, atau karena beban mental yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya perlahan-lahan mulai terkikis oleh rutinitas baru yang bermakna.

Sebelum turun ke bawah, Viona menyempatkan diri mengintip ke kamar Yoyo yang pintunya sengaja dibiarkan sedikit terbuka.

Di dalam sana, Yoyo masih tertidur pulas dengan posisi memeluk guling kecilnya.

Di ujung tempat tidur, Goldie, sang ksatria Golden Retriever, perlahan mengangkat kepalanya saat mendengar langkah kaki Viona.

Ekor tebal anjing itu bergerak lambat, mengetuk karpet bulu dengan ritme yang tenang.

Viona memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di bibir, meminta Goldie untuk tetap diam dan menjaga Yoyo, sebelum akhirnya melangkah turun menuju dapur utama.

Di dapur, aroma bawang putih dan mentega sudah menguar tipis.

Koki utama dan beberapa asistennya tampak sedang memotong sayuran dengan cekatan.

Namun, begitu melihat Viona masuk, koki utama langsung menghentikan kegiatannya dan membungkuk dengan hormat yang amat sangat—jauh berbeda dengan tatapan ragu yang ia berikan kemarin subuh.

"Selamat pagi, Nona Viona. Ah, maaf, maksud saya Nyonya Oliver,"

sapa sang koki dengan senyum ramah yang tulus.

"Apakah ada menu khusus yang ingin Anda siapkan untuk Nona Kecil dan Tuan Besar pagi ini?"

Viona agak tersipu mendengar panggilan

"Nyonya Oliver",

namun ia dengan cepat menguasai dirinya.

"Selamat pagi, Chef. Hari ini saya ingin membuat sesuatu yang bisa menyatukan semua orang di meja makan bawah. Apakah Tuan... maksud saya, apakah Oliver biasanya sarapan di ruang makan utama?"

Pak Pelayan yang tiba-tiba muncul dari koridor samping menjawab pertanyaan itu sambil membawa nampan perak berisi koran pagi.

"Tuan Besar hampir tidak pernah sarapan di meja makan utama selama dua tahun terakhir ini, Nyonya. Biasanya beliau hanya meminum kopi hitam pekat di ruang kerjanya di lantai tiga sebelum langsung berangkat ke kantor pusat pukul enam tepat. Pagi ini, jadwal beliau sedikit bergeser karena ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani di rumah terlebih dahulu."

Viona terdiam sejenak.

Ia teringat kembali kejadian semalam di lantai tiga.

Wajah pucat Oliver, botol-botol obat penenang yang disembunyikan, dan cangkir kopi dingin yang beracun bagi lambung yang kosong.

Pria itu membutuhkan nutrisi yang nyata, bukan kafein yang memaksa otaknya bekerja melebihi batas.

"Kalau begitu, pagi ini kita akan mengubah kebiasaan itu,"

ujar Viona dengan binar mata yang penuh tekad.

"Chef, mari kita buat menu sarapan keluarga yang hangat. Saya butuh roti gandum tebal, telur segar, alpukat, dan sup ayam bening dengan kaldu yang kuat. Kita akan membuat sarapan yang harumnya bisa meruntuhkan kebekuan rumah ini."

Pukul enam kurang lima menit, ruang makan utama yang biasanya sunyi dan menyerupai ruang pameran museum kini tampak hidup.

Tirai-tirai beludru besar telah disibak lebar, membiarkan cahaya matahari pagi menyiram meja makan panjang dari kayu yang terletak di tengah ruangan.

Di atas meja, telah tersaji semangkuk besar sup ayam makaroni hangat yang mengepulkan uap harum dengan aroma seledri dan bawang putih goreng yang kuat.

Di sampingnya, terdapat piring-piring berisi roti panggang gandum dengan telur mata sapi yang bagian kuningnya masih setengah matang, dipadukan dengan irisan alpukat segar yang ditaburi sedikit lada hitam.

Tidak ada kopi hitam pekat di sana;

Viona sengaja meminta Pak Pelayan menyiapkan teh melati hangat dengan sedikit madu murni.

Viona berdiri di dekat pintu masuk ruang makan, menunggu dengan perasaan yang sedikit berdebar.

Tepat pukul enam, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar menuruni tangga marmer utama.

Oliver melangkah masuk ke area lantai satu.

Pagi ini, sang CEO mengenakan setelan jas biru dongker yang dipadukan dengan kemeja putih bersih.

Penampilannya tampak sesempurna biasanya, namun jika diperhatikan lebih dekat, gurat pucat di wajahnya semalam telah sedikit berkurang—mungkin karena teh kamomil dan instruksi tegas Viona untuk menjauh dari obat penenang semalam benar-benar ia patuhi.

Oliver menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang makan.

Alisnya bertaut tajam saat mencium aroma gurih sup ayam dan melihat meja makan yang biasanya kosong kini dipenuhi makanan rumahan yang melimpah.

Tatapannya langsung tertuju pada Viona yang berdiri menyambutnya.

"Apa artinya ini, Viona?"

tanya Oliver, suaranya rendah dan datar, namun tidak lagi membawa kemarahan sedingin es seperti di lantai tiga semalam.

"Aku tidak punya waktu untuk sarapan formal. Mobilku sudah menunggu di depan gerbang."

"Ini bukan sarapan formal, Oliver. Ini sarapan keluarga,"

jawab Viona dengan nada tenang namun tidak terbantahkan. Ia melangkah mendekati salah satu kursi di ujung meja dan menariknya sedikit.

"Dan sarapan ini hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari hidup Anda. Lambung Anda tidak akan bisa bertahan seharian di kantor jika hanya diisi oleh kafein. Silakan duduk."

Oliver menatap kursi yang ditarik Viona, lalu menatap wanita itu dalam-dalam.

Keberanian Viona untuk mendiktenya di rumahnya sendiri selalu berhasil membuatnya tertegun.

Baru saja Oliver hendak membuka mulut untuk menolak kembali, sebuah suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga, memotong perdebatan mereka.

"Tap. Tap. Tap."

Yoyo berlari kecil memasuki ruang makan dengan piyama awannya yang belum diganti, diikuti oleh Goldie yang melangkah anggun di belakangnya dengan ekor yang mengibas riang.

Begitu mencium aroma sup ayam yang harum, mata bulat Yoyo langsung berbinar.

"Bibi Viona! Bau makanannya enak sekali!"

seru Yoyo riang, mengabaikan keberadaan ayahnya yang bertubuh tegap di dekat pintu.

Gadis kecil itu langsung memanjat salah satu kursi di samping tempat Viona berdiri, duduk dengan antusias sambil memegang sendok kecilnya.

Goldie dengan patuh langsung meringkuk di bawah kursi Yoyo, bertindak sebagai alas kaki berbulu yang hangat untuk kaki kecil anak itu.

Oliver mematung menyaksikan putrinya yang kini tidak lagi menunjukkan ketakutan saat berada di ruang terbuka lantai satu.

Kehadiran Yoyo di meja makan ini adalah pemandangan yang sudah dua tahun tidak pernah ia lihat.

Hati sang tirani yang biasanya beku seketika bergetar hebat oleh rasa haru yang mendalam.

Viona menoleh ke arah Oliver, memberikan sebuah senyuman tipis yang penuh kemenangan sekaligus undangan yang tulus.

"Lihat? Putri Anda sudah siap untuk sarapan. Apakah seorang ksatria pelindung seperti Anda tega membiarkan putrinya makan sendirian?"

Oliver menghela napas panjang, sebuah kekalahan yang kali ini terasa sangat manis di lubuk hatinya.

Ia melepaskan kancing jasnya, melangkah maju, dan duduk di kursi kebesaran di ujung meja—posisi yang tepat berada di sebelah kursi Yoyo dan berhadapan langsung dengan Viona yang kini mengambil tempat duduk di sisi lain.

"Hanya lima belas menit,"

gumam Oliver ketus, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya, meskipun tangannya sudah mulai meraih sendok sup yang disediakan.

Sarapan pagi itu berjalan dengan keajaiban yang tak terucapkan.

Yoyo melahap sup ayam makaroninya dengan lahap, sesekali menyuapkan potongan kecil wortel rebus ke mulutnya sendiri sambil mengoceh menceritakan mimpinya semalam kepada Viona.

Viona mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyeka sudut bibir Yoyo yang terkena kuah sup dengan tisu, menunjukkan kasih sayang alami seorang ibu yang begitu dirindukan oleh anak itu.

Oliver, di sisi lain, menikmati sup ayamnya dalam keheningan yang damai.

Kaldu ayam yang hangat dan gurih itu terasa seperti aliran kehidupan yang memulihkan energi tubuhnya yang terkuras habis akibat insomnia menahun.

Setiap kali ia mendongak, ia bisa melihat interaksi hangat antara Viona dan Yoyo.

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar seolah membungkus ketiga orang itu dalam sebuah gelembung kebahagiaan yang nyata.

Pak Pelayan yang berdiri siaga di sudut ruangan tidak bisa menahan senyum lebarnya.

Rumah yang selama dua tahun terakhir ini terasa seperti makam megah yang dingin, kini dalam sekejap mata telah berubah menjadi sebuah rumah yang utuh dan bernyawa.

Dan semua keajaiban itu berpusat pada satu wanita yang awalnya datang hanya dengan sebuah tas ransel usang.

"Ayah,"

panggil Yoyo tiba-tiba, membuat Oliver sedikit tersentak dari lamunannya.

Gadis kecil itu menunjuk ke arah piring roti panggang di depan ayahnya.

"Apakah roti buatan Bibi Viona enak?"

Oliver melirik piringnya yang kini sudah bersih tak bersisa, lalu menatap Viona yang sedang memperhatikannya dengan tatapan jenaka.

"Cukup enak untuk ukuran makanan yang dibuat dalam waktu singkat,"

jawab Oliver datar, mencoba menyembunyikan fakta bahwa ini adalah sarapan paling nikmat yang pernah ia rasakan dalam dua tahun terakhir.

"Itu karena Bibi Viona adalah penyihir baik hati!"

seru Yoyo riang, membuat Viona tertawa renyah.

Tepat pukul enam lewat lima belas menit, Oliver meletakkan sendoknya, menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya kembali, bersiap untuk berangkat kerja.

Namun sebelum melangkah pergi, ia berjalan memutari meja makan, berhenti tepat di belakang kursi Viona.

Oliver membungkukkan badannya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Viona hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dan aroma kayu cendana yang kembali menguar kuat.

"Terima kasih untuk supnya... Nyonya Oliver,"

bisik Oliver dengan suara rendah yang bergetar penuh emosi tersembunyi.

"Dan terima kasih karena telah membawa keajaiban ini kembali ke rumahku."

Sebelum Viona sempat membalas atau menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di pipinya, Oliver sudah menegakkan tubuhnya kembali, berbalik, dan melangkah pergi keluar ruangan dengan langkah kaki tegap yang penuh percaya diri.

Beberapa detik kemudian, suara deru mobil Rolls-Royce terdengar menjauh dari halaman depan mansion, menandai dimulainya hari baru bagi sang penguasa kota.

Viona menyentuh pipinya yang terasa hangat, menatap piring kosong yang ditinggalkan Oliver.

 Di bawah kehangatan ruang makan yang dipenuhi tawa Yoyo dan kibasan ekor Goldie, ia menyadari satu hal:

pernikahan kontrak ini mungkin dimulai sebagai sebuah transaksi bisnis, namun sarapan penuh keajaiban pagi ini telah menanam sebutir benih rasa yang perlahan mulai meretakkan kebekuan di hati sang tirani dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!