NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. VIDEO CALL

Robinson memperlambat laju mobil ketika memasuki mulut gang menuju rumah Cika. Ia menghentikan kendaraannya di tepi jalan.

"Sudah sampai, Pak," ucap Cika sambil melepaskan sabuk pengamannya.

Robinson mengangguk. "Iya. Maaf ya, saya cuma bisa mengantar sampai sini."

"Enggak apa-apa, Pak." Cika membuka pintu mobil, lalu berdiri di samping kendaraan. "Terima kasih banyak sudah mengantar saya, Pak."

"Sama-sama, Cika. Hati-hati."

"Iya, Pak. Bapak juga hati-hati di jalan." Cika menutup pintu mobil, kemudian mengangguk kecil sebelum berbalik memasuki gang sempit itu.

Robinson belum langsung menjalankan mobilnya. Pandangannya mengikuti sosok Cika yang terus berjalan menyusuri gang. Baru setelah bayangan Cika benar-benar menghilang di balik tikungan, Robinson mengembuskan napas lega. "Syukurlah ..." Ia kembali menghidupkan lampu sein dan menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan itu.

Namun belum jauh melaju, ucapan Cika tadi kembali terngiang di benaknya.

"Kalau Rebeca menghabiskan waktu libur semesternya di Korea, berarti pas kita menikah nanti ... dia tidak akan hadir."

Robinson menghela napas panjang. "Benar juga kata Cika ..." Selama ini pikirannya hanya tertuju pada bagaimana cara memberi tahu Rebeca bahwa perempuan yang akan dinikahinya adalah Cika. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan putrinya tidak berada di Indonesia saat hari pernikahan tiba. "Ah, lebih baik nanti kutanyakan langsung pada Beca ... berapa lama dia akan liburan di Korea," putusnya.

Robinson meraih ponselnya begitu mobil berhenti di lampu merah. Ia menekan nama Rebeca di daftar kontak, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

Tidak ada jawaban. Kening Robinson berkerut. Ia mengakhiri panggilan, lalu mencoba menghubungi putrinya sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama. Panggilannya terus berdering tanpa diangkat. "Ke mana anak itu?" gumamnya pelan. Ia melirik jam di dashboard mobil. Malam memang sudah semakin larut. "Apa mungkin dia sudah tidur?" pikirnya.

Robinson menghela napas. "Ya sudahlah. Nanti saja kutanyakan langsung begitu sampai di rumah." Ia meletakkan ponselnya di konsol tengah, lalu kembali fokus menyetir. Meski begitu, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.

***

Rebeca baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berjalan santai menuju kasur, lalu meraih ponselnya yang sejak tadi diletakkan di atas nakas.

"Eh?" gumamnya saat layar menyala. "Papa ngapain nelepon?" Di layar terpampang dua panggilan tak terjawab dari Robinson. Rebeca baru saja hendak menekan tombol panggil balik ketika sebuah notifikasi pesan masuk tiba-tiba muncul di bagian atas layar.

Elgar: Hai, cantik.

Mata Rebeca langsung membelalak. "Ya ampun ... Kak Elgar nge-chat aku lagi!" Ia spontan melonjak-lonjak kecil di atas kasur sambil memeluk bantal. Senyum lebarnya seolah tak bisa lagi disembunyikan. Tanpa pikir panjang, panggilan tak terjawab dari ayahnya langsung terlupakan. Jarinya bergerak cepat membalas pesan. "Kak Elgar udah selesai syutingnya?"

Tak butuh waktu lama, balasan kembali masuk.

Elgar: Udah. Kamu lagi apa? Udah makan malam belum?"

Jantung Rebeca berdegup semakin cepat. Idola yang sejak lama hanya bisa ia lihat di layar kaca kini benar-benar mengajaknya mengobrol. Rasanya seperti mimpi. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, ia membalas satu per satu pesan Elgar. Obrolan ringan itu membuatnya merasa seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Rebeca membalas, "Lagi diem aja, Kak. Udah."

Beberapa menit kemudian, sebuah pesan baru kembali masuk. "Video call, yuk."

Rebeca sampai menutup mulutnya sendiri. "Ya Tuhan ... i-ini serius?" Ia nyaris pingsan karena terlalu bahagia. Gadis itu buru-buru berdiri, merapikan rambut yang masih sedikit lembap, lalu mengambil liptint dari meja rias dan memoleskannya tipis di bibir.

Saat masih sibuk bercermin, pesan lain kembali masuk.

Elgar: Nggak mau ya?

Rebeca tersentak. Dengan tergesa ia langsung mengetik balasan. "Mau, Kak. Mau banget malah."

Beberapa detik kemudian, layar ponselnya langsung menampilkan panggilan video masuk dari Elgar.

Jantung Rebeca berdebar begitu kencang. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol untuk menerima video call tersebut.

Begitu panggilan tersambung, wajah tampan Elgar langsung memenuhi layar ponsel Rebeca. Gadis itu membeku bak patung batu. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia yakin suaranya bisa terdengar oleh Elgar. Ia sampai lupa harus berkata apa. Mimpinya untuk bisa berinteraksi langsung dengan sang idola akhirnya benar-benar terwujud.

"Hai," sapa Elgar sambil tersenyum ramah.

Rebeca menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia benar-benar nyaris pingsan. "H-hai, Kak ..."

Elgar terkekeh pelan melihat reaksi gadis itu. "Kamu gugup banget, ya?"

Rebeca mengangguk malu. "Iya ... soalnya aku enggak nyangka bisa video call sama Kak Elgar. Rasanya kayak lagi mimpi."

"Kalau mimpi, nanti jangan bangun dulu," canda Elgar.

Ucapan itu sukses membuat pipi Rebeca memerah. Ia hanya bisa tertawa kecil sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin panas.

"Jadi, tadi kamu lagi ngapain sebelum aku ganggu?" tanya Elgar.

"Aku baru selesai mandi, Kak. Terus lihat Kak Elgar ngirim pesan."

"Oh, pantes rambut kamu masih basah."

Rebeca spontan merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. "Iya, nih. Belum sempat dikeringkan."

Elgar mengangguk sambil terus tersenyum. Mereka pun mengobrol santai tentang kegiatan masing-masing. Elgar bercerita bahwa syuting hari itu cukup melelahkan, sedangkan Rebeca antusias menceritakan libur semesternya. Sesekali tawa mereka terdengar bersamaan, membuat suasana video call terasa semakin akrab.

Beberapa menit mereka mengobrol santai. Sesekali Elgar melontarkan candaan yang membuat Rebeca tak berhenti tersenyum.

Tiba-tiba, raut wajah Elgar berubah sedikit lebih serius. "Beca ..."

"Iya, Kak?"

"Sebelum kita ketemuan di Korea ..." Elgar menggantungkan kalimatnya sejenak. "Kita ketemuan dulu, yuk. Mau nggak?"

Rebeca langsung terdiam. Matanya membulat sempurna, sementara bibirnya perlahan terbuka. Ia benar-benar menganga, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil terjadi. "Hah ...?" lirihnya kemudian.

Elgar terkekeh melihat ekspresi gadis itu. "Lho, kamu kok malah bengong?"

Rebeca masih belum bisa menjawab. Otaknya seperti berhenti bekerja. Jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya sendiri terasa berdenging. "Ka-Kak Elgar ... serius?"

"Iya, serius."

"Beneran mau ketemu aku secepatnya?"

Elgar mengangguk sambil tersenyum tipis. "Memangnya kenapa? Emang aku nggak boleh ketemu sama kamu?"

Rebeca buru-buru menggeleng. "Bukan gitu! Aku cuma ... aku ..." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku nggak nyangka aja bisa bertemu Kak Elgar secepat ini."

Elgar tersenyum hangat. "Aku penasaran soalnya pengen lihat wajah cantik kamu secara langsung."

Rebeca sampai mencubit pelan lengannya sendiri. "Aduh ..."

"Kamu kenapa?"

"Aku cuma mau memastikan ini bukan mimpi."

Mendengar jawaban polos itu, Elgar kembali tertawa kecil. Sementara Rebeca masih menatap layar ponselnya dengan wajah yang memerah. Rasanya malam itu menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupnya.

"Gimana, mau nggak?"

Tanpa menunda-nunda lagi, Rebeca menjawab, "Mauuu!"

"Sip!" Elgar mengangkat jempol. "Minggu besok kita ketemu ya, mumpung kamu libur kuliah. Nanti aku kasih tahu lokasinya."

"Aaa ... oke, Kak!" Akhirnya Rebeca tak bisa lagi menahan suaranya. Jeritan heboh itu membuat Elgar di seberang sana tertawa.

Tanpa gadis itu sadari, sejak beberapa, menit yang lalu, Robinson berdiri memperhatikan di balik celah pintu kamar Rebeca yang terbuka. "Rebeca video call sama siapa?" Keningnya mengernyit. "Apa jangan-jangan sama pacarnya?"

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!