Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Sinar matahari pagi Los Angeles menyapu area tempat parkir luar di dekat salon langganan lama yang mereka tuju.
Di dalam kabin sedan Audi milik Darion, keheningan yang tercipta terasa berbeda—bukan keheningan yang mencekik seperti di kondominium, melainkan kehangatan yang perlahan mengikis ketegangan di pundak Lara.
Darion mematikan mesin mobil, namun jemarinya masih bertengger di atas kemudi. Ia memalingkan wajah, menatap Lara yang sedang merapikan ujung kemeja berlengan panjangnya.
"Kau ingat salon ini, kan?" tanya Darion pelan, bibirnya mengukir senyuman tipis. "Dulu kau yang menyeretku ke sini waktu semester tiga. Katamu, potongan rambutku membuatku kelihatan seperti mahasiswa tingkat akhir yang stres berat menghadapi ujian prosedur hukum."
Lara menghentikan gerakannya seketika. Sebuah tawa kecil yang refleks—tulus dan tanpa beban—lolos dari bibirnya sebelum ia sempat menahannya.
"Kau memang kelihatan tragis waktu itu, Darion," sahut Lara sambil menoleh, menatap wajah pria di sampingnya dengan binar mata yang sudah sangat lama redup. "Kau duduk di perpustakaan kampus selama delapan jam berturut-turut tanpa menyisir rambut. Rambut ikalmu berantakan ke segala arah. Kalau aku tidak menyeretmu keluar untuk potong rambut dan membelikanmu segelas iced Americano, kau pasti sudah pingsan di antara tumpukan buku pustaka."
"Dan kau sengaja menyuruh kapster-nya memotong bagian sampingnya terlalu tipis hanya karena kau ingin tertawa melihat telingaku yang kelihatan lebih lebar," balas Darion, nada suaranya penuh canda alami yang mengalir begitu saja.
Tidak ada kesan dipaksakan, tidak ada naskah yang harus dihafal seperti saat ia berhadapan dengan Billy.
"Itu balas dendam karena kau lupa membawakan buku catatanku hari sebelumnya," sela Lara cepat dengan nada cerewet yang khas. "Tapi setidaknya, potongan rambutmu waktu itu jauh lebih mendingan daripada gaya kaku sok pejabat yang kau pakai sekarang."
Darion tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya. Interaksi alami ini—saling melempar ejekan ringan dan kenangan manis masa lalu saat mereka masih berada di masa pendekatan—terasa bagaikan oase di tengah gurun pasir bagi Lara.
Dulu, sebelum takdir dan kebencian keluarga merenggut segalanya, Darion adalah pria sederhana yang selalu mendengarkan setiap ocehan konyolnya.
Mereka bisa memperdebatkan hal-hal sepele selama berjam-jam di kantin kampus, tertawa tanpa harus takut dinilai atau dihakimi. Di dekat Darion, Lara tidak pernah menjadi "Anak Sial". Di mata Darion, Lara hanyalah gadis cerdas yang sedikit cerewet dan menggemaskan.
"Baiklah, Nyonya Pengkritik," ucap Darion dengan nada mengalah yang hangat. "Hari ini kau yang pegang kendali. Beritahu kapster-nya persis bagaimana kau mau rambutku dipotong. Aku tidak akan protes sepatah kata pun."
Lara tersenyum tipis, merapikan rambutnya sendiri sebelum membuka pintu mobil. Untuk beberapa saat, udara segar Los Angeles dan obrolan ringan bersama Darion berhasil mengalihkan pikirannya dari neraka rumah tangganya.
Namun, kewaspadaan yang telah terlatih selama dua tahun tak pernah benar-benar lenyap dari jiwanya. Ia tahu batas; ia adalah seorang istri sah secara hukum, dan setiap detik yang ia habiskan di luar rumah adalah sebuah pertaruhan besar.
...****************...
Selesai dari salon, tatanan rambut Darion kembali ke gaya yang lebih alami—sedikit lebih panjang di bagian atas dengan gelombang halus yang jatuh di dekat dahinya, persis seperti gaya rambut yang selalu disukai Lara saat mereka masih bersama di masa lalu.
Wajah Darion tampak jauh lebih hangat dan awet muda, mengikis kesan pengacara dingin yang biasanya melingkupinya.
"Puas?" tanya Darion saat mereka berjalan menuju area parkir sebuah pusat perbelanjaan terbuka di kawasan Wilshire Boulevard, tempat Darion menghentikan mobil untuk membelikan Lara minuman hangat sebelum mengantarnya pulang.
"Lumayan," jawab Lara dengan senyum tipis yang tertahan, matanya menatap pantulan wajah Darion di kaca toko yang mereka lewati. "Setidaknya kau tidak kelihatan seperti pria lima puluh tahun lagi."
Darion menyunggingkan senyum, lalu melangkah lebih dulu untuk membukakan pintu kedai kopi kecil di sudut jalan. "Tunggu di sini, aku akan ambilkan pesananmu."
Lara mengangguk, memilih untuk berdiri di area trotoar yang agak teduh di bawah naungan pohon rindang, membiarkan angin siang Los Angeles menerpa wajahnya. Perasaannya sedikit lebih ringan.
Momen romantis yang sederhana dan wajar bersama Darion hari ini memberinya sedikit kekuatan untuk bernapas.
Namun, kedamaian sejenak itu mendadak hancur berantakan.
Dari arah jalan raya utama, sebuah mobil mewah yang teramat sangat familier berbelok perlahan memasuki area drop-off di depan kompleks bangunan komersial di seberang jalan. Mobil Rolls-Royce Phantom hitam bernopol khusus itu berhenti tepat di bawah bayangan kanopi gedung.
Tubuh Lara menegang seketika. Jantungnya mencelos jatuh ke dasar perutnya. Itu adalah mobil Billy.
Secara refleks, Lara menarik dirinya mundur ke balik pilar batu kedai kopi, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya agar tidak terlihat dari arah jalan raya. Matanya yang membesar menatap lurus ke arah kaca mobil mewah itu.
Kaca film Rolls-Royce tersebut memang dirancang gelap dari luar, namun karena posisi mobil terparkir tepat di bawah sudut pantulan cahaya matahari siang yang terik, siluet dan bagian dalam kabin depan serta tengah terlihat cukup jelas dari sudut berdiri Lara.
Pintu belakang Rolls-Royce itu tidak terbuka. Sebaliknya, pintu penumpang depan yang perlahan terdorong.
Seorang wanita bergaun elegan dengan kacamata hitam besar turun dari mobil, namun ia tidak langsung melangkah pergi. Wanita itu berbalik, menyandarkan setengah tubuhnya kembali ke dalam kabin mobil yang terbuka, menatap pria yang duduk di kursi pengemudi—Billy Davidson.
Wanita itu adalah Catalina Davidson.
Lara memaku pandangannya, napasnya tertahan di tenggorokan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh itu, Lara menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri tanpa ada dinding penghalang.
Billy yang masih mengenakan setelan jas kerjanya meraih tengkuk Catalina dengan satu tangan.
Pria itu menarik tubuh kakak iparnya mendekat tanpa ragu. Catalina melepas kaca mata hitamnya, lalu mencondongkan wajahnya ke dalam kabin. Detik berikutnya, kedua bibir mereka bertautan erat di dalam dan di ambang pintu mobil yang setengah terbuka itu.
Itu bukan sekadar ciuman perpisahan biasa antar kerabat. Itu adalah lumatan bibir yang dalam, panas, dan penuh dengan gairah terlarang yang membara. Billy melumat bibir Catalina dengan penuh dominasi, sementara tangan Catalina mencengkeram bahu Billy, membiarkan tubuhnya makin tertarik ke dalam kabin mobil sebelum akhirnya berpisah dengan helaan napas yang terlihat jelas dari jarak Lara berdiri.
Billy mengusap sudut bibir Catalina dengan ibu jarinya, membisikkan sesuatu yang membuat Catalina tersenyum manja sebelum wanita itu akhirnya memundurkan langkahnya dan menutup pintu mobil.
Rolls-Royce itu kemudian melaju pergi membelah jalanan Los Angeles, meninggalkan Catalina yang melangkah masuk ke dalam gedung boutique mewah di seberang.
Lara berdiri mematung di balik pilar batu.
Tidak ada jeritan histeris. Tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Seluruh tubuhnya mendadak terasa begitu dingin dan kebas.
Selama ini, Lara memang sudah menebak dan mengetahui desas-desus serta firasat tentang hubungan terlarang antara suaminya dan sang kakak ipar.
Namun, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Billy—pria yang tadi pagi berakting penuh perhatian, menuntut kepatuhannya, dan berpura-pura mengkhawatirkan kesehatan rahimnya—berciuman dengan begitu panas dan menjijikkan bersama Catalina di dalam mobil di tengah hari bolong, memberikan hantaman kenyataan yang teramat telanjang.
Segala narasi palsu tentang "membantu kerabat yang trauma" dan "tanggung jawab keluarga" yang selalu diandalkan Billy runtuh menjadi debu yang menjijikkan di mata Lara.
"Lara? Ada apa?"
Suara hangat Darion terdengar dari sampingnya. Darion melangkah keluar dari kedai kopi sambil memegang dua cangkir kertas minuman hangat. Begitu melihat wajah Lara yang pucat pasi dan tatapan matanya yang kosong menatap ke arah seberang jalan, raut wajah Darion seketika berubah cemas.
"Lara, kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Darion tegas, meletakkan cangkir kopi di atas meja teras terdekat dan memegang kedua bahu Lara dengan cemas.
Lara perlahan memalingkan wajahnya, menatap Darion. Tatapan mata Lara tidak lagi dipenuhi ketakutan akan amukan Billy, melainkan sebuah kepastian dingin yang mengkristal di dalam jiwanya.
"Aku baru saja melihat suamiku..." bisik Lara, suaranya terdengar begitu datar namun tajam bagaikan sembilu. "...berciuman dengan kakak iparnya di dalam mobil."
Darion menegang keras, pandangannya langsung terlempar ke arah jalan raya di seberang, namun Rolls-Royce itu sudah menghilang di belokan jalan. Amarah yang luar biasa kembali membakar dada Darion, buku-buku jarinya mengepal erat hingga memutih.
"Pria brengsek itu..." desis Darion dengan suara penuh kemurkaan.
Namun Lara menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menyentuh lengan baju Darion, menahan pria itu agar tidak melakukan tindakan nekat.
Senyuman tipis yang sangat dingin dan penuh misteri terukir di bibir Lara yang pucat.
"Jangan lakukan apa pun sekarang, Darion," ucap Lara pelan namun sangat jelas. "Bawa aku pulang. Permainan ini... baru saja dimulai."
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄