Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 015 : Ternyata Mereka Hilang Sudah Seminggu!
Seorang lelaki paruh baya ditemani dengan istrinya. Baru saja keluar dari dalam mobil. Mobil mereka sekarang berhenti tepat di depan kantor kepolisian.
"Cepat, Ma! Cepat!" ucap lelaki paruh baya itu. Tepat di tangan kanannya kini dia memegangi sebuah ponsel yang layarnya masih menyala.
Dia dan istrinya berlari masuk ke dalam kantor polisi. Di sana, dia mulai mengajukan pengaduan perihal hilangnya Putri mereka.
"Jadi gimana, Pak? Keluhan apa yang ingin anda ajukan?" tanya seorang petugas di hadapan lelaki itu. Lelaki yang kini duduk ini adalah Tuan Antony. Dia adalah Ayah angkatnya Farah.
Sambil mengatur nafasnya. Tuan Antony menyerahkan ponselnya. Di sana sudah terbuka satu pesan. Pesan itu dari Ardin. Ardin sempat menghubunginya. Tetapi panggilan-panggilan itu baru saja masuk hari ini. Namun tak ada suaranya.
"Kenapa bapak tidak mengangkatnya?" tanya petugas kepolisian itu. Kening Tuan Antony berkerut.
"Gak mungkin kalau saya gak angkat itu, Pak! Saya sudah mengangkatnya. Tapi tidak ada suara yang keluar dari sana. Saya mencari anak saya sudah sekitar seminggu dia pergi dari rumah. Dia tidak bicara pada saya akan ke mana!" Tuan Antony mulai frustasi rasanya.
Bagaimana tidak? Anak perempuannya, Farah. Tidak kunjung kembali ke rumah padahal sudah seminggu. Padahal anaknya berjanji pulang dua atau tiga harian. Tetapi ini sudah lebih dari itu.
"Saya sudah tidak bisa berpikir positif, Pak! Jadi, saya minta tolong. Untuk melacak nomor ini. Di mana kira-kira posisinya ketika mengirimkan pesan ini?" jelas Tuan Antony setengah meminta.
Nyonya Antony wajahnya nampak khawatir. Dia jelas juga merasa takut. Farah adalah satu-satunya anak mereka.
Hadirnya Farah di dalam kehidupan mereka adalah berkah Tuhan. Meskipun Farah bukan anak kandungnya. Mereka sangat menyayanginya.
Klekkk
Di tengah ributnya Tuan Antony dan Petugas polisi. Nyonya Antony menggenggam lembut kalung liontin yang dia kenakan. Kalung itu, adalah hadiah dari Farahnya.
Sejenak dia menatap ke arah langit-langit ruangan. Dia masih ingat pertemuan pertamanya dengan Farah kecil saat itu. Bayi mungil yang langsung memikat hatinya. Ketika dia menundukkan kepalanya. Membuka kalung liontinnya.
Tesss
Ya, setetes air mata jatuh dari kelopak matanya. Dia takut, hal buruk terjadi pada Farah. Liontin itu, berisi foto mereka bertiga. Sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia atas kedatangan malaikat kecil pertama dalam rumahnya.
"Ke mana kamu, sayang?" lirih Nyonya Antony.
Ketika Nyonya Antony saat itu sedang meratapi hilangnya Farah. Jeritan hatinya itu menyita perhatian salah seorang makhluk. Makhluk yang bersembunyi dari balik cermin. Tubuhnya hitam legam.
Dia tidak tinggi tidak pula kecil. Dia normal seperti manusia pada umumnya. Bajunya lusuh. Kedua bola matanya putih. Sosok itu tersenyum.
Aura kesedihan itu menyita perhatiannya. Sosok itu tertarik, perlahan dia mulai keluar dari balik cermin.
Berjalan melewati ambang pintu ruangan tempat di mana Nyonya Antony dan suara bising perdebatan Tuan Antony dan Petugas kepolisian masih terjadi.
Depppp
Depppp
"Ikuti aku!" lirih sosok itu. Suaranya begitu kecil. Itu bersamaan dengan lewatnya dia tepat di ambang pintu itu. Suara itu dalam. Dalam sekejap menyapu gendang telinga Nyonya Antony.
Ketika dia menoleh ke arah sumber suara. Sekilas dia melihat anak itu melintas. Saat itu, entah apa yang mendorongnya untuk mengikutinya? Sosok itu seperti memiliki magnet.
Dan ya, Nyonya Antony benar-benar mengikutinya. Selangkah demi selangkah dia berjalan.
Sosok itu membawanya ke belakang area kantor polisi. Di sana, tepat ketika mereka berhenti tepat di depan pohon besar.
Sosok yang jaraknya sekitar sepuluh langkah dari nyonya Antony pun terdiam. Sosok itu membelakanginya. Nyonya Antony hanya diam. Dia terpaku tepat pada sosok di depannya itu.
"Kamu siapa?" tanya Nyonya Antony padanya. Sosok itu menarik sudut bibirnya.
Dia menariknya bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tetapi, bukan ukuran manusia rasanya jika lengkung senyumnya sebesar itu.
Tessss
Tessss
"Hah!" pekik Nyonya Antony, matanya membulat penuh tatkala melihat cairan merah darah jatuh begitu saja tepat di bawah kaki sosok itu.
Dari bawah, kembali ke atas lagi perhatiannya. Dan pada saat dia benar-benar mengembalikan fokusnya ke arah kepala sosok itu. Kali ini dia melihat dengan jelas.
Sosok itu tidak berbalik. Badannya masih tetap berdiri lurus ke arah pohon beringin. Tetapi, kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat tepat ke arahnya.
"Kamu mencari anak itu, ya?" suara yang dikeluarkan sosok itu menggema. Suaranya bercampur menjadi satu. Suara perempuan dan lelaki.
Keringat dingin mengucur deras dari dahinya Nyonya Antony. Perlahan, dia memundurkan tubuhnya ke belakang. Pelan dan pelan. Sementara sorot matanya masih fokus menatap ke arah sosok itu.
Kini ketika langkahnya hampir menjauhinya. Lagi-lagi, Nyonya Antony diperlihatkan sesuatu yang menyeramkan.
"Dia mengecil?!" pekik lirih Nyonya Antony.
Ya, sosok itu kembali menunjukkan kejanggalan yang mengerikan. Tubuhnya yang tadi besar.
Kini menyusut, menjadi seukuran bayi. Tetapi ada yang aneh dari bayi itu. Bayi itu memakai gelang di tangannya juga di kedua kakinya. Bayi itu menatap lekat ke arah Nyonya Antony.
'Ya Tuhan!' ujar Nyonya Antony dari dalam hatinya.
Persetan rasanya, seumur hidupnya hingga kini. Dia bahkan tidak pernah melihat penampakan. Tetapi hari ini, dia melihat sendiri. Makhluk yang berasal dari alam sebelah.
"Aku harus kembali, lari!" ujar Nyonya Antony, saat itu ketika tubuhnya hendak berbalik. Bersamaan dengan itu.
Sosok bayi itu tersenyum lebar. Darah-darah segar berjatuhan dari dalam mulutnya. Gerakannya begitu cepat. Hingga sosok itu kini seakan menyergap Nyonya Antony tepat di depan wajahnya.
"Kamu kenapa, Ibu?" Sosok itu berbicara. Bayi semungil itu bisa bicara.
Bulu kuduk Nyonya Antony berdiri rasanya. Bagaimana tidak? Sosok itu kini jaraknya hanya lima centimeter dari wajahnya. Dekat!
Greppp
Sosok itu menyentuh wajah Nyonya Antony. Hal pertama yang dirasakan oleh Nyonya Antony adalah, dingin! Sangat dingin sekali tangannya.
Nyonya Antony terpaku, seakan ada pasak di bawah kakinya yang menahan dia untuk pergi dari sana sementara sosok itu ada di depannya.
"Kamu pasti khawatir padanya," ujar sosok itu lagi, sekarang dia mengeluarkan lidahnya. Nampak di sini lidah itu sangat panjang bahkan ujungnya menyabang bak lidah ular.
Lidah itu bergerak tepat ke arah wajah Nyonya Antony. Sosok itu, sambil mencengkram wajah Nyonya Antony,
Slruppppp
Sosok itu juga menjilati wajah itu. Melihat kondisi Nyonya Antony yang ketakutan. Pada saat itu sosok itu menarik lidahnya. Dia kembali tersenyum dan berkata,
"Akan aku perlihatkan di mana dia! Semoga kamu tidak terlambat!" ujar sosok itu.
Dia mengarahkan wajah Nyonya Antony ke arahnya. Tepat ketika sorot mata mereka saling beradu.
Nyonya Antony seakan ditarik masuk ke dalam sebuah dimensi. Dan di sanalah dia melihat sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Di dalam hutan yang gelap. Dengan pepohonannya yang besar dan tumbuh begitu rapat.
Nyonya Antony, melihat keberadaan Farah. Dia melihat sekeliling sejenak. Memperhatikan hutan itu. Di sana dia melihat banyak sekali huruf Arab Pegon di tempel di tiap pohonnya.
Tiba ketika dirinya berbalik. Dia berpas-pasan dengan sosok tinggi besar dengan kedua taring panjangnya. Sosok berkepala kambing dengan mata merahnya.
Menatapnya lekat. Saat itu lah, ketika sosok itu mencengkram lehernya. Nyonya Antony kehilangan kesadarannya. Saat itu juga tubuhnya di dunia nyata terjatuh dan sosok bayi seram itu menghilang.
Blushhhh
"Hahhhh... hahhh... hahhhh!" Nyonya Antony terengah-engah.
Samar-samar dalam kesadarannya yang hampir hilang itu. Dia mendengar suara langkah kaki dan juga suara suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Tuan Antony yang baru saja tiba di depan tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri.
Dia memangku tubuh istrinya. Berulang kali dia menepuk pelan wajah istrinya namun tak ada respon apapun.
Saat itu, meskipun urusannya dengan kantor kepolisian belum usai. Tuan Antony memilih membawa istrinya ke rumah sakit. Dia baru saja kehilangan Farahnya. Dia tidak ingin kehilangan istrinya juga.
_______
ternyata dia lebih tua dari aku🤣