Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 ~ Kecelakaan
“Samuel, jangan lari lagi sayang…!” teriak Ayra panik dari belakang.
Sore itu taman kota terlihat cukup ramai. Anak-anak berlarian diatas hamparan rumput, beberapa pasangan duduk santai menikmati senja, sementara Ayra Bellavina hanya ingin menghabiskan waktu sederhana bersama putra kecilnya.
Samuel Adanan Lorenzo.
Bocah berusia empat tahun itu tertawa riang sambil memainkan bola kecil berwarna biru ditangannya. Wajah tampannya begitu mirip dengan Arga, suaminya. Itu sebabnya Ayra selalu merasa hangat setiap kali menatap Samuel.
“Lihat Mama! Sam bisa tendang jauh!” seru Samuel penuh semangat.
Bruk!
Bola itu meluncur terlalu keras hingga menggelinding ke arah jalan raya.
“Eh—Samuel jangan!”
Namun bocah kecil itu sudah lebih dulu berlari mengejar bolanya.
Ayra refleks ikut berlari. Nafasnya memburu, langkahnya tergesa melewati trotoar taman. Tapi tetap saja… dia kalah cepat dari kaki mungil Samuel.
“Sam! Jangan ke sana!” teriaknya semakin panik.
Samuel sudah berada ditepi jalan.
Dari arah seberang, sebuah mobil hitam melaju cukup kencang.
Mata Ayra membulat sempurna.
“Sam, awassss…!!!”
Ciiitttt!
Suara rem mobil memekakkan telinga.
Brakk!
Tubuh kecil Samuel terjatuh keras ke aspal. Bocah itu sebenarnya tidak tertabrak, namun refleks menjatuhkan dirinya karena terlalu terkejut saat mobil berhenti tepat beberapa senti didepannya.
Bola biru itu memantul pelan ke pinggir jalan.
“Samuel…!”
Ayra langsung berlari menghampiri dengan lutut melemas. Nafasnya tercekat saat melihat lutut Samuel berdarah. Yang membuat tubuhnya semakin gemetar adalah darah yang mulai mengalir dari sisi kepala anak itu.
“Sam… bangun sayang… Samuel…”
Tangan Ayra bergetar hebat saat mengangkat tubuh kecil putranya. Wajah Samuel pucat. Kedua matanya tertutup rapat.
“Sam… jangan bikin Mama takut…!”
Tidak ada jawaban.
Tubuh kecil itu pingsan dipelukannya.
Seketika air mata Ayra jatuh deras. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernafas.
“Tolong…!! Tolong anak saya…!” teriaknya histeris.
Dalam hitungan detik orang-orang mulai berkerumun. Beberapa warga membantu menenangkan Ayra, sementara seseorang segera memanggil ambulans.
“Cepat bawa ke rumah sakit!”
Ayra terus menangis sambil menggenggam tangan Samuel erat-erat sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Dia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang berantakan. Tidak peduli tatapan orang-orang disekitarnya.
Dalam kepalanya hanya ada satu hal.
Samuel harus selamat.
-
-
Suara roda brankar bergema cepat memenuhi lorong rumah sakit.
“Permisi! Minggir dulu!”
Samuel segera dibawa menuju ruang penanganan darurat dengan tubuh kecil yang sudah dipenuhi noda darah dibagian kepala dan lututnya. Ayra berjalan disamping brankar dengan langkah gemetar, tangannya tidak pernah lepas menggenggam jemari mungil putranya.
“Sam… sayang… buka matanya dulu buat Mama…” bisiknya lirih penuh tangis.
Air mata terus jatuh tanpa henti dipipi wanita itu. Sesekali dia mengusap rambut Samuel yang sedikit basah oleh keringat.
“Kamu kuat kan? Nanti Mama beliin es krim lagi… kita main lagi… jadi bangun ya sayang…”
Namun Samuel tetap diam.
Tidak ada rengekan manja. Tidak ada senyum kecil seperti biasanya.
Bocah itu sama sekali tidak merespon.
Dadanya masih naik turun pelan, tapi justru itu yang membuat Ayra semakin takut. Takut kehilangan satu-satunya alasan dia tetap bertahan sampai sekarang.
Beberapa perawat mendorong brankar semakin cepat menuju ruang ICU.
“Maaf Bu, kami akan melakukan penanganan lebih lanjut. Tolong silakan tunggu disini,” ujar salah satu dokter dengan nada profesional.
“Tapi saya—”
“Tenang Bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin.”
Perlahan… genggaman tangan itu terlepas.
Pintu ICU tertutup tepat didepan Ayra.
Ceklek.
Suara kecil itu terasa begitu memekakkan bagi Ayra.
“Sam…” bisiknya lirih.
Tubuhnya perlahan merosot duduk dikursi lorong rumah sakit. Tatapannya kosong menatap pintu ICU yang tertutup rapat.
Jantungnya masih berdegup kacau.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ayra benar-benar merasa sangat takut.
Detik demi detik berlalu begitu lambat.
Jam didinding bahkan seolah berhenti bergerak.
Ayra berani bersumpah, waktu kali ini terasa jauh lebih lama dibanding biasanya.
Tangannya masih gemetar. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus menghantuinya tanpa ampun.
“Samuel pasti nggak apa-apa…” gumamnya mencoba menenangkan diri sendiri.
Namun suaranya justru terdengar rapuh.
Ayra menunduk, lalu buru-buru mengambil ponsel dari dalam tasnya. Jemarinya bergerak gemetar mencari satu nama yang sejak tadi ingin sekali dia hubungi.
Arga. Suaminya.
Setelah menarik nafas panjang, Ayra akhirnya menekan tombol panggil dengan mata yang masih dipenuhi air mata.
Nada dering telepon terdengar berulang memenuhi lorong rumah sakit yang sunyi.
Ayra menggigit bibirnya gelisah sambil terus menatap pintu ICU didepannya. Jemarinya dingin, bahkan tubuhnya masih sedikit gemetar akibat syok.
Tut…
Tut…
Klik.
“Halo sayang?”
Suara Arga terdengar dari seberang sana.
Hangat. Tenang. Seperti biasanya.
Suara berat pria itu biasanya selalu berhasil membuat Ayra merasa aman. Namun kali ini, justru membuat dadanya semakin sesak.
“Mas…” lirih Ayra dengan suara bergetar. "Sam..."
Tangisnya pecah lagi.
Disana Arga langsung terdiam beberapa detik.
“Ya? Ada apa dengan Sam?”
Ayra menutup mulutnya, berusaha menahan isakan yang sejak tadi terus keluar.
“Sam… Sam kecelakaan…” ucapnya terbata.
Jantung Arga seperti berhenti berdetak sesaat.
“Sekarang dia sedang dirumah sakit…”
“Apa?!” suara Arga langsung berubah panik.
Ayra bisa mendengar suara kursi bergeser cukup keras dari seberang telepon, seolah pria itu baru saja berdiri terburu-buru.
“Rumah sakit mana? Ayra jawab!”
“RS Mitra Medika…”
“Aku akan kesana sekarang. Tunggu aku disitu.”
Telepon terputus.
Ayra menatap layar ponselnya kosong beberapa saat sebelum kembali memeluk tubuhnya sendiri. Rasanya dingin sekali.
Lorong ICU masih sama. Sunyi. Menegangkan.
Beberapa pasien berlalu lalang bersama keluarga mereka, tapi Ayra sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Pikirannya hanya tertuju pada Samuel.
Anaknya.
Air mata kembali jatuh saat mengingat wajah pucat bocah kecil itu tadi.
“Sam pasti kuat…” bisiknya pelan. “Kamu harus bangun lagi buat Mama…”
Namun semakin lama menunggu, rasa takut itu justru semakin membesar didalam dadanya.
••
••
Sementara itu di perusahaan Lorenzo Crpos, tepatnya diruang direktur utama.. Arga langsung bangkit dari kursi kerjanya dengan wajah tegang.
Jas hitam yang tadi tergantung disandaran kursi segera dia ambil dengan gerakan terburu-buru. Pikirannya kacau sejak mendengar tangisan Ayra ditelepon tadi.
Samuel kecelakaan.
Kalimat itu terus terngiang dikepalanya.
Ceklek.
Pintu ruangan CEO terbuka bersamaan dengan masuknya Shella, sekretaris pribadinya.
Wanita itu membawa beberapa map ditangannya sambil tersenyum profesional.
“Pak, malam ini ada acara perjamuan makan dengan perusahaan Wijaya. Draft kerja samanya juga sudah—”
Ucapan Shella terhenti.
Dia menangkap raut wajah Arga yang tidak biasa.
Pria itu terlihat panik. Bahkan tangannya sedikit gemetar saat merapikan jam tangannya.
“Undur semuanya. Aku harus pergi sekarang!” titah Arga cepat.
Shella mengernyit bingung.
“Baik Pak. Tapi… apa Bapak baik-baik saja?”
Arga langsung meraih kunci mobilnya diatas meja.
“Sam… Samuel kecelakaan.” Suaranya terdengar berat. “Aku harus ke rumah sakit sekarang.”
“Apa?!” wajah Shella langsung pucat.
Wanita itu refleks ikut panik mendengar nama Samuel disebut.
“Kalau begitu aku ikut!”