Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
beban yang hanya bisa di pendam
Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu, menyusuri lorong rumah sakit menuju jalan raya. Di depanku hanya terlihat gedung-gedung tinggi dan restoran besar yang tampak sangat mewah — aku merasa ragu, takut uang yang kupunya tidak akan cukup untuk membeli sesuatu di tempat seperti itu. Aku terus berjalan sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan, hingga akhirnya aku menemukan sebuah warung makan sederhana yang terlihat cukup murah harganya. Langkahku terasa agak ragu saat aku melangkah masuk, dan beberapa orang yang sedang makan di sana serentak menoleh dengan tatapan yang tajam, membuatku makin merasa gugup dan tidak tenang. Aku mencoba bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan mendekat ke meja pemesanan dan menunjuk menu yang ada di bagian paling bawah: satu bungkus nasi bungkus sederhana.
Saat pelayan sedang sibuk menyiapkan pesananku, datanglah sepasang ibu dan anak perempuan hendak membayar pesanan mereka. Tiba-tiba anak itu menatapku tajam, lalu segera menutup hidungnya rapat-rapat sambil menatapku dengan pandangan yang penuh rasa jijik. “Bu, dia bau sekali! Sungguh menjijikkan sekali rasanya melihatnya.”
Ibunya pun ikut menoleh, menatapku sekilas dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat merendah, lalu menegur pelayan itu dengan suara keras. “Hei, kenapa kalian membiarkan pengemis masuk ke sini? Orang-orang lain jadi tidak berselera makan hanya karena melihat keberadaannya.”
Pelayan itu hanya bisa menyerahkan nota pembayaran sambil tersenyum kaku, tampak bingung harus menjawab atau menanggapi apa atas perkataan mereka.
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dalam-dalam, tanpa sadar aku sempat mencium bau pada bajuku sendiri. Aku bergumam sangat pelan hingga nyaris tak terdengar oleh siapa pun: “Tidak… sebenarnya tidak bau kok…”
Mereka pun pergi meninggalkan warung itu sambil mendengus kasar penuh rasa tidak suka. Aku segera mengambil pesanan yang sudah selesai disiapkan, membayarnya sesuai harga yang tertera, lalu berjalan keluar kembali menuju rumah sakit.
Di ruangan rawat inap yang lain di dalam rumah sakit yang sama, terlihat seorang pria sedang duduk di tepi ranjang. Lengan kirinya yang terluka tadi sudah dibalut perban dengan sangat rapi. Tubuhnya tetap terlihat tegap, berisi namun tetap luwes; bahunya lebar dan kokoh, bahkan di balik kemeja hitam yang pas rapi menutupi tubuhnya, garis otot yang terbentuk masih terlihat samar namun nyata. Kancing paling atas pada kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit lekuk leher dan dadanya yang bidang. Rompi yang dikenakannya semakin menonjolkan bentuk bahunya yang kokoh, sedangkan lengan kemejanya digulung rapi hingga mencapai siku. Sebuah jas panjang tergantung santai di tangan kirinya, sementara tangan kanannya terselip rapi di dalam saku celana yang memiliki potongan sangat rapi dan halus.
Wajahnya dengan garis rahang yang tegas, kulitnya tampak putih bersih meski pencahayaan di dalam ruangan itu agak remang. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan tampak bergelombang halus, sedikit berantakan secara alami seolah tidak perlu diatur apa pun. Sepasang matanya yang berwarna biru pucat sejernih bongkahan es itu menatap tajam namun tetap tenang ke arah orang yang berdiri di hadapannya. Bibirnya terkatup rapat, dan jakunnya terlihat bergerak pelan saat ia menelan ludah. Hanya dengan duduk diam di sana, wibawanya terasa begitu kuat hingga seolah menekan seluruh udara yang ada di dalam ruangan itu.
Di hadapannya berdiri seorang pria lain yang mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi. Rambutnya berwarna hitam pekat yang tampak berkilau terkena pantulan cahaya lampu, bagian atasnya sedikit panjang lalu disisir rapi ke samping hingga menutupi sedikit bagian dahinya. Tubuhnya tinggi dan tegap, jas yang dikenakannya terlihat sangat mahal dan pas menyesuaikan bentuk tubuhnya. Garis rahangnya juga tegas, dan tatapan matanya terlihat dalam serta dingin namun tajam seolah mampu menembus apa pun. Di bagian sisi lehernya yang kokoh terlihat sebuah tato dengan corak yang rumit berwarna gelap, samar namun cukup jelas untuk dipahami bahwa pemiliknya bukanlah orang biasa.
“Tuan, Anda tidak boleh melakukan hal sembrono seperti itu lagi,” ucap pria itu dengan nada yang datar, namun ada nada kekhawatiran yang terselip jelas di balik kalimatnya. “Nyonya Elina merasa sangat cemas seketika begitu ia mendengar kabar mengenai apa yang terjadi pada Anda semalam.”
Sementara itu aku berjalan perlahan menuju pintu masuk rumah sakit, namun tiba-tiba kakiku terhenti di tempat. Di hadapanku kini berdiri seorang wanita yang berpakaian sangat rapi, modis, dan tampak sangat bersih. Ia menatapku dengan pandangan yang merendah, lalu menelanjangi seluruh tubuhku dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang penuh rasa jijik.
“Jadi kau inilah gadis yang selama ini dibicarakan orang-orang di sekitar sini?” suaranya terdengar keras dan penuh dengan keangkuhan. “Katanya ada anak yang berpura-pura meminta bantuan padahal sebenarnya hanya seorang penipu dan pengemis! Tahukah kau bahwa karena kelakuanmu ini, tempat usahaku menjadi sepi pengunjung? Biasanya jam pagi begini tempatku sudah penuh sesak, namun sejak kau muncul di sini, tak ada satu pun orang yang berani datang lagi!”
Seluruh tubuhku gemetar hebat karena rasa takut, aku hanya bisa berdiri diam mendengarkan segala caci makiannya tanpa mampu membela diri sedikit pun. Namun wanita itu malah melangkah maju dengan kasar, lalu mendorong tubuhku cukup keras hingga aku terjatuh tersungkur di tepi jalan yang beraspal kasar. Petugas keamanan rumah sakit yang kebetulan melihat kejadian itu hanya berdiri diam di tempat, tak bergerak sedikit pun hendak menolongku.
“Minggir dan pergilah kau dari sini, dasar pembawa sial!” serunya sambil menunjuk ke arahku dengan jari telunjuknya yang tajam. Matanya tiba-tiba menangkap kantong plastik yang kugenggam erat di tanganku, lalu ia menyambarnya paksa dari genggamanku. Aku berusaha menahannya agar tidak diambil, namun kekuatannya jauh lebih besar daripada diriku.
“Mari kulihat apa yang kau beli ini… apa ini? Apakah ini yang kau sebut makanan? Ini hanyalah sampah belaka!”
Aku segera bangkit hendak mencegahnya, namun ia sudah lebih dulu membanting kantong itu hingga jatuh ke permukaan tanah. Ia bahkan sengaja menginjak-injak nasi dan lauk yang ada di dalamnya berkali-kali dengan sepatu hak tingginya yang mahal itu, seolah sedang melampiaskan seluruh amarahnya. “Makanlah saja sampah ini yang kau bawa itu!”
Setelah berkata demikian, ia berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkanku. Aku hanya terpaku diam di tempatku berdiri, seketika itu juga air mataku tumpah membasahi kedua pipiku, dan hidungku terasa sangat panas menahan rasa sakit hati. Aku hanya bisa menatap makanan yang sudah hancur berantakan tercampur debu di tanah itu, dadaku terasa sesak berat seolah tertimpa beban batu yang sangat besar. Aku menundukkan kepalaku sangat dalam, lalu menangis tanpa suara di tengah kesendirianku.
Sementara itu di dalam ruangan rawat inap, pria berkemeja hitam itu menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tajam, terlihat jelas ada nyala amarah yang mulai menyala di balik matanya yang berwarna biru pucat itu. “Aku sendiri yang akan mencari siapa pelaku yang berani melakukan hal seperti itu.”
Pria berjas hitam di hadapannya hanya bisa menghela napas panjang pelan. “Syukurlah kalau Tuan selamat dari bahaya itu. Namun menurut saya, lebih baik kita segera kembali ke tempat kediaman kita sekarang juga.”
Pria itu segera bangkit berdiri dari tepi ranjang, tak menoleh sedikit pun ke arah temannya, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tetap mantap dan tegas.
Ternyata dari kejauhan, di balik kaca jendela mobil mewah yang gelap, pria itu melihat segala kejadian itu dari awal sampai akhir. Ia duduk tenang di kursi bagian belakang, menatap tajam ke arahku yang sedang terisak, lalu bertanya dengan suara pelan namun tegas: “Siapa gadis itu?”
Pria yang duduk di kursi pengemudi menoleh sedikit ke belakang sambil menjawab dengan hormat: “Berdasarkan keterangan dari petugas rumah sakit, Tuan. Gadis itu datang kemarin sore membawa adik laki-lakinya yang terluka cukup parah. Nasib mereka sungguh malang — keduanya sudah tidak memiliki orang tua lagi. Katanya gadis itu sedang berusaha sekuat tenaga mengumpulkan uang dalam jumlah besar, untuk membayar biaya operasi yang harus segera dijalani adiknya.”
Pria itu terdiam sejenak, namun pandangannya tak pernah beralih sedikit pun dari diriku yang masih terlihat patah hati. Sesuatu mulai berputar di dalam benaknya, bayangan pertemuan kami semalam perlahan muncul kembali. “Pasti dia gadis yang sama yang kutemui semalam… apakah selama ini aku telah salah menilai dirinya?” gumamnya dalam hati. Ia kembali menatapku lebih dalam, seolah ingin memahami segala sesuatu yang tersembunyi di balik wajahku yang penuh kesedihan itu. Tak lama kemudian ia mengangkat dagunya perlahan memberi perintah singkat: “Lanjutkan perjalanan.”
“Baik, Tuan.” Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan tempat itu, menjauh dari pandangan tanpa aku sadari sedikit pun.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi segala hal yang kualami. Masih terisak pelan, perlahan aku bangkit berdiri, menyeka sisa air mata di pipiku dengan kasar, lalu kembali melangkah mencari warung makan lain yang mungkin masih terbuka — demi bisa membeli sedikit makanan untuk Aslan.
Tak lama kemudian aku kembali mendorong pintu ruangan rawat inap itu. Ruangan itu terlihat cukup penuh oleh keluarga pasien lain yang sedang menunggui kerabatnya. Aku berusaha melangkah dengan tenang, memaksakan senyum tipis terukir di bibirku, lalu duduk kembali di tepi ranjang tempat Aslan berbaring. Aku meletakkan bungkusan makanan itu di meja kecil di samping kasurnya, membuka ikatannya dengan perlahan, lalu mendorongnya mendekat ke arahnya.
“Makanlah dulu.”
Ia menerimanya dengan dahi yang tampak berkerut penuh tanya. “Tapi Kakak… bagaimana dengan Kakak sendiri? Apakah Kakak sudah makan?”
“Ah Kakak sudah makan tadi saat di warung tadi,” jawabku berbohong sambil tersenyum lebar seolah tidak ada apa-apa. Hatiku terasa sedikit hangat melihat ia mulai menyuap makanan itu dengan lahap, namun tiba-tiba aku teringat sesuatu dan segera bangkit berdiri dari tempat dudukku.
“Kakak mau ke mana lagi?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Hanya sebentar ke kamar mandi saja untuk membasuh muka,” jawabku sambil tetap tersenyum, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Sesampainya di depan wastafel, aku membasuh wajahku berkali-kali dengan air dingin, berusaha menenangkan hati yang masih terasa kacau. Kata-kata kasar yang dilontarkan orang-orang tadi masih terus berputar berulang kali di dalam kepalaku. Sebenarnya aku berniat untuk membersihkan tubuhku sejenak, namun saat menatap pantulan diriku di cermin, aku merasa ada sesuatu yang terasa aneh pada mataku sebelah kanan. Aku mendekatkan wajahku perlahan ke arah kaca itu, lalu menyentuh kelopak mataku dengan ujung jari pelan-pelan — aku tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan, hanya saja rasanya sungguh berbeda dari biasanya.
Tiba-tiba aku teringat kembali akan pesan yang pernah disampaikan Ibu sebelum pergi. Tanganku perlahan merogoh saku baju, lalu mengeluarkan botol kecil yang dulu pernah diberikan Ibu kepadaku. Melihat benda itu seketika membuat rindu kepada Ayah dan Ibu kembali menyergap dan menyesakkan dadaku. Namun pesan Ibu kembali terngiang jelas di telingaku: ada saatnya aku harus meminum isinya. Aku bergumam pelan pada diriku sendiri, “Mungkin lebih baik aku membersihkan diriku terlebih dahulu.”
Setelah selesai membersihkan diri, aku tetap harus mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Mau bagaimana lagi? Aku tidak memiliki pakaian ganti lain, sedangkan uang yang kupunya bahkan tidak cukup untuk membeli makanan yang layak — tadi saja aku hanya sanggup membeli satu bungkus nasi untuk kami berdua. Lembaran uang yang tersisa di tanganku terasa begitu tipis dan tak berarti, aku mengelusnya pelan sambil menelan rasa sedih yang mendalam. Aku harus benar-benar berhemat mulai sekarang, meski perutku terasa melilit dan perih karena kelaparan, aku akan menahannya sekuat tenaga.
Kembali aku menatap pantulan diriku di cermin: pakaianku memang terlihat lusuh dan berdebu, meski tidak berbau tidak sedap, namun noda-noda yang menempel di sana sudah tak sanggup lagi kuhapus bersih. Bagian bawah rokku juga terlihat robek, sisa dari kejadian mengerikan semalam. Tiba-tiba bayangan sosok pria berambut pirang itu kembali terlintas di benakku. Apakah dia baik-baik saja sekarang? Apakah lukanya sudah tidak lagi terasa sakit? Dia telah menyelamatkan nyawaku semalam, namun sekarang aku masih belum menemukan jalan bagaimana caranya mendapatkan uang secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa adikku.
Banyak sekali pertanyaan yang berputar kacau di dalam kepalaku, namun tak ada satu pun yang memiliki jawaban yang nyata. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku kembali merogoh saku bajuku, mengeluarkan botol kecil pemberian Ibu itu, lalu menatap lekuk dan bentuk botol itu cukup lama dalam diam.
Sementara itu di dalam ruangan, Aslan masih terbaring lemah di atas kasurnya. Matanya tak pernah beralih menatapku yang sedang berdiri termenung menembus pantulan kaca jendela itu.
“Kakak… ada apa sebenarnya yang sedang terjadi?” tanyanya dengan suara yang sangat pelan namun penuh pertanyaan.
Aku tersentak kaget seketika, seolah baru terbangun dari lamunan yang panjang. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan lemah, lalu kembali memaksakan senyum tipis di bibirku. “Tidak ada apa-apa, Lan. Kakak hanya sedang memikirkan banyak hal saja.”