Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Rindu Keluarga Hingga Harapan Sekolah
Fara sedang menuruni tangga saat matanya menangkap Zara yang berjalan agak tergesa sambil membawa dua kotak bingkisan kecil. Kotaknya berwarna putih bersih, diikat pita merah muda lembut dan ada gambar kelinci lucu yang tercetak rapi — terlihat sederhana tapi hangat, tidak berlebihan.
Rasa penasaran mendorongnya mempercepat langkah dan memanggil dari kejauhan: “Zara, tunggu sebentar! Kau mau pergi ke mana bawa barang itu?”
Zara segera berhenti dan menoleh, wajahnya berseri-seri menyambutnya dengan senyum ramah. “Ini, Kak Fara,” jawabnya lembut. “Aku mau ke rumah sakit menjenguk Ayah, sekalian bawa makanan buat Ibu dan adikku. Oh ya, sebelum lupa bilang — tadi aku sempat masak sedikit di dapur, jadi kalau Kak Fara lapar nanti, silakan saja dimakan apa adanya.” Setelah itu ia melambaikan tangan sebentar dan segera berjalan lagi melanjutkan perjalanannya.
Fara hanya memandang punggungnya menghilang, lalu perutnya terasa sedikit kosong. Ia pun berjalan menuju dapur, dan saat tiba di sana, matanya langsung tertuju ke meja — hidangan yang masih mengepul hangat tergeletak rapi, baunya menyebar lembut mengundang selera. Tanpa berpikir panjang, ia duduk dan mencobanya, lalu mengakui dalam hati: Rasanya jauh lebih enak dan hangat daripada makanan yang biasa disajikan di tempat mewah ini.
Di depan rumah sakit, mobil hitam mengkilap berhenti perlahan. Begitu turun, wajah Zara langsung bersinar — hatinya penuh harapan dan rindu. Ia berjalan cepat menuju ruang rawat ayahnya, lalu duduk menunggu di luar ruang perawatan intensif dengan jantung berdebar kencang. Tak lama kemudian, adiknya keluar dari kamar mandi, dan begitu melihat kakaknya berdiri di sana, matanya terbelalak tak percaya. Rindu yang selama ini tertahan langsung meledak, ia berlari mendekat sambil memeluk tubuh Zara erat-erat sambil terisak.
“Kakak! Kenapa pergi begitu lama saja? Ibu dan aku kangen sekali — Ibu sampai jarang mau makan karena terus memikirkan keadaanmu,” katanya dengan suara terbata-bata.
Zara membalas pelukan itu lembut, mencium puncak kepala adiknya sambil air mata bahagia menetes perlahan. “Maafkan Kakak ya, Dik. Kakak tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Di mana Ibu sekarang?”
“Ibu ada di dalam,” jawab adiknya pelan.
Namun saat Zara hendak melangkah masuk, pintu terbuka dan ibunya keluar. Seketika raut wajahnya berubah — dari kaget menjadi tegang, lalu ia berjalan mendekat dan suaranya tiba-tiba meninggi, penuh emosi yang campur aduk: “Kenapa kau datang ke sini? Pergi saja sana! Hidup enak dan mewah itu menyenangkan bukan? Lalu mengapa kembali lagi ke tempat yang hanya membawa kesusahan ini?”
Zara hanya menatapnya dengan mata mulai berkaca-kaca, senyum tipisnya pudar tertahan rasa sakit dan kecewa. Dalam hatinya ia bergumam lirih: Apakah Ibu benar-benar membenciku sekarang? Perlahan ia mundur dua langkah, lalu berbalik hendak pergi dengan hati yang hancur.
Namun sesaat setelah itu, kesadaran kembali menyergap hati ibunya. Ia baru sadar betapa kejam kata-katanya tadi, dan rasa bersalah menyayat hatinya seketika. “Apa yang baru saja aku katakan? Bagaimana bisa aku menyakiti putriku sendiri?” gumamnya, lalu segera berlari mengejar sambil berteriak pelan: “Tidak, Nak! Jangan pergi — Ibu minta maaf!”
Mendengar suara itu, Zara langsung berhenti dan menoleh. Ibunya segera memeluk tubuhnya erat sekali, seolah tak ingin melepaskannya lagi, sambil menangis terisak: “Maafkan Ibu ya, Putriku. Ibu tahu kau pasti menanggung beban berat dan hidup dalam ketakutan selama ini. Ibu lemah, tak mampu melindungimu, malah membiarkanmu terjebak dalam situasi sulit ini. Sungguh Ibu merasa gagal menjadi orang tua yang baik.”
Zara mengusap lembut punggung ibunya, mencoba menenangkannya dengan suara yang tulus: “Jangan bicara begitu, Bu. Lihatlah, aku baik-baik saja kok. Ibu adalah anugerah terbaik yang Tuhan berikan padaku. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri, ya.” Suasana itu terasa begitu menyentuh sampai orang-orang yang lewat pun sempat melirik dan tersenyum haru.
Setelah agak tenang, ibunya memegang bahu Zara, menatap wajahnya dengan pandangan penuh kekhawatiran: “Apakah ada yang menyakitimu? Tunjukkan tanganmu biar Ibu lihat.”
“Aku sungguh sehat dan kuat, Bu, percayalah padaku,” jawab Zara sambil tersenyum meyakinkan.
Namun kekhawatiran itu tak hilang begitu saja: “Nak… Pria itu memperlakukanmu dengan baik kan? Jangan ragu bilang kalau dia berbuat semena-mena. Ingat pesan Ibu: meski dia terlihat berkuasa dan berjanji melindungi, kau tetap harus waspada. Jangan biarkan kebaikan hatimu membuatmu terlalu polos dan mudah dimanfaatkan. Kau harus selalu menjaga diri, mengerti?” Ia mengusap lembut pipi putrinya dan melanjutkan pelan: “Dan percayalah — Ibu takkan pernah membenci putriku sendiri. Tadi hanya tak sanggup melihatmu menderita sendirian.”
Zara mengangguk mengerti, lalu berkata lembut: “Terima kasih atas nasihat dan kasih sayang Ibu. Sekarang bolehkah aku menjenguk Ayah?”
“Tentu saja, Nak. Mari kita masuk bersama,” jawab ibunya lembut. Zara pun melangkah masuk ke ruang rawat ditemani mereka, hatinya terasa lebih tenang meski masih menyimpan banyak tanya soal masa depannya.
Menjelang pukul tujuh malam, Zara kembali tiba di kediaman itu. Begitu melangkah masuk, matanya melihat Adrian berdiri di ujung tangga, perlahan turun menghampirinya. Jantung Zara langsung berdegup kencang — ia berhenti dan menunduk sedikit di hadapannya. Tatapan Adrian terasa dingin dan tajam saat ia bicara: “Segera mandi dan bersihkan diri, lalu datang ke kamarku.” Setelah itu ia berbalik dan naik kembali ke lantai atas.
Dalam hati Zara bergumam gelisah: Apakah aku melakukan kesalahan hari ini? Mengapa dia terlihat begitu serius? Apakah marah karena aku pergi agak lama? Dengan perasaan cemas, ia segera berjalan cepat menuju kamarnya.
Setelah mandi dan merapikan diri, ia mengenakan gaun warna merah muda lembut yang terlihat anggun dan manis. Potongannya sederhana tapi pas di tubuhnya, bahannya jatuh halus, ada sedikit hiasan manik tipis yang berkilau pelan saat terkena cahaya — tidak berlebihan, hanya membuatnya terlihat lebih segar dan anggun.
Dengan langkah ragu, ia berjalan menuju pintu kamar Adrian. Belum sempat mengetuk, pintu itu terbuka sendiri. Adrian berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih bersih berbahan halus, dipakai santai tapi tetap terlihat gagah dan berwibawa — lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan pergelangan tangan kokohnya, dipadukan celana hitam yang pas.
“Masuklah,” katanya singkat tapi tegas.
Begitu melangkah masuk, Zara tertegun melihat kamar itu — luas, megah, dan terasa hangat meski bernuansa gelap. Cahaya lampu tersembunyi memancarkan kilau keemasan lembut, menerangi tempat tidur besar dan jendela kaca raksasa yang memamerkan pemandangan lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Semuanya terasa mewah tapi tidak kaku, mencerminkan sosok pemiliknya.
Adrian menutup pintu pelan, lalu berjalan mendekatinya perlahan. Zara merasakan jantungnya makin berdegup cepat saat ia berdiri tepat di hadapannya — begitu tinggi, wajahnya begitu tampan, tatapannya dalam tapi tetap menyimpan banyak rahasia.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Adrian sambil sedikit menunduk agar pandangan mereka sejajar.
Zara segera memalingkan wajah, gugup, lalu menjawab terbata: “Ti… tidak ada apa-apa, Tuan.”
Mendengar itu, Adrian langsung berbicara tegas: “Mulai sekarang jangan panggil aku seperti itu lagi.”
Zara mengangguk cepat, lalu menjawab pelan: “Baik… Kak Adrian.”
Adrian mengangguk pelan, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menatapnya tenang namun tajam: “Setelah memeriksa data dirimu, aku baru tahu satu hal: usiamu belum genap delapan belas tahun, dan seharusnya saat ini kau masih duduk di kelas tiga SMA. Dugaan aku benar — karena Ayahmu sakit dan keuangan keluarga sulit, kau terpaksa berhenti sekolah. Katakan padaku: apakah kau masih ingin melanjutkan pendidikanmu?”
Mendengar pertanyaan itu, mata Zara langsung berbinar penuh harapan, dan ia menjawab dengan suara lantang dan tulus: “Ya! Aku sangat ingin sekali, sungguh-sungguh ingin melanjutkan sekolah lagi.”
Adrian menatapnya sebentar, lalu melanjutkan dengan nada tegas tapi tidak kasar: “Baiklah. Aku akan mengurus semuanya — buat dokumen yang sesuai, daftarkan ke sekolah terbaik, dan pastikan tak ada yang mengganggu belajarmu. Tapi ada satu syarat yang harus kau pegang teguh: jangan pernah ceritakan status pernikahan ini kepada siapa pun. Rahasia ini harus tetap terjaga demi kebaikan kita berdua, mengerti?”
“Aku mengerti dan akan menjaganya sebaik mungkin,” jawab Zara sambil menunduk hormat.
Begitu keluar dari kamar Adrian, wajah Zara langsung bersinar — senyum lebar tak bisa ditahan, hatinya terasa ringan dan penuh harapan baru. Ia segera berjalan menuju dapur dengan semangat, ingin menyiapkan santapan malam dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Namun dari balik sudut ruang tamu, sepasang mata mengamati kepergiannya dengan penuh rasa ingin tahu. Itu Fara — ia mengerutkan kening pelan dan bergumam dalam hati: Apa yang terjadi tadi? Kenapa dia terlihat begitu bahagia dan berseri-seri seperti itu?