Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Sisa bara api unggun yang berderak pelan melemparkan kilatan cahaya keemasan yang hangat, menerpa siluet tegak Millian Vale-Knight yang perlahan kian merunduk.
Jarak di antara wajah mereka terkikis habis hingga Scarlett bisa merasakan deru napas hangat Millian menyapu permukaan kulit pipinya yang mendingin akibat angin malam.
Aroma maskulin khas pria itu—perpaduan antara wangi kayu pinus dan aroma samar maskulin yang tegas—seketika mengunci seluruh pasokan oksigen di sekitar mereka.
Scarlett, yang biasanya memiliki sejuta kalimat sarkastis untuk mematikan langkah lawan bicaranya, mendadak membeku.
Jemarinya yang tersembunyi di balik saku jaket hijau botolnya mulai terasa gugup dan sedikit gemetar seiring dengan kian dekatnya paras tampan Millian.
Dari jarak sedekat ini, visual sang pangeran Bel Air itu terlihat begitu sempurna tanpa celah; pahatan rahangnya yang tegas, hidung mancungnya yang tinggi, hingga sepasang manik mata heterochromi yang kini meredup intens penuh daya pikat.
Di dalam hatinya yang terdalam, Otak cerdas Scarlett mendadak mengalami korsleting masal.
Tunggu... apa ini? Apa ini langkah-langkah nyata dari sebuah proses berciuman? batinnya berteriak panik, sementara jantungnya bertalu-talu dengan ritme gila yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Millian perlahan mulai memejamkan kedua kelopak matanya, membiarkan insting alamiah pria normal membimbingnya untuk merasakan permukaan bibir mungil yang beberapa menit lalu begitu ingin ia jajahi.
Namun, tepat ketika jarak di antara belahan bibir mereka hanya tersisa kurang dari dua sentimeter—
Plak!
Sebuah tamparan yang cukup nyaring mendarat dengan telak dan kecepatan tinggi tepat di atas permukaan dahi rata Millian.
Millian yang sudah bersiap merasakan sensasi ciuman pertamanya seketika tersentak hebat.
Matanya langsung terbuka lebar, memancarkan binar syok, tidak percaya, dan mati kutu yang luar biasa dahsyat saat menyadari dahinya baru saja ditimpuk oleh telapak tangan mungil milik Scarlett Langford.
Pria itu memundurkan kepalanya satu langkah, memegang dahinya yang kini terasa sedikit panas sembari menatap Scarlett dengan pandangan menuntut penjelasan yang sangat tajam.
"Apa?!" tanya Millian dengan nada baritonnya yang meninggi, sarat akan rasa frustrasi yang bercampur aduk dengan rasa heran.
Scarlett menarik kembali tangannya dengan gerakan sealami mungkin, meski di dalam dadanya ia sedang bernapas lega karena berhasil lolos dari jebakan atmosfer romantis gila tadi.
Dengan cepat, ia mengarahkan kedua telapak tangannya ke udara, membuat gerakan menepuk berulang kali seolah-olah ia sedang berburu makhluk kecil yang tak kasatmata.
"Nyamuk!" jawab Scarlett dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar sangat polos namun tegas.
"Wah... wah... di sekitar sini ternyata banyak sekali nyamuk liar malam hari, Tuan Senior. Kau lihat itu yang baru saja terbang di dekat wajahmu? Bukankah itu tadi seekor nyamuk hutan berukuran sangat besar?"
"Pffftttt—Hahaha!"
Suara ledakan tawa yang sangat renyah dan tidak tahu malu mendadak menggema dari arah kegelapan tak jauh di belakang mereka.
Arthur dan James rupanya sejak tadi belum sepenuhnya kembali ke tenda mereka, dan pemandangan tragis di mana seorang Millian Vale-Knight ditolak dengan alasan "nyamuk" benar-benar menjadi hiburan termegah bagi kedua buaya Bel Air tersebut di penghujung malam terakhir perkemahan.
Millian melirik tajam ke arah kegelapan tempat kedua sahabatnya menertawakannya, sebelum kembali mengunci tatapannya pada Scarlett yang kini sudah mulai memundurkan langkahnya dengan senyuman kemenangan yang menyebalkan.
Seringai berbahaya perlahan terukir di bibir tegap Millian, menggantikan rasa syoknya yang sempat bertahan beberapa detik lalu.
"Sialan kau, Langford," desis Millian dengan kilat mata yang mendadak berubah menjadi sangat kompetitif dan penuh gairah jenaka.
"Ya... aku adalah nyamuk hutan itu sekarang. Dan aku pastikan, aku akan mengejar dan menghisap habis darahmu malam ini, Scarlett!"
Mendengar ancaman gila yang meluncur lancar dari mulut sang Kadal Gurun, Scarlett langsung membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat.
Ia tertawa lepas, melarikan diri dengan langkah seribu memotong rerumputan tebal lapangan, berlari cepat ke arah kompleks tenda putri sebelum berandal itu benar-benar berhasil menangkap figurnya.
"Aku akan menangkapmu, Scarlett!" teriak Millian penuh semangat, meluncurkan tubuh tegapnya untuk mengejar siluet hijau botol yang berlari zig-zag di depannya.
Aksi kejar-kejaran yang penuh dengan tawa renyah dan pekikan kecil pun memecah kesunyian area perkemahan yang mulai meredup.
Tubuh tinggi besar Millian yang terbiasa dengan latihan fisik balap mobil tentu saja jauh lebih cepat.
Dalam hitungan detik, langkah panjangnya berhasil memangkas jarak.
Grep!
Sepasang lengan kekar Millian berhasil melingkar di sekeliling pinggang ramping Scarlett dari arah belakang.
Tanpa memberikan jeda, Millian mengangkat tubuh mungil Scarlett ke udara, memutar tubuh gadis itu berulang kali dengan gerakan melingkar yang sangat bertenaga, persis seperti seorang kakak laki-laki yang sedang menjahili adik kecil kesayangannya di pekarangan rumah.
"Ahhhh! Turunkan aku, Vale-Knight! Aku pusing, Honey!" jerit Scarlett di sela tawanya, memukul-mukul pundak tegap Millian karena kepalanya mendadak terasa berputar akibat rotasi gila tersebut.
"Tidak akan kubiarkan kau lolos setelah menimpuk dahiku, Malaikat Maut!" balas Millian penuh kemenangan.
Namun, karena kehilangan keseimbangan akibat permukaan tanah yang tidak rata dan rerumputan tebal yang licin oleh embun malam, kedua kaki Millian mendadak tersangkut.
Tubuh tinggi besarnya oleng ke depan, menarik ikut serta tubuh Scarlett dalam pelukannya hingga mereka berdua jatuh terjerembab bersamaan di atas hamparan rerumputan tebal yang empuk.
Bukh.
Hantaman jatuh itu tidak terasa sakit karena tebalnya rumput perkemahan.
Dalam posisi jatuh yang acak, kepala Scarlett mendarat dengan pas di atas permukaan lengan kanan tegap Millian yang secara instan bertindak sebagai bantalan darurat untuk melindungi kepalanya dari benturan tanah.
Keduanya terengah-engah, dengan pasokan napas yang naik turun memotong udara malam yang semakin membeku.
Mereka tertidur telentang di sana, berdampingan di atas karpet alam, membiarkan sepasang mata mereka menatap lurus ke arah hamparan ribuan bintang yang berkilau dengan megah di atas langit hitam pekat California.
Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat hening dan magis.
Suara tawa James dan Arthur di kejauhan perlahan memudar, menyisakan deru angin gunung yang lembut dan kehangatan tubuh mereka yang saling menyalurkan energi di atas tanah yang dingin.
Millian memalingkan kepalanya ke sisi kiri, menatap profil samping wajah Scarlett yang tampak berkilau diterpa cahaya bulan.
Sisa-sisa napas Scarlett yang masih ngos-ngosan membuat dadanya naik turun dengan ritme yang teratur.
Detik itu juga, pesona alamiah yang terpancar dari keteguhan figur Scarlett kembali meruntuhkan seluruh akal sehat yang Millian miliki.
Mengabaikan fakta bahwa teman-teman atau mahasiswa lainnya mungkin saja bisa melintas dan melihat posisi intim mereka dari kejauhan, Millian dengan gerakan yang sangat halus perlahan membalikkan posisi tubuh tegapnya.
Pria itu menggeser figurnya hingga kini ia sudah berada tepat di atas tubuh Scarlett, mengurung gadis beasiswa itu di bawah dominasi mutlak bayangannya.
Kedua telapak tangannya bertumpu di sisi kiri dan kanan kepala Scarlett, sementara sepasang manik mata heterochromia-nya memancarkan keseriusan romantis yang teramat dalam.
Scarlett menahan napasnya, sepasang mata indahnya melebar menatap wajah Millian yang kini kembali mendekat dengan ritme yang jauh lebih tenang dan pasti daripada sebelumnya.
Kali ini, tidak ada ruang untuk lelucon tentang nyamuk.
Tidak ada taring pertahanan diri yang bisa mencuat.
Keindahan atmosfer malam dan kedekatan emosional yang terbangun selama beberapa hari ini seolah-olah telah melelehkan seluruh ego mereka.
Ketika belahan bibir tegap Millian akhirnya mendarat lembut di atas permukaan bibir mungil Scarlett, waktu di sekeliling mereka seakan berhenti berputar.
Itu adalah sebuah sentuhan yang teramat lembut pada awalnya—sebuah pengenalan rasa yang sangat asing namun mendebarkan bagi dua manusia yang sama-sama memegang status belum pernah merasakan ciuman seumur hidup mereka.
Namun, seiring dengan detak jantung mereka yang kian bertalu gila, ciuman itu perlahan mulai berubah intens, dalam, dan dipenuhi oleh kehangatan emosi terpendam yang mendadak meledak panas di tengah dinginnya malam perkemahan.
Millian memperdalam ritme sentuhannya, sementara jemari kecil Scarlett tanpa sadar mulai meremas kain kaos hitam di pundak Millian, tenggelam sepenuhnya dalam sensasi romantis yang memabukkan.
Namun, tepat ketika atmosfer di antara mereka kian memanas dan berada di ambang batas kesadaran penuh—
Millian mendadak menarik kembali kepalanya dengan sentakan cepat, seolah-olah baru saja tersengat oleh kejutan listrik realitas.
Napasnya memburu parau, dan sepasang matanya berkedip panik menyaksikan bagaimana bibir mungil Scarlett yang kini tampak sedikit basah dan memerah akibat perbuatannya.
Kesadaran sebagai seorang pria dari klan Knight seketika menghantam benaknya.
"Maafkan aku..." ucap Millian dengan nada suara bariton yang serak dan bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa sesal dan kecanggungan yang luar biasa besar.
"Aku... aku benar-benar kelepasan tadi, Scarlett."
Dengan gerakan yang terburu-buru dan gugup, Millian segera bangkit berdiri dari atas tubuh Scarlett. Ia mengulurkan tangannya, membantu membangunkan Scarlett dari posisi berbaringnya di atas rumput.
Setelah gadis itu duduk tegak, dengan jemarinya yang masih sedikit gemetar, Millian membantu merapikan kerah jaket hijau botol milik Scarlett yang sempat sedikit berantakan, mencoba menutupi rasa kikuknya yang kian menggunung.
Scarlett sendiri hanya bisa terdiam seribu bahasa saat dibangunkan oleh Millian.
Sepasang matanya menatap kosong ke arah sisa bara api di kejauhan dengan napas yang masih tersengal pendek.
Di dalam kepalanya yang cerdas, sebuah badai kebingungan yang sangat besar sedang berkecamuk hebat.
Gila... gila... apa yang baru saja kuizinkan untuk terjadi di atas rumput ini? batin Scarlett berteriak histeris, sementara sentuhan hangat dari ciuman pertama mereka seolah-olah masih tertinggal dan membakar permukaan bibirnya di bawah saksi bisu hamparan bintang malam itu.
Sandiwara palsu di antara mereka tampaknya baru saja melintasi sebuah garis batas nyata yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali mulai esok hari.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣