NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 : Kedatangan di Pagedongan

Perjalanan membelah jalur darat menuju arah Wetan terbukti membutuhkan ketahanan fisik yang tidak mudah. Setelah menghabiskan waktu sekitar enam jam terombang-ambing di dalam bus malam ekonomi yang pengap menembus kegelapan fajar, Bagus akhirnya diturunkan saat semburat merah langit timur baru saja menyingsing. Ia mendarat di sebuah pertigaan jalan aspal yang sudah mulai mengelupas di pinggiran wilayah Tegal Pelosok. Dari titik pertigaan sepi yang masih diselimuti kabut subuh itu, ia masih harus melanjutkan perjalanan darat dengan menumpang mobil bak terbuka milik warga lokal, menembus jalur perbukitan yang terjal, berkelok-kelok tajam, dan dikelilingi oleh rimbunan pohon bambu petung yang tumbuh lebat di sisi kanan dan kiri jalanan tanah.

Matahari pagi baru saja meninggi memancarkan cahaya hangat yang bersih ketika roda mobil bak terbuka itu akhirnya berhenti di sebuah area pelataran tanah merah yang luas. Di depan pandangan mata Bagus setelah menempuh satu jam perjalanan berliku yang melelahkan, terbentang sebuah papan kayu jati tua yang digantung menggunakan rantai besi berkarat, bertuliskan guratan nama yang samar: Desa Pagedongan. Suasana di desa terpencil ini terasa sangat sunyi, damai, namun memancarkan aura sakral yang sangat pekat menyerupai atmosfer zaman kerajaan kuno. Udara pegunungan yang sejuk berhembus menusuk pori-pori kulit, membawa aroma tanah basah dan wewangian bunga kenanga yang tumbuh liar di pekarangan rumah-rumah panggung milik warga setempat.

Sinar emas waktu Dhuha menyinari langkah kaki Bagus yang berjalan perlahan menyusuri jalanan setapak berbatu, mengikuti petunjuk arah alamat yang tertera di selembar kertas resi pemberian Kyai Ahmad. Kabut pagi yang perlahan terangkat oleh hangatnya matahari menemani perjalanannya selama hampir tiga puluh menit membelah desa, hingga langkah kakinya akhirnya terhenti di depan sebuah kompleks bangunan Joglo kuno yang sangat luas tanpa pagar pembatas. Di bagian tengah pekarangan luarnya, terdapat sebuah surau kayu sederhana yang atapnya terbuat dari anyaman ijuk hitam. Tempat itulah yang menjadi tujuan utamanya, kediaman dari praktisi spiritual kharismatik bernama Ki Ageng Buana.

Di  depan rumah Joglo tua yang berdinding kayu jati tebal berkulit gelap, tampak seorang pria lansia sedang duduk bersila dengan tenang di atas selembar tikar pandan, menikmati kehangatan pagi. Pria tua itu mengenakan pakaian setelan kain hitam khas pesilat tradisional Jawa kuno, lengkap dengan selembar kain ikat kepala atau blangkon motif batik parang yang sudah memudar warnanya. Meskipun rambut, kumis, dan jenggotnya telah memutih seluruhnya dimakan usia yang senja, namun pancaran dari sepasang mata Ki Ageng Buana tampak sangat tajam, bersih, bersinar terang, dan mengunci pandangan saraf siapa pun yang berani menatapnya langsung.

Bagus melangkah maju dengan sangat hati-hati penuh rasa takzim. Ia membungkukkan badannya rendah-rendah, lalu berlutut di lantai selasar kayu yang hangat terpapar cahaya pagi. "Assalamu'alaikum, Ki. Nama saya Bagus. Saya adalah santri yang diutus langsung oleh Kyai Ahmad dari kota untuk menghadap ke tempat Anda," ucap Bagus dengan nada suara yang sangat santun dan bergetar halus menahan rasa lelah fisik setelah menempuh perjalanan enam jam dari kota.

Bagus kemudian merogoh saku bajunya, mengambil kertas resi usang dari Kyai Ahmad, lalu menyerahkannya dengan kedua telapak tangan terbuka di hadapan sang orang tua. Ki Ageng Buana tidak langsung mengambil kertas tersebut. Beliau hanya menatap kertas usang itu selama beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan matanya yang tajam langsung menusuk ke titik tengah dahi Bagus, seolah-olah sedang membaca seluruh lembaran catatan kelam masa lalu, sisa energi pelet hitam, dan penyesalan yang tersimpan di dalam memori otak pemuda ojol tersebut.

"Wa'alaikumussalam, Anak Muda," jawab Ki Ageng Buana dengan nada suara yang sangat berat, berwibawa, namun terdengar sangat bergetar dalam hingga menggetarkan udara di selasar rumah. Beliau perlahan mengambil kertas resi tersebut dengan jarinya yang kokoh. "Ahmad sahabat lamaku sudah menceritakan segalanya tentangmu lewat isyarat batin sebelum ragamu menginjakkan kaki di tanah Pagedongan ini. Jiwamu bener-bener telah melewati badai kegelapan yang sangat pekat akibat urusan nafsu duniawi."

Bagus menundukkan kepalanya semakin dalam ke arah lantai selasar, rasa bersalah dan malu seketika kembali mendera dadanya di bawah terang benderang cahaya Dhuha. "Benar, Ki. Saya telah berbuat syirik dan merusak hidup orang lain demi memuaskan ambisi dendam saya yang buta. Saya datang kesini dengan kepasrahan mutlak, mohon bimbingan Anda agar saya bisa membersihkan sisa kotoran maksiat ini dan menimba ilmu spiritual yang sejati melalui jalur yang benar."

Ki Ageng Buana terkekeh sangat rendah, sebuah suara tawa kebapakan yang terdengar sangat meneduhkan hati Bagus, jauh berbeda dengan suara tawa dingin yang menusuk milik Ki Demang tempo hari. Beliau bangkit berdiri dari posisi bersilanya dengan gerakan tubuh yang masih sangat tegap dan gesit layaknya seorang jawara muda. Beliau menepuk pelan pundak kanan Bagus.

"Pertobatanmu yang tulus di pesantren Ahmad telah menyelamatkan nyawamu dari hantaman balik kutukan Jaran Goyang itu, Bagus," ujar Ki Ageng Buana sembari mengarahkan pandangannya ke ujung perbukitan bambu yang mulai terang disengat matahari pagi. "Namun, pembersihan batin itu barulah langkah awal pemanasan. Di tempat terpencil Pagedongan ini, kamu tidak akan menemui kemudahan dunia digital kota. Mulai pagi ini, kamu akan memulai pendidikan spiritualmu yang sesungguhnya di bawah bimbinganku. Kamu akan digembleng tanpa ampun untuk mendalami tiga pilar utama jalur langit: ilmu syariat yang kokoh sebagai hukum lahiriahmu, ilmu hikmah yang sejati untuk memahami rahasia energi alam, serta ilmu tasawuf yang mendalam untuk membunuh habis ego kesombongan manusiamu. Apakah kamu bener-bener sudah siap lahir dan batin, Bagus?"

Mendengar tantangan besar tersebut, Bagus mendongakkan kepalanya dengan sepasang mata yang kini memancarkan kilat tekad yang membara kuat. "Saya bener-bener sudah siap, Ki. Lahir dan batin saya serahkan sepenuhnya untuk digembleng di sini," jawab Bagus dengan nada suara yang lantang dan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun lagi.

Ki Ageng Buana mengangguk puas, lalu mengizinkan Bagus untuk meletakkan tas ransel usangnya di dalam sebuah kamar kayu kecil di sudut kompleks Joglo. Meskipun tubuhnya didera kelelahan ekstrim setelah menempuh perjalanan bus malam yang panjang, pancaran cahaya pagi di tanah Wetan yang sakral ini seolah memberikan energi baru bagi sukmanya. Di bawah langit Pagedongan yang bersih, proses penempaan jiwa seorang mantan kurir ojol untuk menjadi seorang ksatria spiritual jalur putih resmi dimulai pada waktu Dhuha yang berkah ini di bawah naungan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ketika langkah kakimu berani meninggalkan hiruk-pikuk duniawi demi menjemput ilmu luhur di bawah hangatnya cahaya pagi yang terasing, kau sedang membuka gerbang bagi sebuah metamorfosis jiwa yang agung. Bersiaplah ditempa di dalam kawah penyesalan, agar ragamu menjelma menjadi benteng cahaya yang tak tertembus.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!