NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Hari ini, Arslan dijadwalkan menghadiri rapat penting bersama jajaran direksi di perusahaannya. Para pimpinan cabang dari berbagai kota turut hadir, memenuhi ruang rapat untuk membahas keputusan besar yang akan menentukan arah bisnis ke depan.

Arslan datang lebih awal dari biasanya. Namun pagi itu terasa berbeda.

Sejak tadi, kepalanya berdenyut hebat. Secangkir kopi hangat yang biasa menjadi penyelamatnya, kini terasa hambar, bahkan tak mampu meredakan rasa pening yang terus mengganggu. Wajah tampannya tampak lebih pucat dari biasanya, sorot matanya sayu. Malam yang penuh gejolak telah merenggut waktu istirahatnya, membuat tubuhnya terasa berat untuk sekadar memulai hari.

Dengan langkah perlahan, Arslan berjalan menuju ruang rapat di lantai sepuluh. Rasa nyeri yang menjalar di kepalanya membuat setiap langkah terasa semakin berat. Beruntung, jarak antara ruangannya dan lift tidak terlalu jauh.

Ia memasuki lift seorang diri.

Sunyi. Hanya suara napasnya yang terdengar samar di dalam ruang sempit itu.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam yang belum sepenuhnya ia cerna.

Ting...

Denting lift berbunyi, memecah lamunannya.

Arslan tersentak pelan.

Ia menarik napas dalam, lalu merapikan jasnya. Dengan cepat, ia mengubah ekspresi wajahnya menyembunyikan rasa lelah dan sakit yang masih menggerogoti. Tak ada ruang untuk terlihat lemah.

Hari ini, ia bukan hanya seorang pria yang sedang dilanda konflik batin. Ia adalah seorang pemimpin.

Dengan langkah tegap, Arslan berjalan keluar dari lift. Setiap geraknya kembali menunjukkan wibawa, tegas, dan penuh kendali.

Ia membuka pintu ruang rapat.

Ruangan berkapasitas dua puluh orang itu telah tertata rapi dengan model meja berbentuk U. Seluruh jajaran direksi telah duduk di tempat masing-masing, menyambut kedatangannya dengan sikap hormat.

Suasana seketika menjadi lebih formal. Lebih hening. Semua mata tertuju padanya.

Vania, sang sekretaris, segera menghampiri dan membantu menarikkan kursi untuknya. Arslan duduk di kursi utama—posisi tertinggi di ruangan itu.

Namun tak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan wajahnya, ia masih menyimpan badai yang belum reda. Tak lama kemudian, rapat pun dimulai. Suara presentasi mulai terdengar.

"Kok mukanya pucat gitu Bos, nggak ganteng kayak biasanya." Celetuk Rian yang tiba-tiba mengomentari penampilan Arslan. 

"Pasti lagi puyeng banget ya mikirin semalam." 

Rian terkikik geli seolah masalah yang membelit Arslan di anggap sebagai lelucon. Sementara Arslan di buat geram dengan kelakuan sepupunya yang selalu menyebalkan. Kalau bukan karna Pamannya, Arslan enggan menjadikan Rian sebagai pemimpin di salah satu cabang perusahaanya. Entahlah, padahal Rian sudah memiliki dua orang anak tapi sifatnya tetap kekanakan. Sementara Arslan yang terlihat lebih matang malah tak kunjung diberi keturunan. Arslan menggeleng keras, ia benar-benar tak mau lagi memikirkan hal itu. Ia sudah berjanji tidak akan lagi membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.

"Bisa diam!! Kita sedang rapat." Arslan mendelik tajam membuat mulut Rian seketika terbungkam.

"Kabarin ya kalau butuh mata-mata, mumpung dia udah balik ke Indonesia." Rian berbisik seolah memberi kode kalau dirinya siap dijadikan mak comblang lagi. Namun Arslan enggan menggubris ucapan sepupunya itu. Arslan sudah mengenal siapa Rian, dia memang seperti itu sukanya menggoda dan membuat Arslan kesal. Tapi biar bagaimanapun juga Rian adalah salah satu orang kepercayaan Arslan karna Rian memiliki kinerja yang bagus dan berintegritas tinggi.

Ruang rapat masih dipenuhi kesibukan, tiap-tiap departemen mulai mempresentasikan hasil kerjanya. Arslan berusaha fokus dan menyimak namun rasa sakit di kepalanya kian menjalar hinggga membuat keringatnya bercucuran.

"Aku tidak bisa lagi menahannya, aku butuh obat." katanya dalam hati. 

Rian yang melihat kakak sepupunya merintih kesakitan langsung panik,

"Gue panggil dokter sekarang, ya? Muka lo pucat banget, badan lo juga anget." Rian bisa merasakan itu setelah menyentuh kening Arslan.

"Nggak perlu. Gue cuma butuh obat dan istirahat aja." Arslan menolak. "Tolong ganti posisi gue mimpin rapat hari ini. Kalo uda selesai langsung ke ruangan gue." Perintah Arslan. Rian langsung menyuruh Vania, sekretaris Arslan untuk mendampingi Arslan menuju ruangannya dan memerintahkannya untuk menyiapkan obat. 

Rapat yang sempat terjeda kembali berjalan. Sesuai intruksi Arslan, Rian menjadi pemimpin rapat hari ini. Di sisi lain Arslan yang sudah sampai ke ruangan kerjanya langsung berbaring di sofa. Vania menyiapkan obat sakit kepala yang sudah ia siapkan di kotak P3K.  Arslan bangkit dari tidurnya sejenak, lalu  meminum obat yang di sodorkan oleh Vania. Obat yang bisa   meredakan nyeri di kepalanya. 

"Kalau sakit kepalanya belum sembuh-sembuh, kita ke Rumah sakit aja ya, Pak!" Ujar Vania khawatir. 

"Iya. Tapi saya mau istirahat dulu. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan saya kecuali Rian." Perintah Arslan,  Vania pun menggangguk dan meninggalkan atasannya yang sudah tertidur di sofa. 

Tak terasa dua jam pun berlalu, rapat itu selesai. Rian segera membereskan berkas-berkas hasil rapatnya, ia bergegas menuju ruangan Arslan untuk melaporkan hasil rapat hari ini. Pintu sudah Rian ketuk, pria yang memiliki perawakan nyaris serupa seperti Arslan duduk di sofa tepat di hadapan Arslan. Sebenarnya Rian enggan mengganggu Arslan yang sedang tertidur pulas, namun tiba-tiba Arslan terbangun dengan sendirinya. Mungkin Arslan menyadari kalau ada seseorang yang menunggunya. 

"Kalau masih ngantuk, tidur aja lagi!" ujar Rian, namun Arslan memilih bangkit dari tidurnya. Arslanan mengurut tengkuknya yang terasa menegang dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri. 

"Gimana hasil rapatnya?" Tanya Arslan yang sudah terlihat membaik.  

"Ini." Rian memberinya setumpuk berkas yang berisi data-data. "Sejauh ini nggak ada masalah, semua baik-baik aja." Lanjut Rian. 

"Masih sakit kepalanya?" tanya Rian.

"Udah mendingan." Jawab Arslan. 

"Hampir aja mau gue panggilin dokter Fathiya." 

"Jangan macam-macam!!" Lagi-lagi Arslan dibuat kesal.

"Cuma bercanda kok!" Rian berkelakar. 

"Jadi gimana?" tanya Rian dengan pertanyaan ambigunya. 

"Apanya yang gimana?" Arslan mengernyit bingung. 

"Udah siap punya istri dua?" Tiba-tiba Arslan menarik napas kasar, kali ini Arslan tak segan menunjukkan amarahnya. 

"Kalau elo cuma mau nambah-nambahin masalah mending keluar!" 

"Tenang Bro!! Nggak usah marah-marah gitu!! Lagian mana mau juga Fathiya dimadu." kata Rian mencoba mencairkan suasana. 

"Lo pikir istri gue juga mau di madu!!" Arslan membalas ucapan Rian. Namun Rian hanya tertawa. 

"Lama-lama nyebelin juga ya lo, kayak nyokap lo." lanjut Arslan menunjukkan kekesalannya.

"Jangan samain gue sama dia. Nyokap gue seribu kali lebih menyebalkan dari hal apapun di dunia ini." cetus Rian. 

"Lagian lo ngapain bahas-bahas masalah kayak gitu!!" Seru Arslan.

Rian mendekati Arslan dan menepuk-nepuk bahunya. "Karna gue tau lo lagi punya masalah yang cukup berat. Masalah rumah tangga  dan juga masalah orang tua lo, iya kan." 

"Kenapa tiba-tiba Fathiya kembali ke Indonesia?" Lama-lama Arslan penasaran juga, namun melihat mimik wajah menyebalkan Rian membuat Arslan kembali berceloteh, "Cuma nanya aja, jangan mikir yang aneh-aneh." 

"Lagian siapa juga yang mau mikir yang aneh-aneh." ketus Rian. Dan Rian mulai bercerita.

"Fathiya habis patah hati, tunangannya habis ngehamilin cewek lain." Tiba-tiba saja Arslan tersedak minuman yang baru ia teguk. "Jadi mereka belum juga menikah." Arslan terlihat keheranan. "Belum. Nggak tau kenapa, nggak nikah-nikah sama tunangannya, padahal pacarannya juga udah lama banget." Lanjut Rian.

"Gara-gara itu, mama nyuruh dia pulang ke Indonesia daripada galau terus disana. Kali aja jodohnya ada disini ... " 

Rian meralat ucapannya setelah mendapat tatapan tajam dari Arslan, "Maksudnya ada di Indonesia. Nggak tau kenapa seleranya jadi yang sipi-sipit, semoga aja seleranya balik lagi yang brewokan." Mendapat tatapan menghunus dari Arslan, Rian langsung berceloteh lagi. 

"Yang brewokan kan bukan cuma elo, Slan. Santai aja dong ngeliatnya."

"Gara-gara masalah nyariin jodoh buat Fathiya, nyokap lo sampe bawa-bawa masalalu segala, jadi bikin Zulfa cemburu dan tau semuanya." Arslan masih terlihat kesal dengan kejadian semalam. 

"Seharusnya dari awal lo bilang ke Zulfa kalau Fathiya itu mantan lo, biar dia itu nggak salah paham. Apalagi lagi kita ini masih keluarga.  Fathiya masih saudara gue dan lo juga saudara gue, mau nggak mau kalian pasti akan ketemu lagi." 

"Gue nggak pernah bilang ke Zulfa karna gue pikir Fathiya nggak akan balik lagi ke Indonesia. Eh ... malah tiba-tiba nongol gitu aja, siapa yang nggak kaget!!" Arslan mengungkapkan keterkejutannya karna berjumpa dengan Fathiya di rumah orang tuanya. 

Tok ... Tok ... Tok ...

Tiba-tiba Vania masuk ke dalam ruangan kerja, menjeda obrolan Arslan dan Rian. 

"Maaf mengganggu, Pak. Di luar ada tamu ingin bertemu dengan anda." 

"Siapa?" 

"Namanya Nona Fathiya. Cantik banget orangnya, Pak." Tiba-tiba kedua mata Arslan beralih ke Rian dengan tatapan curiga dan emosi.

"Sumpah, bukan gue yang nyuruh dia ke sini." Rian melambaikan kedua tangan, nampak begitu panik. Padahal niatnya tadi hanya menggoda Arslan, tetapi Rian tak menyangka kalau Fathiya benar-benar datang.

"Pak Arslan nggak lagi nyari sekretaris baru buat gantiin saya, kan?" di sisi lain Vania terlihat panik kalau dugaannya benar. 

"Kalau saya niat cari sekretaris baru, saya nggak akan nyari yang cantik dan genit kayak kamu." ucap Arslan. 

"Ih .. Pak Arslan kok ngomongnya gitu. Jadi gimana Pak, nona Fathiya di ijinkan masuk atau tidak?" tanya Vania lagi. 

"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu, masih banyak kerjaan yang harus gue selesein." Rian buru-buru pergi, ia tidak mau terlibat dalam masalah apapun di hidup Arslan.

"Suruh dia masuk." Perintah Arslan. 

"Baik Pak." Jawab Vania. 

Tak lama setelah pintu tertutup, suasana di dalam ruangan Arslan mendadak terasa berbeda. Arslan berdiri di balik meja kerjanya. Tangannya bertumpu di permukaan meja, jemarinya mengetuk pelan, sebuah kebiasaan saat pikirannya sedang tidak tenang.

Napasnya ia tarik dalam. Seolah sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang sebenarnya ingin ia hindari. Jantung mulai berdetak tak menentu bukan karna masih menyimpan perasaan tapi keheranan, untuk apa Fathiya mencarinya.

Tok ... Tok ... Tok ...

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka. Dan detik itu juga waktu seakan melambat. Fathiya melangkah masuk. Dengan balutan pakaian sederhana namun elegan, ia tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!