NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 | ARE YOU STILL ?

Dentuman musik bass yang berat menggetarkan lantai dansa Club Nocturne tempat di mana Dante Moretti menghabiskan malamnya untuk memantau transaksi gelap. Cahaya lampu strobe yang berkedip-kedip menciptakan bayangan yang tidak menentu.

​Dante sedang duduk di ruang VIP privatnya, menatap gelas whisky-nya dengan tatapan tajam, saat pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang wanita menerobos masuk, mengabaikan tatapan mematikan dari pengawal pribadi Dante.

​Itu Elara. Pakaiannya sedikit berantakan, matanya tampak berkaca-kaca, dan langkahnya tidak stabil—seperti seseorang yang baru saja menelan terlalu banyak rasa sakit dan mungkin... segelas alkohol yang terlalu keras.

​Dante meletakkan gelasnya, alisnya terangkat. "Ini bukan tempat untuk agen yang sedang bertugas, Elara."

​Elara mendekat, lalu dengan satu gerakan cepat, ia memukul dada Dante. Pukulan itu lemah, lebih seperti sebuah protes yang putus asa daripada serangan. "Kau... kau pikir kau bisa mengendalikan segalanya, ya?" suaranya parau, tenggelam oleh bisingnya musik di luar.

​Dante menangkap pergelangan tangan Elara, menahan gadis itu agar tetap di depannya. Ia mencium aroma alkohol yang kuat dari napas Elara. "Kau mabuk. Apa yang kau lakukan di sini?"

​Elara tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Aku hanya ingin tahu... apakah di balik semua rencana busukmu ini, kau pernah merasa takut? Atau kau sudah mati rasa sejak lama?"

​Dante menarik pinggang Elara, memaksa gadis itu menatap matanya. "Ketakutan adalah emosi bagi mereka yang memiliki sesuatu untuk kehilangan, Elara. Dan aku tidak memiliki apa pun."

​"Kau pembohong!" teriak Elara. Ia mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Dante justru mengencang, membuat jarak di antara mereka semakin menipis.

​Tiba-tiba, wajah Elara berubah pucat. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, mual yang hebat menyerang perutnya karena campuran alkohol dan gejolak emosi yang tak tertahankan. Sebelum Dante sempat bereaksi, Elara memuntahkan isi perutnya tepat di atas setelan jas tailor-made Dante yang mahal.

​Suasana ruangan VIP yang tadinya penuh ketegangan tiba-tiba membeku. Para pengawal Dante terdiam, tidak berani bernapas.

​Dante menunduk, menatap jas hitamnya yang kini ternoda oleh sisa minuman keras dan empedu. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Elara dengan mata yang berkilat berbahaya.

​"Elara," suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan di tenggorokan.

​Elara yang sudah kehilangan kesadaran penuh karena mabuk, justru menyandarkan kepalanya di dada Dante yang kotor, lalu bergumam dengan suara yang sangat pelan, "Maaf... semuanya terlalu berat..." sebelum akhirnya tubuhnya merosot lemas dalam dekapan Dante.

​Dante menatap sosok gadis itu yang kini tak berdaya di pelukannya. Ia tidak berteriak, tidak membunuh, dan tidak membuang Elara. Ia justru melepas jasnya yang kotor dan membuangnya ke lantai dengan satu gerakan jijik.

​"Bawa dia ke Penthouse," perintah Dante kepada salah satu pengawalnya dengan nada yang datar namun dingin. "Dan bersihkan ini," ia menunjuk lantai yang kotor.

​Saat pengawalnya menggendong Elara keluar, Dante berdiri di tengah ruangan, menatap tangannya sendiri yang masih meninggalkan aroma Elara. Ia menyeka sisa noda di lengannya dengan sapu tangan, senyum tipis dan aneh terukir di bibirnya.

​"Dia berani memuntahiku di depan anak buahku," bisik Dante pada dirinya sendiri, rasa antusiasme yang aneh mulai memenuhi dadanya. "Tidak ada yang pernah seberani itu. Elara, kau baru saja memberikan alasan bagiku untuk tidak membunuhmu malam ini. Kau justru memberikan alasan bagiku untuk membuatmu tetap tinggal di sampingku selamanya."

Cahaya matahari yang menyusup di balik tirai blackout yang tebal terasa menyakitkan di pelupuk mata Elara. Ia mengerang pelan, sensasi berdenyut di kepalanya membuat setiap saraf seakan menjerit. Dengan sisa kesadaran, ia mencoba meraba sisi tempat tidur di sebelahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat kulit manusia yang padat dan berotot.

​Elara tersentak. Kepalanya yang pening mendadak terasa ringan karena adrenalin yang melonjak. Ia memutar tubuhnya dengan kasar, dan jantungnya hampir berhenti berdetak saat melihat Dante Moretti sedang menatapnya dengan posisi berbaring miring, lengan pria itu terlipat di bawah kepalanya sendiri sebagai bantal.

​"Sudah bangun, Letnan?" Suara Dante begitu rendah dan serak, sebuah simfoni bariton yang menggetarkan udara pagi.

​Elara tidak membalas. Ia ternganga, napasnya memburu. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa aku di sini?"

​Dante tidak beranjak. Ia justru menggeser jarak, jemarinya yang panjang dan dingin dengan sengaja menyapu helai rambut yang menutupi wajah Elara. Sentuhan itu bukan ancaman, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kelembutan yang sangat intim.

​" Kau semalam tidak ingat betapa beraninya kau di Club Nocturne?" Dante bergumam, senyum tipis yang penuh rahasia terbit di bibirnya. "Kau memuntahi setelan kesayanganku, lalu memohon padaku untuk membawamu pulang. Kau bahkan tidak mau melepaskan tanganku saat pengawalku mencoba menggendongmu."

​Elara mendorong tubuh Dante sekuat tenaga, namun pria itu justru menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka hampir menyatu. "Lepaskan aku! Jangan berani-berani memutarbalikkan fakta!"

​"Lihat sekelilingmu, Elara," suara Dante kini sedikit menajam, sebuah perintah yang mutlak.

​Elara menatap ruangan itu. Ini bukan apartemennya. Ini adalah kamar tidur utama di penthouse Dante—sebuah ruangan luas yang didominasi warna monokrom, berbau aroma maskulin, tembakau mahal, dan sesuatu yang sangat Dante.

●●●●

1
Anonim
cieeee nyaman😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
pokoknya harus😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Adalah
😍😍😍
Adalah
next😍😍😍
Adalah
lanjut😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍 pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
lama-lama jadi cinta😍😍
Biruku: terima kasih atas komentar😍😍
total 1 replies
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya harus lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
cieee😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Biruku: terimakasih👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!