⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 10
Pagi itu, Lucy terbangun dengan perasaan segar, sesuatu yang jarang terjadi mengingat tubuh manusia yang ditempatinya biasanya terasa berat di pagi hari. Tapi setelah berminggu-minggu menggunakan produk perawatan dari kastilnya, tubuh ini mulai terasa lebih layak. Lebih dekat dengan standar seorang Dewi.
Dia berdiri di depan cermin, mengamati bayangannya. Kulitnya semakin putih dan bercahaya. Pipinya sedikit lebih berisi, mungkin efek samping dari terlalu banyak makan tengah malam. Tapi justru itu yang membuatnya terlihat lebih imut. Pipi tembem yang kalau dia cemberut akan menggembung seperti ikan buntal.
"Hari ini olahraga," gumamnya, mengambil kaos olahraga dari lemarinya. "Dan materinya basket."
Lili yang sedang meringkuk di atas bantal membuka satu matanya. "Kau sudah punya rencana?"
"Selalu."
Gedung olahraga SMA Seiran dipenuhi murid-murid kelas 2-C yang berkumpul dengan kaos olahraga biru navy dan celana pendek hitam. Guru olahraga mereka, Pak Tanaka, seorang pria berotot dengan peluit di leher, berdiri di tengah lapangan basket dengan bola di tangannya.
"Hari ini materi basket!" teriaknya. "Kalian akan belajar dasar-dasar melempar bola ke ring!"
Erangan protes langsung terdengar dari hampir semua murid perempuan.
"Pak! Basket itu susah!"
"Aku nggak bisa masukin bola!"
"Nggak adil! Kenapa nggak senam aja?!"
Pak Tanaka menyilangkan tangannya. "Tidak ada protes. Minggu depan adalah pengambilan nilai. Minimal kalian harus bisa memasukkan satu bola ke ring untuk lulus. Satu bola saja!"
Erangan semakin keras. Para murid laki-laki justru menyeringai senang, karena bagi mereka, ini kesempatan untuk pamer.
Lucy berdiri di pinggir lapangan, rambut hitam sebahu diikat ekor kuda tinggi. Tanpa kacamata. Tanpa softlens? Tidak, softlens hitam masih menutupi mata birunya. Dia belum mau menunjukkan warna aslinya di depan umum. Tapi penampilannya sudah cukup berbeda untuk menarik perhatian.
"Dia Lucy? Yang dulu kutu buku itu?"
"Serius? Dia kelihatan... imut sekarang."
"Pipinya tembem gitu, gemesin ya."
Lucy tidak mempedulikan bisik-bisik itu. Matanya menyapu lapangan, mencari satu sosok.
Kaito Fujiwara.
Antagonis pria itu berdiri di sudut lapangan bersama anggota Five Shadows-nya. Lengannya disilangkan, wajahnya seperti biasa terlihat datar dan tidak peduli. Tapi Lucy tahu dia tidak sepenuhnya tidak peduli. Semalam, pria itu memberikan jaketnya. Semalam, pria itu meminta tolong.
Dan hari ini, Lucy punya rencana untuk mendekatinya.
Pak Tanaka membagi kelas menjadi beberapa tim kecil untuk berlatih. Lucy kebetulan satu tim dengan dua orang teman sekelasnya, yaitu Yuki dan Haru, dua gadis yang dulu cukup akrab dengan pemilik tubuh asli. Mereka berdua langsung menghampiri Lucy dengan senyum lebar.
"Lucy! Kita satu tim!" Yuki, gadis berambut pendek dengan kuncir samping, langsung merangkul lengannya. "Kamu makin cantik aja sih! Rahasia dong!"
"Iya! Dulu kamu kurus banget, sekarang jadi berisi dikit. Pipinya tembem gitu!" Haru menambahkan, mencubit pipi Lucy pelan.
Lucy tertawa kecil, dan kali ini tidak sepenuhnya akting. "Aku cuma... makan lebih banyak."
"Lebih banyak? Makan apa? Sihir?" Yuki terkekeh. "Serius deh, kamu kayak orang beda sekarang. Kacamata kamu mana?"
"Lagi males aja."
"Bagus kok! Matamu tuh sebenarnya cantik. Kenapa ditutupin?"
Lucy hanya tersenyum tipis. Dia mengambil bola basket dan mulai berlatih bersama mereka. Mereka bertiga berbaris di depan ring, bergantian mencoba melempar bola. Yuki dan Haru sama payahnya, bola mereka mental ke segala arah kecuali masuk ke ring. Lucy juga pura-pura payah. Bola yang dia lempar selalu meleset, kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah.
"Aduh! Susah banget!" keluh Yuki.
"Mana minggu depan udah ujian lagi. Aku pasti gagal," Haru menghela napas dramatis.
Lucy mengambil bola lagi, membidik ring. Tapi sudut matanya melirik ke arah lain.
Kaito sedang berdiri di sisi lapangan, diawasi oleh Pak Tanaka yang menyuruhnya membersihkan gudang alat olahraga. Hukuman karena tidak hadir di jam pelajaran kemarin. Tapi dia tidak terlihat terburu-buru. Dia hanya menyapu lantai dengan malas, sesekali mendongak.
Dan setiap kali dia mendongak, matanya tertuju pada satu orang.
Gadis dengan ekor kuda tinggi. Kaos olahraga biru navy. Pipi tembem yang memerah karena berolahraga. Gadis yang sama yang membersihkan lukanya semalam. Gadis yang sama yang memakai jaketnya.
Matanya hitam, pikir Kaito. Tapi semalam... matanya biru.
Apakah dia salah lihat? Apakah itu hanya pantulan cahaya?
"Woy, Kaito!" Riku, wakilnya di tim basket, menepuk pundaknya keras. "Ngapain bengong? Dari tadi ngeliatin satu arah terus."
"Aku nggak ngeliatin apa-apa."
"Oh ya?" Riku menyeringai, melirik ke arah yang tadi ditatap Kaito. "Itu Lucy kan? Yang sekelas kita? Yang dulu kutu buku?"
"Diam."
"Serius?! KAMU TERTARIK SAMA DIA?!" Suara Riku terlalu keras hingga beberapa murid menoleh.
Kaito mencengkeram sapunya lebih keras. "Aku bilang diam."
Tapi Riku dan dua anggota Five Shadows lainnya, Shun dan Daiki, sudah terlanjur tertawa. Mereka menepuk-nepuk bahu Kaito dengan ekspresi kemenangan.
"Si Kaito yang anti perempuan!"
"Akhirnya luluh juga!"
"Dan sama gadis imut sekelas kita lagi! Pipinya tembem gitu, gemes!"
"Awas," suara Kaito rendah dan berbahaya. Tapi ketiga temannya sudah terlalu senang untuk takut.
"Tenang, Kaito! Kita dukung kok!"
"Iya! Daripada kamu jomblo terus!"
"Tapi jangan galak-galak, nanti dia kabur lho!"
Kaito menghentakkan sapunya dan berjalan pergi. Teman-temannya masih tertawa di belakangnya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergerak.
Dia berbeda.
Setelah jam pelajaran selesai, para murid berhamburan keluar gedung olahraga. Lucy berpamitan pada Yuki dan Haru, lalu berjalan ke arah yang berbeda menuju gedung olahraga lagi.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Lili yang mengikutinya dalam wujud bayangan.
"Percaya padaku," bisik Lucy.
Dia masuk ke gedung olahraga yang kini sepi. Lampu sudah dinyalakan, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu. Di sudut ruangan, Kaito masih di sana, menyapu lantai yang sama untuk ketiga kalinya sebagai hukuman dari Pak Tanaka.
Lucy pura-pura tidak melihatnya. Dia mengambil bola basket dari keranjang, lalu mulai berlatih melempar sendiri.
Duk. Bola mental ke pinggir ring.
Duk. Bola meleset lagi.
Duk. Bola terlalu rendah.
Kaito mendongak dari pekerjaannya. Dia memperhatikan gadis itu berlatih sendirian, keringat di dahinya, napasnya sedikit terengah. Dia melempar lagi namun gagal. Lagi dan gagal lagi. Gerakannya salah total. Posisi tangannya tidak tepat. Posturnya tidak stabil.
Dia benar-benar tidak bisa, pikir Kaito.
Entah angin apa yang membawanya, dia meletakkan sapunya dan berjalan mendekat.
"Caramu salah."
Lucy tersentak dan berbalik. Matanya membulat, pipinya memerah karena kaget sekaligus perpaduan akting. "Eh?! Ka-Kaito?!"
"Posisi tanganmu tidak tepat. Kakimu juga. Kau berdiri terlalu kaku."
Lucy menunduk, memainkan bola di tangannya. "A-aku... aku cuma latihan sendiri. Buat ujian minggu depan."
"Kau tidak akan lulus dengan cara seperti itu."
"Ya... ya sudah. Aku pulang aja." Dia berbalik, berniat pergi.
Tapi sebelum dia bisa melangkah, tangannya ditangkap.
Lucy berhenti. Matanya menatap tangan Kaito yang mencengkeram pergelangan tangannya. Lalu mendongak, menatap mata Kaito. "Apa?"
Kaito tidak menjawab segera. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia menahan gadis ini. Tapi ada sesuatu yang mendorongnya. Mungkin rasa penasaran, atau mungkin sesuatu yang lain.
"Kau..."
"Apa sih megang-megang, nggak jelas banget." Lucy menarik tangannya dengan kesal. Bukan kesal sungguhan, melainkan kesal yang dibuat-buat agar terlihat imut. "Aku mau pulang aja deh."
"Kau salah cara melemparkan bola."
Lucy berdecak, melipat tangannya. "Ya udah sih. Nggak usah banyak bacot kalau nggak mau bantu."
Dia berbalik lagi.
"Baiklah."
Lucy berhenti. Perlahan, dia menoleh. Wajahnya berubah dari kesal menjadi berbinar. "Serius?! Kau serius mau bantu aku?"
"Hm."
"Idih, sok cool banget ni orang satu. Dia pikir dia karakter novel apa," batin Lucy kesal. Tapi di luar, dia tersenyum lebar.
"Yaudah ayo! Nanti malam malah dikurung satpam pula kita!" Tanpa ragu, dia meraih tangan Kaito dan menariknya ke tengah lapangan.
Kaito menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Tangan gadis ini kecil dan hangat. Dan sebelum dia bisa memproses lebih jauh, tangan itu sudah terlepas. Kaito merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Terasa kosong.
"Jangan bengong doang! Kemasukan setan kau baru tau rasa!" seru Lucy, sudah berdiri dengan bola di tangannya.
Kaito tersadar dari lamunannya. Dia memasukkan tangannya ke saku jaket, sebuah jaket baru, karena jaket lamanya masih di Lucy. "Baik. Coba lempar dulu."
Lucy melempar. Bola meleset.
"Posisi tanganmu terlalu rendah. Angkat sedikit."
Lucy melempar lagi. Bola membentur papan dan mental.
"Kakimu tidak sejajar. Perbaiki posturmu."
Lucy melempar lagi. Meleset. Lagi dan meleset. Lagi—
"ARGH!" Lucy menghentakkan kakinya ke lantai. "BOLA SIALAN! RING SIALAN! KENAPA SUSAH BANGET SIH?! KAYAK PUNYA DENDAM PRIBADI SAMA AKU!"
Kaito terkejut mendengar ledakan itu. Gadis yang tadinya imut dan pemalu tiba-tiba berubah menjadi bocah yang mengamuk. Lucy menunjuk-nunjuk ring basket dengan wajah merah padam, mulutnya mengomel tidak jelas, pipinya menggembung seperti ikan buntal.
"Kalian pikir kalian siapa?! Ring jelek! Bola jelek! Semua jelek! Harusnya kalian bersyukur aku mau main sama kalian! Kalau bukan karena..." dia berhenti, menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
Kaito menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tersenyum.
Bukan seringai sinis maupun senyum mengejek. Tapi senyum tipis yang muncul begitu saja, karena pemandangan di depannya terlalu lucu untuk tidak ditertawakan.
"Apa?!" Lucy menatapnya dengan mata menyipit. "Mau ketawa?! Nggak usah ketawa deh! Kalau nggak mau ngajarin ya udah!" Dia melipat tangannya, pipinya masih menggembung.
Astaga, pikir Kaito. Dia benar-benar seperti bocah.
Dia menahan tawanya karena gengsinya sebagai ketua geng tidak mengizinkannya tertawa terbahak-bahak. Tapi sudut bibirnya masih terangkat saat dia mengambil bola dari lantai.
"Kemarilah," katanya. "Biar aku yang mengajari."
Lucy masih cemberut, tapi dia melangkah mendekat. "Caranya?"
Kaito meletakkan bola di tangan Lucy, lalu tanpa peringatan, dia berbalik dan berdiri tepat di belakangnya. Tangannya yang besar menutupi kedua tangan Lucy yang memegang bola. Tubuhnya yang tinggi membayangi tubuh Lucy yang lebih kecil.
"Posisi tangan harus seperti ini," katanya pelan, tepat di dekat telinga Lucy.
Aroma kayu cendana memenuhi indra Lucy. Begitu dekat dan kuat. Dia bisa merasakan otot-otot di dada Kaito yang menempel di punggungnya, sebuah bentuk tubuh ideal yang terbentuk dari latihan basket bertahun-tahun. Tangannya yang kasar menutupi tangannya sendiri.
Inti jiwanya... aromanya begitu kuat dari jarak sedekat ini, pikir Lucy. Lidahnya tanpa sadar menyentuh bibir atasnya.
"Fokus," suara Kaito membuyarkan lamunannya. "Lihat ring. Tangan mengikuti pandangan."
Kaito membimbing tangannya. Satu gerakan halus, dan bola itu meluncur dari tangan Lucy, melayang di udara, dan...
Swish.
Masuk.
"MASUK! MASUK! AKU BERHASIL!" Lucy melompat-lompat kegirangan, benar-benar melupakan identitasnya sebagai Dewi. Dia berbalik dan tanpa berpikir langsung memeluk Kaito.
Kaito membeku.
Tangannya menggantung di udara. Tubuhnya kaku seperti papan. Sudah bertahun-tahun tidak ada perempuan yang berani menyentuhnya, apalagi memeluknya. Tapi gadis ini, gadis dengan pipi tembem dan rambut ekor kuda ini, memeluknya begitu saja seolah itu hal yang paling alami di dunia.
Perlahan, dia menurunkan tangannya. Hendak membalas pelukan itu—
BRAK.
Pintu gedung terbuka. "Kalian! Gedung sudah mau dikunci! Cepat pulang!"
Satpam sekolah berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan alis terangkat.
Lucy langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya yang tadinya bahagia berubah menjadi merah padam. "I-iya, Pak! Kami pulang sekarang!"
Dia meraih dua tas, yaitu tasnya sendiri dan tas Kaito, lalu menarik tangan Kaito dengan panik. "Ayo! Cepat!"
Mereka berlari keluar gedung, melewati satpam yang menggelengkan kepala sambil tersenyum. Anak muda zaman sekarang.
Di luar, langit sudah berwarna jingga. Matahari menggantung rendah di ufuk barat. Lucy berhenti di dekat gerbang, napasnya terengah-engah. Dia melepaskan tangan Kaito dan menyerahkan tasnya.
"Terima kasih," katanya. "Untuk hari ini."
Kaito mengambil tasnya, menyandangnya di satu bahu. "Hm."
"Yaudah. Aku pulang dulu..."
"Tunggu."
Lucy berhenti dan menoleh. "Kenapa?"
Kaito membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dia menatap ke arah lain, lalu kembali ke Lucy. "Mau... pulang bersama?"
"BERHASIL!" teriak Lili di kepala Lucy.
Lucy menahan senyum kemenangannya. Sebagai gantinya, dia memasang ekspresi ragu. "Ah, nggak usah repot-repot. Aku kan cuma..."
"Tidak masalah."
"Tapi kau udah bantu aku..."
"Aku yang tawarkan." Suara Kaito tetap datar. "Ayo."
Lucy berpura-pura berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Ayo."
Mereka berjalan bersama ke area parkir. Dan di sanalah Lucy melihatnya, sebuah motor sport hitam mengilap yang terparkir di sudut. Kaito berjalan ke arah motor itu, mengambil dua helm dari bagasi.
"Naik motor?" tanya Lucy.
"Kau takut?"
"Tidak!" jawabnya cepat. Tapi begitu dia berdiri di samping motor itu, dia menyadari satu masalah.
Motor ini cukup tinggi. Jauh lebih tinggi dari motor biasa. Dan Lucy yang selama ini lebih terbiasa dengan mobil mewah atau kereta kuda ilahi tidak tahu bagaimana cara menaikinya. Dia berdiri di sana, menatap motor itu dengan ekspresi bingung.
Kaito memperhatikan kebingungannya. "Kau... tidak tahu cara naik motor?"
"Tahu!" Lucy membela diri. "Cuma... cuma motornya agak tinggi..."
Tanpa bicara, Kaito mengulurkan tangannya. "Sini."
Lucy menatap tangan itu. Lalu perlahan dengan ragu yang tidak sepenuhnya akting, dia meletakkan tangannya di atas tangan Kaito.
"Kau harus menginjak injakan kaki dulu. Ini, aku turunkan." Dengan satu gerakan, Kaito menurunkan injakan kaki belakang dengan kakinya. "Sekarang, injak di sini, lalu ayunkan kakimu ke atas."
Lucy mengikuti instruksinya. Dia menginjak injakan kaki, lalu mengayunkan kakinya, dan tiba-tiba dia sudah duduk di atas motor. Pengalaman pertama dalam hidupnya menaiki motor manusia. Rasanya lebih tinggi dari yang dia kira. Dia mencengkeram pinggiran jok dengan gugup.
Kaito menaiki motor di depannya. Mesin meraung hidup. Getarannya terasa sampai ke seluruh tubuh Lucy.
"Pegangan," kata Kaito.
"Apa?"
"Pegangan. Biar tidak jatuh."
Lucy ragu-ragu sejenak. Lalu, saat motor mulai bergerak, dia refleks memeluk pinggang Kaito erat-erat.
Sangat erat.
Kaito menunduk sekilas, menatap tangan kecil yang melingkari pinggangnya. Di balik helm, dia tersenyum tipis. Gadis ini, gadis yang membersihkan lukanya tanpa takut, gadis yang mengamuk pada bola basket seperti bocah, gadis yang melompat-lompat kegirangan saat bolanya masuk, sekarang memeluknya dengan mata terpejam karena takut jatuh.
Lucu.
Dia menjalankan motornya perlahan. Tidak perlu ngebut, agar perjalanan ini bisa dinikmati sedikit lebih lama.
Motor berhenti di depan apartemen Lucy. Mesin dimatikan, dan keheningan malam kembali menyelimuti. Lucy membuka matanya, dia baru sadar bahwa selama perjalanan dia terus memejamkan mata.
"Kau masih hidup," kata Kaito datar.
Lucy melepaskan pelukannya dengan malu. "Ta-tahu! yaudah makasih ya!"
Dia turun dari motor, kali ini lebih hati-hati, dan sudah bersiap masuk apartemen. Tapi dia berhenti.
"Oh iya! Tunggu sebentar!"
Dia berlari masuk ke apartemennya, menghilang selama beberapa menit. Kaito menunggu dengan tangan di saku jaket. Saat Lucy keluar lagi, dia membawa dua benda.
"Ini." Dia menyerahkan jaket tim basket yang sudah dicuci bersih dan sebungkus susu kotak rasa stroberi. "Jaketmu. Udah aku cuci. Dan ini... susu stroberi. Buat ucapan terima kasih. Aku nggak tahu kau suka apa, jadi aku cuma ngambil susu favoritku."
Kaito menatap jaket itu. Lalu susu kotak itu. Rasa stroberi.
Favoritnya, pikirnya. Dia memberiku susu rasa favoritnya.
"Terima—"
"Yaudah, aku masuk dulu! Makasih ya hari ini!" Sebelum Kaito selesai bicara, Lucy sudah membungkuk cepat, lalu berbalik dan masuk ke apartemennya. Pintu tertutup. Dia pergi.
Kaito berdiri di sana, menatap pintu yang tertutup. Jaket di satu tangan dan susu stroberi di tangan lainnya.
Perlahan, senyum tipis itu muncul lagi di wajahnya.
Dia berbeda.
Di dalam apartemen, Lucy menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.
"Melelahkan," gumamnya. "Akting sebagai gadis imut itu melelahkan."
"Tapi berhasil," kata Lili, muncul dari balik bantal. "Aku baru saja memeriksa. Rasa suka Kaito Fujiwara berada di angka empat puluh persen, naik sepuluh persen."
Lucy menyeringai. "Antagonis pria cukup mudah didekati. Cukup dengan bersikap berbeda dari gadis-gadis lain yang biasanya mengerumuninya."
"Dan dengan menjadi sedikit... bocah?"
"Itu improvisasi." Lucy terkekeh. "Tapi berhasil, kan?"
Dia bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Air hangat mengucur, membasuh lelah dan keringat seharian. Saat dia keluar dengan gaun tidur hitam yang membungkus tubuhnya, rambutnya yang setengah basah tergerai di bahu.
Lili memperhatikan dengan seksama. "Rambutmu..."
"Apa?"
"Di beberapa helai. Sudah mulai biru."
Lucy berjalan ke cermin. Benar. Di sela-sela rambut hitamnya, beberapa helai mulai menunjukkan warna biru asli. Cat hitamnya mulai memudar.
"Efek samping perawatan kastil," gumamnya. "Ini akan memudar lebih cepat dari yang kuduga."
"Kau bisa mengecatnya lagi."
"Nanti. Untuk sekarang, biarkan saja. Sedikit biru tidak akan membuat orang curiga." Dia mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambutnya. Di cermin, dia melihat tubuhnya sendiri. Gaun tidur hitam itu kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Kakinya jenjang dan lengannya ramping. Beberapa bagian tubuhnya sudah mulai berisi, hasil dari makan makanan bernutrisi selama berminggu-minggu. Tubuh pemilik asli yang dulu kurus kering dan hampir terkena malnutrisi kini sudah jauh lebih sehat.
Dia akan terkejut kalau melihat tubuhnya sekarang, pikir Lucy. Pemilik asli tubuh ini.
Ponselnya bergetar. Lucy mengambilnya, dan satu alisnya terangkat.
Ren Arisugawa: Bagaimana kabarmu?
"Hah." Lucy terkekeh. "Aku baru sadar. Hari ini aku tidak melihatnya."
"Dia sedang mengikuti olimpiade di luar negeri," jelas Lili. "Akan kembali dua hari lagi."
"Oh, ya. Aku lupa." Lucy membaca pesan itu lagi. Singkat dan formal. Tapi dia bisa membayangkan Ren mengetiknya dengan ekspresi datar, mungkin menghapus dan mengetik ulang beberapa kali. "Manis."
"Apa?"
"Protagonis pria ini. Manis."
Dia mulai mengetik balasan.
Lucy: Kabarku baik. Kamu jangan lupa makan ya, walaupun sibuk. Kalau capek istrahat dulu. Jaga kesehatan! 😊
Dia membaca pesannya sendiri dan bergidik. "Aku merasa geli menulis ini."
"Kenapa?"
"Terlalu manis. Tidak seperti diriku."
"Kau kan Dewi Rubah. Bukankah menggoda adalah keahlianmu?"
"Ini bukan menggoda. Ini... entahlah." Lucy mengirim pesan itu sebelum dia berubah pikiran. "Dia mungkin akan membalas dengan satu kata."
Ting.
Ren Arisugawa: Baiklah.
Lucy tertawa kecil. "Kubilang juga apa."
"Tapi lihat persentasenya," kata Lili. "Ren Arisugawa tetap di tiga puluh persen. Tapi ada efek samping."
"Efek samping?"
"Dia merasa senang dan bahagia sekarang. Meskipun hanya membalas 'baiklah', pikirannya sedang kacau karena pesanmu."
Lucy menyeringai. "Protagonis pria yang dingin dan tidak tersentuh, kacau hanya karena pesan manis. Manusia memang aneh."
Dia meletakkan ponselnya, meregangan tubuhnya, lalu merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap langit-langit yang retak.
"Dua hari lagi Ren kembali. Tiga hari lagi Hana masuk. Dan Akane... satu minggu setelah Hana."
"Rencanamu?"
"Untuk sekarang?" Lucy menarik selimutnya. "Tidur. Aku lelah berakting seharian."
"Sebagai gadis imut yang gampang kesal?"
"Sebagai manusia pada umumnya. Melelahkan."
Dia menutup matanya. Dalam beberapa menit, napasnya sudah teratur. Di sudut apartemen yang gelap, jaket tim basket Kaito tergantung di kursi, masih memancarkan aroma samar kayu cendana. Dan di ponsel yang kini layarnya mati, sebuah pesan dari Ren Arisugawa masih tersimpan, pesan yang akan dibacanya lagi besok pagi sambil tersenyum kecil memikirkan betapa mudahnya manusia jatuh dalam perangkap Dewi Rubah.