NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Perlindungan yang Retak

​Aryo menghantam pintu depan rumah tua itu dengan seluruh berat badannya hingga terbuka lebar. Hujan lebat yang mengguyur punggungnya ikut tembus masuk, membasahi lantai tegel ruang tengah yang berdebu.

Pakaian Aryo sudah basah kuyup, menempel dingin di kulitnya yang gemetar, namun hawa dingin di dalam rumah ini jauh lebih tidak wajar.

Hawa dingin yang tidak membawa kesegaran, melainkan rasa beku yang mencengkeram dada hingga membuat napas Aryo terasa sesak dan berat.

​Bau itu kembali lagi. Kali ini bukan sekadar wangi kantil hangus atau karat besi, melainkan bau busuk dari vegetasi rawa yang mati, bercampur dengan aroma anyir darah segar yang menyengat indra penciuman.

​"Maya ...!" teriakan Aryo pecah menjadi pekikan serak.

​Ia tidak memedulikan langkah kaki Danu yang masuk dengan tenang di belakangnya. Fokus Aryo sepenuhnya tertuju pada lorong gelap yang menuju ke kamar belakang.

Langkah kakinya tersandung kaki meja, membuatnya terhuyung dan nyaris jatuh, namun rasa panik yang merajai isi kepalanya memaksa otot-otot kakinya untuk terus berlari.

​Tepat ketika Aryo mencapai ambang pintu kamar belakang, sebuah dentingan kaku yang teramat keras menghantam pendengarannya.

​Krakkk!

​Aryo terenyak di tempatnya berdiri. Di bawah sisa pendar senter ponselnya yang bergoyang liar, ia menyaksikan salah satu dari empat pasak kayu johar jantan yang ditanam Danu di sudut kamar terpelanting ke udara.

Pasak kayu hitam yang dipenuhi rajah keramat itu tidak hanya tercabut, melainkan pecah terbelah menjadi dua bagian di udara seolah dihantam oleh palu gada tak kasat mata yang teramat besar.

Serpihan kayunya terlempar, salah satunya menggores pipi Aryo hingga mengeluarkan darah, namun ia tidak lagi memedulikan perihnya.

​Mata Aryo membelalak saat pasak kedua di sudut seberang mulai bergetar hebat. Asap putih keunguan mengepul dari sela-sela ubin tempat pasak itu tertanam. Terdengar suara pekikan halus, menyerupai desis ribuan ular yang kelaparan dari bawah lantai.

​Brak! Pasak kedua pecah. Menyusul pasak ketiga yang hancur berkeping-keping menjadi serbuk hitam yang berserakan di atas lantai.

​"Mas Danu! Pasaknya hancur! Bentengnya pecah, Mas!" teriak Aryo dengan suara yang melengking histeris. Ia menoleh ke belakang dengan mata mendelik, mencari perlindungan dari sang detektif.

​Namun, Danu tidak bergerak untuk menolong. Pria bermantel cokelat itu hanya berdiri di sudut dekat pintu kamar, memegang gawai pemindai frekuensi elektromagnetiknya yang kini berbunyi nyaring tanpa putus—Bzzzzzzzz ... klik ... klik ... lampu indikator merahnya menyala penuh, memancarkan pendar kaku ke wajah sang detektif yang tetap datar tanpa emosi.

Danu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, jemarinya yang terbungkus lateks hitam menuliskan sesuatu dengan tenang di sana.

​"Lonjakan energinya menembus 800 miligauss. Hantaman balik ini terlalu masif setelah jangkarnya kita bakar," kata Danu, suaranya terdengar sangat jauh dan dingin di telinga Aryo, seolah-olah dia sedang membacakan laporan otopsi di ruang laboratorium.

"Struktur molekul kayu johar tidak kuat menahan beban sumpah darah yang Anda langgar, Pak Aryo. Kalkulasi gaibnya overload. Saya tidak bisa memasang pagar baru di ruangan yang arusnya sudah sekacau ini."

​"Lalu bagaimana dengan Maya, Mas?! Tolong dia! Aku nggak tega melihatnya terus tersiksa begini." Aryo bersujud di lantai, merangkak mendekati ranjang kayu tempat istri mudanya diikat.

​"Satu-satunya benteng yang tersisa adalah tubuhmu sendiri," jawab Danu dari sudut ruangan, matanya tetap terpaku pada angka-angka digital di gawainya. "Pegang dia, Pak Aryo. Hadapi apa yang sudah Anda undang ke dalam hidupmu."

​Saat itulah, perhatian Aryo tersedot sepenuhnya pada sosok yang terbaring di atas lantai ubin, di sela-sela sprei yang telah robek. Maya tidak lagi menyerupai gadis kota yang cantik dan ambisius yang dulu ia puja.

Tubuh wanita muda itu melengkung kaku ke atas, bertumpu hanya pada tumit dan bagian belakang kepalanya yang rambutnya sudah rontok sebagian.

​Kedua tangan Maya yang terikat kejang hebat. Dari sela-sela kuku jarinya yang telah lepas, ujung-ujung rebung bambu muda berwarna hijau kehitaman yang tajam telah mencuat keluar sepanjang beberapa sentimeter, merobek daging jemarinya hingga darah hitam pekat mengalir membasahi lantai ubin.

​"Mas ... Aryo ... panas ... di dalam sini ... mereka ... mencakar ...," ratap Maya.

Suaranya bukan lagi suara manusia; melengking tinggi, pecah, bercampur dengan suara gesekan daun bambu kering yang mengerikan—sreeek ... sreeek ... sreeek ....

​Rasa bersalah yang teramat masif mendadak menghantam dada Aryo seperti godam yang panas. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana obsesinya pada kemewahan, egonya sebagai lelaki kaya yang mencampakkan istri setianya demi kepuasan sesaat, kini menjelma menjadi penderitaan fisik yang luar biasa pada wanita di hadapannya.

Setiap jarum, paku, dan setiap ujung rebung yang merobek kulit Maya adalah visualisasi nyata dari setiap kalimat bohong yang pernah ia ucapkan pada Sekar.

​Dosa masa lalunya sedang menuntut balas, dan Maya adalah wadah yang harus hancur untuk membayar kesombongannya.

​Dengan air mata yang tumpah deras membasahi wajahnya yang kotor, Aryo menjatuhkan dirinya di samping tubuh Maya. Ia tak sanggup menyentuhnya.

​"Maafkan aku, Maya ... maafkan aku ...," bisik Aryo histeris, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.

​Tiba-tiba, tubuh Maya mengejang lebih hebat. Mulut wanita itu terbuka lebar, rahangnya meregang hingga ke batas maksimal seolah dipaksa terbuka oleh sesuatu yang besar dari dalam tenggorokannya.

"​Ughhh ... kweekkk!"

​Maya memuntahkan cairan pekat berwarna hitam legam. Cairan itu kental, berbau busuk seperti lumpur hisap Alas Purwo yang bercampur belerang dan darah mati.

Di dalam muntahan hitam yang membasahi lantai itu, terdapat gumpalan-gumpalan serat pepelepah bambu kering yang kaku dan tajam.

Aryo semakin histeris dibuatnya. Menjambak rambutnya sendiri karena tak kuasa menyaksikan semua ini.

Rasa anyir dan bau busuk muntahan itu pun memenuhi rongga hidungnya, membuatnya mual setengah mati, namun rasa sakit di jiwanya jauh lebih menyiksa.

​Sementara Aryo menangis meraung-raung di samping jasad hidup istri mudanya, Danu tetap berdiri berjarak di sudut ruangan. Pendar cahaya biru dari layar gawainya menjadi satu-satunya saksi bisu di kamar yang kini telah gelap total setelah pasak terakhir hancur.

Detektif itu tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun. Baginya, pemandangan di depannya hanyalah sebuah proses alami dari eksekusi hukum supranatural yang sedang berjalan menuju titik jenuhnya.

​"Bentengnya sudah bersih, Pak Aryo. Pasak kayu sudah berubah jadi abu," suara Danu kembali terdengar di sela-sela tangisan Aryo dan deru hujan di luar.

Danu memasukkan gawainya ke dalam mantel cokelatnya, lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit pagi.

​"Kutukan Pring Sedapur sekarang sudah menyatu total dengan sistem peredaran darah Maya. Jangkarnya memang sudah kita hancurkan, tapi akarnya di dalam tubuh wanita ini sudah terlalu dalam untuk dicabut secara paksa dari sini."

​Aryo mendongak, wajahnya dipenuhi air mata dengan sorot mata yang penuh keputusasaan mendalam.

Pria yang mulai setengah gila itu bangkit berdiri, lalu dengan cepat mencengkeram kerah baju sang detektif.

"Apa maksudmu? Aku sudah melakukan segalanya, melakukan banyak hal untuk memutus kutukan ini. Aku juga sudah membayar mahal atas pekerjaanmu. Lakukan apa pun untuk istriku!"

​Danu menatap Aryo dengan pandangan yang mengunci, sebuah tatapan dingin dari seorang investigator.

"Lepaskan!" Danu menyentak kasar hingga tubuh Aryo limbung. Suaranya tajam dan dingin.

"Ini baru permulaan, Pak Aryo. Sadarlah! Anda sudah tersudut, jangan menuntut orang lain untuk membereskan kekacauan yang Anda buat sendiri!"

Aryo menangis sejadi-jafinya, kedua tangannya mengepal, lalu memukul ubin berkali-kali hingga tangannya berdarah.

"Sisa racun gaib ini akan terus mengunyah sisa daging dan kewarasan Maya sampai malam satu suro tiba. Persiapkan diri Anda!"

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!