Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.
"Sesuai dengan adat yang berlaku di desa ini, pasangan dari luar yang menikah melalui keputusan adat di sini tidak bisa langsung meninggalkan desa," ucap Kepala Desa dengan serius.
Kening Daniel langsung berkerut. "Maksud, Bapak?"
Salah seorang Tetua Adat menjawab dengan tenang. "Kalian harus tetap tinggal di sini sampai batas waktu yang ditentukan. Menjalani masa pengenalan sebagai pasangan suami istri dan mengikuti rangkaian adat yang belum selesai."
Suasana seketika berubah penuh ketegangan. "Apa...!" seru Daniel dan Zeya hampir bersamaan.
Keduanya benar-benar tak percaya dengan aturan yang sangat tidak masuk akal itu, seolah sengaja ingin menekan mereka.
"Kalau kami harus tinggal di sini, bagaimana dengan sekolah kami, Pak? Kegiatan kami juga belum selesai," protes Daniel berusaha meredam emosinya.
Zeya pun terlihat panik. "Benar, sebentar lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional."
Pak Bastian yang berdiri di samping putrinya merasa tidak habis pikir. Pria kharismatik itu juga tak menyangka akan ada keputusan tambahan seperti ini.
"Maaf, Pak Kepala Desa. Kami menghormati adat di sini, tapi masalahnya mereka ini masih berstatus sebagai pelajar. Mereka tidak mungkin meninggalkan sekolah," ujar Pembina Pramuka ikut menyuarakan keberatannya.
Kepala Desa mengangguk pelan. "Kami memahami hal itu. Tidak ada niat untuk merampas masa depan mereka, tapi di desa ini juga memiliki aturan."
"Setidaknya sampai rangkaian adat selesai, mereka harus tetap berada di sini."
Para Tetua Adat kembali menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan hukuman, melainkan bagian dari adat penerimaan pasangan baru di desa itu.
Meski berat hati, keluarga Daniel maupun Zeya akhirnya tidak memiliki banyak pilihan. Papi Baim menatap putranya.
"Kamu bagaimana, Kak?" tanyanya dengan suara berat.
Daniel terdiam. Remaja itu menoleh ke arah Zeya yang tampak kebingungan dengan semua perubahan yang terjadi begitu cepat.
"Mau bagaimana lagi, Pi. Kakak akan jalani semuanya. Ini konsekuensi yang harus kami terima, agar ke depannya kami lebih berhati-hati lagi dalam bertindak," ujarnya lirih, membuat Zeya sontak menatapnya.
Mendengar jawaban itu, Ayah Bastian tersenyum tipis. Merasa lega bahwa menantunya, seorang yang bertanggungjawab dan bijak dalam mengambil sikap.
"Tapi sebelumnya ijinkan kami mengambil barang-barang di perkemahan terlebih dahulu," sambungnya menambahkan.
"Tidak bisa! Biarkan orang-orang kami yang mengambilnya," kata Pak Kades yang membuat Daniel dan Zeya meluruhkan kedua bahu mereka.
"Astaga... Kami nggak akan kabur, Pak," sahut Zeya akhirnya.
"Tidak ada salahnya kami berjaga-jaga." Salah seorang tetua menjawab.
Mendengar jawaban tegas itu, Daniel dan Zeya memejamkan mata sambil menekan bibirnya kuat-kuat, lalu mengembuskan napas kasar. Merasa tidak ada lagi yang bisa mereka katakan. Semua pihak akhirnya mengalah pada ketetapan adat yang tak bisa diganggu gugat itu.
Papi Baim mengusap pundak Daniel dengan tatapan sayang sekaligus bangga, sedangkan Mami Mia memeluk Zeya erat seolah menenangkan anak kandungnya sendiri.
"Kalian anak-anak yang hebat. Jalani saja dengan sabar, kami akan selalu berdoa buat kalian," ucap Mami Mia lirih, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
"Jaga diri kalian baik-baik. Jika ada masalah segera hubungi kami," pesan Ayah Bas seraya melepaskan pelukan.
Setelah perpisahan singkat, tetapi terasa berat itu, orang tua serta rombongan pembina dan peserta kemping yang mengikuti prosesi pernikahan Daniel Zeya, perlahan meninggalkan halaman Balai Desa.
Daniel dan Zeya ditinggalkan berdua di sana, di bawah pengawasan warga desa yang kemudian menuntun mereka menuju sebuah rumah panggung kayu sederhana tetapi terlihat bersih.
"Ini tempat tinggal sementara yang sudah kami siapkan khusus bagi kalian pasangan baru."
Daniel dan Zeya beradu pandang, sampai akhirnya mereka tersenyum tipis, berusaha menerima perubahan yang terjadi dalam hidup mereka.
...
Sementara itu, tampak seseorang turun dari mobil setelah tiga hari mengikuti kegiatan kemping di kawasan Puncak. Ia lantas masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam atau apa pun.
"Papa... Ibu! Kalian di mana? Kenapa nggak jemput aku?" teriakannya menggema ke seluruh ruangan di dalam rumah tersebut.
Seorang ART, tergopoh-gopoh menghampirinya, lalu berhenti di hadapan gadis itu dengan kepala tertunduk. "Maaf, Non. Tuan dan Nyonya sedang keluar kota."
"Keluar kota? Sejak kapan?" tanya gadis itu ketus.
"Ke-kemarin, Non," jawab ART itu takut-takut.
"Kenapa nggak ada satupun dari mereka yang ngasih kabar sama aku?" tanya gadis itu lagi.
"Maaf, Non. Kalau soal itu saya tidak tahu," jawab ART itu sambil meremas jemarinya.
"Ya sudah, siapkan air hangat buat aku mandi, cepat!" perintahnya sambil mengibaskan tangan.
ART itu mengembuskan napasnya sambil memejamkan mata, lalu mengerjakan perintah Nona Mudanya dengan cekatan.
"Air hangat sudah siap, Nona," lapornya setelah menyelesaikan tugasnya.
Tanpa berterimakasih, gadis itu lantas pergi begitu saja meninggalkan ART yang menatap kepergian putri majikannya itu sambil mengelus dada.
Malam harinya selesai makan malam, gadis itu duduk bersandar di dashboard tempat tidurnya yang empuk di kamar pribadinya. Senyum kemenangan merekah lebar di bibirnya. Ia baru saja mengunggah foto serta video prosesi pernikahan Daniel dan Zeya yang sempat diambilnya secara diam-diam, ke media sosial maupun grup sekolah.
Ia juga menyertakan unggahan itu dengan keterangan yang sengaja dibuat provokatif.
"Sepasang pelajar yang sedang kemping ini, kepergok berbuat mesum di sebuah pondok tua di pinggir hutan yang sepi. Mereka akhirnya dinikahkan oleh Tetua Adat setempat demi menutup aib. Padahal selama ini mereka terlihat begitu sempurna di depan umum, tapi siapa sangka kelakuannya begitu buruk."
"Mari kita lihat saja, seberapa hebat kalian bisa bertahan setelah melihat berita ini," gumamnya dingin sambil menatap layar ponselnya dengan seringai puas.
"Selama ini aku selalu kalah darinya, dalam hal apa pun itu. Dia selalu berdiri di atas aku, mendapatkan pujian semua orang. Aku sudah muak melihatnya selalu bersinar."
"Tamatlah riwayatmu sekarang! Pasti semua orang bakal mengucilkannya, memandang rendah dirinya. Apalagi di desa sekecil itu."
Ia menatap layar dengan sorot mata tajam, penuh rasa benci yang sudah lama mengendap di hatinya. "Sekarang giliranku. Akan aku pastikan posisimu runtuh, dan semua orang akhirnya tahu siapa dirimu yang sebenarnya."
"Ha-ha-ha-ha...! Hahhh...senang banget rasanya melihatnya terpuruk."
Dengan santai ia meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur, lalu memadamkan lampu kamar. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Malam itu ia tidur dengan sangat nyenyak, seolah baru saja memenangkan pertarungan besar, tanpa sedikit pun merasa bersalah atas apa yang telah diperbuatnya.
....
"Mi... Pi!" panggil Danish sambil menggedor pintu kamar orangtuanya.
Di dalam kamar, pasangan suami istri yang baru saja terlelap itu, segera terbangun. Mami Mia buru-buru turun dari ranjang bergegas membuka pintu. Namun, Begitu melihat wajah putra keempatnya yang pucat, dahinya langsung berkerut.
"Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang penting?" tanyanya khawatir.
Danish langsung menyodorkan ponselnya ke hadapan sang ibu, dengan tangan gemetar.
"Mi... apa benar berita tentang Kak Niel, ini?"
Mami Mia menerima ponsel tersebut. Saat membaca judul berita dan melihat foto Daniel serta Zeya terpampang di layar, raut wajahnya seketika berubah. Dadanya dipenuhi amarah dan rasa sakit. "Sepertinya ada seseorang yang sengaja menjebak mereka, lalu menyebarkan fitnah itu, agar semua orang akan percaya. Siapakah dia...?"
.emaknya datang😁