Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Asing yang Tertinggal
Cahaya matahari pagi menyelinap paksa melalui celah gorden tebal, membentuk garis-garis terang yang menusuk langsung ke kelopak mata Rayyan. Pemuda itu mengerang lirih, tangannya bergerak spontan mencengkeram kepalanya sendiri yang terasa seperti dihantam godam besar. Berdenyut sangat hebat, menciptakan rasa pening yang membuat dunianya seolah berputar terbalik.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rayyan memaksakan dirinya untuk duduk di tepi ranjang. Ia mengerjapkan mata berulang kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang berserakan.
Namun, begitu netranya menyapu sekeliling ruangan, jantung Rayyan seketika berdesir hebat. Ini bukan kamar tidurnya yang luas di kawasan Ijen, bukan pula kamar asrinya bersama Zaza di Dinoyo. Desain interior minimalis modern bernuansa abu-abu, aroma pengharum ruangan beraroma vanila yang menyengat, dan tata letak perabotan yang asing ini adalah sebuah kamar hotel.
"Gue... di mana ini?" gumam Rayyan dengan suara serak, tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ingatannya terasa putus-putus seperti kaset rusak. Ia ingat ada pertemuan dengan klien dari Surabaya di restoran, ia ingat Ghea mengeluh sakit perut yang luar biasa, lalu ia membantunya berjalan hingga ke depan kamar nomor 402. Setelah itu? Rayyan mengingat rasa haus yang teramat sangat, sebuah gelas berisi cairan merah pekat, lalu... gelap total.
"Sial, kepala gue sakit banget," umpatnya lirih sembari memegangi pelipisnya.
Rayyan melangkah turun dari ranjang dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas. Pandangannya terjatuh pada kemeja biru dongker yang ia kenakan, dua kancing teratasnya terbuka berantakan. Ia segera merapikan kancing tersebut dengan tangan gemetar, dihantui oleh rasa panik dan bersalah yang mendadak menyeruak tanpa alasan yang jelas.
Ia berjalan tertatih menuju area ruang tengah dekat meja bar mini. Di atas meja kayu tersebut, telah tersaji segelas susu putih hangat yang mulai mendingin dan sepiring roti bakar dengan selai cokelat yang tampak rapi. Tepat di samping piring itu, jas hitam formal milik Rayyan terlipat di atas sofa.
Rayyan melangkah mendekat, lalu mengambil jasnya. Detik saat kain itu terangkat, embusan angin membawa aroma parfum wanita yang sangat kuat dan manis khas milik Ghea. Aroma yang seketika membuat bulu kuduk Rayyan berdiri.
"Ghea... semalam gue sama Ghea?" napas Rayyan memburu. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini terpampang nyata di depan mata.
Di atas meja, tepat di samping gelas susu, selembar kertas memo kecil berwarna kuning menarik perhatiannya. Ada tulisan tangan yang rapi dan terkesan manis di sana. Rayyan mengambil kertas itu dengan jemari yang kian dingin, lalu membaca untaian kalimatnya:
Kak Rayyan... maaf ya aku harus pergi pagi-pagi sekali. Papa mendadak menelepon dari Jember, ada urusan keluarga yang sangat penting dan darurat banget, jadi aku harus langsung pulang hari ini juga. Roti bakar sama susunya dimakan ya, Kak. Terima kasih banyak untuk 'malam semalam' yang luar biasa. Aku gak akan pernah melupakannya.
– Ghea.
Membaca kata demi kata di surat itu, bumi tempat Rayyan berpijak rasanya runtuh seketika. Surat itu seolah dirancang untuk menggiring opininya ke sebuah kesimpulan yang mengerikan.
"Nggak... Nggak mungkin! Gue gak mungkin ngelakuin hal sebodoh itu!" teriak Rayyan frustrasi, meremas kertas memo tersebut hingga tak berbentuk lalu melemparnya kasar ke lantai.
Ia meraba saku celananya dengan panik, mencari ponsel pintarnya. Begitu benda pipih itu menyala, layarnya menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari Umi dan puluhan pesan dari nomor-nomor rekan kantornya. Namun, saat ia membuka ruang obrolannya dengan Zaza, dadanya bagai dihantam ombak besar. Tidak ada pesan kemarahan, tidak ada rentetan makian. Hanya ada satu pesan terakhir dari Zaza yang dikirim pada sepertiga malam:
Mas, jika urusanmu sudah selesai, pulanglah. Pintu rumah selalu terbuka untuk suamiku.
Rayyan menyandarkan tubuhnya pada tepian meja dengan lemas, air matanya hampir saja menetes karena rasa bersalah yang menyiksa. Ia sangat bingung dan hancur. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Mengapa tubuhnya bisa selemas ini? Mengapa jasnya berbau parfum Ghea?
Di tengah kekacauan pikiran dan rasa pening yang masih mendera kepalanya, Rayyan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tahu, berdiam diri di kamar hotel ini hanya akan membuatnya tenggelam dalam taktik licik yang entah bagaimana telah menjebaknya. Ia harus pulang. Ia harus menghadapi Zaza dan mencari tahu kebenaran di balik lembaran gelap yang sengaja ditinggalkan oleh masa lalunya itu.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe