NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang

Malam menyelimuti Bandung dengan udara dingin yang menggigit, tetapi yang membuat Arga menahan napas bukanlah hawa pegunungan, melainkan denyut energi asing yang menyelimuti kota itu seperti jaring laba-laba tak kasatmata. Begitu mobilnya melewati gerbang tol dan memasuki jalan-jalan yang lebih lengang, Sensor Dimensi di dalam dirinya langsung beresonansi tanpa henti. Dalam sekejap ia memahami satu kenyataan yang membuat bulu kuduknya meremang: Bandung bukan wilayah kosong yang bisa dimasuki sesuka hati.

Dum...

Dum...

Setiap denyut yang ditangkap Sensor Dimensi membawa informasi yang berbeda. Sebagian terasa lemah seperti percikan lilin yang hampir padam, kemungkinan berasal dari kristal-kristal penelitian yang tersebar di berbagai fasilitas kecil. Namun jauh di balik gugusan perbukitan di utara kota, terdapat satu sumber energi yang begitu besar hingga terasa seperti matahari yang tersembunyi di balik kabut. Aura itu tidak hanya kuat, tetapi juga memancarkan tekanan yang membuat naluri bertahan hidup Arga berteriak memberi peringatan.

Arga memperlambat laju mobil lalu berhenti di sebuah area parkir yang menghadap hamparan lampu Kota Bandung. Dari kejauhan, kota itu tampak damai dengan lalu lintas malam yang masih ramai, pasangan muda yang berjalan santai di trotoar, serta aroma makanan yang mengepul dari warung-warung yang belum tutup. Sulit membayangkan bahwa hanya beberapa minggu lagi jalan-jalan yang sama akan dipenuhi darah, reruntuhan, dan jeritan manusia yang berusaha mempertahankan hidup.

Ia mengeluarkan teropong dari Ruang Dimensi lalu mengamati arah pegunungan yang menjadi pusat denyut energi terbesar. Dalam penglihatannya hanya tampak kompleks bangunan yang sebagian besar tertutup pepohonan pinus, dikelilingi pagar tinggi dengan beberapa menara komunikasi menjulang di antara kabut malam. Dari luar tempat itu tampak seperti pusat penelitian swasta, tetapi insting yang telah ditempa selama sepuluh tahun bertahan hidup mengatakan bahwa di sanalah salah satu jantung Organisasi Hitam sedang berdenyut.

Angin malam berembus perlahan melewati lereng.

Srrr...

Arga memejamkan mata sejenak untuk memperluas jangkauan Sensor Dimensi. Gelombang kesadarannya menyebar perlahan, memetakan denyut energi di seluruh area, membedakan mana yang berasal dari kristal, manusia biasa, maupun sosok yang telah mengalami kebangkitan seperti dirinya. Sejak berevolusi menjadi Awakener Tier 1, kemampuan itu berkembang jauh melampaui apa yang pernah dimilikinya pada kehidupan sebelumnya.

Tiba-tiba alisnya berkerut. Di balik salah satu bangunan tua yang berjarak sekitar dua ratus meter dari tempatnya berhenti, muncul denyut energi yang sangat aneh. Aura itu begitu tipis hingga nyaris menyatu dengan lingkungan, tetapi justru karena terlalu sempurna, Arga menyadari keberadaannya. Seseorang sedang menyembunyikan energinya dengan sengaja.

Ia tidak menoleh sedikit pun. Pengalaman panjang bertahan hidup mengajarinya bahwa musuh paling berbahaya adalah mereka yang mengetahui dirinya telah ditemukan. Karena itu Arga tetap berpura-pura mengamati kota melalui teropong, sementara seluruh indranya diam-diam mengunci posisi sosok misterius tersebut.

Denyut energi itu sama sekali tidak bergerak. Ia hanya mengawasi dengan kesabaran seorang pemburu yang telah terbiasa menunggu mangsanya melakukan kesalahan pertama.

"Awakener..." batin Arga pelan. "Dan dia jauh lebih terlatih daripada proto-Awakener di Sektor-9."

Beberapa detik yang terasa seperti menit berlalu dalam keheningan. Dari kejauhan, kedua Sensor Dimensi saling bersentuhan tanpa satu pun pemiliknya memperlihatkan diri. Tidak ada serangan, tidak ada langkah kaki, dan tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya permainan sunyi antara dua pemburu yang sama-sama memilih menyembunyikan kartu mereka sebelum waktu yang tepat tiba.

Arga akhirnya menyalakan kembali mesin mobil dan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan normal. Ia tidak berniat memulai bentrokan malam ini karena lawan yang mampu menyembunyikan aura sehalus itu jelas bukan musuh yang dapat dihadapi hanya dengan keberanian. Melalui kaca spion ia memang tidak melihat siapa pun mengikuti, tetapi Sensor Dimensinya masih menangkap keberadaan sosok tadi selama beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar menghilang.

Vruumm...

Perasaan tidak nyaman tetap tertinggal di dadanya. Ia menggenggam kemudi sedikit lebih erat sebelum mengembuskan napas pelan.

"Bandung..." gumamnya lirih. "Ternyata kau menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang kuingat."

Setelah memastikan dirinya tidak sedang dibuntuti, Arga memutar arah menuju kawasan industri di pinggiran kota. Berdasarkan data hasil curian dari Sektor-9, salah satu gudang logistik terbesar Organisasi Hitam tersembunyi di balik kompleks pergudangan yang setiap malam tampak sepi. Dari luar bangunan itu hanyalah gudang distribusi alat kesehatan biasa, tetapi Arga mengetahui identitas aslinya dan alasan mengapa tempat itu harus menjadi sasaran berikutnya.

Menjelang tengah malam, ia memarkir mobil beberapa blok dari lokasi target. Seluruh perlengkapan penting telah tersimpan di dalam Ruang Dimensi sehingga yang ia bawa hanyalah senter kecil dan sepasang sarung tangan tipis. Semakin sedikit barang yang terlihat, semakin kecil pula kemungkinan dirinya meninggalkan jejak.

Klik...

Pagar samping yang telah dipelajarinya melalui peta utilitas terbuka tanpa suara. Arga memanfaatkan titik buta kamera pengawas, bergerak di antara bayangan kontainer, lalu memasuki gudang melalui ventilasi servis yang nyaris tak pernah diperhatikan penjaga. Semua gerakannya berlangsung begitu tenang, seolah ia telah menghafal setiap sudut bangunan itu sejak lama.

Begitu memasuki ruang penyimpanan utama, matanya langsung menyapu deretan rak baja yang menjulang tinggi. Kardus obat-obatan, generator portabel, panel surya lipat, baterai industri, perlengkapan komunikasi, hingga peti logam bertanda kode biologis memenuhi ruangan. Di sudut lain, koper-koper tahan api tersusun rapi, masing-masing berisi uang tunai dan dokumen transaksi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Senyum tipis muncul di wajah Arga.

"Terima kasih sudah mengumpulkannya untukku."

Desis...

Ruang Dimensi terbuka jauh lebih lebar daripada sebelumnya. Dalam hitungan detik rak demi rak mulai kosong tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kardus menghilang, generator lenyap, peti logam masuk ke dalam dimensi pribadinya, disusul koper-koper uang dan kristal penelitian yang selama ini dikumpulkan Organisasi Hitam. Gudang yang semula penuh perlahan berubah menjadi ruangan luas yang hanya menyisakan debu di lantai beton.

Namun kali ini Arga tidak berhenti sampai di situ. Ia mengeluarkan beberapa kardus kosong dari sudut gudang lalu menyusunnya membentuk jalur semu menuju dinding belakang. Dengan hati-hati ia memindahkan jejak sepatu menggunakan papan kayu dan meninggalkan sobekan kain bergambar lambang perusahaan ekspedisi fiktif yang pernah digunakan kelompok kriminal pada kehidupan sebelumnya. Semua itu dilakukan untuk menciptakan ilusi bahwa gudang telah dijarah oleh sekelompok pencuri profesional.

"Biar kalian saling mencurigai," bisiknya pelan.

Belum lama ia menyelesaikan penyamaran itu, Sensor Dimensi tiba-tiba berdenyut keras.

Dum!

Tanpa ragu Arga memadamkan senter dan menyatu dengan kegelapan. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu elektronik terbuka dari sisi depan gudang.

Klik...

Langkah kaki yang mantap memasuki ruangan, disusul sorot senter yang bergerak cepat menyapu rak-rak kosong. Salah seorang di antara mereka mengumpat tertahan ketika melihat isi gudang telah lenyap tanpa bekas.

"Sial...! Siapa yang lebih dulu masuk?"

Arga tetap tidak bergerak. Ia dapat merasakan empat orang bersenjata memasuki gudang, tetapi perhatian utamanya justru tertuju pada satu aura lain yang berdiri di luar bangunan. Aura itu jauh lebih berat daripada milik para penjaga, tenang, stabil, dan memancarkan tekanan yang membuat instingnya terus berbunyi.

Tanpa membuang waktu, Arga mundur melalui ventilasi yang sama hingga akhirnya berhasil keluar dari kompleks pergudangan. Beberapa detik kemudian ia telah menghilang ke balik kegelapan malam sebelum siapa pun menyadari bahwa target yang mereka cari baru saja lolos dari hadapan mereka.

Di dalam gudang, para petugas hanya menemukan ruangan kosong yang mustahil dijelaskan dengan logika.

"Kamera?" tanya salah seorang.

"Masih diputar ulang."

"Hasilnya?"

"Tidak ada siapa-siapa."

Ucapan itu membuat ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Tak seorang pun mampu memahami bagaimana sebuah gudang sebesar itu dapat dikosongkan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Jauh di bawah kompleks industri tersebut tersembunyi markas bawah tanah yang tidak tercantum pada peta mana pun. Lorong-lorong beton dipenuhi ruang server, laboratorium penelitian, dan pusat komando yang beroperasi tanpa henti. Di sanalah laporan kehilangan gudang segera diteruskan kepada kepala cabang Organisasi Hitam di Bandung.

Seorang pria bertopeng hitam berdiri menghadap layar besar tanpa mengucapkan sepatah kata. Tubuhnya tinggi dengan jubah gelap yang menutupi hampir seluruh posturnya, sementara topeng polos di wajahnya membuat ekspresinya mustahil ditebak. Hanya sepasang mata tajam yang memantulkan cahaya monitor ketika seorang bawahan melapor dengan suara gemetar.

"Gudang Delta kosong dalam waktu kurang dari lima menit. Tidak ada tanda pembobolan."

Pria bertopeng itu tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian ia justru berjalan menuju lokasi gudang, ditemani beberapa anggota elit yang menjaga jarak di belakangnya. Setibanya di sana, ia berlutut perlahan lalu menyentuhkan telapak tangan ke lantai beton yang masih menyimpan sisa-sisa energi.

Keheningan menyelimuti ruangan.

Beberapa detik berlalu sebelum kepalanya sedikit terangkat. Ia memejamkan mata, membiarkan indranya menelusuri residu kekuatan yang tertinggal di udara. Energi itu terasa luas, sunyi, dan memiliki karakteristik ruang yang terus berubah, berbeda dari kemampuan mana pun yang pernah dikenalnya.

Sudut bibir di balik topeng perlahan terangkat.

"Jadi benar..." katanya pelan.

Ia berdiri lalu memalingkan wajah ke arah pegunungan yang diselimuti kabut malam.

"Ghost Collector..." ucapnya hampir seperti bisikan. "Akhirnya kau datang ke wilayahku."

Pada saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, mobil Arga melaju membelah jalanan Bandung yang mulai lengang. Tangan kirinya tetap menggenggam kemudi, tetapi tatapannya berubah semakin tajam ketika Sensor Dimensi kembali menangkap denyut aura yang sama. Kali ini aura itu bukan sekadar hadir, melainkan bergerak perlahan mengikuti jejak energi yang ia tinggalkan.

Arga mengembuskan napas panjang. Di balik kaca depan, lampu-lampu kota membentang seperti lautan bintang yang menyembunyikan bahaya di setiap sudutnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia menyadari bahwa ada seseorang yang benar-benar mampu melacak keberadaan kekuatannya.

Perburuan yang selama ini hanya berjalan sepihak kini berubah menjadi permainan antara dua pemburu yang sama-sama mematikan. Dan di Kota Kembang yang masih tampak damai itu, babak pertama dari pertarungan mereka akhirnya resmi dimulai.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!