NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Saudara Kembar Rania

"Dia bilang... tolong selamatkan saudara kembarku." Pria itu menelan ludah setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Ruangan langsung hening, tidak ada seorang pun yang berbicara bahkan suara hujan yang menghantam atap rumah tua itu terdengar jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Semua mata tertuju pada Viktor.

"Apa maksudnya?" tanya Bintang sambil menatap pria itu tajam.

Viktor mengembuskan napas panjang, wajahnya terlihat semakin lelah setelah rahasia demi rahasia mulai terbuka.

"Itu berarti dia sudah tahu." Viktor memejamkan mata sesaat.

"Tahu apa?" tanya Rania sambil menggenggam kedua tangannya erat.

"Bahwa dia tidak pernah sendirian."

Damar langsung memalingkan wajah, sedangkan Leonard hanya tersenyum tipis.

"Akhirnya sampai juga di titik ini." Leonard menggeleng pelan. "Aku hampir tidak percaya bisa melihatnya."

"Diam." Damar menatapnya dingin.

"Aku hanya menikmati hasil dari semua kebohongan yang kalian bangun." Leonard mengangkat bahu santai.

Bintang mulai kehilangan kesabaran, tatapannya bergantian menatap Viktor, Damar, dan Leonard.

"Aku ingin jawaban sekarang." Rahangnya mengeras. "Tidak ada lagi yang ditutupi."

Viktor menatap Rania cukup lama, ada keraguan di wajah pria itu, tetapi akhirnya ia mengangguk pelan.

"Anak laki-laki itu lahir di malam yang sama denganmu." Viktor menarik napas panjang. "Dan sejak malam itu, kalian berdua dipisahkan."

"Kenapa?" tanya Rania cepat.

"Karena seseorang ingin kalian menghilang."

"Aku tidak mengerti." Rania menggeleng pelan.

"Kalian berdua adalah saksi."

"Saksi apa?" Bintang mengernyit.

Viktor tidak langsung menjawab, tatapannya beralih ke Leonard sejenak sebelum kembali kepada Rania.

"Saksi dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun."

Suasana kembali tegang, Rangga yang sejak tadi diam ikut memperhatikan dengan serius bahkan anak buah yang berada di sekitar rumah sudah menghentikan semua percakapan mereka.

"Kalau kami masih bayi, bagaimana mungkin kami menjadi saksi?" tanya Rania sambil mengusap pelipisnya.

"Itulah masalahnya." Viktor menatap lantai beberapa saat. "Kalian tidak mengingat apa pun."

"Lalu kenapa kami diburu?" Bintang menyilangkan tangan di dada.

"Karena keberadaan kalian cukup untuk menghancurkan banyak orang."

Leonard tertawa pelan.

"Dia benar." Pria tua itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Banyak sekali orang yang rela membunuh demi memastikan rahasia itu tetap terkubur."

"Termasuk kau?" tanya Bintang dingin.

"Aku tidak pernah berpura-pura menjadi orang baik." Leonard tersenyum.

"Kalau bukan karena keserakahanmu, semua ini tidak akan terjadi." Damar langsung mengepalkan tangannya.

"Jangan salahkan aku untuk semuanya." Leonard menatapnya tajam. "Kau juga ada di sana malam itu."

Kalimat tersebut membuat ruangan kembali sunyi. Rania memperhatikan perubahan ekspresi Damar. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat bersalah.

"Apa yang terjadi malam itu?" tanyanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

"Apa yang terjadi?" ulangnya lebih keras.

Damar mengembuskan napas berat, bahunya terlihat turun seolah beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun mulai menghancurkannya.

"Malam itu ada kebakaran." Damar menatap Rania dengan mata merah. "Dan banyak orang yang mati."

Bintang menyipitkan mata. Potongan demi potongan mulai terbentuk, tetapi masih belum cukup untuk memberikan gambaran yang jelas.

"Kebakaran di mana?" tanyanya.

"Dalam sebuah rumah." Damar mengusap wajahnya kasar. "Rumah yang menjadi tempat pertemuan kami."

"Siapa yang membakarnya?" tanya Rangga sambil melangkah mendekat.

Damar tidak menjawab.

"Itu pertanyaan yang menarik." Justru Leonard yang tertawa kecil.

"Jawab." Tatapan Bintang berubah dingin.

"Kalau aku menjawab sekarang, seseorang di ruangan ini akan membenciku lebih dari sebelumnya." Leonard menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

"Jangan bermain-main." Bintang mengepalkan tangannya.

"Aku tidak bermain."

Rania mulai merasa sesak, setiap jawaban yang muncul hanya melahirkan pertanyaan baru.

"Aku ingin bertemu anak laki-laki itu." Ia menatap Viktor lurus.

Semua orang langsung menoleh.

"Itu berbahaya." Viktor menggeleng cepat.

"Aku tidak peduli."

"Kau harus peduli."

"Aku sudah kehilangan terlalu banyak hal tanpa pernah diberi kesempatan memilih." Rania menahan air matanya. "Sekarang aku ingin mencari jawabannya sendiri."

Bintang menatap wanita itu beberapa saat, ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Rania ketika sudah mengambil keputusan.

"Aku ikut." Tatapannya beralih kepada Viktor.

"Kau tidak perlu terlibat lebih jauh." Viktor menghela napas panjang.

"Aku sudah terlibat sejak awal." Bintang mengangkat foto yang tadi diberikan Viktor. "Dan aku ingin tahu kenapa wajah pria ini mirip denganku."

Hujan di luar semakin deras, angin malam masuk melalui jendela yang pecah dan membuat suhu ruangan terasa lebih dingin namun suasana yang memenuhi rumah tua itu jauh lebih dingin daripada cuaca di luar.

"Tuan." Salah satu anak buah Viktor masuk dengan langkah tergesa-gesa. "Kami mendapat kabar baru."

"Katakan." Viktor langsung berdiri.

"Video ini baru masuk lima menit yang lalu." Pria itu menyerahkan sebuah ponsel.

Viktor segera memutarnya dan semua orang langsung mendekat. Video tersebut memperlihatkan seorang pria muda yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, wajahnya pucat, kepalanya dibalut perban namun tidak ada yang salah mengenalinya. Pria itu adalah orang yang ada di foto pria yang sangat mirip Bintang.

"Dia..." bisik Rania sambil menatap layar.

Video itu bergerak beberapa detik sebelum pria tersebut membuka matanya perlahan.

"Kalau kalian melihat ini..." Suaranya terdengar lemah. "Artinya mereka sudah menemukanku."

Semua orang terdiam, pria itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku tidak punya banyak waktu."

Bintang menatap layar tanpa berkedip, jantungnya berdegup semakin cepat dan entah kenapa ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan saat melihat pria itu.

"Aku tidak tahu siapa yang akan menerima video ini." Pria itu batuk pelan. "Tapi jika Rania masih hidup... jangan biarkan dia pergi ke Menara Ardent."

Ruangan langsung hening.

"Apa itu?" tanya Rangga pelan.

Tidak ada yang menjawab karena wajah Viktor berubah pucat, karena Damar terlihat panik, karena bahkan Leonard kehilangan senyumnya dan reaksi mereka membuat Bintang sadar bahwa nama itu jauh lebih berbahaya daripada yang terdengar.

Video kembali berlanjut.

"Kalau dia pergi ke sana..." Pria itu memejamkan mata sesaat. "Semuanya akan berakhir."

Layar tiba-tiba menjadi gelap, video berhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan hanya keheningan yang memenuhi ruangan. Kemudian ponsel Viktor berdering dan semua orang menoleh. Viktor melihat nama yang muncul di layar, lalu wajahnya langsung berubah.

"Ada apa?" tanya Bintang.

"Rumah sakit tempat pria itu dirawat..." Viktor menelan ludah.

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.

"Kenapa?" tanyanya.

"Baru saja diserang." Viktor mengangkat pandangan perlahan.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!