NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 11.

“Anda siapa?” Liora balas menatapnya tanpa gentar.

Wanita itu tampak sedikit terkejut dengan keberanian Liora. “Aku Marissa.”

“Oh.”

Marissa mengernyit. “Oh?”

“Aku tadi cuma tanya, tak ada maksud apa-apa.” Liora mengangkat bahu dengan santai, seolah percakapan itu tidak penting baginya.

Beberapa orang di sekitar mereka langsung menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum. Wajah Marissa sedikit menegang, ia kemudian menyilangkan tangan di depan dada.

“Jujur saja, aku tidak mengerti kenapa kamu mau tinggal bersama Dewangga.”

Liora sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Maksudnya?”

“Kamu masih muda, cantik. Masa depanmu masih panjang. Bukankah sayang kalau kamu menghabiskan hidupmu bersama pria seperti dia? Pria yang bahkan tidak bisa hidup dengan normal.” Tatapan Marissa bergeser ke arah Dewangga yang berdiri di samping Liora, senyum di bibirnya berubah menjadi lebih tajam. Nada suaranya terdengar lembut, tetapi setiap kata yang keluar dipenuhi penghinaan.

Marissa belum selesai bicara, dia menatap Dewangga dengan tatapan merendahkan. “Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah pergi sejak lama. Bagaimanapun juga... dia hanyalah pria cacat, yang kini tak berguna di keluarga Salendra.”

Keheningan langsung menyebar ke seluruh ruangan. Orang-orang saling bertukar pandang, tetapi tak ada yang bersuara. Beberapa bahkan sengaja menyesap minuman lebih lama dari biasanya, berpura-pura santai sambil diam-diam memasang telinga untuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Liora dan Marissa.

Liora hanya tersenyum tipis. "Kalau saya jadi Anda, saya tidak akan begitu bangga mempertontonkan keburukan karakter sendiri di depan banyak orang."

Ekspresi Marissa langsung berubah. "Apa maksudmu?"

“Maksud saya... Anda sedang menunjukkan kepada semua orang seperti apa karakter Anda sebenarnya. Hanya karena Tuan Dewangga tidak bisa melawan, bukan berarti Anda terlihat lebih baik saat menghinanya.” Liora tersenyum dingin, tatapannya sangat tajam. "Saya memang baru mengenal Tuan Dewangga, tapi saya tidak pernah melihat dia menyakiti siapa pun."

Liora melangkah hingga berdiri tepat di depan Marissa. Tatapannya dingin, membuat senyum sinis di wajah wanita itu perlahan memudar.

"Anda bilang sangat disayangkan kalau saya menghabiskan hidup bersama Tuan Dewangga? Menurut saya, yang lebih disayangkan adalah hidup dengan tubuh sempurna seperti Anda... tapi tidak punya hati nurani dan empati! Sikap Anda saat ini, menunjukkan betapa buruknya kepribadian Anda!" Liora melontarkan kalimat itu dengan suara dingin dan tajam.

Wajah Marissa membeku, wajahnya berangsur-angsur memerah. "Beraninya kau—!"

"Tidak perlu berteriak, saya masih bisa mendengar."

“Memangnya ucapanku salah?! Dewangga memang pria cacat mental!“ Marissa tertawa sinis.

PLAK!

Suara tamparan menggema di ruangan, semua orang di ruangan membeku. Marissa memegangi pipinya dengan mata membelalak. Tidak ada yang menyangka jika Liora berani menampar Marissa, bahkan Keivan sampai mengangkat alisnya.

"Ya Tuhan!"

"Dia menampar Marissa!"

"Apa dia gila?"

Keributan langsung pecah, tubuh Marissa gemetar hebat karena amarah. "Kau berani menamparku?!"

Liora menatap Marissa tanpa rasa bersalah sedikit pun, tatapannya sangat dingin. "Kalau mulutmu tidak bisa dijaga, jangan salahkan orang lain yang mengajarimu dengan cara seperti ini!"

"Kau—"

"Kalau ada yang menghinaku, aku masih bisa diam. Tapi kalau ada yang menghina Tuan Dewangga, aku tidak akan diam!"

Marissa mengepalkan tangan. "Memangnya kau ini siapa sampai berani memperlakukanku seperti ini?!"

"Siapa aku?" Liora tertawa pendek sambil menatap Marissa lekat-lekat. "Aku istri Tuan Dewangga, aku adalah Nyonya Dewangga. Jadi mulai sekarang, siapa pun yang berani menghina atau merendahkan suamiku akan berurusan denganku. Dan percayalah, saat aku membalas... itu bukan sesuatu yang ingin kalian alami!"

Liora melirik bekas tamparan di pipi Marissa, lalu menyeringai dingin. "Anggap saja tamparan ini sebagai peringatan pertama. Kalau kau masih tidak mengerti cara menjaga ucapanmu... lain kali yang kau terima, mungkin bukan sekadar tamparan."

Semua orang terhenyak, tak ada yang menyangka Liora akan mengakui status itu secara terang-terangan di depan seluruh keluarga besar Salendra. Di antara mereka hanya Keivan yang tampak berbeda, sudut bibir bocah itu terangkat puas. Ternyata penilaiannya tidak salah, Liora memang wanita yang tepat untuk berdiri di sisi ayahnya.

Sementara itu, Liora sendiri justru menyesali ucapannya. Baru saja dia dengan lantang mengaku sebagai istri Dewangga.

Kenapa mulutku bisa mengatakan itu?

Liora menahan keinginan untuk memegangi kepalanya. Ia melirik ke samping, Dewangga berdiri di sana dengan wajah lugu. Pria itu sama sekali tidak terlihat memahami keributan yang baru saja terjadi, bahkan tampak tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya.

Apa aku benar-benar harus menikah dengan pria ini? Liora menghela napas pelan.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!