NovelToon NovelToon
Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Iblis
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.

Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.

Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.

Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.

Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawanan Penjara Assura

Penjara Assura berada di bawah istana, lebih dalam daripada ruang penyiksaan Juan Ling. Di sana tersimpan wanita, anak-anak, prajurit kalah, dan para tawanan yang dulu dijadikan makanan politik oleh rezim lama. Lin Xiurong turun sendiri ke sana karena ia tidak ingin memerintah hanya dari kursi takhta.

Para tawanan gemetar saat melihatnya. Bagi mereka, raja baru tidak lebih baik dari raja lama. Lin Xiurong membaca ketakutan itu dan tidak marah. Ia pernah menjadi tawanan dalam tubuh manusia, dalam takdir, dalam cinta, dan dalam kebencian. Ia tahu ketakutan kadang lebih jujur daripada sumpah.

Ia memerintahkan semua rantai dibuka, tetapi tidak satu pun tawanan diizinkan pergi sebelum memilih sumpah hidup.

Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.

Qi An tidak menyukai kemungkinan. Baginya, yang tidak pasti harus dipotong sebelum tumbuh menjadi bahaya. Song Xiaolian berbeda; ia selalu memberi kesempatan pada hal kecil untuk bertahan.

Song Xiaolian memberanikan diri meminta agar wanita dan anak-anak yang lemah dilepaskan tanpa syarat. Qi An langsung menoleh tajam. Di Alam Bawah, kata lemah sering menjadi topeng paling nyaman bagi racun. Lin Xiurong memandang Song Xiaolian lama, bukan karena marah, tetapi karena ia sedang menimbang sisa manusiawi dalam dirinya.

Akhirnya Lin Xiurong berkata bahwa mereka boleh hidup jika bersedia mengikuti hukum baru. Tidak ada lagi perdagangan budak anak. Tidak ada pengorbanan tawanan untuk memperpanjang umur. Tidak ada pembunuhan tanpa pengadilan darah.

Para iblis tua terkejut. Hukum itu terdengar seperti belas kasihan, tetapi ancaman di baliknya jauh lebih menakutkan.

Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.

Tiga alam tidak pernah benar-benar adil. Surga punya aturan, Alam Bawah punya hukum, dan manusia hanya punya harapan yang sering pecah sebelum sempat tumbuh.

Malamnya, panji merah Phoenix dikibarkan di seluruh kota bawah. Beberapa iblis kecil menyalakan lentera darah untuk merayakan. Beberapa klan besar diam-diam menghitung peluang memberontak. Lin Xiurong sudah menduganya. Ia meminta Qi An mencatat nama mereka, bukan untuk langsung membunuh, melainkan untuk melihat siapa yang cukup bodoh menunggu hari kedua.

Song Xiaolian bertanya apakah master tidak lelah terus mencurigai semua orang. Lin Xiurong menjawab bahwa ia lelah, tetapi dunia tidak pernah menjadi lebih baik hanya karena seseorang kelelahan.

Di atas tembok istana, seekor burung hitam jatuh terbakar. Di kakinya terikat serpihan awan putih. Qi An mencium aroma langit.

Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.

Di Alam Bawah, kebenaran jarang datang dalam bentuk terang. Ia lebih sering muncul sebagai bau darah, bekas luka, atau keheningan yang terlalu lama dipertahankan.

Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.

Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.

Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.

Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.

Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.

Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.

Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.

Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.

Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.

Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.

Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.

Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.

Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.

Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.

Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.

Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.

Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.

Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.

Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.

1
anggita
ikut kasih like👍, iklan☝aja .
Carina Yuda: Makasih kak🙏
total 1 replies
Carina Yuda
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!