NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: ORANG BUANGAN DAN DINDING KOTA

Keheningan di ruang rahasia bawah tanah itu terasa mencekam. Di atas sana, sirine peringatan ibu kota meraung-raung, menandakan bahwa pemburuan besar-besaran terhadap "pengkhianat" telah dimulai. Axel, Reynarda, Valeria, dan Elysia kini berada dalam posisi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: buronan nomor satu.

"Kita tidak bisa bersembunyi di sini selamanya," ujar Elysia sambil mematikan pelindung sihir yang membungkus ruangan tersebut. "Menara ini sudah dikunci oleh Dewan Tetua. Mereka tahu aku ada di sini."

Valeria menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang lembap. "Dunia bawah sudah menutup pintu untukku. Kardinal Vane telah menyuap para informan bayanganku. Mereka sekarang memburu kita demi hadiah kepala yang ditawarkan Gereja."

Reynarda melangkah mendekat ke arah peta strategis yang diproyeksikan oleh sihir Elysia. "Kita tidak punya sekutu lagi di dalam tembok kota ini. Semua akses keluar dijaga ketat oleh Inquisitor."

Axel diam, menatap peta tersebut. Dia tidak memiliki kekuatan sihir, namun dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh tiga wanita ini: sudut pandang seorang staf yang tahu bagaimana sistem bekerja dari bawah.

"Host, data analitik saya menunjukkan probabilitas keberhasilan untuk keluar melalui jalur utama hanya 0,4%. Namun, ada celah pada drainase limbah kuno di sektor distrik kumuh. Peta tata kota yang saya retas menunjukkan bahwa jalur itu belum dipetakan ulang oleh gereja selama 200 tahun."

Axel tersenyum tipis. "Kita akan keluar lewat bawah."

"Bawah?" tanya Reynarda heran. "Itu pembuangan kotoran ibu kota, Axel. Bau dan sangat menjijikkan."

"Itulah kelebihannya," Axel menatap mereka. "Tidak ada ksatria suci yang sudi mengotori sepatu emas mereka di sana, dan tidak ada penyihir yang mau melacak jejak mana di tengah bau limbah yang pekat."

Satu jam kemudian, mereka benar-benar berada di dalam terowongan bawah tanah yang gelap, berbau busuk, dan lembap.

Reynarda, yang biasanya berjalan dengan zirah perak yang berkilau, kini harus menutupi baju besinya dengan jubah kumal. Elysia tampak menahan mual, sementara Valeria—yang memang terbiasa dengan sisi gelap dunia bawah—tampak jauh lebih tenang.

Axel berjalan di depan dengan sebuah senter darurat.

"Host, jika Anda merasa tidak nyaman, ingatlah bahwa ini adalah langkah awal untuk menguasai kembali ibu kota," suara AI di kepala Axel terdengar geli. "Bayangkan saja judul berita besok: 'Ksatria Suci dan Penyihir Agung Terpaksa Merangkak di Selokan demi Seorang Staf Kebersihan'."

"Diamlah, AI," gumam Axel pelan, yang membuat ketiga wanita di belakangnya menoleh bingung.

"Kau bicara dengan siapa, Axel?" tanya Reynarda.

"Tidak, hanya... memikirkan rute," jawab Axel cepat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema dari kejauhan. Trak. Trak. Trak. Bukan langkah kaki manusia biasa, melainkan langkah kaki berlapis besi yang berat.

"Inquisitor," bisik Valeria, matanya berubah menjadi merah di kegelapan. "Mereka melacak kita melalui sisa energi dari portal tadi."

"Kita terkepung," gumam Elysia, menyiapkan tongkat sihirnya.

"Jangan gunakan sihir," perintah Axel tegas. "Jika kalian mengeluarkan sihir, jejaknya akan langsung terdeteksi oleh radar gereja di seluruh kota. Gunakan kemampuan fisik kalian."

Reynarda menarik pedang raksasanya, namun ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan aura cahaya emasnya. Dia mengandalkan berat pedang itu sendiri. Valeria menghilang ke dalam bayangan, dan Elysia mencabut belati perak yang terselip di pinggangnya.

Tiga Inquisitor bertopeng perak muncul dari tikungan terowongan. Mereka tidak membuang waktu, langsung menyerang dengan kecepatan tinggi.

Pertarungan jarak dekat di dalam terowongan sempit itu sangat brutal. Reynarda, meski tanpa sihir, adalah seorang maestro pedang. Dia menangkis serangan pertama dengan bahu pedangnya, lalu melakukan serangan balik yang menghancurkan topeng Inquisitor itu dengan satu hantaman gagang pedang.

Valeria muncul dari bayangan tepat di belakang Inquisitor kedua, mematahkan lehernya dalam hitungan detik. Elysia, yang biasanya hanya mengandalkan sihir, menunjukkan sisi aslinya: dia adalah petarung yang gesit dan presisi. Dia melompat, menendang Inquisitor ketiga, lalu mengunci gerakannya dengan belati di leher.

Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiganya terkapar tak berdaya.

Axel menghampiri salah satu Inquisitor yang masih bernapas, membongkar topengnya. Wajahnya pucat, dengan simbol gereja yang terbakar di keningnya.

"Mereka bukan manusia," bisik Axel. "Mereka adalah boneka sihir yang dikendalikan dari jarak jauh."

"Host, peringatan! Boneka ini memiliki mekanisme penghancur diri. Mereka akan meledak dalam 10 detik! Energi ledakannya cukup untuk meruntuhkan seluruh sektor terowongan ini!"

Axel membelalak. "Lari! Sekarang!"

Mereka berlari sekuat tenaga di dalam terowongan yang mulai bergetar. Axel hampir terjatuh, namun Reynarda menyambar pinggangnya dan menggendongnya di punggungnya, berlari secepat kilat.

BLAAARR!

Ledakan dahsyat mengguncang terowongan. Langit-langit di belakang mereka runtuh menutupi jalur keluar. Mereka terlempar keluar dari celah lubang pembuangan, jatuh ke tumpukan sampah di luar tembok kota.

Mereka selamat, namun kini mereka berada di wilayah hutan terlarang di luar tembok ibu kota. Axel turun dari punggung Reynarda, napasnya terengah-engah. Di depannya, benteng kota yang megah terlihat jelas, kini tertutup oleh pasukan yang mulai bersiap menyisir hutan.

"Kita berhasil keluar," ucap Valeria sambil menyeka noda kotor di wajahnya.

"Ya," Axel menatap tembok kota yang semakin lama semakin menjauh. "Dan mulai sekarang, kita tidak punya rumah untuk kembali."

"Tapi di sisi lain," suara AI muncul kembali dengan nada penuh antisipasi, "Anda sekarang memiliki pasukan kecil yang paling setia dan mematikan di dunia. Rencana kita selanjutnya, Host?"

Axel menatap ketiga wanita yang kini berdiri di sampingnya—si ksatria, si penyihir, dan sang ratu kegelapan. Mereka semua menatapnya, menunggu perintah berikutnya.

"Kita cari persembunyian," kata Axel dingin. "Lalu kita susun strategi untuk melumpuhkan menara pusat komunikasi gereja. Jika mereka ingin bermain kotor, kita akan memutus mata dan telinga mereka."

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!