NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 08 : Royal

Mobil melaju dengan tenang meninggalkan area mall. Suasana di dalamnya hening, hanya suara mesin dan lalu lintas kota yang samar terdengar.

Lyko duduk di kursi belakang, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya. Sesekali matanya melirik ke arah belakang, yaitu ke arah bagasi yang kini dipenuhi dengan paperbag.

Semua barang itu adalah miliknya. Pakaian, sepatu, dan bahkan aksesoris yang hanya beberapa menit sempat ia lihat langsung Xavier belikan tanpa Lyko memintanya.

Lyko sedikit menyesal karena ia sudah banyak melihat beberapa barang-barang yang pada akhirnya selalu Xavier belikan tanpa tahu apakah itu barang yang Lyko inginkan atau tidak.

Dan bahkan semua barang itu selalu menginjak angka diatas harga 1 juta, tidak ada yang dibawah itu.

‘Berapa uang yang telah ia keluarkan untukku? Benarkah ini semua bukan mimpi?’ batin Lyko tampak terus berpikir keras.

Perlahan, rasa tidak nyaman mulai mengisi dadanya. Ia menunduk pelan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Maaf sebelumnya…” katanya pelan dengan ragu-ragu tapi masih dengan nada yang lembut.

Xavier yang sejak hanya menatap lurus kedepan perlahan sedikit menoleh. “Ada apa?” tanyanya.

Lyko tampak ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata, “Apa… semua ini benar-benar tidak apa-apa? Maksudku… barang-barang itu terlalu mahal. Aku merasa… tidak sepadan menerimanya…”

Suasana hening beberapa detik, perkataan Lyko barusan sangat membuat Xavier tertegun. Keningnya mulai berkerut. Xavier kembali menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan ekspresinya.

“Aku tidak suka dengan penolakan,” jawabnya singkat. “Kalau kau tidak suka dengan apa yang aku belikan padamu kau bisa beli sendiri dan buang saja barang-barang itu,” ia menoleh sekilas kearah belakang bagasi.

Lyko saat mendengar perkataan Xavier barusan. “Ini buka soal suka atau tidak,” ucapnya pelan. “A-aku, aku hanya merasa semua ini terlalu berlebihan, apalagi kita belum memiliki ikatan apapun,” Lyko menunduk perlahan.

Xavier kembali menoleh padanya. “Aku hanya memberikan fasilitas yang layak untukmu, apa itu salah?” Xavier kembali membuat Lyko terdiam.

Lagi-lagi kalimat yang keluar dari mulut Xavier hanya dapat membuatnya membeku tanpa suara. Lyko tidak berani berkata apapun lagi, ia mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak salah berbicara kembali.

“Mulai sekarang, apapun yang aku berikan padamu jangan di tolak, kalau ada yang ingin kau katakan langsung katakan, jika ada yang membuat suasana hatimu tidak enak katakan saja padaku, paham?” lanjut Xavier.

Lyko mengangguk kecil. “Aku paham, terimakasih.”

‘Gadis ini... ternyata bukan wanita yang materialistis, heh menarik,’ batin Xavier.

1 jam sebelumnya...

Terlihat Xavier dan Lyko baru saja keluar dari toko sepatu dan hendak berjalan ke toko selanjutnya. Lyko sedang memegang bill sepatu, wajahnya tampak tercengang tak percaya.

‘Satu pasang sepatu ini cukup untuk membayar uang administrasi dikampusku selama 3 bulan,’ batinnya kemudian menaruh bill itu disakunya.

Kini mereka sampai ditoko aksesoris, Xavier dan Lyko langsung memasukinya. Didalam, tampak ada boneka, bando, dan perlengkapan kecatikan yang sangat lucu bagi perempuan.

“Ambil apa yang bagimu bagus,” Xavier langsung menyerahkan keranjang padanya.

Lyko mengambil keranjang itu, “terimakasih.”

Mereka mulai berjalan dan mulai mencari aksesoris yang Lyko butuhkan. Saat sedang berjalan-jalan Lyko berhenti di etalase bando.

“Boleh aku ambil beberapa?” tanya Lyko lembut pada Xavier, matanya tampak sedikit ragu-ragu.

Xavier mengangguk, “tentu saja, ambil apa yang kau sukai.”

Saat Lyko melihat beberapa bando matanya langsung membulat. Jelas terlihat harga bando itu 1,5 juta satu bando.

“Anu... Xavier, apa sebaiknya kita membeli bando di pasar saja?” kata Lyko dengan nada polos tanpa bersalah.

Xavier terdiam, berusaha memahami isi kepala Lyko. “Pasar? Maksudmu?” tanyanya yang tak mengerti.

“Iya pasar, bando seperti ini bisa dapat 3 dengan harga 100 ribu saja jika membelinya dipasar,” ia tersenyum sedikit sambil menjelaskan.

‘Apa dia sedang meremehkanku?' batin Xavier.

“Tidak perlu, sudah ku katakan ambil apa saja yang kau sukai, apa bahasaku ini tidak kau pahami dengan cukup baik?” kata Xavier sedikit mengerutkan kening.

Lyko hanya terdiam dan kemudian mengambil bando itu. “Ba-baiklah aku mengerti, te-terimakasih,” ucap Lyko sambil sedikit tersenyum.

FLASHBACK OFF

Felix yang sedang sibuk menyetir hanya diam dan mengamati, matanya sesekali melirik ke kaca spion, memperhatikan interaksi Xavier dan Lyko. Keraguan di hatinya belum sepenuhnya hilang, namun perlahan ia mulai sadar kalau Lyko mungkin dapat dipercaya walau tak sepenuhnya.

‘Dia cukup berbeda dari wanita-wanita lainnya,’ batin Felix sambil melihat Lyko dari kaca spion.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran yang besar dan mewah. Bangunannya elegan, dengan lampu-lampu hangat dan suasana disana terkesan sangat eksklusif. Tempat seperti ini jelas bukan untuk sembarang orang, namun untuk orak berkelas atas.

Felix turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Lyko dan Xavier. Lyko keluar dengan hati-hati, matanya langsung berkeliling melihat sekitar.

Pemandangan ini terasa asing dimatanya, karena memang ia belum pernah menginjakkan kaki di restoran seperti ini.

Xavier keluar menyusul, lalu langsung mengisyaratkan Lyko untuk ikut dengannya. Felix juga ikut berjalan di belakang mereka.

Begitu sampai di dalam, Xavier menyerahkan sebuah kartu kepada Felix. “Makanlah sambil menunggu kami, aku akan menelponmu kalau sudah selesai makan, paham?” ucapnya.

Felix menerima kartu itu dengan sopan. “Baik, Tuan,” ia membungkukkan badan kepada Xavier dan Lyko. Kemudian ia pergi berjalan ke ruangan driver room.

Sementara itu, Xavier mengajak Lyko duduk di sebuah meja yang hanya untuk dua orang dan dekat dengan dinding kaca.

Tak lama setelah mereka duduk, pelayan datang dan menyerahkan menu. “Selamat pagi nyonya, Tuan. Mau pesan apa?” tanya pelayan itu dengan ramah.

Xavier menatap Lyko. “Mau makan apa?” tanyanya.

Lyko tersentak kecil, namun segera menjawab. “Samakan saja denganmu,” katanya lembut.

Xavier mengangguk. “Antarkan menu terbaik kalian untuk dua orang, berserta minumannya,” ucapnya sambil kembali menyerahkan menu itu pada pelayan.

Pelayan itu mengangguk dan mengambil menu kembali. “Baik, mohon ditunggu,” kemudian ia berlalu pergi.

Beberapa menit tampak hening, Lyko hanya diam dan begitu pula dengan Xavier. Lalu tiba-tiba Xavier mulai membuka suara. “Bundamu memang tinggal di mana?” tanyanya secara tiba-tiba.

Lyko sedikit terkejut, tapi segera menjawab, “di rusun… dekat area pertanian jagung,” ucapnya.

Xavier mengernyit sedikit. Ia jelas mengenal tempat itu. “Bukankah itu kawasan terpencil? Dan bukannya tempat itu sangat kumuh?” katanya.

Lyko mengangguk pelan. “Iya, tapi itulah tempat tinggalku sejak aku lahir,” katanya sambil menunduk pelan.

Jawaban itu membuat Xavier terdiam. Kemudian perlahan ia bertanya lagi, “lalu bagaimana kau bisa masuk ke Rylance?”

“Tentu saja melalui beasiswa… kalau tidak, aku juga tidak akan bisa masuk ke sana,” jawabnya pelan.

Xavier mengangguk kecil. Jawaban itu cukup masuk akal baginya. Dan semakin memperjelas satu hal, apa mungkin ini alasannya ia selalu menolak barang pemberian Xavier?

Lyko memang bukan berasal dari dunia yang sama dengannya. Jarak mereka seperti dipisahkan oleh tebing yang tinggi.

Namun tiba-tiba, ponsel Lyko bergetar. Ia sedikit terkejut, lalu mengeluarkannya dari dalam saku.

“Maaf… boleh aku membalas pesan sebentar?” tanyanya sopan.

Xavier mengangguk. “Tentu saja, silahkan.”

Lyko membuka aplikasi pesan, matanya seketika membesar. Terlihat ada 158 panggilan tak terjawab dan 267 pesan tak terbaca, itu dari teman Lyko yang bernama Kelly.

Lyko terdiam, lalu tersenyum kecil. Sahabatnya itu… pasti sangat panik ia tidak bisa dihubungi dari kemari.

Ia membuka pesan lainnya, itu dari temannya yang bernama Ruby. Terdapat 110 pesan dan 67 panggilan.

Lyko menahan napas sejenak, hatinya terasa hangat. Ia sadar, di dunia yang mungkin kejam ini ia masih memiliki orang yang menyayanginya selain Bundanya sendiri.

‘Benar, meski dunia tidak adil padaku, setidaknya aku masih memiliki orang yang menyayangiku,’ batinnya.

Ia mulai membalas pesan satu per satu. Setelah beberapa menit, ia kembali menutup ponselnya dan kembali menaruhnya.

Xavier memperhatikannya sekilas, ada kilatan penasaran dimatanya. “Siapa?” tanyanya.

Lyko menatap ke arah Xavier. “Teman-temanku… mereka khawatir karena aku tidak bisa dihubungi dari kemarin,” jawab Lyko pelan.

Xavier mengangguk mengerti.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang sambil membawa hidangan. Yang dipesan oleh Xavier. “Permisi, pesanan anda,” ucap pelayan sambil menyajikannya dimeja.

Terlihat makanan itu adalah steak dengan black paper sauce. lengkap dengan jus jeruk segar dengan hiasan potongan jeruk di mulut gelasnya.

Mereka berdua mulai makan. Sepanjang mereka makan, Lyko tampak terus sesekali melirik kearah Xavier. Pikirannya masih terus berputar, memikirkan seperti apa sosok Xavier ini sebenarnya.

‘Sebenarnya dia ini laki-laki yang seperti apa?’ batin Lyko.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!