Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07: Dance
Ketika seluruh isi aula sudah memenuhi ruangan hingga tak tersisa lagi tempat berdiri yang kosong, Putri Elarise tersenyum bahagia dan mengangkat tangannya dengan anggun, memberi isyarat agar semua orang mengikutinya bergerak menuju ruang dansa yang terletak di sayap timur istana. Ruangan itu lebih luas lagi, dengan lantai kayu yang dipoles mengkilap, dinding-dinding berhias cermin besar, dan langit-langit berkubah yang dihiasi lukisan pemandangan surga. Cahaya lilin yang berkilauan menciptakan suasana romantis dan mewah, seolah-olah para tamu sedang berada di istana dongeng.
Di tengah panggung kecil di ujung ruangan, Raja Julius berdiri dengan senyum bangga. Ia berdeham pelan untuk menarik perhatian seluruh hadirin.
"Teman-teman sekalian, sebagai pembuka perayaan malam ini, Putri Elarise akan menampilkan tarian pertamanya sebagai gadis dewasa. Dan ia berhak memilih siapa yang akan menjadi pasangan dansa pertamanya," ucap Raja Julius dengan lantang dan bangga.
Semua mata tertuju pada Elarise. Gadis itu memerah malu, matanya berbinar indah saat ia melangkah mendekati Pangeran Theodore yang berdiri di barisan depan keluarga Kerajaan Remington.
"Pangeran Theodore, maukah Anda menjadi pasangan dansa saya?" tanyanya dengan suara lembut yang terdengar oleh seluruh ruangan.
Di sudut ruangan, Amorette yang berdiri tenang di samping Esther dan Lily, mengamati adegan itu dengan datar. Sementara itu, hati Theodore sebenarnya bergemuruh hebat. Ia menatap sekilas ke arah Amorette, berharap gadis itu akan menatapnya balik atau terlihat sedikit cemburu. Jujur saja, Theodore ingin sekali menolak. Ia ingin berdansa dengan Amorette, ingin memegang tangan gadis itu, ingin berputar bersamanya di tengah irama musik.
Namun, sisi lain dari egonya berbisik lain. Aku akan menerima ajakan ini. Aku akan berdansa dengan Elarise di depan matanya. Aku ingin melihat apakah dia akan cemburu. Aku ingin tahu apakah dia masih peduli padaku.
Akhirnya, Theodore mengangguk pelan dan tersenyum sopan. "Dengan senang hati, Putri Elarise."
Musik pun mulai dimainkan. Para pemusik di balkon atas memainkan nada-nada lembut dari piano, biola, dan harpa. Lagu yang dipilih sangat halus, elegan, dan penuh perasaan—lagu yang seolah sengaja diciptakan untuk mencerminkan citra lembut, manis, dan rapuh yang selalu dipajang Elarise di mata semua orang.
Keduanya mulai bergerak. Tarian mereka indah, terkoordinasi dengan baik, dan mendapatkan decak kagum dari para tamu. Namun, bagi Amorette yang menyaksikan dari kejauhan, tarian itu terasa lambat, terlalu sopan, dan sedikit membosankan. Itu adalah gaya dansa klasik kerajaan yang diajarkan khusus bagi gadis-gadis bangsawan yang ingin terlihat anggun namun pasif.
Ini tarian yang belum pernah aku lihat atau pelajari seumur hidupku, batin Amorette yang sedikit cemas. Di dunia asalnya, ia hanya menari untuk bersenang-senang atau berolahraga. Tarian adat kerajaan ini rumit dan penuh aturan. Namun, seolah mendengar kekhawatirannya sendiri, aliran ingatan pemilik tubuh aslinya mengalir deras ke dalam benaknya. Gerakan kaki, posisi tangan, hitungan irama... semuanya masih tersimpan rapi.
Syukurlah. Kemampuan fisik Amorette yang lama belum hilang. Aku masih bisa menggunakannya.
Tak lama kemudian, irama musik berubah menjadi lebih ceria dan terbuka, tanda bahwa semua tamu dipersilakan untuk ikut berdansa. Pasangan-pasangan bangsawan segera bergerak ke tengah lantai, mengisi ruangan dengan gerakan yang berwarna-warni.
Theodore yang sedari tadi terus mengawasi Amorette, segera berniat meninggalkan pasangannya dan menghampiri gadis itu. Namun, ia terlambat satu langkah.
Sebuah tangan berurat tegas dan besar tiba-tiba menjulur ke hadapan Amorette.
"Boleh saya meminta tarian ini, Tuan Putri?"
Itu adalah Pangeran Algernon. Wajahnya yang biasanya dingin dan kaku kini sedikit melunak, matanya menatap tajam namun penuh arti.
Tanpa sempat berpikir panjang, dan karena ingin menghindari tatapan Theodore yang semakin tajam, Amorette meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu.
"Dengan senang hati, Pangeran," jawabnya singkat.
Begitu mereka berdua bergerak masuk ke dalam kerumunan pasangan penari, Amorette segera menyadari perbedaan yang sangat mencolok. Algernon tidak menari dengan gaya lambat dan sopan seperti yang diajarkan di istana. Ia bergerak cepat, tegas, penuh energi, dan sangat lincah. Ia memimpin tarian itu dengan kecepatan yang hampir membuat Amorette kehilangan keseimbangan di awal.
Namun, bukannya marah atau kewalahan, darah petualang dalam diri Amorette justru terpacu. Ia merasa bersemangat. Ia mengikuti setiap gerakan cepat Algernon, berputar, melompat kecil, dan berbelok tajam tepat di irisan detik. Di bawah bimbingan pria itu, mereka berdua bergerak membelah lautan pasangan penari yang lambat, menjadi pusat perhatian baru yang tak terbantahkan. Gerakan mereka hidup, berapi-api, dan sangat mencolok. Berbeda dengan tarian manis Theodore dan Elarise, tarian mereka penuh kekuatan dan kebebasan.
Di tengah putaran cepat itu, saat wajah mereka saling berhadapan dalam jarak dekat, Amorette berbisik pelan di antara hembusan napasnya: "Kau juga berbeda dengan yang mereka rumorkan, Pangeran Algernon. Mereka bilang kau dingin, lemah, dan pendiam. Tapi melihatmu bergerak seperti ini... rasanya... ini seolah bukan dirimu sendiri."
Algernon tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh teka-teki.
"Bagaimana jika memang bukan?" tanyanya balik singkat, suaranya rendah dan serak, hampir hilang tertelan musik.
Hati Amorette berdebar kencang. Ada sesuatu di balik ucapan itu. Ada sesuatu yang sama persis dengan apa yang ia rasakan pada dirinya sendiri.
Belum sempat Amorette bertanya lebih jauh, irama musik berubah drastis menjadi ritme yang jauh lebih cepat, riuh, dan penuh semangat. Tanpa aba-aba, Algernon menarik tangan Amorette dengan kuat, menuntunnya berlari kecil menyusuri celah antara pasangan penari yang terkejut, lalu membawa gadis itu menjauh dari tengah ruangan, menuju pintu keluar yang tersembunyi di balik tirai beludru tebal.
Theodore yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung berhenti menari. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras menahan amarah yang tiba-tiba meledak. Ia menatap nanar ke arah pintu yang baru saja tertutup itu, sepeninggal dua sosok yang menarik semua perhatiannya. Di sampingnya, Elarise, dan puluhan tamu lainnya, menyaksikan kepergian itu dengan wajah penuh kebingungan dan rasa penasaran.
"Lepas!" seru Amorette saat mereka sudah berada di lorong panjang yang sepi di luar ruang dansa. Ia menarik tangannya dari cengkraman Algernon dan menatap pria itu dengan napas terengah-engah. Wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena campuran antara kelelahan menari dan rasa penasaran yang memuncak.
Algernon menuruti permintaan itu, melepas genggamannya sambil berdiri tegak dan menatap gadis itu dengan senyum menyeringai yang sama sekali tidak sopan bagi seorang pangeran.
"Apa maumu?" tanya Amorette lagi, nadanya tajam dan penuh kewaspadaan.
Algernon mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada pelayan atau pengawal yang lewat. "Lebih baik kita mencari tempat yang sepi, Tuan Putri Amorette. Di sini terlalu berisiko ada telinga-telinga liar."
"Apa maumu sebenarnya?!" seru Amorette mulai kesal. Ia merasa pria di hadapannya ini semakin aneh dan tidak bisa ditebak.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan, namun bukan di sini. Dan percayalah... kau akan sangat ingin mendengarkannya," jawab Algernon dengan nada serius yang membuat bulu kuduk Amorette meremang.
Melihat ketulusan dan urgensi di mata hitam itu, serta firasat aneh yang terus berbisik di benaknya, Amorette akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah. Ikut aku."
Mereka berdua melangkah cepat menyusuri lorong-lorong sunyi istana, menuju gedung perpustakaan besar di sayap utara—tempat yang sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang, tempat di mana keheningan adalah hukum mutlak.
Jam besar di menara istana berdentang tepat pukul dua belas siang. Di bawah sana, suara musik dan tawa riuh masih samar-samar terdengar, menandakan pesta ulang tahun Elarise masih berlangsung meriah. Namun di sini, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi dan aroma kertas tua, suasana begitu hening dan intim.
Amorette duduk di ujung meja panjang, sementara Algernon berdiri bersandar di rak buku di hadapannya. Setelah memastikan pintu tertutup rapat dan terkunci, Algernon menarik napas panjang, lalu menatap Amorette lekat-lekat dengan pandangan yang tidak lagi dingin atau angkuh, melainkan pandangan akrab seorang teman lama.
"Aku bukan dari dunia ini, Amorette," ucapnya lantang dan tegas, tanpa basa-basi.
Dunia serasa berhenti berputar bagi Amorette. Firasatnya saat menari tadi terbukti benar. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut, namun ia tidak berteriak atau lari. Sebaliknya, rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Ia tidak sendirian. Ada orang lain yang mengalami hal sama.
"Aku juga," jawabnya pelan, namun matanya berbinar bahagia. "Namaku Autumn Isabella. Di duniaku, aku adalah dokter hewan dan peneliti tanaman obat. Aku meninggal karena dikhianati tunanganku sendiri."
Algernon tertawa lepas, tertawa yang jujur dan konyol, jauh berbeda dari citra pangeran misterius yang ia bangun.
"Dan aku Jasper Herasio. Di duniaku, aku adalah CEO perusahaan teknologi terbesar. Aku mati karena diracun oleh adik kandungku sendiri yang haus kekuasaan."
Mereka saling bertatapan, dan dalam sekejap saja, rasa curiga dan kewaspadaan di antara mereka lenyap sepenuhnya. Kini, mereka adalah dua jiwa asing yang terperangkap dalam tubuh karakter fiksi. Mereka mulai bercerita panjang lebar, saling bertukar kisah kematian yang konyol namun tragis itu.
"Aku tidak percaya CEO sepertimu mati konyol seperti itu," cibir Amorette sambil menggelengkan kepala, merasa lucu namun juga sedih mendengar nasib temannya yang baru ditemukan ini.
Algernon mendengus kesal namun bibirnya tersenyum. "Dan aku tidak percaya, dokter hewan sepertimu mati di tangan manusia berjiwa hewan. Benar-benar ironis, bukan?" balasnya cepat.
Kalimat itu berhasil membuat Amorette mendengus kesal, wajahnya sedikit memerah karena marah. "Ah sialan! Kau benar-benar menyebalkan sama seperti saat menari tadi!"
"Hahaha! Asal kau tahu, ini sifat asliku. Tampang arogan, dingin, dan tidak peduli yang biasa kau lihat itu cuma topeng untuk konsumsi publik, tahu! Aku harus terlihat berwibawa atau setidaknya tidak menarik perhatian di mata semua orang. Kau tahu apa perasaanku saat bangun dan menyadari bahwa aku berakhir menjadi putra pertama yang dianggap tidak berguna dan sial ini?" tanya Algernon sambil duduk di samping Amorette, mulai serius kembali.
"Apa?" tanya Amorette penasaran.
"Awalnya aku jelas sangat bersyukur! Bayangkan saja... aku orang yang dulu sibuk bekerja siang malam sampai lupa tidur. Tiba-tiba aku jadi bangsawan kaya raya yang tidak punya tanggung jawab apa-apa? Aku pikir aku bisa bermalas-malasan seumur hidup, rebahan di kasur empuk dan makan enak terus-menerus!" Algernon menggelengkan kepalanya, ekspresinya berubah cemas. "Tapi... firasatku mengatakan hal lain. Ini dunia kerajaan, dunia yang penuh politik dan pedang. Bagaimana jika terjadi perang? Bagaimana jika ada pemberontakan? Aku khawatir jika aku hanya diam dan santai, suatu hari nanti keluarga kerajaan, para pelayan, dan kesatria ini akan meninggalkanku begitu saja saat bahaya datang, karena mereka pikir aku lemah dan tidak berguna!"
Amorette menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai. Tubuhnya tampak gelisah.
"Kau benar... dan itulah kenapa kita harus bersiap," ucapnya pelan namun berat. "Sebenarnya... memang akan ada perang. Dan lebih buruk lagi... ini adalah dunia novel yang aku baca di masa lalu. Cerita tentang Putri Elarise yang manis dan berbakat, yang disayangi semua orang."
Algernon terdiam, mendengarkan saksama.
"Dan kau dan aku..." Amorette menoleh menatap Algernon dengan sorot mata sedih dan tajam sekaligus. "...kita berdua adalah penjahat utama. Di akhir cerita, kita berdua dituduh sebagai pengkhianat yang mendukung kerajaan musuh, lalu kita berdua akan dihukum mati bersama-sama."
Keheningan mencekam seketika menyelimuti ruangan perpustakaan itu.
"Itu artinya..." Algernon menyambung kalimat itu dengan suara berbisik.
"Itu artinya kita harus mengubah nasib kita. Kita harus merubah citra kita di mata publik, bukan agar disayangi, tapi agar tidak menarik perhatian kerajaan musuh. Jika kita tetap dianggap sampah dan penjahat seperti di cerita aslinya, kerajaan musuh akan dengan mudah menjadikan kita alat, dan di situlah awal kehancuran kita dimulai."
"Tapi tunggu," potong Algernon, mengerutkan keningnya. "Dari kemarin sampai sekarang, kau sudah mulai mengubah citramu. Kau jadi sopan, pintar, dan cantik. Itu sudah membuatmu sangat mencolok. Bahkan adikku, si Theodore itu, sampai terpikat padamu. Bukannya itu malah membuatmu masuk ke dalam cerita lebih dalam lagi?"
Amorette menggeleng tegas. "Bukan begitu maksudku. Yang harus kita ubah adalah pandangan kita di mata kerajaan musuh. Di mata rakyat, di mata keluarga kerajaan, dan di mata sekutu... kita harus terlihat berharga, berkuasa, dan memiliki nilai. Supaya musuh tidak berani sembarangan menggunakan kita, dan jika mereka mencoba, kita punya kekuatan untuk melawan."
Algernon tersenyum penuh makna, matanya berbinar terang. Ia akhirnya mengerti arah pikiran gadis itu.
"Baiklah. Aku setuju. Mulai sekarang, kita berdua sekutu. Rekan seperjuangan melawan nasib buruk dan jalan cerita sialan ini," ucapnya tegas. Ia mencondongkan badannya ke depan, penuh rasa ingin tahu. "Sekarang, ceritakan padaku tentang novel ini. Dari awal sampai akhir, tak terkecuali. Termasuk setiap detail kecil, setiap karakter, setiap peristiwa, dan ingatan apa pun yang kau miliki dari pemilik asli tubuhmu ini. Kita harus tahu peta jalan musuh sebelum kita mengubah rencananya."
Amorette mengangguk perlahan. Ia menarik napas panjang, bersiap menumpahkan segala rahasia cerita yang kelak akan menjadi senjata utama mereka berdua untuk bertahan hidup.
"Baiklah. Dengarkan baik-baik, Jasper. Karena apa yang akan aku ceritakan ini... adalah sejarah masa depan yang harus kita hapus dan tulis ulang."