"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Suasana di kampus tampak riuh seperti biasa. Mahasiswa berlalu lalang di gerbang utama. Namun di tengah keramaian itu, seorang gadis berambut panjang dengan pakaian serba mahal melangkah anggun keluar dari mobil hitam yang baru saja parkir.
Emily tersenyum tipis pada beberapa mahasiswi yang menyapanya. Ia masih menjadi pusat perhatian seperti biasanya. Namun senyum itu langsung lenyap ketika seseorang menarik lengannya kasar.
"Ap—apaan sih, Renal! Lepasin gue!" desis Emily sambil berusaha melepaskan diri. Tapi genggaman Renal terlalu kuat.
Diam-diam, beberapa mahasiswa mulai menoleh. Tapi Renal tidak peduli. Ia terus berjalan, menyeret Emily melewati gerbang, melewati koridor samping, menuju taman belakang fakultas yang biasanya sepi.
"Lo gila, ya?! Gue laporin lo ke—"
"DIAM!" potong Renal.
Ia mendorong Emily hingga gadis itu terjatuh duduk di bangku taman. Emily mendengkus kesal, matanya menatap Renal yang berdiri di depannya dengan tangan bersilang di dada.
"Lo jelasin ke gue, apa yang sebenarnya terjadi antara lo dan Rangga tempo hari lalu?" tanya Renal, penuh tekanan.
Emily membuang wajahnya. Tangan kanannya memijat pergelangan tangan yang merah karena tarikan kasar tadi. Ia berusaha tenang, meskipun jantungnya berdetak tidak karuan.
"Lo lihat sendiri fotonya," jawabnya dengan suara datar. "Apa yang lo lihat, itulah kenyataannya."
"Jangan banyak bacot, Em!" Renal melangkah mendekat. "Gue gak percaya foto itu. Rangga bukan tipe cowok kayak gitu. Lo yang ngerancang semuanya, kan?"
Emily tertawa."Hahaha...lucu. Lo sahabatnya, ya pasti belain dia. Tapi fakta tetap fakta, Ren. Rangga udah melakukan pelecahan se—"
"Fakta apaan?" suara dari belakang terdengar ketus.
Emily menoleh. Dimas, Januar, dan Abimanyu muncul dari balik pohon, berjalan mendekat dengan langkah santai.
Dimas memegang sebotol minuman kemasan di tangan kanannya, sesekali ia membuka tutupnya lalu menutupnya lagi. Abimanyu yang paling depan berjalan mendekati Emily, lalu membungkukkan badannya.
Matanya mengamati Emily dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Bagus," ujar Abimanyu sambil menyeringai. "Sepertinya dia enak nih buat diuji coba."
"K—kalian mabuk, ya?" suara Emily mulai gemetar, meskipun ia berusaha terdengar berani. Ia menunjuk ke arah Renal dan yang lainnya dengan jari telunjuk yang sedikit bergetar. "Gue laporin ke Pak Bambang! Kalian gak takut di DO?"
"Kalo lo mau aman, lo kasih tau kita apa yang sebenarnya terjadi antara lo dan Rangga!" Renal tidak bergeming. Suaranya semakin keras.
Emily terdiam. Matanya menatap kelima pria di depannya bergantian, mereka dia tetapi matanya tajam seperti pisau...
Empat lawan satu. Emily tidak punya pilihan lain..
"Oke... oke, gue bakalan bilang," ucap Emily sambil menjelaskan semuanya..
Suasana taman itu tiba-tiba hening. Angin berhenti bertiup. Daun-daun bergerak pelan.
"Hmmmm," Renal menghela napas panjang, lalu mengepalkan tangannya lebih erat. "Bangke. Bangke, beneran firasat gue gak salah. Nih bocah pasti bikin ulah yang sama kayak di kampus lamanya."
Kemudian Renal menarik kembali lengan Emily.
"LEPASIN" pekik Emily. "Lo mau bawa gue ke mana?"
"Ke rumah sakit," jawab Renal dingin. "Lo bakal minta maaf ke Rangga di depan Om Soerya. Dan lo bakal jelasin semuanya di depan Pak Bambang dan Rektor, biar nama Rangga bersih." tapi seketika Renal menghentikan langkahnya, membuat Emily menabrak tubuhnya.
Renal menarik kembali ucapannya, ia pikir jika Emiliy dibawa ke rumah sakit, pasti bakal menjadi bencana, karena disana pasti ada Meysa..
"TOLONG! TOLONGIN GUE!" teriak Emily, suaranya memecah ketenangan kampus.
Beberapa mahasiswa menoleh, tapi tidak ada yang berani mendekat. Mereka hanya melihat dari kejauhan, bingung, lalu berbisik-bisik satu sama lain.
Dimas, Januar, dan Abimanyu berjalan di belakang, menjaga dari belakang.
*******
Di sudut lain kampus, jauh dari keributan yang terjadi di taman belakang, suasana begitu terasa sunyi. Meysa duduk di bangku dekat perpustakaan, sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya. Matanya menatap deretan huruf, tapi tidak ada satu kata pun yang benar-benar ia baca.
Sudah tiga hari ia tidak masuk kuliah. Tiga hari ia habiskan di rumah sakit, menjaga Rangga...
Di bangku seberangnya, Aqeela dan Wulandari duduk berdua. Mereka mengamati Meysa dalam diam.
"Hei, Cha," panggil Wulandari..
Meysa tidak mendengarnya. Matanya masih tertuju pada buku, tetapi fokusnya kosong.
"Meysa," panggil Aqeela sedikit lebih keras.
Meysa tersentak. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis. "Iya?"
"Kamu dari tadi diem aja," kata Aqeela, berusaha terdengar santai. "Bacaannya kebalik, tahu."
Meysa menunduk. Benar. Bukunya terbalik. Ia tertawa kecil,"Eh, iya benar"
Wulandari menatapnya saksama. Ada sesuatu yang berbeda dari Meysa akhir-akhir ini. Bukan hanya wajahnya yang pucat atau tubuhnya yang lesu. Ada beban di matanya, beban yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun.
"Kamu sakit, Cha?" tanya Wulandari hati-hati.
"Sehat, kok," jawab Meysa cepat
Aqeela dan Wulandari saling berpandangan. Mereka tahu Meysa sedang berbohong. Tapi mereka juga tahu bahwa Meysa bukan tipe orang yang mau cerita sebelum ia benar-benar siap.
"Kamu tahu," ucap Aqeela pelan, "kamu bisa cerita ke kami kapan saja. Kami sahabat kamu."
*
Di ruang Kepala Fakultas Hukum, suasana terasa berbeda dari biasanya. Udara di dalam ruangan itu dingin, tidak hanya karena AC yang menyala, tapi karena ketegangan yang menggantung di antara orang-orang yang hadir.
Pak Bambang duduk di kursi kerjanya dengan tangan bersilang di dada, wajahnya tampak serius, bibirnya tertutup rapat. Di depannya, Emily duduk dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani mengangkat wajahnya, apalagi menatap pria yang sejak awal percaya pada ceritanya.
Renal berdiri di samping kursi Emily, tangannya masih bersilang, matanya tidak lepas dari gadis itu. Dimas, Januar, dan Abimanyu memilih duduk di kursi panjang dekat pintu, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak ikut campur.
"Kamu yakin mau mengaku semuanya, Nona Emily?" tanya Pak Bambang, suaranya tenang tapi penuh wewenang.
Emily mengangguk pelan. Suaranya bergetar saat ia mulai bicara.
"Sebenarnya...yang saya ucapkan saat itu bohong pak, Rangga tidak melakukan itu, saya yang memfitnah Rangga. T—tapi benar kok Rangga mabuk."
Pak Bambang menghela napas panjang. seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, tapi ia memilih untuk tidak memotong.
"Foto-foto itu saya yang motret," lanjut Emily, suararnya semakin lirih.
Pak Bambang memijat pelipisnya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Emily?" tanyanya, suaranya mulai meninggi.
Emily menggigit bibirnya. "Karena saya suka sama Rangga Pak."
"Kamu tahu, Emily," ucap Pak Bambang, "kamu tidak hanya merusak nama baik Rangga, tapi juga nama baik fakultas ini, dan nama baik orang tua kamu sendiri. Saya sangat kecewa."
Emily menunduk semakin dalam. "Maaf, Pak. Saya... saya minta maaf."
"Maaf saja tidak cukup," ujar Pak Bambang tegas. "Kamu harus meminta maaf pada Rangga secara langsung. Di depan saya, di depan orang tuanya, dan di depan orang tuamu sendiri."
Emily mengangguk. "Baik, Pak. Saya siap."
Renal yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Maaf Pak, Rangga sekarang ada dirumah sakit, Rangga mengalami kecelakaan.."
Emily menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak,
"Kenapa lo gak bilang?" ocehnya
Renal menatapnya dingin. "Lo pikir semua orang berkewajiban kasih laporan ke lo?"
"Saya akan menghubungi orang tua kamu, Emily. Dan orang tua Rangga juga. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Tidak ada waktu untuk menunda-nunda lagi." ujar pak Bambang, sambil meraih ponselnya..
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey