NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Action / Fantasi
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

🏆GOLD NOVEL🏆
...

"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."

Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.

Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.

"Aku adalah..."

GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 004: Hutan Kabut Senja

Xiao Jing saat ini berlari kencang seolah seluruh iblis neraka sedang mengejarnya dari belakang. Napasnya memburu kacau, dadanya naik turun tanpa irama saat akhirnya ia tiba di pusat Kota Giok yang ramai oleh para pedagang dan kultivator pengembara.

Seragam Sekte Pedang Giok yang biasanya selalu ia jaga rapi kini dipenuhi keringat dan debu, membuat penampilannya jauh dari kesan tuan muda sombong seperti biasanya.

Di bawah sebuah paviliun kayu besar di tepi jalan utama, dua sosok telah menunggunya sejak tadi.

Seorang wanita cantik berdiri dengan tenang sambil memainkan pita kupu-kupu di rambut hitam panjangnya. Wajahnya lembut, tetapi sorot matanya dingin dan sulit didekati. Gadis itu adalah Li Mei, salah satu murid sekte luar yang cukup terkenal karena kecantikan sekaligus bakat pedangnya.

Sementara di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh besar dengan kapak raksasa tersandar di punggungnya. Tubuhnya seperti beruang, penuh tekanan yang membuat orang biasa enggan menatap terlalu lama. Han.

Berbeda dengan Li Mei yang terlihat santai, ekspresi Han jelas menunjukkan ketidaksabaran.

“Senior Li Mei, Senior Han... maaf aku sedikit terlambat!” ujar Xiao Jing cepat sambil berusaha mengatur napasnya.

Li Mei hanya mengangguk kecil tanpa benar-benar peduli.

Namun Han mendengus pelan.

“Tuan Muda Xiao ternyata benar-benar sibuk,” katanya dengan nada menyindir. “Sampai membuat seniornya menunggu cukup lama.”

Rahang Xiao Jing langsung mengeras.

Jika orang lain yang mengatakan itu, mungkin ia sudah membentak balik sejak tadi. Sayangnya, Han bukan seseorang yang bisa ia ganggu sesuka hati. Status pria itu di sekte luar jauh lebih tinggi dibanding dirinya.

Karena itu, Xiao Jing hanya bisa menelan kesal sambil memaksakan senyum.

Tidak lama kemudian, dua pengikutnya akhirnya muncul dari kejauhan dalam keadaan lebih mengenaskan. Napas keduanya hampir putus, pakaian mereka kusut dan robek, sementara wajah mereka pucat seperti baru saja lolos dari maut.

Begitu melihat Xiao Jing, mereka segera mendekat dengan tergesa.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Dan tanpa perlu banyak bicara, Xiao Jing langsung mengerti apa yang terjadi.

“Apa kalian bertemu dengan bocah itu?” bisiknya pelan.

Salah satu pengikutnya menelan ludah keras sebelum menjawab dengan suara gemetar.

“Kami sengaja memutar lewat gang sempit, Bos... kalau sampai bertemu monster itu lagi, mungkin kami benar-benar tamat.”

Wajah Xiao Jing sedikit berkedut.

Monster?

Dulu mereka menyebut Qin Xiang sebagai sampah.

Namun sekarang, hanya mendengar namanya saja sudah cukup membuat mereka ketakutan setengah mati.

“Apa yang kalian bisikkan seperti tikus?” bentak Han tiba-tiba. “Kalau sudah selesai, ayo pergi. Kita bukan datang ke sini untuk mengobrol.”

Keduanya langsung tersentak.

“Baik, Senior Han!”

Tanpa membuang waktu lagi, kelompok kecil itu segera meninggalkan Kota Giok menuju Hutan Kabut Senja.

Ironisnya—

Orang yang mereka takuti justru sedang berjalan menuju tempat yang sama dengan langkah santai.

...

Setelah meninggalkan Kota Giok cukup jauh, Qin Xiang akhirnya tiba di wilayah Hutan Kabut Senja.

Kabut tipis berwarna kemerahan menyelimuti seluruh area hutan, membuat suasana di sana terlihat suram sekaligus indah. Pepohonan besar menjulang seperti raksasa tua yang diam memandangi dunia, sementara suara binatang buas sesekali terdengar samar dari kejauhan.

Qin Xiang berjalan perlahan melewati jalur berbatu sambil memperhatikan kondisi sekitarnya.

“Mawar Giok Darah biasanya tumbuh di tempat dengan energi bumi yang padat...” gumamnya pelan.

Tatapannya terus menyapu bukit batu, akar pohon tua, dan mulut-mulut gua yang tersembunyi di balik semak.

Dengan pengalaman ribuan tahun yang tertanam dalam jiwanya, pencarian seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sulit baginya. Ia memahami aliran energi alam jauh lebih baik dibanding kebanyakan kultivator dunia bawah.

Sayangnya—

Memahami bukan berarti semuanya akan berjalan mulus.

Satu gua demi satu gua mulai ia telusuri.

Kosong.

Gua berikutnya juga kosong.

Dan setelah itu tetap sama.

Yang ia temukan hanyalah tanaman herbal kualitas rendah yang bahkan tidak layak dilirik oleh kultivator kuat.

Meski begitu, Qin Xiang tetap mengumpulkan beberapa tanaman berguna untuk memperkuat tubuhnya saat ini. Sesekali ia memasukkan akar spiritual atau daun obat ke dalam tas kulit di pinggangnya sambil terus melanjutkan perjalanan.

Hingga akhirnya langkahnya berhenti.

Tatapannya jatuh pada permukaan tanah lembap di depan sana.

“Jejak kaki?”

Bekas pijakan itu masih baru. Bahkan ranting kecil di dekatnya tampak seperti baru saja patah beberapa waktu lalu.

Qin Xiang berjongkok perlahan sambil memperhatikan arah jejak tersebut.

“Sepertinya ada kelompok lain di area ini.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit berubah waspada.

Di dunia kultivasi, manusia sering kali lebih berbahaya dibanding monster.

Membunuh demi harta.

Menghabisi saksi mata.

Atau sekadar menindas yang lemah untuk kesenangan.

Semua itu terlalu biasa.

Karena itulah Qin Xiang memilih mengambil jalan memutar. Ia datang ke sini untuk Mawar Giok Darah, bukan mencari masalah yang tidak perlu.

...

Tiga hari berlalu begitu saja.

Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kembali ingatan Kaisar Agungnya, Qin Xiang benar-benar merasa lelah.

Tubuh ini masih terlalu lemah.

Meridiannya terus dipaksa bekerja tanpa henti selama beberapa hari terakhir, membuat otot-ototnya terasa berat dan kepalanya sedikit pening akibat terlalu sering menggunakan indra spiritual.

Saat menemukan sebuah gua kecil yang tertutup akar pohon tua, Qin Xiang bahkan sempat berhenti cukup lama di depan pintu masuknya.

Ia menghela napas pelan.

Kejujuran sederhana mulai muncul di dalam pikirannya.

Ia sebenarnya tidak terlalu berharap lagi.

Puluhan gua sebelumnya hanya memberinya harapan kosong. Sebagian hanyalah sarang monster biasa, sementara sisanya benar-benar tidak memiliki apa pun.

“Kalau tempat ini juga kosong...” gumam Qin Xiang sambil mengusap pelipisnya, “aku mungkin harus pindah area besok.”

Nada suaranya terdengar lelah.

Namun setelah terdiam beberapa saat, ia tetap melangkah masuk.

Karena jauh di dalam dirinya, naluri seorang Kaisar Agung tidak pernah benar-benar mau menyerah.

Dan tepat saat ia memasuki bagian dalam gua—

Hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar.

Manis.

Pekat.

Bercampur bau amis seperti darah segar.

Mata Qin Xiang langsung menyipit tajam.

Rasa lelah yang tadi memenuhi tubuhnya seolah menghilang dalam sekejap.

“Ini dia...”

Jantungnya bahkan berdetak sedikit lebih cepat.

Namun Qin Xiang tidak gegabah. Ia justru semakin menahan keberadaannya sambil berjalan lebih hati-hati menuju bagian dalam gua yang gelap dan lembap itu.

Cahaya samar dari kristal alami di dinding membuat suasana di sana terlihat menyeramkan.

Dan tidak lama kemudian—

Tatapannya menangkap puluhan bayangan hitam yang bergelantungan di langit-langit.

Kelelawar Pelahap Aura.

Monster jenis ini sangat sensitif terhadap fluktuasi energi Qi. Begitu merasakan energi asing, mereka akan menyerbu bersama-sama dan menghisap habis energi korbannya sampai kering.

Namun Qin Xiang hanya mendengus pelan.

Tanpa ragu, ia segera menjalankan teknik penyembunyian aura tingkat tinggi yang tersimpan dalam ingatannya.

Dalam sekejap, napasnya menghilang.

Aliran Qi di tubuhnya membeku sempurna.

Keberadaannya terasa menyatu dengan lingkungan sekitar.

Ia kemudian berjalan melewati koloni monster itu dengan santai, seolah sedang berjalan-jalan di halaman rumahnya sendiri.

Dan akhirnya—

Pemandangan di ujung gua membuat matanya sedikit berbinar.

Sebuah kolam alami terbentang di tengah ruangan bawah tanah. Airnya jernih dan memancarkan cahaya spiritual samar.

Di tengah kolam terdapat gundukan tanah kecil yang diterangi cahaya kristal dari atas gua.

Dan di atas gundukan itu—

Beberapa bunga merah darah tumbuh dengan indah.

Kelopaknya merah pekat seperti darah segar, sementara batangnya bening menyerupai giok transparan.

“Mawar Giok Darah...”

Namun sesaat kemudian, perhatian Qin Xiang justru tertarik pada air kolam tersebut.

“Mata air spiritual?”

Tatapannya langsung berubah.

Nilai mata air itu bahkan lebih tinggi dibanding Mawar Giok Darah yang ia cari sejak awal.

Tanpa membuang waktu, Qin Xiang mengangkat tangan kanannya perlahan. Air spiritual di kolam mulai terangkat ke udara mengikuti kendali Qi miliknya.

Perlahan air itu dipadatkan.

Dikompresi.

Terus dipadatkan hingga akhirnya berubah menjadi bola cair kecil sebesar kelereng yang memancarkan energi spiritual sangat murni.

Setelah menyimpannya dengan hati-hati, Qin Xiang melompat ringan menuju gundukan tanah di tengah kolam.

Gerakan tangannya sangat hati-hati saat mulai mencabut Mawar Giok Darah satu per satu agar akarnya tidak rusak.

“Semuanya berkualitas tinggi...” gumamnya puas.

Air spiritual di tempat ini rupanya telah memelihara bunga-bunga tersebut selama bertahun-tahun hingga kualitasnya jauh melampaui mawar biasa.

Namun tepat saat Mawar terakhir tercabut—

Aroma darah yang sebelumnya tertahan mulai menyebar ke seluruh gua.

Dan hampir bersamaan dengan itu, beberapa kelelawar di atas mulai bergerak gelisah.

Qin Xiang tersenyum tipis sambil berguman pelan, “Sepertinya tuan rumah di sini mulai sadar tamunya hendak kabur.”

Detik berikutnya, tubuhnya langsung melesat keluar dari gua tanpa ragu sedikit pun.

1
yos helmi
up hanya satu bab = menjauhkan pembaca dari cerita ini 👍👍
Qin Xiang🏆: Sabar bang, kata editor sy fokus naikin retensi dulu😭

Editor novel emang nyaranin untuk lambatin dulu sebelum memasuki bab 80. Nanti kalau 80 bab (semuanya) sudah lulus retensi baru sy berani crazy up🙏🏻
total 1 replies
Risah1112
mantap
budiman_tulungagung
gass satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
Jade Meamoure
bukan main malah d ambilkan tubuh kebo 🤣🤣🤣
New Account
Like dan vote
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹 dan satu vote
Ress
mantap💪💪👍👍👍
Ress
/Joyful//Determined//Determined//Determined//Determined/
Ress
Hajar💪👍
Sefa Silves
gass👍👍👍
yos helmi
😍😍😍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Qin Xiang🏆: si bro akhirnya mampir lagi. Thanks bro🙏/Doge/
total 1 replies
yos helmi
😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣😍😍😍😍😍💪💪💪
yos helmi
singkat padat.. 🤣🤣🤣
yos helmi
😍😍😍😍😍🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!