Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15- Krmbalinya masa lalu
Kembalinya Masa Lalu
Suasana suite hotel mendadak berubah dingin hanya karena satu kalimat dari Wira.
“Sandra pulang ke Indonesia.”
Mona yang masih duduk di sofa langsung menoleh. Nama itu sudah tidak asing lagi baginya. Ia pernah bertemu Sandra di acara makan malam bisnis di Jakarta beberapa waktu lalu, wanita elegan yang ternyata adalah tunangan lama Wira.
“Dia… sudah kembali?” tanya Mona pelan.
Wira tidak langsung menjawab. Ia menatap layar ponselnya sesaat, lalu menguncinya dan memasukkan ke saku.
“Ya.”
Singkat. Datar. Seperti biasa, namun Mona bisa merasakan satu hal yang berbeda hari ini, nama itu benar-benar memengaruhi suasana hati Wira.
Wira berdiri dan berjalan ke arah jendela kamar. Lampu kota Bandung berkilau di kejauhan, tapi tatapannya tidak fokus ke sana.
“Kamu istirahat,” ucapnya tanpa menoleh.
“Pak Wira mau ke mana?”
“Keluar.”
Mona langsung menatapnya. “Sekarang?”
“Iya.” Tidak ada penjelasan lain.
Wira mengambil jasnya dan keluar dari suite tanpa menunggu pertanyaan lanjutan. Pintu tertutup dan Mona kembali sendiri.
***
Suasana kamar terasa terlalu sunyi.
Mona bersandar di sofa, menatap langit-langit. Ia mencoba mengingat kembali percakapannya dengan Sandra saat pertama kali bertemu. Wanita itu sangat percaya diri, tenang, dan… terlalu tahu banyak tentang Wira, bahkan waktu itu Sandra sempat tersenyum padanya dan berkata,
“Kamu sekretaris baru Wira?”
Nada suaranya saat itu bukan sombong, tapi seperti seseorang yang sudah lama mengenal posisi itu dan siapa saja yang pernah mengisi posisi di samping Wira.
Mona menghela napas pelan. “Aku kenapa sih…”
Harusnya ini tidak mengganggu, harusnya ini tidak penting, tapi tetap saja, dada Mona terasa tidak nyaman.
***
Sementara itu, Wira melajukan mobilnya sendirian di jalan malam Bandung. Hujan turun tipis, wiper bergerak pelan. Di dalam mobil, pikirannya kembali ke Sandra. Pertemuan di hotel tadi siang bukan hal yang ia harapkan.
Sandra datang tanpa pemberitahuan, berdiri di lobby seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya dan itu cukup untuk mengganggu ketenangannya.
***
Flashback
Beberapa tahun lalu… Hujan deras.
Sandra berdiri di bawah payung, dengan koper di sampingnya.
“Aku harus pergi, Wira.”
“Sudah keputusanmu.”
“Aku ditawari karier di luar negeri. Ini kesempatan besar.”
Wira tidak menjawab, bukan karena tidak bisa, tapi karena ia tahu apapun yang ia katakan tidak akan mengubah keputusan itu.
Sandra tersenyum kecil. “Kamu selalu begini. Terlalu tenang sampai terasa dingin.”
“Aku tidak menahan orang yang ingin pergi.”
Hening.
“Berarti kita selesai?”
Wira tidak menjawab dan dari situlah semuanya berakhir tanpa benar-benar selesai.
***
Kembali ke masa kini.
Wira menarik napas pelan. Hal yang paling ia benci bukan masa lalu itu sendiri, tapi bagaimana masa lalu selalu kembali di saat hidupnya mulai terasa… berbeda dan sekarang, ada Mona.
***
Keesokan paginya, Mona bangun lebih awal. Ketika keluar kamar, Wira sudah duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
“Pagi, Pak,” sapa Mona.
“Pagi.”
Mona duduk di seberang.
“Bapak pulang jam berapa tadi malam?”
“Lupa.” Jawaban singkat itu membuat Mona menghela napas pelan.
“Capek?”
“Biasa saja.”
Mona ragu sejenak sebelum bertanya. “Sandra sudah ketemu Bapak?”
Wira berhenti mengetik, hanya sebentar.
“Tadi malam.”
“Oh…” Mona menunduk, mencoba menyembunyikan reaksinya sendiri.
Ia tidak tahu kenapa, tapi ada rasa aneh di dadanya. Bukan urusannya, dia hanya sekretaris, tapi tetap saja…
“Ada urusan penting?” tanyanya lagi.
“Dia ingin bicara.”
“Sudah selesai?”
Wira menatapnya sekilas.
“Belum.” Jawaban itu membuat suasana kembali hening.
Mona mengangguk pelan. “Baik.”
Dan tidak ada yang melanjutkan percakapan itu lagi.
***
Siang harinya, mereka menyelesaikan semua urusan di Bandung dan bersiap kembali ke Jakarta.
Di lobby hotel, Mona berdiri di samping Wira sambil membawa dokumen, namun sebelum mereka masuk mobil… seseorang sudah menunggu.
Sandra.
Kali ini Mona tidak kaget. Ia sudah tahu wanita itu pasti akan muncul lagi.
Sandra tersenyum ketika melihat mereka. “Masih sibuk ya?”
Wira berhenti melangkah. “Kenapa kamu di sini lagi?”
“Aku ingin memastikan kita bicara baik-baik.” Sandra lalu menatap Mona.
Dan seperti pertama kali bertemu dulu, tatapannya tetap tenang… tapi penuh makna.
“Halo lagi.”
Mona mengangguk sopan. “Halo, Bu Sandra.”
Sandra tersenyum tipis. “Kamu masih di samping Wira.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Mona menangkap sesuatu di baliknya, seolah posisi itu bukan hal yang mudah dipertahankan.
Wira berdiri di antara mereka, lalu berkata datar. “Kalau hanya itu, kami harus pergi.”
Sandra menghela napas pelan. “Aku tidak akan lama.” Namun Wira tidak menjawab lagi.
Mona bisa merasakan ketegangan di antara mereka bukan sekadar mantan tunangan, tapi dua orang yang masih menyimpan banyak hal yang belum selesai.
***
Di dalam mobil, suasana kembali hening.
Sandra masih berdiri di depan hotel saat mobil mulai bergerak.
Mona menatap ke luar jendela. Lalu akhirnya, ia bertanya pelan.
“Pak…”
“Apa?”
“Bapak masih belum selesai dengan dia?”
Wira tidak langsung menjawab. Mobil terus melaju, hingga akhirnya ia berkata pelan, tanpa menoleh,
“Tidak semua yang selesai itu benar-benar selesai.”
Mona terdiam dan entah kenapa… jawaban itu justru membuat hatinya semakin tidak tenang.