NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kitab Suci, Hafalan, Dan Ego Manusia

Kitab suci, hafalan, dan ego manusia seketika berbenturan hebat sewaktu Umi Kalsum melemparkan gulungan kertas tebal ke atas meja kayu pendopo dengan tatapan mata yang menghunus sangat tajam. Hana terperanjat dari duduk bersilanya, menatap nanar lembaran daftar ujian yang mendadak diletakkan di depan raga tanpa ada pemberitahuan awal sama sekali. Di dalam ruangan yang beraroma kayu jati tua itu, puluhan santri senior sudah berkumpul rapi, siap menyaksikan sebuah pembuktian kelayakan batin yang sengaja dirancang untuk menyudutkan sang menantu kota. Keheningan pagi yang semula damai kini berubah total menjadi laksana panggung persidangan terbuka yang siap menguliti harga diri Hana sampai ke akar terdalam.

"Umi menginginkan seluruh hafalan surah panjangmu diuji langsung di depan para pengurus asrama hari ini juga, Hana," cetus Umi Kalsum tanpa ada nada kehangatan sedikit pun.

Hana meremas ujung jilbab barunya dengan jemari yang gemetar hebat, mencoba menghalau debar jantung yang kian berpacu liar. "Umi, bukankah perjanjian awal memberikan saya waktu satu bulan penuh untuk memperlancar kembali bacaan serta hafalan saya?"

"Tradisi mulia di pesantren ini tidak bisa ditawar oleh kemalasan jiwa kota, karena seorang istri ustaz utama harus menjadi teladan mutlak tanpa jeda," tukas sang mertua dengan intonasi suara yang sangat menindas.

Azzam yang duduk di sisi kanan hanya mampu merunduk takzim, memilin butiran tasbih kayunya dengan gerakan yang terlampau kaku dan gelisah. Sosok imam yang seharusnya menjadi pelindung batin Hana itu kembali terkunci rapat oleh rasa sungkan yang berlebihan terhadap otoritas sang ibu kandung. Kebungkaman Azzam di tengah situasi kritis ini laksana hembusan angin malam yang menusuk langsung ke dalam pori pori luka hati Hana yang paling rapuh. Keberpihakan setengah hati sang suami semakin terpampang nyata, membiarkan ego manusia bertopeng kesalehan mendikte ruang gerak sang istri sah tanpa ada pembelaan nyata.

Sarah yang berdiri anggun di belakang kursi kebesaran Umi Kalsum segera melangkah maju seraya membawa seulas senyuman tipis yang penuh dengan nuansa kemenangan. "Bila Mbak Hana merasa kesulitan, saya sangat bersedia menggantikan posisi depan untuk membacakan bait bait suci ini agar para santri tidak menunggu terlalu lama."

"Tidak perlu, Sarah, biarkan menantu pilihan anakku ini menunjukkan sejauh mana kapasitas spiritual yang ia banggakan selama ini," sindir Umi Kalsum kembali melayangkan pukulan emosional.

"Saya akan mencoba membacakannya, Umi, namun tolong hentikan tekanan mental yang sengaja diletakkan di atas pundak saya sejak fajar," tantang Hana dengan sisa keberanian yang membuncah.

Suasana di pendopo utama semakin mencekam saat Hana mulai melafalkan baris demi baris ayat suci dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi. Setiap bait yang meluncur dari bibir pucatnya seolah harus melewati rintangan berat ego manusia yang siap menghakimi setiap jengkal jeda nafasnya. Umi Kalsum terus mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, mencari celah sekecil apa pun dari ketidaksempurnaan intonasi vokal sang menantu asal kota tersebut. Siksaan psikologis yang dikemas dalam bentuk ujian kesucian ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada benturan fisik yang nyata bagi batin Hana.

Azzam mendongak perlahan, menangkap gurat kerapuhan yang sangat jelas membayang di sepasang mata indah Hana yang kini mulai digenangi air mata banjir. Ada gejolak hebat yang berkecamuk di dalam relung sanubari sang ustaz muda untuk segera menghentikan ujian sepihak yang sudah melampaui batas kewajaran ini. Namun, tatapan mata ibunya yang begitu dingin seketika meruntuhkan seluruh keberanian lelaki itu, memaksanya kembali menjadi penonton pasrah atas penderitaan batin istrinya. Ego untuk mempertahankan predikat sebagai anak yang berbakti telah membutakan nurani Azzam dari kewajiban utama memuliakan pasangan hidup yang sah.

"Berhenti, Hana, bacaanmu barusan membuktikan bahwa hatimu masih terlalu kotor oleh urusan keduniawian kota," potong Umi Kalsum dengan suara menggelegar memutus lantunan ayat.

Hana menghentikan bacaannya, membiarkan tetesan air mata pertamanya luruh membasahi hamparan sajadah hijau yang membentang di bawah raga. "Al Quran adalah kitab kasih sayang, Umi, mengapa di rumah ini justru digunakan sebagai alat untuk merendahkan sesama manusia?"

"Jangan pernah lancang membalikkan esensi syariat demi menutupi kegagalan hafalanmu yang sangat memalukan itu," sergah Umi Kalsum seraya berdiri dari kursi kayunya.

Kata kata tajam sang mertua laksana sembilu yang menyayat halus permukaan jantung Hana, menyisakan rasa perih yang teramat luar biasa dalam. Sarah segera mendekat untuk menuntun langkah Umi Kalsum yang hendak meninggalkan ruangan, sengaja memperlihatkan posisi kedekatan yang kian tidak tergoyahkan. Sementara itu, para santri senior mulai berbisik halus di sela barisan, menyebarkan narasi baru mengenai ketidaklayakan Hana sebagai pendamping asrama. Hana merasa harga dirinya laksana debu kering yang diterbangkan badai, hancur lebur di bawah kaki kepalsuan moral yang diagungkan lingkungan tersebut.

Azzam bangkit dari posisi duduknya setelah suasana pendopo mulai lengang, mencoba mendekati Hana yang masih bersimpuh diam meratapi nasib. "Hana, tolong mengertilah posisi sulitku, aku tidak mungkin membantah Umi di depan umum demi menjaga wibawa keluarga."

"Wibawa keluarga yang mana, Mas? Yang dibangun di atas tangisan dan hancurnya perasaan istrimu sendiri?" cecar Hana dengan tatapan mata yang teramat dingin.

"Umi hanya ingin yang terbaik untuk masa depan kepemimpinan kita, jadi tolong buang seluruh ego kotamu yang keras itu," ucap Azzam mencoba membela diri kembali.

Teguran sang suami yang justru menyalahkan respons emosionalnya membuat sisa rasa cinta di dalam dada Hana mendadak menguap tanpa bekas. Ia menyadari bahwa mencari perlindungan batin pada lelaki yang kehilangan kemandirian berpikir adalah sebuah kesia siaan yang teramat besar. Hana berdiri perlahan, merapikan pakaian kaku yang membungkus tubuhnya lalu melangkah pergi tanpa memedulikan panggul pilu suaminya yang menggema di koridor. Keputusan besar kini mulai mengkristal di dalam benaknya, sebuah jalan keluar darurat untuk menyelamatkan kewarasan batin dari jeratan tradisi kaku pesantren.

Matahari siang terasa membakar area kompleks paviliun belakang, mencerminkan gejolak amarah yang kian memuncak di dalam dada sang wanita muda. Hana mengunci rapat pintu kamar pengantin, lalu mulai mengeluarkan tas kain besar dari balik lemari penyimpanan pakaian yang tersembunyi. Jemarinya bergerak dengan ritme yang sangat cepat, memasukkan seluruh helai busana kota miliknya yang selama ini dilarang keras untuk dikenakan. Ia tidak ingin lagi menjadi boneka pajangan yang setiap hari diberi makan dengan menu penghinaan berkedok nasihat spiritual oleh sang penguasa asrama.

Ketika malam kembali membungkus bumi dengan keheningan yang mencekam, Hana memilih berdiri diam di dekat jendela kamar yang terbuka lebar. Embusan angin malam yang menerpa kulit wajahnya yang pucat terasa sedikit membawa kedamaian yang selama ini hilang dari harinya. Di kejauhan, lampu rumah utama pesantren masih menyala benderang, menandakan adanya diskusi rahasia susulan antara Azzam, Umi Kalsum, dan Sarah. Hana mengulas senyum sinis yang sarat akan kepasrahan, menyadari bahwa kehadirannya di tempat ini memang tidak pernah diharapkan sejak awal mula gerbang dibuka.

Azzam melangkah masuk ke dalam kamar saat jam dinding besar sudah menunjukkan angka sebelas malam dengan langkah kaki yang teramat lambat. Lelaki itu tertegun melihat tumpukan pakaian kota Hana yang sudah tertata rapi di atas permukaan meja hias dekat tempat tidur mereka. Ketakutan baru mulai merayapi benak sang ustaz muda, sebuah firasat buruk mengenai kehilangan besar yang siap menghantam fondasi rumah tangganya yang rapuh. Ia berjalan mendekati Hana, mencoba meraih jemari tangan istrinya namun langsung ditolak dengan gerakan memutar raga yang sangat tegas.

"Apakah kamu berniat pergi meninggalkan aku dan mengabaikan janji suci pernikahan kita, Hana?" tanya Azzam dengan nada suara yang bergetar hebat.

Hana menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa ada lagi gurat keraguan atau ketakutan yang tersisa di wajah indahnya. "Pernikahan ini sudah lama mati sejak kamu memilih untuk mengunci rapat mulutmu di hadapan setiap kezaliman ibumu, Mas."

"Aku berjanji akan bicara pada Umi esok hari, jadi tolong batalkan niatmu untuk melangkah keluar dari rumah ini," mohon Azzam dengan gurat kepasrahan yang mendalam.

"Janji manismu tidak lebih dari sekadar hiasan bibir yang hambar, karena pada akhirnya kamu akan selalu kembali berlindung di balik ketiak ibumu," tukas Hana mengakhiri pembicaraan.

Keheningan pekat kembali membentang luas di antara sekat sekat hati sepasang anak manusia yang kini telah resmi kehilangan rasa saling percaya. Azzam memilih melangkah mundur menuju sudut sofa, membenamkan wajah tampannya di antara kedua belah telapak tangan dengan rasa penyesalan yang terlambat datang. Sementara itu, Hana kembali mengukuhkan batinnya, menghitung sisa waktu menuju fajar tiba untuk mengeksekusi rencana pelarian besarnya dari labirin suci yang mencekam. Ketetapan hati sang wanita kota kini sudah bulat, siap menembus segala bentuk risiko demi merebut kembali kemerdekaan jiwa yang sempat terampas.

Saat fajar pertama mulai menyingsing di ufuk timur, Hana sudah berdiri tegak di ambang pintu luar paviliun dengan tas kain di genggaman. Pandangan matanya menyapu sekeliling kompleks pesantren untuk yang terakhir kali, merekam setiap sudut ingatan yang dipenuhi oleh memori air mata kesedihan. Langkah kakinya yang mantap mulai bergerak menyusuri jalan setapak di antara barisan pohon jati yang masih diselimuti kabut tipis pagi hari. Namun, pergerakan Hana mendadak terhenti kaku saat mendapati sesosok bayangan tubuh tinggi besar sudah berdiri menghadang tepat di dekat gerbang keluar utama kompleks asrama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!