Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Dua Bulan yang Membara
*"Katakan padaku, tanah ini... apakah dia juga haus akan darah, atau dia hanya menunggu kita untuk mati agar dia bisa menelan sisa-sisa kehancuran kita?"*
Suaraku tidak lebih dari bisikan angin yang beradu dengan debu. Aku berdiri di tepi sebuah tebing batu yang tajam, menatap ke arah lembah di bawah. Kota itu—kota yang kulihat terbakar dari kejauhan—kini tampak seperti kerangka raksasa dari peradaban yang dipaksa tunduk oleh api. Dua bulan, satu berwarna merah darah dan yang lainnya biru pucat, menggantung rendah di langit, memberikan cahaya yang tidak alami dan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas puing-puing.
Aku tidak memiliki tubuh Marie Vance lagi. Aku adalah gumpalan energi, sebuah esensi yang dipaksa berwujud manusia karena kehendak semesta yang entah bagaimana masih menjagaku tetap terikat pada bentuk fisik. Rasa lapar yang kurasakan bukanlah lapar akan makanan, melainkan lapar akan esensi—sihir murni yang ada di atmosfer tanah asing ini.
Di sampingku, Julius berdiri. Dia tidak lagi mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia mengenakan pakaian kulit yang sudah koyak di sana-sini, wajahnya tertutup debu, dan tatapannya... tatapannya kosong, namun masih menyimpan obsesi yang sama. Dia telah berhasil menyusulku ke dimensi ini, entah melalui celah dimensi apa yang dia tembus.
*"Kau tidak perlu bertanya pada tanah ini, Marie,"* jawab Julius. Dia tidak menoleh padaku, matanya tertuju pada menara jam di pusat kota yang sudah setengah hancur namun masih berdetak dengan ritme yang janggal. *"Tanah ini hanya tempat pembuangan bagi mereka yang gagal menjadi dewa. Dan kita... kita baru saja turun dari takhta."*
*"Kita tidak pernah menjadi dewa,"* sahutku, melangkah turun dari tebing dengan kaki telanjang yang terasa sejuk di atas batu yang panas. *"Kita hanya pion yang mencoba membakar papan catur."*
Julius akhirnya menatapku. Ada kilatan luka di matanya—luka dari ribuan tahun yang tak lagi bisa dia sembunyikan. *"Pion yang mencoba membakar papan catur akan selalu berakhir menjadi abu, Marie. Namun, lihatlah di mana kita sekarang. Kita selamat. Kita ada di sini, di dunia tanpa kontrak, tanpa sistem yang memenjarakan jiwa, hanya kita dan sihir yang merintih di udara."*
Dia benar. Di dunia ini, sihir tidak tertutup di dalam cawan atau diatur oleh hukum-hukum Dewan Langit. Sihir ada di sini, mentah, liar, dan sangat berbahaya. Aku bisa merasakannya merembes keluar dari pori-pori tanah, seperti napas bumi yang terengah-engah.
Kami menuruni tebing menuju gerbang kota yang jebol. Gerbang itu terbuat dari baja yang menghitam, ditempa dengan teknik yang jauh melampaui apa yang pernah kulihat di Oakhaven. Saat kami melangkah masuk, keheningan kota itu pecah. Bukan oleh suara manusia, melainkan oleh suara besi yang bergesekan dan api yang menjilat kayu-kayu kering.
Di alun-alun kota, pemandangan itu membuat jantungku—jantung yang baru lagi, yang berdetak dengan ritme yang lebih lambat dan dingin—berhenti sejenak.
Ratusan orang berdiri di sana. Mereka tidak bergerak. Mereka menatap ke satu arah, ke arah altar tinggi di depan menara jam. Mereka bukan tawanan. Mereka bukan budak. Mereka adalah para praktisi sihir yang telah kehilangan arah, dengan mata yang ditutup kain hitam, menanti sesuatu yang tidak bisa kupahami.
Seorang pria, mengenakan jubah putih yang kontras dengan kota yang terbakar, berdiri di atas altar. Dia memegang tongkat yang ujungnya berbentuk timbangan.
*"Kekuatan adalah beban!"* teriak pria itu, suaranya diperkuat oleh sihir hingga menggema ke seluruh pelosok kota. *"Siapa pun yang memiliki sihir murni, kalian adalah penyebab penderitaan dunia ini! Serahkan esensi kalian ke altar, agar dunia bisa kembali bersih dan setara!"*
Aku mencengkeram lengan Julius. *"Apa-apaan ini? Mereka melakukan pembersihan?"*
Julius mengamati dengan tatapan predator. *"Ini bukan pembersihan biasa, Marie. Pria itu... dia tidak menghancurkan sihir. Dia sedang mengonsentrasinya. Dia ingin menjadi satu-satunya wadah di dunia ini. Dia sedang membangun 'Sistem' versinya sendiri tanpa menggunakan kontrak."*
Aku menatap kerumunan itu lagi. Ada seorang gadis kecil, mungkin seusia dengan gadis kaca yang menemuiku di perpustakaan, berjalan menuju altar dengan langkah yang tidak pasti. Tangannya gemetar saat dia meletakkan tangan kecilnya di atas altar batu.
*SRETT!*
Cahaya biru terang menyedot sesuatu dari dada gadis itu. Bukan hanya sihirnya, tapi semangat hidupnya. Gadis itu ambruk, napasnya memudar, lalu dia jatuh tak bernyawa.
Kemarahan yang murni—kemarahan yang tak perlu dipicu oleh ingatan masa lalu—meledak di dalam diriku. Aku tidak tahan. Tanpa memikirkan risiko, aku melangkah maju dari balik bayang-bayang gang sempit tempat kami bersembunyi.
*"Berhenti!"* teriakku.
Semua mata di alun-alun itu—yang tadinya kosong—kini tertuju padaku. Sang pria berjubah putih di atas altar menghentikan gerakannya. Dia menatapku, lalu tatapannya beralih ke arah Julius yang kini berdiri di sampingku dengan pedang bayangan yang dia bentuk dari esensi kegelapan miliknya sendiri.
*"Ah,"* pria di atas altar itu tersenyum lebar. *"Pengembara dari dimensi lain. Aku sudah menunggu. Kalian membawa aroma 'Kehampaan' yang sangat kuat. Kalian adalah bahan bakar yang sempurna untuk melengkapi timbangan ini."*
Dia menghentakkan tongkatnya ke altar. Tanah di bawah kaki kami berguncang. Para praktisi sihir yang berdiri mematung itu tiba-tiba tersentak, mata mereka berubah menjadi putih pekat. Mereka mulai bergerak maju, bukan sebagai individu, melainkan sebagai satu kesatuan yang digerakkan oleh satu pikiran.
*"Marie, lari ke kiri!"* teriak Julius sambil mengayunkan pedang bayangannya, membelah udara dan merobohkan barisan depan orang-orang yang dikendalikan itu. *"Mereka bukan musuh, mereka hanyalah cangkang! Jangan melukai mereka jika kau tidak ingin menyerap kutukan mereka!"*
*"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?"* teriakku sambil menghindari serangan tombak cahaya dari salah satu warga yang matanya putih.
*"Fokus pada pria itu! Dia adalah sumber dari benang yang mengikat mereka!"*
Aku memusatkan perhatianku pada pria di atas altar. Aku tidak punya sihir murni yang stabil, tapi aku adalah entitas energi. Aku mulai menarik sihir dari udara sekitar, mengumpulkan energi liar itu ke dalam telapak tanganku. Rasanya seperti memegang petir yang tak terkendali.
*Jangan hancurkan,* kataku pada diriku sendiri. *Pahami.*
Aku menutup mataku sejenak, membiarkan diriku merasakan aliran sihir di dunia ini. Pria itu tidak sedang menguasai mereka; dia sedang *meminjam* saraf mereka. Dia menggunakan sistem saraf seluruh kota ini sebagai konduktor untuk menampung sihir.
*"Julius, jangan serang mereka!"* aku berteriak lagi di tengah keributan. *"Buat lubang di tanah di depan altar itu! Sekarang!"*
Julius tidak bertanya. Dia memukul tanah dengan kekuatan penuh, menciptakan parit dalam yang memutus hubungan antara altar batu dan aliran tanah di bawahnya.
Pria di atas altar itu terkejut. *"Apa yang kau lakukan, gadis bodoh?!"*
*"Memutuskan sambungan!"*
Aku melepaskan energi yang sudah kukumpulkan, bukan ke arah pria itu, tapi ke arah parit yang dibuat Julius. Ledakan energi yang kupancarkan menciptakan resonansi balik. Sihir yang tadinya mengalir dari warga menuju pria itu, kini berbalik arah karena tidak menemukan tempat untuk bermuara.
Pria itu terlempar ke belakang, tongkatnya pecah menjadi kepingan-kepingan kaca. Orang-orang di alun-alun itu jatuh berlutut, napas mereka kembali normal, kain penutup mata mereka lepas secara ajaib. Mereka sadar, menatap sekeliling dengan kebingungan yang luar biasa.
Namun, pria di atas altar itu tidak menyerah. Dia bangkit, kulitnya mulai retak, memperlihatkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan di balik dagingnya. Dia adalah *Sihir Murni* yang telah kehilangan kemanusiaannya.
*"Jika aku tidak bisa menjadi wadah,"* suaranya kini terdengar seperti ribuan suara yang berteriak bersamaan, *"maka aku akan meledakkan dunia ini menjadi debu sihir!"*
Dia mulai membesar, tubuhnya mengembang menjadi bola cahaya raksasa yang siap meledak dan menyapu bersih kota ini.
Julius menatapku. Tatapannya memberikan jawaban yang tidak perlu diucapkan.
*"Kita harus menyerapnya,"* bisik Julius.
*"Itu akan menghancurkan kita, Julius. Kita baru saja sampai di sini!"*
*"Maka kita akan hancur bersama. Setidaknya, dunia ini akan selamat dari kegilaannya."*
Kami berlari menuju bola cahaya yang membesar itu. Aku menggenggam tangan Julius. Kami berdua adalah wadah yang kosong—dia dengan kekosongan kegelapan, aku dengan kekosongan energi dimensi. Kami adalah satu-satunya tempat di mana ledakan ini bisa dibuang tanpa menghancurkan apa pun.
Saat kami menyentuh cahaya itu, dunia seolah menghilang. Aku tidak lagi merasakan tubuhku. Aku hanya merasakan panas, kemudian dingin yang ekstrem, dan kemudian... kesunyian yang abadi.
Dalam kesunyian itu, aku mendengar suara Julius yang samar.
*"Aku akan selalu menemukanmu, Marie. Entah dalam wujud cahaya, bayangan, atau debu. Karena hanya kau... satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku yang tak berujung ini."*
Cahaya itu meledak—bukan sebagai kehancuran, melainkan sebagai sebuah cahaya putih yang menyelimuti seluruh kota, menghapus segala jejak sihir liar dan memberikan kedamaian yang aneh bagi warga kota tersebut.
...
Aku terbangun di tempat yang berbeda.
Bukan di reruntuhan kota. Bukan di bawah dua bulan.
Aku berada di sebuah taman yang hijau, dengan pohon-pohon yang rindang dan air terjun yang tenang di kejauhan. Di depanku, Julius sedang duduk di kursi kayu, sedang membaca sebuah buku tua. Dia tampak... normal. Dia tidak mengenakan baju perang, tidak ada debu di wajahnya.
Dia menoleh ke arahku. Senyumnya lembut, senyum yang belum pernah kulihat di wajahnya selama ini.
*"Kau sudah bangun?"* tanyanya dengan nada hangat. *"Kau tidur sangat lama, Marie."*
Aku menatap tanganku. Aku memiliki tubuh fisik. Aku merasa hangat. Aku merasa manusia.
*"Julius? Apa... apa ini? Di mana kita?"*
Dia menutup bukunya dan berdiri, mendekatiku dengan langkah yang ringan. *"Kita ada di tempat di mana tidak ada kontrak, tidak ada sistem, dan tidak ada lagi pengulangan. Kita ada di tempat yang kita bangun sendiri setelah semuanya berakhir."*
Aku menatapnya dengan curiga. *"Ini nyata? Atau ini hanya pengulangan ke-1.043?"*
Julius menyentuh wajahku, jemarinya terasa hangat dan nyata di kulitku. *"Tidak ada lagi hitungan, Marie. Hanya ada hari ini, dan besok, dan hari-hari setelahnya."*
Tiba-tiba, dari arah gerbang taman, seseorang berjalan mendekat. Itu bukan musuh. Itu bukan ayah Marie. Itu adalah gadis kecil dari perpustakaan, namun kini dia tampak jauh lebih dewasa dan tenang.
*"Dia tidak berbohong,"* kata gadis itu sambil tersenyum. *"Tapi, ingatlah satu hal. Kedamaian adalah sihir yang paling sulit untuk dijaga. Karena di luar pagar taman ini, dunia masih menunggu untuk diselamatkan."*
Aku menatap ke arah pagar taman. Di sana, dunia tampak membentang luas, penuh dengan tantangan baru, petualangan baru, dan bahaya baru. Aku menatap Julius, lalu menatap dunia di luar sana.
Aku tahu satu hal. Aku tidak akan pernah menjadi pion lagi. Jika harus ada pertarungan lagi, aku akan menjadi pemain yang memegang kendali.
Namun, sebelum aku melangkah keluar, aku merasakan detak jantungku bergetar. Sebuah pesan muncul di udara, tertulis dengan tinta emas yang tidak bisa dihapus:
*Kontrak baru telah dimulai. Kali ini, bukan dengan takdir, tapi dengan keinginanmu sendiri.*