NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25: Tempat Aman di Balik Kabut

Malam itu juga, Raga tidak membuang waktu lagi. Ancaman yang semakin nyata, hingga percobaan celaka di pasar malam, membuatnya sadar: mereka tidak bisa tinggal di rumah sewaan kecil itu satu hari pun lagi. Tempat itu terlalu terbuka, terlalu mudah dilacak, dan tidak memiliki perlindungan apa pun.

Saat malam semakin larut, saat jalanan sudah sepi dan lampu-lampu rumah mulai padam, Raga segera mengemasi barang-barang milik mereka. Tidak banyak, hanya pakaian, sedikit barang berharga, dan satu benda yang paling dijaga Raga: sebuah kotak kayu kecil berisi foto lama serta dokumen penting keluarga Ardiansyah.

“Kita harus pergi sekarang, sayang. Jangan bawa barang berlebih, cukup yang penting saja,” bisik Raga sambil membantu Lira melipat baju, suaranya rendah dan penuh kesungguhan.

Lira mengangguk patuh, tangannya bergerak cepat meskipun hatinya masih berdebar kencang. Ia menatap sekeliling kamar kecil itu—tempat di mana mereka pertama kali duduk berdua, tempat di mana ia mulai mengingat kembali potongan-potongan masa lalu, tempat yang sudah menjadi rumah baginya dalam waktu singkat. Hati kecilnya terasa berat harus meninggalkannya, tapi ia tahu ini demi keselamatan mereka berdua.

“Ke mana kita akan pergi, Raga?” tanyanya pelan.

“Ke sebuah tempat yang sudah lama aku siapkan, jauh dari keramaian, tersembunyi di balik bukit dan hutan lebat. Tempat itu milik orang yang paling setia pada ayahku dulu. Di sana, tidak ada yang bisa melacak kita, tidak ada yang bisa masuk sembarangan. Kamu akan aman sepenuhnya selama aku menyelesaikan urusan kita,” jawab Raga sambil menggenggam tangan Lira erat, memberikan ketenangan.

Sebelum pergi, Raga meninggalkan tanda di pintu rumah, seolah penghuninya hanya pergi sebentar dan akan kembali. Ia tidak mau memberi tahu musuh bahwa mereka sudah pindah, supaya jejak mereka tetap tertutup rapat selama mungkin.

Mereka berjalan kaki keluar dari gang sempit itu, lalu menaiki mobil tua sederhana yang sudah disiapkan Raga dari jauh. Perjalanan itu memakan waktu hampir empat jam, melewati jalanan berkelok, melintasi hutan rimbun, dan perlahan menjauh dari pusat kota yang ramai. Sepanjang jalan, Lira bersandar diam di bahu Raga, kadang terlelap sebentar karena lelah, kadang terbangun kaget karena suara angin atau bayangan pepohonan gelap di pinggir jalan.

Raga terus menyetir dengan fokus penuh, matanya tajam mengawasi jalanan di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Lira baik-baik saja. Di dalam hatinya, ada rasa berat yang besar—ini pertama kalinya mereka akan terpisah, meskipun hanya sementara. Ia harus meninggalkan Lira di tempat aman itu sendirian, untuk kembali ke kota, mengumpulkan kekuatan, dan menghadapi Lingkaran Emas secara langsung.

Menjelang pagi, saat langit mulai memutih di ufuk timur, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu besar yang kokoh, terletak di tengah lembah yang dikelilingi bukit hijau. Rumah itu terlihat tua namun terawat baik, dikelilingi pagar kayu tinggi, dan di sekelilingnya hanya ada pepohonan serta sawah yang luas, jauh dari pemukiman penduduk mana pun.

Seorang lelaki tua berambut putih, berbadan tegap meskipun usianya sudah lanjut, sudah menunggu di depan pintu. Begitu melihat Raga turun dari mobil, mata lelaki itu langsung berkaca-kaca, wajahnya penuh haru.

“Tuan Muda Raga… Syukurlah… Kamu akhirnya datang juga,” ucap lelaki itu dengan suara gemetar, lalu segera menunduk hormat.

“Pak Harun… Maaf baru bisa datang sekarang,” jawab Raga sambil segera memeluk lelaki tua itu dengan hangat. Pak Harun adalah pengurus rumah tangga setia keluarga Ardiansyah selama puluhan tahun, orang yang sudah seperti ayah kedua bagi Raga, dan satu-satunya orang yang tetap setia bahkan saat kekuasaan keluarga Ardiansyah runtuh dan harta mereka dirampas habis.

Raga segera menarik tangan Lira, membawanya mendekat.

“Pak Harun, lihat siapa ini. Ini Nyonya Lira, istriku.”

Mata Pak Harun melebar kaget, lalu seketika berair penuh bahagia. Ia menatap wajah Lira lama-lama, wajah yang dulu sering ia lihat tersenyum ceria di rumah besar keluarga Ardiansyah.

“Nyonya Muda… Nyonya Lira… Syukurlah… Tuhan masih baik hati mengembalikan nyonya kepada kami,” ucapnya terharu, lalu segera menunduk hormat di depan Lira.

Lira tersenyum tipis, rasa hangat dan aman seketika menyelimuti hatinya melihat tatapan tulus lelaki tua itu. Ada rasa akrab yang kuat, seolah ia sudah lama mengenal Pak Harun sejak dulu.

“Selamat datang di rumah ini, Nyonya. Mulai hari ini, tempat ini adalah rumah nyonya. Tidak ada orang jahat yang bisa masuk ke sini. Aku dan orang-orang kepercayaanku akan menjaga nyonya siang dan malam, sampai Tuan Muda Raga kembali dan semuanya selesai,” kata Pak Harun dengan tegas.

Rumah itu nyaman, sejuk, dan sangat aman. Di dalamnya ada ruangan luas, halaman yang asri, dan pagar yang tinggi serta kokoh. Di belakang rumah, ada jalan setapak yang menembus ke dalam hutan, jalan pelarian rahasia jika sewaktu-waktu bahaya tetap datang mengancam.

Setelah Lira beristirahat sebentar dan makan pagi, saatnya tiba yang paling berat bagi mereka berdua: saat perpisahan sementara.

Di teras rumah yang sejuk, Raga berdiri di depan Lira, tangannya memegang kedua bahu istrinya erat-erat, matanya menatap dalam ke mata Lira yang berkaca-kaca.

“Sayang, aku harus pergi sekarang. Aku harus kembali ke kota, menghubungi orang-orang yang masih setia, mengumpulkan bukti, dan mulai melawan mereka. Selama aku pergi, kamu tinggal di sini bersama Pak Harun. Jangan keluar pagar rumah sendirian, jangan percaya pada orang asing apa pun, dan selalu ikuti apa kata Pak Harun. Dia orang yang paling bisa dipercaya di dunia ini.”

Air mata mulai mengalir pelan di pipi Lira. Ia tahu ini harus terjadi, tapi hatinya terasa perih sekali harus berpisah dengan Raga, terlebih di saat bahaya masih mengancam di mana-mana.

“Berapa lama kamu akan pergi? Kapan kamu akan kembali?” tanyanya suara lemah, tangannya erat memegang lengan Raga seolah takut jika dilepas, pria itu akan hilang selamanya.

“Belum tahu pasti. Bisa sebulan, bisa lebih lama. Tapi percayalah, setiap detik aku akan memikirkanmu, setiap detik aku akan berjuang supaya bisa kembali ke sini dengan cepat, supaya kita tidak perlu berpisah lagi selamanya,” jawab Raga lembut, lalu mengusap air mata di pipi istrinya dengan jari lembut. “Ingat janji kita, ya? Mati hidup tidak akan terpisahkan. Meski tubuh kita terpisah jarak, hati kita selalu bersama, selalu saling menjaga.”

Lira mengangguk kuat, air matanya semakin deras, tapi senyum tegas tetap ia usahakan muncul di bibirnya.

“Aku ingat. Aku akan menunggu kamu, Raga. Seberapa lama pun waktunya, seberapa sulit pun keadaannya, aku akan tetap menunggu di sini, tetap menjaga hati ini hanya untukmu. Kamu harus hati-hati, ya? Jangan ambil risiko berlebihan, jaga dirimu baik-baik. Aku butuh kamu kembali dengan selamat.”

“Aku janji. Aku akan pulang selamat, untukmu, untuk kita,” ucap Raga tegas.

Ia lalu menarik Lira ke dalam pelukan erat, memeluknya sekuat tenaga, menghirup aroma tubuh istrinya, merasakan kehangatan itu sebaik mungkin, untuk dijadikan kekuatan selama ia pergi nanti. Ia mengecup kening, dahi, dan kedua tangan Lira dengan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya perlahan melepaskan pelukan itu.

“Sekarang aku pergi. Jangan sedih, ya? Segala kesulitan ini hanya sementara. Nanti kita akan punya masa depan yang damai, bebas rasa takut, bebas bahaya.”

Raga berbalik, melangkah pergi menuju mobil yang sudah menyala mesinnya. Pak Harun berdiri di samping Lira, mengusap bahu wanita itu lembut untuk menenangkan.

Lira berdiri diam di teras, menatap mobil itu perlahan menjauh, menghilang di balik tikungan jalan yang dikelilingi pepohonan hijau. Hatinya terasa kosong, seolah separuh jiwanya ikut pergi bersama mobil itu. Air matanya jatuh tak tertahan lagi, tapi ia tidak menangis histeris. Ia menangis dengan hati yang teguh, karena ia tahu, perpisahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan abadi mereka.

Di dalam mobil yang melaju kembali ke kota, Raga menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam dan dingin. Rasa sedih perpisahan itu sudah ia simpan rapat di dasar hati, digantikan oleh tekad yang membara. Ia tidak lagi menjadi pria yang lemah, yang hanya bisa bersembunyi dan menjaga dari jauh. Mulai hari ini, ia adalah Raga Ardiansyah, pewaris tunggal keluarga besar yang akan bangkit, melawan, dan menghancurkan semua orang yang berani menyakiti orang yang ia cintai.

Namun, mereka berdua tidak tahu: meskipun tempat itu tersembunyi, jejak keberadaan Lira tidak sepenuhnya tertutup. Salah satu orang yang dulu bekerja untuk keluarga Ardiansyah, yang diam-diam sudah berpihak pada Lingkaran Emas, melihat keberangkatan Raga bersama Lira malam itu, dan diam-diam mengirimkan kabar itu kepada atasan mereka.

Musuh sudah tahu tempat persembunyian Lira. Dan rencana baru yang jauh lebih jahat, sudah segera disusun.

Perpisahan yang seharusnya aman itu, ternyata justru membawa mereka masuk ke dalam perangkap yang lebih besar lagi.

 

(Bersambung ke Episode 26)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!